Murid-Murid Kelas 1 SD Islam Terpadu Nur Hidayah Solo Ekspresikan Kreativitasnya Melalui Hasta Karya

SURAKARTA (11/12) — Murid-murid kelas 1 SD Islam Terpadu Nur Hidayah Surakarta mengekspresikan kreativitasnya dengan membuat hasta karya.

Kegiatan ini merupakan rangkaian kegiatan Penguatan Karakter dan Class Meeting pasca Penilaian Sumatif Akhir Semester I (PSAS I).

Murid-murid membuat hasta karya dari bahan alami secara berkelompok. Setiap kelompok, yang terdiri dari 3 sampai 4 murid. Dengan semangat bekerja sama dalam kelompok, mereka menciptakan karya seni yang memikat.

Koordinator Guru Kelas 1 Paralel, Eni Hestuti, S.S, S.Pd menyampaikan bahwa
Kegiatan berkelompok ini bukan hanya sekadar eksplorasi seni, tetapi juga sejalan dengan Implementasi Kurikulum Merdeka Belajar.

“Melatih murid-murid berpikir dan bertindak kreatif. Memupuk jiwa gotong royong dengan bekerja secara berkelompok. Memberikan keleluasaan kepada murid-murid untuk memilih sesuai minat belajar mereka,” terang Eni.

“Pembelajaran berkelompok menjadi sarana efektif untuk mengembangkan keterampilan sosial dan kemampuan berkolaborasi murid-murid. Mereka belajar untuk bekerja bersama, berbagi ide, dan menghargai kontribusi setiap anggota kelompok,” sambung Eni.

Murid-murid dengan antusias mengerjakan hasta karya mereka. Menciptakan beragam bentuk dan pola dari bahan alami seperti daun, batang tanaman, dan stik es krim. Kreativitas ini tidak hanya mencerminkan kepiawaian mereka dalam seni, tetapi juga kemampuan beradaptasi dan problem-solving yang diperoleh melalui pembelajaran berbasis proyek.

Ridho Kifah Baladi (7th), salah satu siswa kelas 1 mengungkapkan rasa senangnya dengan kegiatan belajar kelompok membuat hasta karya.

“Aku senang, belajarnya bareng dengan teman-teman dan ternyata daun pun bisa dibuat hiasan dan menjadi bagus,” ujar Ridho.

Kepala Sekolah SDIT Nur Hidayah Surakarta, Rahmat Hariyadi, S. Pd, menekankan pentingnya penerapan Kurikulum Merdeka sebagai meningkatkan kualitas pembelajaran.

“Melalui Kurikulum Merdeka, kita menciptakan lingkungan belajar yang inklusif, mendukung, dan sesuai dengan kebutuhan murid. Pembelajaran berbasis proyek, seperti kegiatan hasta karya ini, merupakan langkah nyata menuju pendidikan yang lebih adaptif dan relevan,” terang Rahmat.