WhatsApp Image 2018-04-16 at 14.55.18

Tanamkan Visi Sekolah dalam Upacara Bendera

Kegiatan upacara bendera tentu menjadi sebuah agenda wajib pada hari Senin dalam instansi maupun sekolah. Begitu juga di Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) Nur Hidayah, Surakarta. Waktu tepat menunjukkan pukul 07.00, bel tanda masuk pun telah berbunyi. Namun tidak dengan 142 siswa-siswi kelas 3 sekolah tersebut. Mereka berduyun-duyun menuju halaman sekolah. Berpakaian rapi seragam merah putih dan bersepatu hitam. Beberapa petugas upacara pun sudah nampak gagah dan anggun dengan peci dan selempangnya.

Pagi ini (Senin/16/4/18), sekolah yang sedang merintis menjadi sekolah Adi Wiyata tersebut menanamkan kembali visi sekolah kepada peserta didik. Arahan itu langsung dipaparkan oleh kepala sekolah dalam upacara bendera. Para siswa-siswi kelas 3 yang sebagai petugas dan peserta upacara mengikuti dengan khidmat di halaman sekolah setempat.

Salah satu siswa kelas 3 yang bertugas sebagai pemimpin upacara, Hafiz Praba (8) mengungkapkan pengalaman pertamanya, “Tentu saja deg-degan. Karena baru pertama menjadi pemimpin upacara. Tapi alhamdulillah dapat menjalankan tugas dengan baik. Menjadi pengalaman yang berkesan tentunya.”

Kepala SDIT Nur Hidayah, Waskito, S.Pd dalam amanat upacara memaparkan, “Visi sekolah kita diperluas dengan ‘berbudaya lingkungan. Maka secara lengkap menjadi “Sekolah Berkarakter, Ramah Anak, Berprestasi Gemilang, dan Berbudaya Lingkungan. Dengan tagline Terdepan dalam Kebaikan. Visi atau cita-cita bukan hanya menjadi tanggung jawab guru, tetapi seluruh elemen sekolah mulai dari guru, siswa, semua orang tua maupun pegawai. Visi sekolah kami tambah dengan ‘berbudaya lingkungan’ agar warga sekolah semakin peduli terhadap lingkungannya.”

Sekolah tidak hanya bercita-cita menjadikan para siswa untuk cerdas dan berprestasi, tetapi juga berkarakter. Karena itu salah satu wujud pembentukan karakter adalah peduli terhadap lingkungannya. “Lingkungan ini dalam arti luas kepada masyarakat sekitar karena kami berada di tengah perkampungan. Juga bisa diartikan lingkungan secara khusus di dalam sekolah, misalnya kesadaran membuang sampah di tempat sampah, mematikan lampu jika tidak dipakai, atau mematikan keran air jika telah selesai,” pungkasnya.

Sementara itu, Ataya Zahra Qonita (8) sebagai salah satu peserta upacara menyampaikan, “Pesan bapak kepala sekolah kita agar peduli lingkungan, sekolah menjadi bersih dan nyaman. Salah satu contohnya membiasakan membuang sampah pada tempatnya.”

WhatsApp Image 2018-04-11 at 12.00.49

Literasi di Kelasku 5C

Salah satu program pemerintah untuk meningkatkan sumber daya manusia (SDM) adalah melalui gerakan literasi sekolah. Hal ini disebabkan karena keterampilan membaca sangat berperan dalam kehidupan seseorang.

Waktu menunjukkan tepat pukul 07.00. Bel tanda masuk sekolah berbunyi. Siswa kelas 5C mulai menempati tempat duduk masing-masing dengan tertib. Seperti biasa kegiatan sekolah pagi ini diawali dengan berdoa bersama dan hafalan beberapa surat Al-Quran. Usai kegiatan majelis pagi, saatnya para siswa mengikuti kegiatan literasi. Namun ada yang berbeda pada kegiatan literasi hari ini (11/04). Satu persatu siswa maju di depan kelas untuk menyampaikan isi buku yang sudah dibaca pada hari sebelumnya tanpa melihat buku.

Salah satu guru kelas 5, Susilowardhani, S.Pd menyampaikan, “Kegiatan ini dimaksudkan untuk mendukung program pemerintah tentang gerakan literasi sekolah yang bertujuan untuk meningkatkan minat baca. Harapan jangka panjangnya mereka memiliki budaya, bahkan menjadi kebutuhan keseharian untuk berliterasi. Menjadi pribadi penuh percaya diri, pengetahuan luas sekali, mampu mencipta narasi untuk peradaban dan kejayaan negeri.”

Program literasi ini dilaksanakan secara bertahap. Tahap pertama yaitu pembiasaan, pada tahap ini siswa dibiasakan untuk membaca 15 menit sebelum jam pelajaran setiap hari Senin-Kamis. Buku yang dibaca bebas sesuai tahap perkembangan anak. Diantaranya yaitu, buku pengetahuan agama, sains, sosial budaya, biografi dan lain lain. Tahap yang kedua yaitu pengembangan literasi, pada tahap ini siswa diarahkan untuk membuat rangkuman kemudian membacanya di depan kelas. Untuk meningkatkan keberanian dan percaya diri siswa, Kegiatan literasi dilanjutkan dengan model presentasi. Yaitu siswa menyampaikan isi buku di depan kelas tanpa membaca.

Aisha Jasmine (11), salah satu siswa kelas 5C yang mendapat giliran presentasi pada hari ini menuturkan, “Sangat senang dengan program literasi, pengetahuan saya jadi bertambah. Saya mendapat banyak pengetahuan yang belum diberikan pada jam pelajaran, hari ini saya menyampaikan tentang kisah Nabi Adam. Berbicara di depan kelas juga membuat saya jadi lebih percaya diri.”

Setiap siswa mengikuti kegiatan literasi dengan seksama. Kegiatan ini pun bertambah hidup karena mendapat respon, berupa tanya jawab dan ulasan dari guru dan siswa yang lain.

Waka Humas SDIT Nur Hidayah Surakarta, Rahmat Hariyadi, S.Pd menuturkan bahwa, “Program Gerakan Literasi Sekolah (GLS) maupun program Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) dari pemerintah sangat selaras dengan visi sekolah, Menjadi Sekolah Berkarakter, Ramah Anak, Berprestasi Gemilang, dan Berbudaya Lingkungan. Ketersediaan sudut baca, perpustakaan yang nyaman, kegiatan riel siswa membaca, menulis apa yang dibaca, menyampaikan kembali secara lisan, merupakan ikhtiar nyata dalam memaksimalkan proses dan hasil gerakan literasi.”

WhatsApp Image 2018-04-11 at 11.35.11

Kelas 4 SDIT Nur Hidayah Surakarta Gelar Daurah Pra Baligh

Mempersiapkan masa baligh berarti juga tengah mempersiapkan generasi Islam yang berkualitas. Sebagaimana firman Allah SWT, “Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah yang mereka khawatir terhadap mereka. Sebab itu hendaklah mereka bertaqwa kepada Allah dan mengucapkan perkataan yang benar.” (QS. Annisa:9). Kutipan ayat tersebut bak cambuk semangat dan motto bagi asatidz/ah Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) Nur Hidayah Surakarta dalam mempersiapkan generasi Islam yang hebat.

Untuk merealisasikannya maka pada hari ini (10/4/2018) kelas 4 SDIT Nur Hidayah menggelar daurah pra baligh. Bertempat di aula gedung barat bagi siswa putri, dengan pemateri Ustadzah Sutarmi, dan di Masjid Al Huda dengan pemateri Ustadz Bahruni Arsyad bagi siswa putra. Tujuan pemisahan tempat ini adalah agar materi dapat tersampaikan secara terang, jelas, dan gamblang bagi siswa-siswi.

Ustadz Bahruni Arsyad, selaku pemateri peserta putra mengawali materinya dengan mengutip surat Ar-Rum ayat 54 tentang tahapan pertumbuhan manusia. Beliau, Ustadz Bahruni melalui materi yang disampaikan menuturkan “Bahwa sesungguhnya setiap manusia itu pada mulanya lemah tak berdaya. Hanya Allah yang memberinya kekuatan.”

Penyampaian materi disampaikan dengan cara yang menarik dan interaktif sehingga anak-anak begitu menikmati sesi demi sesi.

Demikian halnya juga dengan kelompok daurah putri. Mereka mengikutinya dengan penuh antusias, tenang, tertib dalam menyimak materi yang dipaparkan oleh Ustadzah Ami (sapaan akrab dari Ustadzah Sutarmi).

Salah satu siswi kelas 4C Vatara Alma Dea menuturkan, “Pengetahuan baru bagi saya. Saya jadi mengerti tanda-tanda baligh”. Sementara dari peserta dauroh putra, Anas Irsyad (10) kelas 4A saat ditanya pendapatnya tentang dauroh halaqoh, menjawab “Materinya bagus, penyampaiannya juga. Dan tak kalah bagusnya karena ruangan ber-full ac”.

Ketua Panitia Dauroh Halaqoh kelas 4 tahun ini, Ustadzah Endah Sri Handayani, S.Pd. menyampaikan “Melalui dauroh halaqoh ini diharapkan agar anak-anak kelas 4 bisa dengan maksimal mendapatkan pembekalan (materi prabaligh) sebaik-baiknya. Sehingga, jika nanti sudah masuk usia baligh mereka sudah benar-benar siap dan paham dengan segala konsekuesinya. Titik tekan materi dauroh ini memang sepenuhnya belum sampai secara eksplisit, masih gambaran umumnya saja. Namun walau demikian, siswa-siswi sudah mulai memahami”. *(ikhsan~rifa/emyu)

724546e3-0a64-4be5-89a7-95de12008204

Piala Bergilir PMR Kembali ke SDIT Nur Hidayah

Torehan prestasi kembali diraih oleh Sekolah dasar Islam Terpadu (SDIT) Nur Hidayah Surakarta. Kali ini Tim Dokter Cilik/PMR Mula membawa pulang kembali piala bergilir Ketua PMI Kategori PMR Mula dalam Pesta Kreativitas Palang Merah Remaja (PMR) se-Eks Karesidenan Surakarta Chreaphoria ke-10 yang diselenggarakan oleh PMR SMA Negeri 1 Surakarta bekerjasama dengan Palang Merah Indonesia (PMI) Kota Surakarta. Pada ajang yang sama tahun lalu tim ini juga berhasil meraih juara umum dan piala bergilir.

Kegiatan dilaksanakan Ahad (01/04/2018) di kampus SMA Negeri 1 Surakarta, diikuti oleh 12 tim (sekolah) se-Eks Karesidenan Surakarta. Tim Dokter Cilik PMR Mula SDIT Nur Hidayah terdiri atas Gerard Hafidz Sheehan (11), Aisyah Ridhaka (10), Valinaz Putri Setyawan (11), Zahiyah Wulan Supriyono (10), Aulia Syakira Fairuza (10), Firdausi Nur Baiti (11), Ammar Makarim Wardhana (11), Faiz Hibatul Aziz (11).

Mereka bertanding di empat kategori lomba, yakni Kategori Perawatan Kedaruratan (Juara 1), Kategori Lomba Cerdas Cermat (Juara 1), Kategori Bercerita (Juara 2), dan Kategori Pertolongan Pertama (Juara 2). Berdasarkan perolehan tersebut, Tim SDIT Nur Hidayah dinobatkan sebagai Juara Umum dan berhak kembali untuk membawa pulang Piala Bergilir Ketua PMI Kota Surakarta Kategori PMR Mula.

Salah satu anggota Tim Dokter Cilik SDIT Nur Hidayah, Gerard Hafidz Sheehan (11), menyampaikan pengalaman lombanya, “Senang ikut lomba, apalagi bisa meraih juara umum. Tadi saya ikut yang kategori lomba Pertolongan Pertama. Awalnya sempat grogi sedikit, tapi akhirnya alhamdulillah dapat juara. Inginnya tahun depan ikut lomba lagi, meraih juara lagi.” Sementara Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan, Husni Malik, S.P, S.Pd yang ikut mendampingi langsung di lokasi lomba menuturkan, “Selain mental juara yang insya Allah cukup terjaga karena tahun kemarin sudah juara, mereka juga cukup terbantu dengan adanya ekstrakurikuler dokter cilik setiap hari Sabtu.”

Waka Humas SDIT Nur Hidayah Surakarta, Rahmat Hariyadi, S.Pd menyampaikan, “Hasil ini tentu semakin mengokohkan visi sekolah, Menjadi Sekolah Berkarakter, Ramah Anak, dan Berprestasi Gemilang. Patut kita syukuri semoga semakin menginspirasi siswa-siswi lainnya untuk terus menorehkan prestasi. Termasuk bagi mereka yang telah meraih prestasi semoga semakin memantapkan mereka meraih prestasi berikutnya dan asanya di masa mendatang.”

WhatsApp Image 2018-02-16 at 12.28.58

Tanamkan Karakter Mulia melalui Kemah Ukhuwah PERJUSA

Kami generasi muda yang gigih
Bertekat kuat membangun negeri
Agar Indonesia membumbu ng tinggi
Harum semerbak seantero bumi

Pramuka SIT Indonesia
Dengan cita kami terus melangkah
Pramuka SIT Indonesia
Dengan taqwa kami meraih cita

Tangguh tangkas teguh di dalam jiwa
Pramuka SIT Indonesia

Mars Pramuka SIT Indonesia menggema di pelataran halaman SDIT Nur Hidayah pagi ini. Dinyanyikan seluruh siswa, menghantarkan keberangkatan mereka menuju ke armada bus yang telah disediakan. Mereka tampak gagah dan anggun memakai seragam pramuka lengkap dengan hasduk dan topi pramukanya. Sambil menggondong tas ransel membawa perlengkapan masing-masing, senyum mengembang terpancar dari wajah mereka saat disalami beberapa guru. Tampak sebagian orang tua ikut menghantarkan sampai ke tempat bus di Jalan Siwalan tidak jauh dari sekolah.

Ya, hari ini sampai besok (Jum’at-Sabtu, 16-17/02) sejumlah 280 siswa-siswi kelas 4 dan 5 SDIT Nur Hidayah akan mengikuti kegiatan Perkemahan Jum’at-Sabtu (PERJUSA) di Kampoeng Karet, Ngargoyoso, Karanganyar. Tema yang diambil dalam kegiatan ini “Dengan Kemah Ukhuwah Kita Hadirkan Semangat Membangun NKRI Bersama-sama dalam Rangka Membentuk Generasi Tangguh Melalui Gerakan Pramuka”.

Sesampainya di lokasi, peserta mendirikan tenda didampingi Kakak Pembina masing-masing regu. Selanjutnya mereka memasak untuk persiapan makan siang, sebelum menunaikan Sholat Jum’at berjamaah.

Selepas waktu dzuhur, semua peserta sudah siap mengikuti Upacara Pembukaan. Kepala Sekolah sekaligus Kamabigus Gugus Depan SDIT Nur Hidayah, Waskito, S.Pd menyampaikan amanat upacara, “Pramuka SIT Indonesia harus bersungguh-sungguh dalam meraih cita. Dengan senantiasa menjaga amalan yaumiyah. Jadikan kemah ini untuk mengokohkan sikap positif mandiri, kerja sama, tanggung jawab, dan lainnya. Juga senang bahagia di manapun dan kapanpun berada.”

Ketua Panitia, Sunarto, S.Pd, menyampaikan “Lomba-lomba antar regu dimulai usai Sholat Asar. Ada lomba Tantangan Atribut Pramuka, Tantangan Arah Mata Angin, Tantangan KIM (Kejelian Indra Manusia), Tantangan Estafet (Bakiak, Himpit Bola, Tongkat), Tantangan Kebangsaan (Pancasila, Sandi Kotak), Tantangan Ketangkasan (Lempar Bola, Pindahkan Bola dengan Ditiup), Tantangan P3K Dragbar, Perang Air, dan diakhiri dengan Tubing Kali Cilik.”

Salah satu peserta lomba, Kifaya Taqiyya Rasyida (9) siswi kelas 4D menuturkan pengalamannya, “Seru, bisa masak bareng teman-teman. Masak sayur sop serta goreng kentang dan sosis. Bisa melatih kerjasama dan kemandirian. Di rumah kadang-kadang sudah masak sendiri.” Sementara peserta lainnya, Kholif Sunan Al-Fatih (10) siswa kelas 5B menuturkan, “Baru kali ikut kegiatan kemah. Ternyata menyenangkan. Bersama teman-teman satu regu siap mengikuti lomba-lomba yang disiapkan Kakak Pembina.”

Waka Humas SDIT Nur Hidayah, Rahmat Hariyadi, menuturkan, “Agenda kegiatan ini rutin dilaksanakan 2 tahun sekali bagi pramuka siaga. Mudah-mudahan menjadi pengalaman berkesan bagi mereka.” (yudi&bisri/emyu)

WhatsApp Image 2018-02-17 at 05.08.04

Serunya Belajar Menimbang

Hari ini (19/02/2018) adalah hari yang ditunggu siswa siswi kelas 2. Sejak pekan pertama Februari, siswa-siswi kelas 2 belajar Tematik pada Tema 6: Merawat Tanaman dan Hewan. Dalam tema ini terdapat kegiatan pembelajaran praktek menimbang pada muatan pelajaran matematika untuk Satuan Berat Baku.

Usai kegiatan majelis pagi, siswa- siswi mengumpulkan bahan yang akan digunakan untuk praktek menimbang. Bahan yang dibawa dari rumah berupa kentang, beras, telur asin dan tepung. Selain itu siswa juga membawa beberapa produk kemasan sachet yang terdapat keterangan beratnya seperti sabun, detergent, mentega, kopi, susu, merica bubuk, coklat batang dan gula pasir.

Bahan yang sudah dibawa ditata sedemikian rupa oleh guru pengampu. Ada 3 macam timbangan yang digunakan, yaitu timbangan pasar, timbangan dapur, dan timbangan digital. Selain itu, siswa juga disediakan Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) untuk diisi.

Para siswa terbagi dalam 6 kelompok yang akan menimbang di pos-pos penimbangan secara bergantian. Pos 1 menimbang kentang, Pos 2 menimbang beras, Pos 3 menimbang telur, Pos 4 menimbang tepung, sedangkan Pos 5 dan 6 mencatat keterangan berat produk dalam sachet.

Kegiatan menimbangpun dimulai. Pembelajaran menjadi lebih seru dan asyik. Para siswa terlihat sangat senang dan menikmati pembelajaran. Menuang beras dalam baskom timbangan, kemudian menambah atau mengurangi agar paruh timbangan sejajar. Meletakkan telur dan kentang saat menimbang, mengganti dengan yang lebih besar atau sebaliknya hingga mencapai berat yang sesuai.

Guru Pengampu Tematik sekaligus Tim Humas Paralel Kelas 2, Reni Agustin Priyatiningrum, S.Pd menuturkan, Memegang beras, tepung dan benda-benda secara langsung memberikan pengalaman yang sangat berkesan. Mereka tampak bahagia belajar sambil praktik bersama teman-teman. Kelak ketika di antara mereka menjadi pedagang semoga sukses dengan tetap menjaga karakter jujurnya dalam menimbang.”

Diakhir pembelajaran, para siswa memberikan kesimpulan sederhana bahwa menimbang dengan timbangan digital paling mudah, tapi menimbang dengan timbangan pasar sangat asyik. Tidak lupa, para siswa dan guru bekerja sama merapikan dan membersihkan kelas sebelum persiapan pulang.

Waka Humas SDIT Nur Hidayah, Rahmat Hariyadi, S.Pd menuturkan, “Pembelajaran tematik memang lebih menyenangkan dan lebih berkesan. Siswa dikenalkan langsung dengan bendanya. Mereka mengamati, memegang/ memfungsikan, membuat kesimpulan bersama, dan lainnya. Ada 4 kelas di SDIT Nur Hidayah yang tahun pelajaran ini menggunakan Kurikulum 2013, yaitu kelas 1, 2, 4, 5. Insya Allah tahun pelajaran mendatang semua kelas mengikuti Kurikulum 2013.”

WhatsApp Image 2018-02-17 at 05.07.21

Aku Bisa Mengancing Baju Sendiri

Setiap anak hendaknya dibekali kecakapan hidup yang memadai, agar kelak tegak mandiri atas kehidupannya sendiri. Terampil dalam menemukan solusi atas tiap masalah yang dihadapi.

Mama Fulanah memandang putranya yang masih bejibaku memakai seragam. Jemarinya masih belibet mengancingkan baju. Sementara waktu terus bergerak. Sang Bunda harus memutuskan membantu ananda memakai seragam sehingga ananda tidak terlambat atau membiarkan ananda tetap berlatih dengan konsekuensi membutuhkan waktu yang lama.

Lain cerita,  Fulan dengan tergesa memakai sepatu bertalinya. Klakson mobil antar jemput sudah memanggilnya. Namun jemarinya masih sibuk menali. Klakson kembali terdengar dan memaksa dirinya untuk abai atas tali sepatu. Ia berlari menuju mobil dengan tali sepatu yang masih menjulur ke sana kemari.
Mempunyai sepatu seperti pemain sepakbola idolanya ternyata lebih sering membuatnya terjebak dalam kerumitan karena selalu berurusan dengan tali menali.

Mengancing baju, menali sepatu, mencuci peralatan makan pribadi, menjahit sederhana adalah beberapa contoh sederhana kecakapan yang hendaknya dibekalkan kepada anak di usia dini mereka.  Hal ini dikarenakan keduanya salah satu contoh persoalan keseharian yang musti dihadapi anak dan harus bisa diselesaikan sendiri oleh mereka.

Berangkat dari hal tersebut, maka SDIT NUR HIDAYAH dari awal berdirinya menjadikan pelajaran Life Skill (Kecakapan Hidup) sebagai salah satu menu unggulan dalam program pembelajaran. Life Skill sangat penting sebagai bekal setiap anak. Life Skill adalah pendidikan yang memberikan kecakapan personal,  kecakapan sosial, kecakapan  intelektual dan  kecakapan vokasional untuk bekerja, berusaha, dan atau hidup mandiri.

Orientasi Life Skills,  membangun  sikap  kemandirian,  untuk mendapatkan ketrampilan  sebagai bekal untuk bekerja  dan mengembangkan diri. Sebagai contoh salah satu pembelajaran life skill yang dilaksanakan di SDIT Nur Hidayah Surakarta yakni pembelajaran  kelas 1 pada Sabtu (27/01/ 2018) para siswa antusias mengikuti pelajaran life skill. Tema yang disajikan adalah ‘Aku Bisa dan Terampil Mengancingkan Baju Sendiri’.

Mengancingkan baju merupakan pembelajaran yang mensinergikan stimulus motorik halus sekaligus psikologis anak. Motorik halus adalah gerakan yang hanya melibatkan bagian tubuh tertentu saja. Dilakukan oleh otot-otot kecil. Seperti kemampuan menggunakan jemari tangan dan gerakan pergerakan tangan yang tepat. Kegiatan ini tidak membutuhkan banyak tenaga tetapi membutuhkan kecermatan dan koordinasi yang bagus.

Pada dasarnya sebuah stimulasi motorik halus akan melatih koordinasi mata dan tangan. Hanya saja untuk stimulasi mengancing baju sendiri agak berbeda. Karena koordinasi yang dilakukan terdapat di pakaian yang dikenakannya. Tentu taraf kesulitannya lebih tinggi. Dia harus menunduk untuk melihat dan memastikan jari-jarinya bekerja dengan benar.

Semakin tinggi tingkat koordinasi mata dan jari, maka semakin tinggi pula keterampilan kompleks yang dimiliki anak. Ia akan lebih mudah belajar pada proses yang lebih rumit. Dan akan lebih mudah menyelaraskan gerak yang utuh.

Salah satu guru kelas 1, Siti Aminuriyah, S. Ag, menyampaikan, Dengan adanya pembelajaran ini ada 4 point yang diproseskan kepada siswa; Pertama, melatih motorik halus, yang merupakan bekal ketrampilan lain anak serta berkaitan dengan perkembangan kognitif anak. Kedua, Melatih koordinasi mata dan tangan. Ketiga, Melatih kemandirian anak. Keempat, Melatih kesabaran dan ketekunan anak.”

Pada akhirnya memang tak ada yang sederhana ketika memproses anak dalam sebuah pembelajaran. Ibarat menanam padi, jikalau hendak menuai bernasnya panenan, maka petani hendaknya cermat, tekun, dan sabar dari menyemai bibit, menjaga, merawat, membuang rerumput dan semua hama, hinggalah memilih waktu yang tepat dalam memanennya.
(yan/emyu)

WhatsApp Image 2018-01-16 at 09.51.43

Siswa Kelas 3 Buat Mobil Tenaga Angin

Siang melewati puncaknya. Bel tanda masuk belajar terdengar dari berbagai ruang. Matahari mulai menggelincir ke barat. Jam di dinding menunjukkan pukul 14.00. Saatnya para siswa mengikuti pembelajaran jam terakhir hingga menjelang Ashar. Meski demikian, mereka masih tampak semangat untuk belajar. Mereka bergegas masuk ke ruang kelas masing-masing.

Ya, siang kemarin, (11/1) sejumlah 36 siswa kelas 3A akan mengikuti pembelajaran Seni Budaya dan Kerajinan (SBK). Mereka segera mengeluarkan bahan dan alat yang dibawa dari rumah. Mereka tidak sabar untuk mempraktikan pembuatan mobil tenaga angin.

Mereka tampak antusias mengikuti penjelasan dari guru pengampu. Mereka terlihat gembira dengan kegiatan ini. Tak hanya mengasah kreativitas, kegiatan ini juga memanfaatkan barang bekas seperti botol minum bekas.

Setiap kelompok yang terdiri dari 2-3 anak terlihat serius. Mereka telah menyiapkan beragai peralatan dan perlengkapan sejak sepekan lalu. Tahap demi tahap mereka lalukan dengan hati-hati. Mulai melubangi tutup botol sebagai roda hingga belajar mengelem menggunakan lem pistol. Tentu saja anak-anak sangat antusias melakukan setiap langkah tersebut.

Khansa Aqilah Suryono (9) salah satu siswi kelas 3A mengatakan senang dengan kegiatan ini, “Aku senang, karena seru dan kreatif.” Hal ini senada dengan yang dirasakan Muhammad Taqiyuddin Atsaqif (9). Siswa yang sering dipanggil Tsaqif ini merasa senang dengan kegiatan SBK tersebut, “Senang dapat membuat mobil tenaga angin. Melatih kerjasama bersama teman-teman.”

Kegiatan belajar di luar ruangan ini dipandu langsung oleh Sriyanta S.Pd selaku pengampu muatan pelajaran SBK kelas 3. Menurut penuturan beliau, “Kegiatan belajar tersebut sesuai dengan Kompetensi Dasar, yakni membuat karya yang bergerak dengan tenaga angin.

“Kegiatan ini tidak hanya melatih anak-anak untuk kreatif memanfaatkan barang bekas di sekitar kita. Tetapi juga untuk melatih kesabaran setiap anak. Sebab memang banyak proses yang dilakukan agar hasilnya bagus. Selain itu saya berharap anak-anak belajar untuk bekerja sama dalam satu tim.” pungkas Ustadz Sri.

Waka Humas SDIT Nur Hidayah, Rahmat Hariyadi, menuturkan bahwa “Saat ini kita menggunakan dua kurikulum. Kelas 1,2,4, dan 5 menggunakan Kurikulum 2013 sementara kelas 3 dan 6 menggunakan Kurikulum 2006. SBdPatau SBK juga ditujukan untuk melatih kreativitas siswa dalam. Mencipta hasta karya sesuai SK/KD yang ada. Mudah-mudahan kelak mereka bisa menjadi ilmuwan, teknokrat, insinyur yang memberikan manfaat kepada ummat manusia.”

WhatsApp Image 2018-01-16 at 09.51.47 WhatsApp Image 2018-01-16 at 09.51.46 WhatsApp Image 2018-01-16 at 09.51.45

IMG_0073

Setiap Detik Begitu Berharga

Setiap Detik Begitu Berharga

Oleh : Muslikah, S.Pd.*)

 

Di tengah-tengah hiruk pikuk arus globalisasi, SDIT Nur Hidayah tampil ambil bagian. Sekolah islam ini menawarkan idealisme membangun peradaban dari satuan pendidikan dasar terendah. Ya.. jenjang sekolah dasar. Anak-anak yang masih bersih “suci” itu harus diselamatkan. Sebab merekalah pemimpin negeri ini di masa mendatang.

Berbekal cita-cita mencetak lulusan berakal pintar dan cerdas hati, menguasai IPTEK dan melekat kuat IMTAK-nya serta berbudaya, delapan belas tahun silam berdirilah SDIT Nur Hidayah. Bertemunya ide dan kesamaan visi dan tujuan, akhirnya Allah memperkenankan terwujudnya sekolah di Jalan Pisang No 12 Kerten, Laweyan, Surakarta ini.

Sejak berdirinya, SDIT Nur Hidayah memberikan perhatian lebih pada pendidikan karakter. Hal ini diwujudkan dengan berbagai progam dan kegiatan. Dalam segala bidang mata pelajaran (yang sekarang menjadi muatan pelajaran), setiap waktu dan kesempatan. Ketika itu kami belum terpikir merumuskan tentang apa itu nilai karakter utama. Namun kami mempunyai asa terhadap para lulusan kelak. Dari situlah kami menyusun program dan kegiatan.

Pagi yang cerah, senyum merekah. Kami hadir lebih awal di sekolah. Berjajar menyambut “matahari” kami. Ya.. siswa siswi. Mereka adalah “matahari” kami yang akan menerangi semesta alam Indonesia tercinta. Merekalah yang akan hadir pembawa asa di antara sebagian kepesimisan. Bersalaman menjadi ritual penuh makna dan falsafah. Menjunjung tinggi budaya ke-timur-an yang tenar dengan sopan santunnya. Apalagi keberadaan kami di kota Surakarta yang kental dengan unggah-ungguh nya. Tidak sekedar berjabat tangan, tetapi mencium tangan gurunya mengandung simbol penerapan budaya Solo dimana salah satu adab murid adalah ngajeni  gurunya, sebagai anak andhap asor terhadap orang tuanya. Saat mereka (siswa/siswi itu) melepaskan cium dan jabat tangan dari ayah atau ibunya, melangkah pasti menuju gerbang sekolah. Wali murid pun seolah berkata “Kami titipkan anak kami, buah hati kami, permata kami untuk bapak/ibu guru didik. Sepenuh jiwa dan raga kami percayakan amanah kami sementara waktu hingga sore nanti.” Kami sambut siswa siswi dengan senyum, salam, sapa, dan berjabat tangan. Seolah kami menjawab keresahan hati para orang tua “Kami terima amanah berat nan mulia ini wahai ayah bunda. Akan kami jaga sepenuh jiwa dan raga. Terima kasih atas kepercayaan yang ayah bunda berikan”.

Proses belajar dan penguatan karakter pun dimulai, sejak pertemuan pertama kami (guru dan murid) di pintu gerbang sekolah. Cium dan jabat tangan yang mengajarkan kesantunan bentuk olah hati dalam mengenal etika. Salam yang merupakan syiar dan doa, selalu kami ingatkan sebagai olah hati dalam pembiasaan spiritual. Senyum dan sapa ditebar sebagai penyemangat jiwa dan raga. Kadang kami jumpai beberapa siswa/siswi cemberut dan lesu. Insiden-insiden kecil tak jarang menjadi penyebabnya. Alat tulis ketlisut, bangun kesiangan, nggak mau sarapan, bertengkar dengan adik, dan masih banyak lagi kasus yang kami temui. Kepiawaian para pendidik untuk mengembalikan keceriaan dan semangat para siswa terus terasah. Kasus demi kasus, pengalaman demi pengalaman, membuat kami semakin banyak belajar serta meningkatkan kapasitas dan kompetensi.

Sungguh kami bersyukur, saat pemerintah lebih intens dan memberikan perhatian besar dalam penguatan pendidikan karakter ini. Dengan lima nilai karakter utama yang terprogram, yakni religius, nasionalis, gotong royong, mandiri, dan integritas. Mimpi kami untuk menemukan generasi yang cerdas menyeluruh: olah hati, olah rasa, olah pikir, dan olah raga tak hanya menjadi idealisme yang jauh dari angan. Tetapi sekarang harapan itu telah menjadi program bersama milik bangsa. Menuju generasi 2045, generasi cerdas, tangguh, dan berkarakter.

Kami pun telah membiasakan karakter religius sepanjang proses “belajar” siswa di sekolah. Ini sangat terasa baik pada proses KBM maupun non-KBM, di dalam maupun di luar kelas, sejak pagi hingga pulang sekolah. Mengawali seluruh rangkaian kegiatan di sekolah dengan berdoa, membaca Alquran, dan mutabaah ibadah siswa menjadi bagian penting yang tak pernah terlewatkan setiap hari. Selain sebagai bentuk penguatan karakter religius, kegiatan rutin ini juga sebagai sarana penguatan karakter integritas. Penanaman nilai “kejujuran” menjadi prioritas saat melakukan mutabaah ibadah harian siswa. Kerjasama dengan orang tua menjadi penopang utamanya. Menyampaikan dan menanyakan hal-hal yang perlu dikonfirmasikan kepada orang tua bukan sesuatu yang sulit kami lakukan. Kecanggihan era digital, teknologi dan infomasi semakin memudahkan kami untuk mengintenskan komunikasi antara guru dengan para orang tua. Bahkan pelayanan nonstop (24 jam) menjadi slogan kami. Para orang tua pun menyambut baik setiap program dalam rangka menyelaraskan visi, misi, dan tujuan bersama. Kegiatan pertemuan guru dan wali murid sudah rutin dilakukan. Bahkan antarwalimurid dalam satu rombongan belajar (rombel) terdapat wadah paguyuban orang tua murid. Kolaborasi apik inilah yang menjadi energi positif. Energi yang selalu menyemangati kami setiap hari.

KBM terpadu dan terintegrasi menjadi konsep dasar kami. Sejak awal pun kami telah menerapkannya. Mengaitkan muatan karakter dan nilai-nilai islami dalam pembelajaran menjadi tantangan yang senantiasa kami perbaiki. Berbagai inovasi tak ubahnya sebagai bumbu dalam pembelajaran kami. Bahkan kami pernah mendapati komentar dari para siswa “Bu guru, ini pelajaran PAI atau tematik sih?”.Dikarenakan keterpaduan yang harmonis antara setiap pembelajaran dengan penguatan pendidikan karakter dan nilai-nilai akhlak islami. Di sini kami memadukan dan menyatukan olah hati bersamaan olah pikir, olah rasa, dan olah raga. Sebuah kesatuan yang terintegrasi, bukan parsial. Sebab penguatan pendidikan karakter haruslah mengalir dengan proses natural dan otentik.

Tak hanya dalam proses KBM di dalam kelas, saat istirahat pun menjadi sesi penting. Sebab dalam proses inilah pembiasaan nilai-nilai dan norma-norma yang merupakan bagian penting dari penguatan pendidikan karakter teraplikasikan. Pembiasaan makan menggunakan tangan kanan, dengan posisi duduk, dan berdoa adalah nasihat yang selalu kami ulang sebelum para siswa berhamburan ke luar kelas saat istirahat. Keberadaan “kantor” guru yang berada di masing-masing kelas membuat kami whole day membersamai siswa. Sehingga mengamati cara mereka berinteraksi, bersosialisasi dan otomatis selalu ada unsur penguatan pendidikan karakter secara spontanitas dalam keseharian di sekolah.

Momen terpenting dalam memberikan penguatan nilai-nilai karakter adalah saat pendampingan makan siang dan pendampingan salat berjamaah. Hal ini mulai dari pembiasaan adab-adab makan, berdoa sebagai rasa syukur (olah hati), berbagi (integritas), hingga memenuhi hak fisik (olah raga). Tentunya  hal-hal lain banyak kami review dalam momen kegiatan berjamaah tersebut. Bak keluarga dengan bincang ringannya tetapi tetap produktif untuk membangun kedekatan emosi antara guru dan siswa/siswi. Dilanjutkan pendampingan berwudhu dan salat berjamaah sebagai perwujudan karakter religius. Mencetak generasi tentu tak semudah men-setting dan me-reset robot. Tantangan tersendiri yang memerlukan ide, kreatifitas, dan kecerdasan dalam upaya membiasakan siswa tertib dan khusyu’ dalam beribadah ini. Keterbatasan tempat dan sarana prasarana tak menjadi penghalang untuk mewujudkan karakter religius tersebut. Tentu saja dengan pentahapan dalam penyusunan target setiap jenjang kelas. Kelas 1 dan 2 dengan karakter pascaPAUD menjadi tahap awal pengenalan dan pembiasaan tertib dan khusyuk dalam beribadah. Sementara di kelas 3 dan 4 mulailah tahap pendisiplinan. Dengan demikian pada jenjang kelas 5 dan 6 tercapailah suasana nyaman, tertib, dan khusyu’ sebagaimana yang diharapkan.

Tak ketinggalan kegiatan-kegiatan di luar KBM yang terprogram dan terencana. Praktik belajar lapangan, outing class, renang, outbond, dan berbagai macam kegiatan ekstrakurikuler tak lepas dari misi penguatan pendidikan karakter.

Sejak berdirinya, SDIT Nur Hidayah memang telah memilih waktu belajar full day school. Dengan gagasan dapat menambah waktu untuk penguatan pendidikan karakter yang terintegrasi dalam seluruh rangkaian kegiatan di sekolah dari pagi hingga sore hari.

Keteladanan guru dan semua elemen di sekolah, termasuk karyawan, memang menjadi kunci utama. Karena itu kesamaan visi, misi, dan tujuan menyatukan kami. Berjuang, bergerak bersama mewujudkan cita-cita mulia. Berkorban sepenuh jiwa dan raga. Kami rela “berkorban” waktu, tenaga, pikiran, dan perhatian karena setiap detik begitu berharga bagi generasi kita. Mendidik sepenuh hati menggapai ridho Ilahi. Karena mimpi kami adalah membangun peradaban, tidak sekedar mentransfer pengetahuan.

 

*) Muslikah, S.Pd. adalah salah satu guru di SDIT Nur Hidayah Surakarta sejak 2001 hingga sekarang.

**)Artikel ini diikutsertakan dalam Lomba Penulisan Artikel Ilmiah Sekolah Dasar Tahun 2017 (kategori Lomba Menulis Feature Sekolah Dasar) yang diselenggarakan oleh Direktorat Pembinaan Sekolah Dasar, Direktorat Jenderal Pendidikan dasar dan Menengah, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

 

2

This is a standard post format with preview Picture

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit. Aenean commodo ligula eget dolor. Aenean massa. Cum sociis natoque penatibus et magnis dis parturient montes, nascetur ridiculus mus.

Donec quam felis, ultricies nec, pellentesque eu, pretium quis, sem. Nulla consequat massa quis enim. Donec pede justo, fringilla vel, aliquet nec, vulputate eget, arcu. In enim justo, rhoncus ut, imperdiet a, venenatis vitae, justo. Nullam dictum felis eu pede mollis pretium. Integer tincidunt. Cras dapibus. Vivamus elementum semper nisi.

Read more