Guru Al Qur’an SDIT Nur Hidayah, Adakan Penyegaran Pembelajaran Sebelum KBM

Setiap Sabtu pekan ketiga, siswa-siswi SD Islam Terpadu Nur Hidayah Surakarta diliburkan. Liburan siswa ini dimanfaatkan oleh sekolah untuk melakukan pembinaan guru dan karyawan, baik pembinaan jasadiyah, fikriyah maupun ruhiyah.

Sabtu, (20/07) pagi ini ustadz-ustadzah SD Islam Terpadu (SDIT) Surakarta memanfaatkan liburan siswa untuk kegiatan pembinaan guru.  Sementara guru pengampu mata pelajaran nonAl Qur’an menyusun dan merapikan administrasi pembelajaran, ustadz-ustadzah pengampu Alquran melakukan refresh metode dan penggunaan alat peraga Littaqwa sebagai bentuk persiapan proses Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) yang efektif dimulai Senin pekan depan. Pembugaran metode Littaqwa ini penting dilakukan dengan tujuan menyeragamkan metode mengajar guru Alquran. Ustadz Bahruni Arsyad, Kepala Bagian Al-Qur’an Centre Yayasan Nur Hidayah Surakarta menyampaikan, “Diharapkan setelah adanya penyegaran metode Littaqwa ini, guru Alquran mampu menyeragamkan cara mengajarnya mulai dari pengkondisian, apersepsi, sampai tahapan-tahapannya sesuai dengan metode pembelajaran Littaqwa.”

Kegiatan refresh metode dan penggunaan alat peraga pagi ini dikomandai langsung oleh Koordinator Al-Quran SDIT Nur Hidayah, Ustadz Ali Mashudi Al-Hafidz. Kekhasan setiap acara Littaqwa selalu diawali dengan membaca Al-Fatihah dan doa memulai belajar. Usai berdoa, Ustadz Ali Mashudi sebagai koordinator kegiatan sekaligus master of ceremony dalam kegiatan kali ini selanjutnya mengajak ustadz-ustadzah murojaah surat Al-Ma’arij. Lantunan indah ayat-ayat suci menambah syahdu suasana hati pagi ini.

Seusai doa dan murojaah, Ustadz Bahruni Arsyad mengulangi materi yang pada saat workshop pernah disampaikan bahwa dalam pengajaran metode Littaqwa itu memiliki beberapa standar yang harus dimiliki oleh seorang guru Alquran. “Ada 4 standar metode Littaqwa yang harus dimiliki oleh seorang guru Alquran, standar iman, standar adab, standar ilmu, dan standar metode. Diharapkan dengan mengajar Alquran seorang guru bertambah iman, ilmu, dan amalnya,” tegasnya.

Yang menarik dalam kegiatan pembinaan dan refresh metode Littaqwa kali ini adalah adanya microteaching yang oleh Ustadz Ali Mashudi dibagi beberapa kelompok kecil. Masing-masing kelompok terdiri dari 3-4 orang. Secara bergantian mereka menjadi guru sekaligus berperan sebagai murid. Ustadz Zumroni (32th), salah satu guru senior di pembelajaran Alquran dan Tahfidz (AQT) mengaku senang bisa kembali berkumpul bersama rekan-rekan guru yang lain setelah beberapa pekan beliau cuti dikarenakan sakit yang dialaminya. “Alhamdulillah saya senang bisa berkumpul lagi dengan ustadz/ustadzah yang luar biasa. Mohon doanya semoga kita semua selalu diberi kesehatan oleh-Nya,” katanya penuh harap.

Di akhir acara kembali Ustadz Bahruni Arsyad menyemangati ustadz/ustadzah untuk mengikhlaskan dan meluruskan niat agar meraih berkahnya hidup bersama Alquran. Berikutnya Ustadz Ali Mashudi Al-Hafidz menutup kegiatan dengan hamdalah dan doa penutup majelis. *(Ihsan/emyu)

Refresh Metodologi Littaqwa

‍‍‍‍‍‍‍‍‍‍‍‍‍‍‍Menyamakan maksud dan persepsi dalam pendidikan merupakan suatu keharusan. Terutama sebagai seorang leader, maka mengkomunikasikan dan menyamakan persepsi tentang kebijakan, keputusan dan segala aktivitas agar selaras dengan timnya merupakan satu keniscayaan. Karena tanpa adanya penyelarasan maka meraih tujuan akhir hanya akan menjadi wacana.

Hal tersebut sebagaimana yang dilakukan Ustadz Ali Mashudi, selaku Koordinator Pembelajaran Alquran pada Sabtu (20/07) dalam menyamakan metode pembelajaran Alquran di SD Islam Terpadu Nur Hidayah Surakarta. Dalam Kegiatan yang biasa disebut dengan refresh metolodolgi littaqwa ini, Ustadz Ali mengundang para guru Alquran SDIT Nur Hidayah, serta secara khusus  mengundang Ustadz Bahruni Arsyad, Koordinator Alquran Center dari Yayasan Nur Hidayah Surakarta.

Dalam pembukaannya, Ustadz Ali menyampaikan, “Mengingat metode littaqwa merupakan satu metode pembelajaran Alquran yang dikembangkan SDIT Nur Hidayah dan baru berjalan selama 2 tahun. Maka diperlukan beberapa pembaharuan yang dirasa penting selama masa pembelajaran berlangsung. Guru diharapkan untuk tidak takut belajar, karena setiap kesalahan dalam pembelajaran akan terus diupayakan adanya pembaharuan. Dan bahkan minimal dalam jangka 3 tahun, metode ini juga dapat dikembangkan dan dikenalkan pada khalayak umum.”

Untuk itu dalam kegiatan refresh metodologi ini Ustadz Bahruni Arsyad melakukan microteaching dengan menggunakan alat peraga didepan para ustadz ustadzah pengajar Alquran. Dalam kegiatan Microteaching ini beliau mengarahkan akan langkah-langkah pembelajaran Littaqwa bersama murid. Seperti langkah pertama adalah guru membacakan satu kata, murid mengikuti. Langkah kedua, guru dan murid membaca bersama-sama sebanyak 2 kali, dan langkah terakhir murid membaca tiga kali secara mandiri. Setelah itu baru membaca secara acak. Setiap kata yang diucapkan juga memiliki tiga nada yang berbeda, yaitu tinggi-sedang-rendah.

Dalam pertemuan ini, Ustadz Bahruni Arsyad juga menegaskan, “Keberhasilan pembelajaran dapat dimulai dengan pengelolaan kelas yang baik. Selain itu guru juga harus memiliki ketrampilan menunjuk setiap kata dengan tepat. Kemampuan ini dianggap penting, karena jika terlalu cepat atau terlalu lambat dalam menunjuk, maka siswa akan kebingungan ketika membaca.”

Ustadzah Nur Istiqomah, S.Pd, salah satu guru Alquran mengatakan, “Kegiatan refresh metodologi ini memang sering diadakan oleh ketua tim Alquran, baik untuk mempelajari tahsin dasar, penyelarasan pengajaran, hingga setiap guru melakukan microteaching di hadapan guru lainnya. Hal ini tentunya lebih meningkatkan profesionalisme guru Alquran dalam pembelajaran Alquran.“_ *(Fauziyah/emyu)

Microteaching Pembelajaran Littaqwa

‍Pagi ini, Sabtu (20/17) Aula Gedung Timur SD Islam Terpadu Nur Hidayah Surakarta tampak riuh oleh suara para pengajar Alquran yang tengah melaksanakan kegiatan microteaching pembelajaran littaqwa. Kegiatan ini dilaksanakan sebagai upaya peningkatan kualitas pembelajaran Alquran pada tahun pelajaran 2019-2020.

Para pengajar Alquran diharapkan memiliki metode yang sama dalam kegiatan belajar mengajar di sekolah. Selama berlangsungnya kegiatan ini, Ustadz Ali Mashudi, Al-Hafidz yang merupakan koordinator tim guru Alquran hilir mudik  memberikan arahan pada kelompok-kelompok kecil microteaching. Asa dan harapan akan kemajuan pendidikan Alquran dan tahfidz di SDIT Nur Hidayah Surakarta tergambar jelas di pelupuk matanya. Tiada henti beliau menyuntikkan  semangat pada para anggotanya.

Bahkan dalam kegiatan microteaching ini, ustadz Bahruni Arsyad selaku Kepala Alquran Center Yayasan Nur Hidayah juga hadir mengikuti seluruh kegiatan. Dalam pembukaannya, beliau menyampaikan, “Kita sangat berharap akan adanya perubahan baru dalam pengembangan pendidikan Alquran di SD Islam Terpadu Nur Hidayah Surakarta. ‍‍‍Metode merupakan sebuah cara agar seseorang dapat membaca Alquran secara efisien dan efektif. Dengan menggunakan metode, maka kegiatan pembelajaran tahfidz dan tilawah Alquran akan lebih cepat tercapai tujuannya daripada jika tidak menggunakan metode.”

“Untuk itu diadakannya kegiatan microteaching yang merupakan salah satu rangkaian dari kegiatan refresh metodologi ini diharapkan selain guru terus melakukan pembenahan dalam kegiatan pendidikan Alquran baik dalam hal tilawah maupun tahfidz, siswa juga memiliki antusiasme yang tinggi sehingga tujuan dari pembelajaran Littaqwa bisa tercapai,” harapnya. *(Fauziyah/emyu)

Ayo Sayangi Hutan dan Lingkungan

Ada pemandangan berbeda di halaman SD Islam Terpadu Nur Hidayah Surakarta pagi ini, Jumat (19/07). Siswa-siswi bersegaram biru langit duduk melingkar dengan rapi. Sementara di sudut utara ada sebuah panggung kecil dan backdrop bertuliskan Masa Pengenalan Lingkungan Hutan, Ayo Sayangi Hutan. Ada pula beberapa bibit tanaman dan karung berisi tanaman. Sementara ada beberapa ustadz yang mengenakan ‘pakaian pohon’ dan ‘topi daun’.

Ya, mereka siswa-siswi beserta guru kelas 3 akan mengikuti kegiatan sosiodrama dan praktik menanam bibit tanaman. Kegiatan ini merupakan penutup rangkaian kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) kelas 3 paralel.

“Teman-teman, kita berkumpul di sini dalam rangka penutupan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) kelas 3 SDIT Nur Hidayah. Berangkai kegiatan alhamdulillah telah kita laksanakan. Mulai dari display kelas, lomba mewarnai, kegiatan sadar shalat, sampai gerakan cinta lingkungan hari ini. Semoga dengan terlaksananya MPLS kemarin dan hari ini akan membuat kita semua tambah semangat dalam belajar, lebih terarah dalam beribadah. Maka pada acara penutupan kali ini, akan kita saksikan bersama pembelajaran tentang Mencintai Hutan dan Lingkungan. Inilah sosiodrama “Ayo Sayangi Hutan dan Lingkungan! Selamat menyaksikan!”, demikian Ustadzah Pipit Anugraheni mengawali narasinya.

Pembacaan narasi drama pun dilanjutkan. “Inilah paman hutan. Rumah besar dari beraneka pohon, beragam tanaman. Para pohon di rumah paman hutan ini selalu membagikan oksigen bagi makhluk yang membutuhkan termasuk kita manusia,” ujar narator. Paman Hutan yang diperankan oleh Ustadz Muhammad Iksan, S.Pd menggunakan kostum rumah pohon yang terbuat dari kardus yang dihiasi dengan beberapa poster pepohonan khas hutan. Seiring narasi dibacakan pemeranpun masuk area pentas. Sementara Ustadz Lukman Hakim Yusuf, M.Pd dan Ustadz Isna Muhammad Fathoni, M.Pd masing-masing berperan sebagai Paman Tukang Kayu dan Si Orang Kaya.

Suasana menjadi seru ketika Paman Hutan memberikan manfaatnya dengan berbagi buah-buahan. Siswa-siswi berebut buah yang dibagikan Paman Hutan dengan ceria. Di saat Paman Hutan sedang berbagi ceria, tetiba datanglah Paman Tukang Kayu berjalan memutari sungai sembari membagikan potongan ikan. “Betapa baik para pohon yang tinggal di rumah besar paman hutan. Dan ketika manusia hadir dan melihat keindahan Rumah Paman Hutan, maka datanglah manusia, Paman Tukang Kayu yang hendak mengambil manfaat dari pepohonan itu,” lanjut Ustadzah Pipit dalam narasinya.

Suasana bertambah riuh tatkala Ustadz Isna Muhammad Fathoni yang berperan sebagai Si Orang Kaya masuk menyelah kerumunan sambil membagikan beberapa lembar uang kertas (palsu) ke para siswa. Dia berjalan mengelilingi para siswa menghambur-hamburkan uang ditangannya kemudian menebang dan menggergaji pepohonan di rumah pohon, mengambil buahnya dengan serakah lalu dimakan dan membuang sampah sembarangan.

Anak-anak, apa yang diperankan ustadz Fathoni ini adalah contoh orang yang tidak mencintai hutan dan lingkungan, maka tidak boleh ditiru,” Narator mengingatkan. Kegiatan MPLS pagi ini diakhiri dengan praktik menanam. Ustadzah Syarifatul Istiqomah, S.Pd selaku penanggungjawab praktik menanam ini mengajak siswa-siswi untuk merawat dan mencintai lingkungan dengan cara menanam pohon. Ustadzah yang akrab disapa Us Isti ini memulai praktik menanam dengan memberi contoh cara menanam tanaman yang benar. Siswa-siswi dibagi perkelompok sesuai regu piket, kemudian diarahkan tempatnya. Regu piket melingkar kemudian masing-masing regu diberi satu tanaman/pohon kemudian diminta untuk ditanam sesuai seperti yang dicontohkan. Para siswa pun ikut praktik menanam dengan senang hati. Dengan harapan kelak tanamannya dapat memberi manfaat, termasuk dalam memproduksi oksigen. *(Ihsan/emyu)

Matematika itu Asyik

Hari ini, Kamis (18/07) siswa-siswi kelas 5 SD Islam Terpadu Nur Hidayah Surakarta berseragam merah putih. Dengan tas di punggung, mereka bergegas naik menuju kelas masing-masing untuk berdoa dan murojaah salah satu surat juz 30 dan 29 bersama guru litaqwa.

Usai murojaah, mereka melaksanakan sholat dhuha dan doa bersama di aula. Setelah itu para siswa diminta untuk membawa alat tulis dan membentuk shaf yang rapi di aula juga.

Tampak Ustadzah Sri Lestari, S.Pd. sudah menyiapkan beberapa soal untuk mereka. Ya, hari ini , beliau akan mengadakan Game “Rangking 1”. Ustadzah Tari menuturkan, “Game ini bertujuan untuk menjaring siswa berbakat dalam bidang Matematika dan belajar matematika itu asyik dan menyenangkan.”

Game ini dilaksanakan dengan cara sistem gugur. Bagi siswa-siswi yang tidak menjawab soal dengan benar, siswa yang gugur akan berpindah tempat dan tetap ikut mengerjakan. Siswa yang lulus akan diberi soal dengan waktu mengerjakan maksimal 10-15 detik sesuai dengan tingkat kesulitan soal. Demikian seterusnya hingga tersisa 3 siswa sebagai juara 1, 2, dan 3.

Alhamdulillah dari kegiatan ini mendapatkan 3 juara dari kelas 5C dan 5D. Juara 1 diraih oleh Syifa Adlina kelas 5C. Juara 2 diraih oleh Mbak Arin 5D. Juara 3 diraih oleh Mbak Zahra 5C. Selamat kepada para pemenang dan kelas 5 seluruhnya.

Salah satu siswa kelas V, Alfina Azzahro menuturkan, “Aku senang belajar Matematika seperti ini karena melatih kemampuan berpikir cepat dan tepat. Semoga semakin menambah motivasiku untuk terus belajar dan berlatih. Sehingga jika kelak ada kegiatan olimpiade Matematika, mudah-mudahan bisa ikut dan juara.” *(Nunuk/emyu)

Pohon Harapan, Membangun Kesungguhan dalam Belajar

Man jadda wa jada, begitu kata pepatah arab yang artinya siapa yang bersungguh-sungguh akan mendapatkan hasil. Siapa yang punya kesungguhan, target, dan cita-cita pasti akan mendapatkannya. Karena dimana ada kemauan pasti disitu ada jalan. Atas dasar itulah perlu kiranya menumbuhkan kesungguhan dalam belajar dan meraih prestasi.

Oleh sebab itu, salah satu kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) kelas 3 SD Islam Terpadu Nur Hidayah Surakarta adalah dengan membuat pohon harapan. Rabu (17/07) di hari ketiga kegiatan MPLS para siswa bersama-sama membuat bentuk daun dengan kertas asturo warna-warni. Setelah selesai mereka mulai menuliskan harapannya selama di kelas 3.

Daun yang berisi harapan tersebut ditempel di pohon kertas yang sudah disediakan dan ditempel di pintu kelas. Sehingga harapan yang ditulis siswa akan mudah dibaca dan diingat. Akbar Nurizky (9) menuturkan, “Aku ingin di kelas 3 ini mendapat nilai 100 semua.” Sementara itu, Fadli Khairy Rahman (9) murid baru pindahan dari Jakarta dengan malu-malu menyerahkan daun harapannya yang tertulis ingin hafal juz amma, yaitu kumpulan surat Alquran juz 30.

Ustadzah Pipit Anugraheni, S.Pd. selaku koordinator guru paralel kelas 3 menyampaikan, “Pembuatan pohon harapan di masing-masing kelas bertujuan untuk memotivasi belajar siswa untuk meningkatkan prestasinya selama di kelas 3 sesuai dengan yel-yel kelas 3 yaitu menjadi siswa religius, mandiri, dan berprestasi.” *(Ningrum/emyu)

Gugah Semangat di Hari Pertama Sekolah

Pagi ini cuaca terasa cukup sejuk. Namun demikian tak menyurutkan langkah kaki siswa-siswi kelas VI SD Islam Terpadu Nur Hidayah Surakarta. Mereka tampak bersemangat memasuki gerbang sekolah. Berseragam merah putih sambil menggendong tas punggungnya mereka tampak gagah dan anggun. Senyum sumringah saat mereka berjabat tangan dengan beberapa guru yang telah menyambut hangat.

Ya, hari ini (15/07) merupakan hari pertama masuk sekolah bagi mereka. Setelah sekian waktu libur lebaran dilanjut libur akhir tahun pelajaran. Bagi siswa-siswi kelas 1 baru, hari ini dimulai Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS). Tetapi bagi siswa-siswi kelas 6 hari pertama ini langsung dimanfaatkan untuk memompa semangat para siswa untuk persiapan jihad meraih prestasi Angkatan ke-17.

Selesai kegiatan majelis pagi, dengan sholat dhuha dan muroja’ah surat-surat Alquran, mereka berkumpul di aula sekolah. Mereka akan mengikuti kegiatan Motivasi Berprestasi bersama Ust. Husni Malik, S.P., S.Pd. Dalam pemaparannya beliau menyampaikan, ًً“Harus ada keyakinan dalam diri untuk dapat meraih prestasi yang terbaik. Harus yakin bahwa kita memiliki kemampuan untuk berprestasi. Harus yakin bahwa Allah akan menolong hamba-hambaNya yang bersungguh-sungguh dalam berusaha. Man jadda wa jada.”

Setelah kita berusaha dengan penuh kesungguhan dilambari dengan akhlakul karimah, kita berdoa memohon yang terbaik, dan bertawakkal kepada Allah. Berserah diri menyerahkan apa yang telah kita usahakan hasilnya hanya kepada Allah Swt.,” lanjutnya sambil menyelingi nasihat-nasihatnya dengan yel-yel, nyanyian penggugah semangat dan permainan penuh keceriaan.

Zahwa Aulia (11) salah satu siswi kelas VI menuturkan, “Setelah mendapatkan nasihat tadi, aku ingin pantang menyerah dalam meraih prestasi. Selain itu juga meninggalkan hal-hal negatif yang dapat mengganggu konsentrasi belajarku. Jangan lupa senantiasa mendekatkan diri kepada Allah supaya mendapatkan pertolongannnya dalam kita berjuang berjihad meraih prestasi terbaik.” *(Tis’/emyu)

Wujudkan Nilai Pancasila dalam Aksi Peduli Bencana

Hari ini, Rabu (09/01/2019) cuaca cerah. Sang surya memancarkan sinarnya yang hangat nan indah. Setiap insan mulai melakukan aktivitas pagi dengan semangat. Tak terkecuali para guru dan siswa SDIT Nur Hidayah Surakarta. Mereka bersiap dan bergegas ke sekolah dengan semangat dan ceria. Dengan memakai baju pramuka semua guru dan siswa berkumpul di halaman sekolah.

Ya, pagi ini SDIT Nur Hidayah Surakarta menggelar “Aksi Peduli untuk Korban Gempa dan Tsunami Banten dan Lampung”. Kegiatan ini diawali dengan membaca ummul kitab surat Al-Fatihan. Dilanjutkan dengan sholat Ghaib untuk seluruh korban gempa dan tsunami Banten dan Lampung. Sebelum memulai sholat Ghaib, Ustadz Mulyadi, S.Ag. selaku imam sholat meminta semua peserta untuk berdiri, merapatkan dan merapikan shaff.

“Sholat ghaib adalah sholat jenazah yang jenazahnya tidak berada di dekat kita tapi berada di tempat yang jauh, yaitu Banten dan Lampung. Tata cara sholat ghaib yaitu posisi berdiri dengan 4 kali tarbir. Takbir pertama membaca Al- Fatihah, takbir kedua membaca Sholawat, takbir ketiga membaca doa untuk jenazah, dan takbir keempat doa untuk keluarga jenazah, lalu salam,” terangnya sebelum sholat dimulai. Sholat ghaib pun dimulai. Tampak semua siswa dan guru khusyuk melaksanakan sholat ghoib. Usai sholat Ghaib, Ustadz Mulyadi memimpin doa untuk para korban gempa dan tsunami di Banten dan Lampung.

Acara dilanjutkan dengan taushiyah dari Ustadz Waskito, S.Pd. selaku Kepala Sekolah. Sebelum memberikan beliau mengajak dan memimpin dzikir dan sholawat atas Nabi. Setelah itu, dalam sambutannya beliau menuturkan, “Kita sebagai umat muslim harus memiliki rasa empati dan kepedulian terhadap sesama. Sikap kepedulian dan tolong-menolong ini diberikan untuk siapa pun tidak mengenal suku, agama, ras, maupun budaya. Hal ini dikarenakan kita adalah satu bangsa dan satu tanah air yaitu Indonesia. Sikap empati dan peduli ini juga sesuai dengan pengamalan sila ke -2 Pancasila yaitu Kemanusiaan yang Adil dan Beradab. Untuk itu, mari berikan infak terbaik untuk Banten dan Lampung.”

Aksi solidaritas berikutnya adalah pembacaan puisi “Membaca Tanda-tanda” karya Taufiq Ismail oleh salah satu siswi kelas 6C, Rameyza Kirana Dewi. Pembacaan puisi yang penjiwaan diiringi dengan backsound seakan membawa peserta menyelami makna puisi yang sangat sesuai dengan tema kegiatan. Usai pembacaan puisi dan acara ditutup, para siswa mengantre memasukkan infak munasharah ke kotak infaq yang sudah disediakan. Salah satu siswi kelas 5D, Aisyah menyampaikan, “Senang mengikuti kegiatan aksi ini karena bisa mendoakan dan membantu korban bencana gempa dan tsunami di Banten dan Lampung.”

Sementara Ketua Panitia, Sriyoko, S.Pd. menuturkan, “Kegiatan ini bertujuan untuk mengejawantahkan nilai-nilai Pancasila dalam keseharian warga sekolah. Dengan memahami musibah apapun adalah kehendak Tuhan Yang Maha Kuasa, maka diharapkan warga sekolah dapat memetik hikmah untuk lebih taat pada perintah Allah. Adanya korban jiwa akan menyentuh rasa kemanusiaan para siswa untuk berempati dan peduli. Ketika beberapa musibah terjadi di berbagai daerah di Indonesia, maka akan menyentuh rasa keIndonesiaan kita. Peduli sesama wujudkan nilai-nilai Pancasila. Alhamdulillah, infaq munashoroh hari terkumpul Rp38.026.000,- (Tiga puluh delapan juta dua puluh enam ribu rupiah), dan insya Allah akan disalurkan melalui JSIT Indonesia.”

Indahnya Berbagi di Bulan Ramadhan

Menanamkan sikap suka berbagi kepada anak-anak sejatinya adalah menyiapkan mereka untuk lebih menghargai apa yang mereka miliki. Membentuk pribadi dermawan sekaligus peduli kepada sekitar.

Sajian pagi yang indah, selepas purnama semalam disambut penuh rasa syukur oleh warga Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) Nur Hidayah Surakarta. Kegiatan Ramadhan 1439 H semakin semarak di sekolah ini. Termasuk sejumlah 132 siswa kelas 1 yang hari ini menggelar kegiatan Pesantren Ramadhan di hari kedua. Setelah do’a belajar mereka melanjutkan dengan hafalan Al-Qur’an. Lantunan ayat-ayat Al-Qur’an terdengar merdu. Suasana semakin syahdu manakala para siswa yang baru berusia sekitar 7 tahun tersebut khusyuk menunaikan sholat Dhuha.

Hari ini, Kamis (31/5) setelah selesai dengan kegiatan yang menitikberatkan asupan rohani, para siswa diajak untuk membuat kartu ucapan “Indahnya Berbagi di Bulan Suci”. Beragam ucapan mereka tuliskan di selembar kertas. Semisal, Sedekah mengeratkan ukhuwah, Sayangi yang di bumi maka akan disayangi yang di langit, dan lainnya. Untuk kemudian dihias dengan aneka warna.

Saat kartu ucapan sudah selesai dikerjakan, mereka melanjutkan membungkus bingkisan. Para guru mengarahkan dengan membentuk kelempok. Setiap kelompok saling bekerjasama untuk menata dan membungkus sampaipun menghias bingkisan. Tak lupa kartu ucapan ditata sedemikian rupa dalam wadah bingkisan. Para guru memotivasi bahwa memberi hendaklah dengan pemberian terbaik dan dengan cara terbaik pula. Setelah dihias dengan aneka warna pita, bingkisan siap untuk dibagikan.

Para siswa berkumpul di teras kelas 1. Selain dibersamai para guru, acara serah terima juga dihadiri oleh para penerima bingkisan yakni 11 orang petugas Cleaning Servis (CS), 5 petugas satpam, 6 petugas bagian Tata Usaha (TU) dan 2 petugas Pembantu Umum (PU). Para siswa secara berkelompok menghaturkan secara langsung kepada para penerima tali asih tersebut. Wajah-wajah terlihat sumringah karena di bulan suci ini berkesempatan untuk bisa saling berbuat kebajikan.

Barra Azfar Azaria (7th) salah satu siswa kelas 1 C mengungkapkan rasa senangnya, “Alhamdulillah bisa ikut berbagi rezeki. Tadi dari rumah mama membawakan minyak goreng. Jadi ingin bisa memberi lagi.” Yan Syakila, S.Ag selaku guru Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti menyampaikan, “Bulan Ramadhan bulan kebaikan. Maka kami mengupayakan agar para siswa mendapatkan pengalaman belajar yang sebaik-baiknya. Alhamdulillah para orangtua juga mendukung dengan cara membawakan bahan dan barang untuk dibuat bingkisan untuk kegiatan berbagi kali ini.”

Adapun Sugeng Sugiharto, S. Ag selaku koordinator paralel kelas 1 mengutarakan, ” Negara kita negara kaya, namun hanya segelintir pihak yang menikmatinya. Maka kami mengupayakan agar para penerus bangsa ini mempunyai sifat yang dermawan. Senang berbagi dengan apa yang mereka miliki. Sekaligus mempunyai sikap peduli dengan sekitarnya. Apalagi mumpung bulan Ramadhan yang merupakan bulan tarbiyah. Maka kami didik para siswa agar tertanam kuat karakter-karakter kebaikannya.”

Bersama Al-Qur’an di Bulan Ramadhan

Pagi masih hangat ketika di sepanjang lorong teras kelas 1, sekelompok siswa duduk melingkar. Mereka memegang Juz ‘Amma ditangan. Rabu pagi (30/5) sejumlah 132 siswa kelas 1 melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur’an dengan khusyuk. Diawali dengan surat Al-Fatihah, dilanjutkan dengan do’a pembuka belajar Al-Qur’an.

Selanjutnya para siswa dalam satu kelompok, secara mandiri dan  bergiliran mengulang bacaan surat-surat yang sudah dihafalkan saat kegiatan tahfidz pagi. Di mulai dari surat An-Nas sampailah surat terakhir terhafal yakni surat Al-Insyiqoq. Jika ada teman yang kurang hafal atau kurang tepat bacaannya, maka teman satu kelompok dalam lingkaran tersebut yang membetulkan.

Sedangkan seorang yang ditunjuk sebagai ketua kelompok bertugas memberi tanda centang pada lembar pantauan bagi temannya yang sudah selesai hafalan satu surat. Pada akhirnya masing-masing siswa berhasil menunjukkan hafalannya sesuai target yang ditentukan.

Risky Galih Saputra (7th) salah satu siswa 1A mengatakan, “Alhamdulillah tadi hafalanku lancar. Hampir semua teman-teman satu kelompokku lancar. Agak capek tapi pahala menghafal Al Qur’an banyak. Apalagi bulan puasa. Jadinya, berusaha tetap semangat.”

Adapun Ustadz Baharuddin Yusuf, S. Pd menyampaikan, “Anak dengan usia belia masih sangat kuat daya hafalnya. Eman jika tidak didulang dengan asupan terbaik yakni hafalan Al Qur’an. Selain itu juga  menjelang malam 17 Ramadhan, bisa dimanfaatkan untukmengingatkan pemahaman para siswa tentang peristiwa nuzulul qur’an.”

Ustadz Sugeng Sugiharto, S. Ag selaku koordinator kelas 1 turut menguatkan, “Sebaik-baik pembelajaran adalah belajar Al Qur’an. Oleh karenanya di Syahrur  Qur’an ini kami mengupayakan agar anak-anak semakin akrab dengan Al Qur’an. Menanamkan kecintaan dan menguatkan pemahaman bahwa Al- Qur’an itu yang paling utama harus senantiasa dilakukan.” *(yan/emyu)