IMG-20190219-WA0005

140 Siswa SDIT Nur Hidayah ikuti Try Out ISDI

Pagi ini, Selasa (19/02/19) cuaca cukup cerah. Mentari pun bersinar menerangi semesta. Seakan menyapa penghuninya untuk bertasbih dan bersyukur dengan bertebaran di muka bumi untuk beraktivitas dan beribadah kepada-Nya. Tidak terkecuali warga SD Islam Terpadu Nur Hidayah Surakarta.

Secerah cuaca pagi ini, langkah-langkah kecil penuh semangat terlihat dari siswa-siswi kelas 6 memasuki gerbang sekolah. Berseragam khas batik sekolah bercorak hijau kuning, mereka tampak gagah dan anggun. Disambut beberapa guru mereka beruluk salam, bersalaman, dan berbagi senyuman.

Usai meletakkan dan merapikan tasnya di depan ruang ujian masing-masing, mereka bergegas menuju ke masjid sekolah. Sholat dhuha mereka tunaikan. Dzikir ma’tsurat pagi mereka lantunkan. Tak ketinggalan, taushiyah dan motivasi dari salah satu guru kelas 6 menambah spirit mereka untuk mengikuti Try Out ISDI (Ikatan Sekolah Dasar Islam) Kota Surakarta di hari yang kedua ini.

Usai merapikan mukena dan alat sholat lainnya, mereka segera mengambil ala tulis, kartu ujian, dan bersiap masuk ruang ujian masing-masing. Pengawas ruang ujianpun telah siap di ruang masing-masing dengan seperangkat soal, lembar jawab komputer (LJK), dan Alat tulis lainnya yang dibutuhkan. Usai berdoa bersama, pengarahan singkat tata tertib dari pengawas ruang, para peserta mengisi identitas diri di LJK. Bel tanda dimulainya mengerjakan berbunyi, mereka dengan tenang mengerjakan soal demi soal.

Ketua Panitia Try Out ISDI tingkat sekolah, Yuyun Yuningsih, S.Pd., menuturkan, “Hari ini merupakan hari kedua pelaksanaan Try Out ISDI, dengan jadwal Matematika. Kemarin jadwalnya Bahasa Indonesia, dan besok jadwalnya Ilmu Pengetahuan Alam. Jumlah peserta yang ikut ada 140 siswa. Kita berharap dengan adanya Try Out ISDI ini semakin melatih para siswa mengerjakan soal yang sesuai dengan indikator yang telah disosialisasikan. Tentunya sekaligus sebagai salah satu persiapan menuju USBN SD/MI 22-24 April 2019.”

Salah satu siswa kelas 6 pesera Try Out ISDI, Althafan Masyail Ghifari (11), “Soalnya Matematika agak susah. Tapi alhmdulillah bisa mengerjakan semua. Tadi malam sudah belajar. Aku berharap nilainya bagus.” Sementara siswa lainnya, Zahra Khairunisa Winanti (11) mengatakan, “Kemarin pas mengerjakan soal Bahasa Indonesia, soalnya cukup susah. Beberapa soal jawaban pengecohnya mirip. Tapi alhamdulillah bisa mengerjakan semua. Berharap nilainya baik dan bisa membawa nama baik sekolah.”*(Ihsan)

IMG-20190218-WA0025

Kokohkan Pendidikan Karakter dengan Duta Kedisiplinan Siswa

 

Disiplin itu kunci kesuksesan
Disiplin itu kunci keberhasilan
SDIT Nur Hidayah, Yes!
Duta Kedisiplinan, Siap!

Yel-yel penyemangat itu terdengar bergemuruh di aula sekolah. Ya, pagi ini, (18/2) sejumlah 60 siswa-siswi kelas 3, 4 dan 5 SD Islam Terpadu Nur Hidayah Surakarta, yang terpilih sebagai Duta Kedisiplinan Siswa mengikuti acara penyerahan seragam duta kedisiplinan. Para siswa duduk bershaf rapi dengan wajah sumringah dan penuh semangat.

Acara dibuka dengan murojaah bersama surat Adh Dhuha. Selanjutnya Ustadzah Yan Syakila, S. Ag selaku Koordinator Tim Kedisiplinan SD IT Nur Hidayah memberikan pesannya, “Pagi ini sekolah akan menyerahkan seragam khusus untuk para duta kedisiplinan. Seragam ini tidak sekadar baju. Namun sebagai pengingat diri pribadi bahwa para siswa sekalian dipercaya dan dipilih sekolah sebagai pribadi disiplin sehingga layak menjadi teladan tentang kedisiplinan dan bisa mengingatkan teman-temannya agar menjadi pribadi yang disiplin juga.”

Pemakaian seragam duta kedisiplinan ini dilakukan secara simbolis. Abyan Faqih Rasendria, (10) salah satu duta kedisiplinan dari kelas 5A mengungkapkan rasa bangga dan tanggung jawabnya. “Satu sisi ada rasa bangga menjadi duta disiplin tapi juga sadar bahwa menjadi duta ini adalah amanah dan harus bertanggungjawab. Bismillah semoga aku bisa. Mengingatkan teman terutama mengingatkan diri sendiri untuk disiplin,” tuturnya.

Sebelum penutupan, Ustadz Waskito S. Pd selaku kepala sekolah menyampaikan apresiasinya atas terselenggaranya kegiatan pagi ini. “Permendikbud No 20 tahun 2018 tentang Penguatan Pendidikan Karakter (PPK)  pasal 2 menyatakan bahwa Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) dilaksanakan dengan penerapan nilai-nilai pancasila dalam pendidikan karakter terutama meliputi nilai-nilai religius, jujur, toleran, disiplin, bekerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, rasa cinta tanah air, menghargai prestasi, komunikatif, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial dan bertanggungjawab. SDIT Nur Hidayah Surakarta menindaklanjuti Permendikbud tersebut, salah satunya dengan membentuk Duta Kedisiplinan Sekolah. Ada 5 point utama yang digarap, yakni kedisiplinan wudhu, sholat, budi pekerti/akhlak, seragam dan kedatangan pagi serta adab makan. Sesuai visi sekolah yaitu menjadi sekolah yang bermutu, berkarakter, dan berbudaya lingkungan, semoga adanya duta ini akan menguatkan karakter unggulan bagi para duta khususnya dan seluruh siswa pada umumnya”, pungkasnya. *(Yan & Indah)

IMG-20190206-WA0007

Membuat Prakarya 3 Dimensi dengan Teknik Pilin

Rabu (06/02) siswa-siswi kelas 2B SDIT Nur Hidayah Surakarta mengikuti pelajaran tematik dengan muatan pelajaran Seni Budaya dan Prakarya (SBdP) di kelas. Pelajaran hari itu diisi dengan membuat prakarya 3 dimensi dari bahan buatan dengan teknik pilin. Sedangkan kelas 2 lainnya pelaksanaannya sesuai jadwal tematik dengan muatan pelajaran SBdP dikelas masing-masing.

Para siswa menyiapkan plastisin aneka warna. Plastisin inilah yang dikenalkan kepada siswa sebagai bahan buatan yang akan dikreasi menjadi vas bunga atau wadah lainnya. Diawal pelajaran guru menerangkan urutan kerja. Para siswa memperhatikan dengan penuh antusias.

Pertama plastisin dibentuk menjadi pilinan diatas meja. Selanjutnya membuat lempengan lingkaran sebagai alas. Pilinan yang telah jadi ditata dan dililitkan diatas lempengan alas sampai membentuk pot bunga atau wadah yang diinginkan. Sentuhan akhirnya adalah memberi aneka asesoris dan merapikannya.

Para siswa menyelesaikan prakarya dengan penuh suka cita. Kebebasan berinovasi yang diberikan oleh guru disambut dengan gembira. Aneka prakarya cantik dari bahan buatan berhasil dibuat oleh para siswa. Fathiyya Husna Karima ( 8 tahun) salah satu siswa 2C mengungkapkan kegembiraannya, “Pelajarannya asyik sekali…aku membuat tempat pensil. Aku beri hiasan bunga-bunga kecil. Kata ustadzah salah satu contoh bahan buatan adalah plastisin. Dan ternyata plastisin yang dipilin bisa dikreasi aneka bentuk. Hasil karya teman-teman juga bagus-bagus”.

Adapun Ustadzah Muslihah, S. Pd selaku salah satu guru tematik kelas 2 menjelaskan, “Para siswa pernah dikenalkan dan berkreasi dengan bahan alami sewaktu kelas 1. Untuk kelas 2 ini para siswa dikenalkan bahan buatan sekaligus berkreasi membuat karya 3 dimensi seperti vas atau wadah lainnya dari bahan buatan tersebut. Pada kali ini bahan buatan yang dikenalkan dan digunakan untuk membuat prakarya 3 dimensinya adalah plastisin dengan teknik pilin. Sewaktu kelas satu bahan alam yang digunakan adalah tanah liat. Meskipun kedua bahan sama-sama mempunyai tekstur lembut dan bersifat liat namun mempunyai perbedaan juga dimana perbedaan tersebut ada nilai kurang dan lebihnya. Muatan pelajarannya memang SBdP yakni prakarya 3 dimensi dengan teknik pilin namun kita tetap harus bisa menemukan nilai-nilai karekter yang ditujukan untuk menguatkan karakter unggul para siswa”.(Yan)

WhatsApp Image 2019-01-09 at 10.49.56

Wujudkan Nilai Pancasila dalam Aksi Peduli Bencana

Hari ini, Rabu (09/01/2019) cuaca cerah. Sang surya memancarkan sinarnya yang hangat nan indah. Setiap insan mulai melakukan aktivitas pagi dengan semangat. Tak terkecuali para guru dan siswa SDIT Nur Hidayah Surakarta. Mereka bersiap dan bergegas ke sekolah dengan semangat dan ceria. Dengan memakai baju pramuka semua guru dan siswa berkumpul di halaman sekolah.

Ya, pagi ini SDIT Nur Hidayah Surakarta menggelar “Aksi Peduli untuk Korban Gempa dan Tsunami Banten dan Lampung”. Kegiatan ini diawali dengan membaca ummul kitab surat Al-Fatihan. Dilanjutkan dengan sholat Ghaib untuk seluruh korban gempa dan tsunami Banten dan Lampung. Sebelum memulai sholat Ghaib, Ustadz Mulyadi, S.Ag. selaku imam sholat meminta semua peserta untuk berdiri, merapatkan dan merapikan shaff.

“Sholat ghaib adalah sholat jenazah yang jenazahnya tidak berada di dekat kita tapi berada di tempat yang jauh, yaitu Banten dan Lampung. Tata cara sholat ghaib yaitu posisi berdiri dengan 4 kali tarbir. Takbir pertama membaca Al- Fatihah, takbir kedua membaca Sholawat, takbir ketiga membaca doa untuk jenazah, dan takbir keempat doa untuk keluarga jenazah, lalu salam,” terangnya sebelum sholat dimulai. Sholat ghaib pun dimulai. Tampak semua siswa dan guru khusyuk melaksanakan sholat ghoib. Usai sholat Ghaib, Ustadz Mulyadi memimpin doa untuk para korban gempa dan tsunami di Banten dan Lampung.

Acara dilanjutkan dengan taushiyah dari Ustadz Waskito, S.Pd. selaku Kepala Sekolah. Sebelum memberikan beliau mengajak dan memimpin dzikir dan sholawat atas Nabi. Setelah itu, dalam sambutannya beliau menuturkan, “Kita sebagai umat muslim harus memiliki rasa empati dan kepedulian terhadap sesama. Sikap kepedulian dan tolong-menolong ini diberikan untuk siapa pun tidak mengenal suku, agama, ras, maupun budaya. Hal ini dikarenakan kita adalah satu bangsa dan satu tanah air yaitu Indonesia. Sikap empati dan peduli ini juga sesuai dengan pengamalan sila ke -2 Pancasila yaitu Kemanusiaan yang Adil dan Beradab. Untuk itu, mari berikan infak terbaik untuk Banten dan Lampung.”

Aksi solidaritas berikutnya adalah pembacaan puisi “Membaca Tanda-tanda” karya Taufiq Ismail oleh salah satu siswi kelas 6C, Rameyza Kirana Dewi. Pembacaan puisi yang penjiwaan diiringi dengan backsound seakan membawa peserta menyelami makna puisi yang sangat sesuai dengan tema kegiatan. Usai pembacaan puisi dan acara ditutup, para siswa mengantre memasukkan infak munasharah ke kotak infaq yang sudah disediakan. Salah satu siswi kelas 5D, Aisyah menyampaikan, “Senang mengikuti kegiatan aksi ini karena bisa mendoakan dan membantu korban bencana gempa dan tsunami di Banten dan Lampung.”

Sementara Ketua Panitia, Sriyoko, S.Pd. menuturkan, “Kegiatan ini bertujuan untuk mengejawantahkan nilai-nilai Pancasila dalam keseharian warga sekolah. Dengan memahami musibah apapun adalah kehendak Tuhan Yang Maha Kuasa, maka diharapkan warga sekolah dapat memetik hikmah untuk lebih taat pada perintah Allah. Adanya korban jiwa akan menyentuh rasa kemanusiaan para siswa untuk berempati dan peduli. Ketika beberapa musibah terjadi di berbagai daerah di Indonesia, maka akan menyentuh rasa keIndonesiaan kita. Peduli sesama wujudkan nilai-nilai Pancasila. Alhamdulillah, infaq munashoroh hari terkumpul Rp38.026.000,- (Tiga puluh delapan juta dua puluh enam ribu rupiah), dan insya Allah akan disalurkan melalui JSIT Indonesia.”

WhatsApp Image 2019-01-03 at 14.11.59

Ada Pemilu di Kelasku

Hari kedua masuk sekolah, pasca liburan akhir semester, ada pemandangan berbeda di salah satu ruang kelas SD Islam Terpadu (SD IT) Nur Hidayah Surakarta. Setelah kemarin mereka saling berbagi cerita liburan, saling melepas rindu dengan sesama siswa maupun dengan gurunya. Selain tentunya para siswa juga diingatkan beberapa peristiwa alam yang terjadi di Indonesia. Agar tumbuh rasa empati kepada sesama saudara sebangsa, minimal dengan mendoakan dan mengambil hikmahnya.

Hari ini, Kamis (03/01/2019) para siswa kelas 2D SD Islam Terpadu Nur Hidayah bersiap untuk belajar kembali. Pembelajaran hari ini diawali dengan Pemilihan Pengurus Kelas 2D untuk semester 2. Layaknya sebuah penyelenggaraan Pemilu di negara kita, perangkat yang disiapkan pun cukup lengkap. Kartu suara, kotak suara, hingga tinta tanda selesai memberikan suara disediakan. Hanya saja pemilunya bukan untuk memilih presiden maupun anggota legislatif, melainkan memilih pengurus kelas.

Diawali dengan penjalasan dari guru kelas 2D, Reni Agustin Priyatiningrum, S.Pd., “Sebuah organisasi dari yang terkecil semisal kelas suatu sekolah hingga yang besar seperti halnya pemerintahan negara, perlu ada pembagian personal dan tugasnya supaya organisasi dapat berjalan baik. Pengurus kelas, mulai ketua, sekretaris, bendahara, sie-sie memiliki tugas amanah dan tanggung jawab yang harus dilaksanakan. Ini akan melatih jiwa kepemimpinan, tanggung jawab, kerjasama di antara kalian. Kelak akan sangat berguna ketika kalian menjadi presiden, menteri, gubernur, dan lainnya.”

Kegiatan Pemilu Kelas dilanjutkan dengan pendaftaran calon pengurus kelas (ketua, sekretaris, bendahara dan beberapa sie). Guru memotivasi siswa agar tidak malu mencalonkan diri sebagai pengurus. Hal ini mejadi bagian penting dalam memupuk rasa percaya diri siswa atas kemampuan menjalankan amanah. Kegiatan berlanjut dengan menuliskan nama calon pengurus yang dipilih masing-masing siswa pada kartu suara dengan warna yang berbeda untuk tiap jabatan pengurus.

“Wah, hari ini kelasku ada Pemilu. Ternyata seru juga. Ikut deg-degan nih,” kata Agha Al Falah Ahza(8th), salah satu calon sekretaris. Saat yang mendebarkan pun tiba. Penghitungan suara dimulai. Semua kartu suara dihitung termasuk adanya surat suara yang rusak dan dicocokkan dengan jumlah pemilih. Dan akhirnya terbentuklah Pengurus Kelas 2D untuk masa jabatan semester 2 Tahun Pelajaran 2018/2019. Tidak hanya 2D saja yang menggelar Pemilu Kelas hari ini, tetapi kelas 2A,2B, dan 2C juga mengadakan.

Waka Humas SD Islam Terpadu Nur Hidayah Surakarta, Rahmat Hariyadi, S.Pd menuturkan, “Ternyata hiruk pikuk pesta demokrasi tidak hanya di tingkat nasional. Merembet semangat berdemokrasi hingga ke ruang kelas. Kegiatan ini melatih berdemokrasi, keberanian, percaya diri, kepemimpinan, kejujuran, kerjasama, bahkan melatih jiwa satria dan lapang dada. Berharap, kelak para siswa memiliki kepercayaan diri dan kemampuan untuk menjadi pemimpin di negeri ini.”