WhatsApp Image 2019-01-09 at 10.49.56

Wujudkan Nilai Pancasila dalam Aksi Peduli Bencana

Hari ini, Rabu (09/01/2019) cuaca cerah. Sang surya memancarkan sinarnya yang hangat nan indah. Setiap insan mulai melakukan aktivitas pagi dengan semangat. Tak terkecuali para guru dan siswa SDIT Nur Hidayah Surakarta. Mereka bersiap dan bergegas ke sekolah dengan semangat dan ceria. Dengan memakai baju pramuka semua guru dan siswa berkumpul di halaman sekolah.

Ya, pagi ini SDIT Nur Hidayah Surakarta menggelar “Aksi Peduli untuk Korban Gempa dan Tsunami Banten dan Lampung”. Kegiatan ini diawali dengan membaca ummul kitab surat Al-Fatihan. Dilanjutkan dengan sholat Ghaib untuk seluruh korban gempa dan tsunami Banten dan Lampung. Sebelum memulai sholat Ghaib, Ustadz Mulyadi, S.Ag. selaku imam sholat meminta semua peserta untuk berdiri, merapatkan dan merapikan shaff.

“Sholat ghaib adalah sholat jenazah yang jenazahnya tidak berada di dekat kita tapi berada di tempat yang jauh, yaitu Banten dan Lampung. Tata cara sholat ghaib yaitu posisi berdiri dengan 4 kali tarbir. Takbir pertama membaca Al- Fatihah, takbir kedua membaca Sholawat, takbir ketiga membaca doa untuk jenazah, dan takbir keempat doa untuk keluarga jenazah, lalu salam,” terangnya sebelum sholat dimulai. Sholat ghaib pun dimulai. Tampak semua siswa dan guru khusyuk melaksanakan sholat ghoib. Usai sholat Ghaib, Ustadz Mulyadi memimpin doa untuk para korban gempa dan tsunami di Banten dan Lampung.

Acara dilanjutkan dengan taushiyah dari Ustadz Waskito, S.Pd. selaku Kepala Sekolah. Sebelum memberikan beliau mengajak dan memimpin dzikir dan sholawat atas Nabi. Setelah itu, dalam sambutannya beliau menuturkan, “Kita sebagai umat muslim harus memiliki rasa empati dan kepedulian terhadap sesama. Sikap kepedulian dan tolong-menolong ini diberikan untuk siapa pun tidak mengenal suku, agama, ras, maupun budaya. Hal ini dikarenakan kita adalah satu bangsa dan satu tanah air yaitu Indonesia. Sikap empati dan peduli ini juga sesuai dengan pengamalan sila ke -2 Pancasila yaitu Kemanusiaan yang Adil dan Beradab. Untuk itu, mari berikan infak terbaik untuk Banten dan Lampung.”

Aksi solidaritas berikutnya adalah pembacaan puisi “Membaca Tanda-tanda” karya Taufiq Ismail oleh salah satu siswi kelas 6C, Rameyza Kirana Dewi. Pembacaan puisi yang penjiwaan diiringi dengan backsound seakan membawa peserta menyelami makna puisi yang sangat sesuai dengan tema kegiatan. Usai pembacaan puisi dan acara ditutup, para siswa mengantre memasukkan infak munasharah ke kotak infaq yang sudah disediakan. Salah satu siswi kelas 5D, Aisyah menyampaikan, “Senang mengikuti kegiatan aksi ini karena bisa mendoakan dan membantu korban bencana gempa dan tsunami di Banten dan Lampung.”

Sementara Ketua Panitia, Sriyoko, S.Pd. menuturkan, “Kegiatan ini bertujuan untuk mengejawantahkan nilai-nilai Pancasila dalam keseharian warga sekolah. Dengan memahami musibah apapun adalah kehendak Tuhan Yang Maha Kuasa, maka diharapkan warga sekolah dapat memetik hikmah untuk lebih taat pada perintah Allah. Adanya korban jiwa akan menyentuh rasa kemanusiaan para siswa untuk berempati dan peduli. Ketika beberapa musibah terjadi di berbagai daerah di Indonesia, maka akan menyentuh rasa keIndonesiaan kita. Peduli sesama wujudkan nilai-nilai Pancasila. Alhamdulillah, infaq munashoroh hari terkumpul Rp38.026.000,- (Tiga puluh delapan juta dua puluh enam ribu rupiah), dan insya Allah akan disalurkan melalui JSIT Indonesia.”

WhatsApp Image 2019-01-03 at 14.11.59

Ada Pemilu di Kelasku

Hari kedua masuk sekolah, pasca liburan akhir semester, ada pemandangan berbeda di salah satu ruang kelas SD Islam Terpadu (SD IT) Nur Hidayah Surakarta. Setelah kemarin mereka saling berbagi cerita liburan, saling melepas rindu dengan sesama siswa maupun dengan gurunya. Selain tentunya para siswa juga diingatkan beberapa peristiwa alam yang terjadi di Indonesia. Agar tumbuh rasa empati kepada sesama saudara sebangsa, minimal dengan mendoakan dan mengambil hikmahnya.

Hari ini, Kamis (03/01/2019) para siswa kelas 2D SD Islam Terpadu Nur Hidayah bersiap untuk belajar kembali. Pembelajaran hari ini diawali dengan Pemilihan Pengurus Kelas 2D untuk semester 2. Layaknya sebuah penyelenggaraan Pemilu di negara kita, perangkat yang disiapkan pun cukup lengkap. Kartu suara, kotak suara, hingga tinta tanda selesai memberikan suara disediakan. Hanya saja pemilunya bukan untuk memilih presiden maupun anggota legislatif, melainkan memilih pengurus kelas.

Diawali dengan penjalasan dari guru kelas 2D, Reni Agustin Priyatiningrum, S.Pd., “Sebuah organisasi dari yang terkecil semisal kelas suatu sekolah hingga yang besar seperti halnya pemerintahan negara, perlu ada pembagian personal dan tugasnya supaya organisasi dapat berjalan baik. Pengurus kelas, mulai ketua, sekretaris, bendahara, sie-sie memiliki tugas amanah dan tanggung jawab yang harus dilaksanakan. Ini akan melatih jiwa kepemimpinan, tanggung jawab, kerjasama di antara kalian. Kelak akan sangat berguna ketika kalian menjadi presiden, menteri, gubernur, dan lainnya.”

Kegiatan Pemilu Kelas dilanjutkan dengan pendaftaran calon pengurus kelas (ketua, sekretaris, bendahara dan beberapa sie). Guru memotivasi siswa agar tidak malu mencalonkan diri sebagai pengurus. Hal ini mejadi bagian penting dalam memupuk rasa percaya diri siswa atas kemampuan menjalankan amanah. Kegiatan berlanjut dengan menuliskan nama calon pengurus yang dipilih masing-masing siswa pada kartu suara dengan warna yang berbeda untuk tiap jabatan pengurus.

“Wah, hari ini kelasku ada Pemilu. Ternyata seru juga. Ikut deg-degan nih,” kata Agha Al Falah Ahza(8th), salah satu calon sekretaris. Saat yang mendebarkan pun tiba. Penghitungan suara dimulai. Semua kartu suara dihitung termasuk adanya surat suara yang rusak dan dicocokkan dengan jumlah pemilih. Dan akhirnya terbentuklah Pengurus Kelas 2D untuk masa jabatan semester 2 Tahun Pelajaran 2018/2019. Tidak hanya 2D saja yang menggelar Pemilu Kelas hari ini, tetapi kelas 2A,2B, dan 2C juga mengadakan.

Waka Humas SD Islam Terpadu Nur Hidayah Surakarta, Rahmat Hariyadi, S.Pd menuturkan, “Ternyata hiruk pikuk pesta demokrasi tidak hanya di tingkat nasional. Merembet semangat berdemokrasi hingga ke ruang kelas. Kegiatan ini melatih berdemokrasi, keberanian, percaya diri, kepemimpinan, kejujuran, kerjasama, bahkan melatih jiwa satria dan lapang dada. Berharap, kelak para siswa memiliki kepercayaan diri dan kemampuan untuk menjadi pemimpin di negeri ini.”

0fb6ff8e-ae71-4c67-9d51-33f840bad729

Mengerti Kesetaraan Nilai Uang Sambil Bermain

Waktu menunjukan pukul 10.30 Rabu, 17/10/2018, bel masuk pembelajaran ke-3 berbunyi. Siswa-siswi kelas 2D SD Islam Terpadu Nur Hidayah Surakarta masuk kelas untuk mengikuti pembalajaran tematik.

Kali ini Ustadzah Reni Agustin Priyatiningrum, S.Pd mengajak siswa-siswi kelas 2D bermain Kesetaraan Nilai Uang. Diawali dengan pengenalan nilai keislaman: Allah, tidak ada yang setara dengan Dia(QS. Al-Ikhlas).

Dengan alat peraga kartu uang, ustadzah menjelaskan terlebih dahulu kesetaraan nilai uang. Untuk memastikan pemahaman, Ustadzah Reni meminta beberapa siswa untuk mengambil beberapa peraga sesuai dengan nilai yang diminta. Misalkan untuk nilai uang Rp1.000,00 para siswa bisa membentuknya dengan beberapa versi gabungan pecahan (2 keping 500an, 10 keping 100an dst).

Setelah penjelasan di rasa cukup, Ustadzah memulai permainan. Masing-masing siswa diberikan satu keping/lembar uang dengan nilai yang berbeda. Ustadzah meminta siswa berkumpul dengan siswa sesuai nilai uang yang ditentukan.

Muh. Faridh Azzam (7th), Luthfan Qowwaminna Hamizan (7 th), dan Agha Al Falah Azza( 7th) senang sekali bisa membentuk nilai uang Rp15.000,00 dari 3 lembar lima ribuan yang mereka bawa.

“Jadi lebih mudah belajar nilai uang dengan bermain bersama Ustadzah,” kata Elyana Maulida Notaria ( 7th).

_”SDIT Nur Hidayah Surakarta senantiasa memberikan motivasi kepada para guru untuk menyampaikan pembelajaran kreatif, efektif, dan menyenangkan. Termasuk keterpaduannya dengan nilai-nilai keislaman,” demikian penjelasan Ustadzah Muslikah, S.Pd selaku Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum. *(reni/emyu)

c70c471f-8a93-4ca6-a810-825f1f956149

Shalat Gaib dan Doa Bersama untuk Korban Gempa di Palu

Hari ini, Selasa (9/10) cuaca cerah. Sang surya memancarkan sinarnya yang hangat nan indah. Setiap insan mulai melakukan aktivitas pagi dengan semangat. Tak terkecuali para guru dan siswa SD Islam Terpadu Nur Hidayah Surakarta. Mereka bersiap dan bergegas ke sekolah dengan semangat dan ceria. Dengan memakai batik hijau, semua guru dan siswa berkumpul di halaman sekolah.

Ya, pagi ini mereka akan melaksanakan “Aksi Solidaritas untuk Korban Gempa dan Tsunami Palu dan Donggala Sulawesi Tengah”. Aksi solidaritas ini diawali dengan murojaah bersama-sama dari Surat Al Fatihah – An-Nashr. Murojaah ini dipimpin oleh Ustadz Bisri, S.HI.

Usai murojaah bersama, dilanjutkan dengan sholat ghaib untuk seluruh korban gempa dan tsunami Palu dan Donggala. Sebelum memulai sholat ghaib, Ustadz Mulyadi selaku imam sholat meminta semua peserta aksi solidaritas untuk berdiri, merapatkan, dan meluruskan shaff.

Setelah jamaah siap dan shaff rapi, Ustadz Mulyadi memaparkan, “Sholat ghaib adalah sholat jenazah yang tidak berada di dekat kita tapi berada di tempat yang jauh yaitu Palu dan Donggala. Tata caranya sholat ghaib yaitu posisi berdiri dengan 4 kali tarbir. Takbir pertama membaca Al Fatihah, kedua Sholawat, ketiga dan keempat doa untuk jenazah lalu salam.” Usai menyampaikan tata urutan, sholat ghaib pun dimulai. Tampak semua siswa dan guru khusyuk melaksanakan sholat ghoib. Usai sholat ghaib, Ustadz Mulyadi memimpin doa untuk para korban gempa dan tsunami di Palu dan Donggala.

Acara aksi berikutnya adalah sambutan dari Ustadz Waskito, S.Pd. selaku Kepala SDIT Nur Hidayah. Dalam sambutannya beliau menuturkan, “Kita sebagai umat muslim harus memiliki punya rasa empati dan kepedulian terhadap sesama. Sikap kepedulian dan tolong-menolong ini diberikan untuk siapa pun tidak mengenal suku, agama, ras, maupun budaya. Hal ini dikarenakan karena kita adalah satu bangsa dan satu cinta tanah air yaitu Indonesia. Sikap empati dan peduli ini juga sudah terumuskan dalam sila ke -2 Pancasila yaitu Kemanusiaan yang Adil dan Beradab. Untuk itu, saya menghimbau kepada seluruh siswa dan guru untuk menyiapkan infak terbaik untuk Palu dan Donggala. Infak yang terkumpul ini akan disalurkan melalui JSIT Indonesis yang insyaallah akan digunakan untuk relokasi pendidikan.”

Usai sambutan kepala sekolah dilanjutkan dengan sambutan BPH yang diwakili oleh Ustadz Sarjan, S.Pd. Setelah itu dilanjutkan dengan penjualan hasta karya kepada guru, wali murid, dan siswa. Ustadzah Muslikah dan Ustad Rahmad mewakili guru membeli hasta karya yang berupa rumah dari bahan kardus bekas dan stik. Para siswa pun antusias melihat dan membeli hasta karya itu dengan harga yang variatif. Hasil penjualan hasta karya ini akan digabung dengan infak munasharah untuk korban gempa dan tsunami Palu dan Donggala.

Aksi solidaritas berikutnya adalah setiap pararel yang dipandu oleh Ustadz Yoko, Ustadz Bisri, beserta guru kelas mengarahkan siswa untuk memasukkan infak munasharah ke kotak infaq yang sudah disediakan. Setelah memasukkan kotak infak, para guru kelas mengarahkan para siswa kembali ke kelas masing-masing.

Salah satu siswa kelas 5 Wafa Amalia Firdausi menyampaikan, “Senang mengikuti kegiatan aksi ini karena bisa mendoakan dan membantu korban bencana gempa dan tsunami di Palu dan Donggala.” Kegiatan ini pun menghadirkan beberapa wartawan dari media cetak maupun elektronik untuk meliput kegiatan kemanusiaan ini. *(nunuk/emyu)

WhatsApp Image 2018-10-09 at 08.56.47

Aksi Solidaritas Kemanusiaan untuk Palu dan Donggala

Hari ini, Selasa (9/10) cuaca cerah. Sang surya memancarkan sinarnya yang hangat nan indah. Setiap insan mulai melakukan aktivitas pagi dengan semangat. Tak terkecuali para guru dan siswa SD Islam Terpadu Nur Hidayah Surakarta. Mereka bersiap dan bergegas ke sekolah dengan semangat dan ceria. Dengan memakai batik hijau, semua guru dan siswa berkumpul di halaman sekolah.
Ya, pagi ini mereka akan melaksanakan “Aksi Solidaritas untuk Korban Gempa dan Tsunami Palu dan Donggala Sulawesi Tengah”. Aksi solidaritas ini diawali dengan murojaah bersama-sama dari Surat Al Fatihah – An-Nashr. Murojaah ini dipimpin oleh Ustadz Bisri, S.HI.
Usai murojaah bersama, dilanjutkan dengan sholat ghaib untuk seluruh korban gempa dan tsunami Palu dan Donggala. Sebelum memulai sholat ghaib, Ustadz Mulyadi selaku imam sholat meminta semua peserta aksi solidaritas untuk berdiri, merapatkan, dan meluruskan shaff.
Setelah jamaah siap dan shaff rapi, Ustadz Mulyadi memaparkan, “Sholat ghaib adalah sholat jenazah yang tidak berada di dekat kita tapi berada di tempat yang jauh yaitu Palu dan Donggala. Tata caranya sholat ghaib yaitu posisi berdiri dengan 4 kali tarbir. Takbir pertama membaca Al Fatihah, kedua Sholawat, ketiga dan keempat doa untuk jenazah lalu salam.” Usai menyampaikan tata urutan, sholat ghaib pun dimulai. Tampak semua siswa dan guru khusyuk melaksanakan sholat ghoib. Usai sholat ghaib, Ustadz Mulyadi memimpin doa untuk para korban gempa dan tsunami di Palu dan Donggala.
Acara aksi berikutnya adalah sambutan dari Ustadz Waskito, S.Pd. selaku Kepala SDIT Nur Hidayah. Dalam sambutannya beliau menuturkan, “Kita sebagai umat muslim harus memiliki punya rasa empati dan kepedulian terhadap sesama. Sikap kepedulian dan tolong-menolong ini diberikan untuk siapa pun tidak mengenal suku, agama, ras, maupun budaya. Hal ini dikarenakan karena kita adalah satu bangsa dan satu cinta tanah air yaitu Indonesia. Sikap empati dan peduli ini juga sudah terumuskan dalam sila ke -2 Pancasila yaitu Kemanusiaan yang Adil dan Beradab. Untuk itu, saya menghimbau kepada seluruh siswa dan guru untuk menyiapkan infak terbaik untuk Palu dan Donggala. Infak yang terkumpul ini akan disalurkan melalui JSIT Indonesis yang insyaallah akan digunakan untuk relokasi pendidikan.”
Usai sambutan kepala sekolah dilanjutkan dengan sambutan BPH yang diwakili oleh Ustadz Sarjan, S.Pd. Setelah itu dilanjutkan dengan penjualan hasta karya kepada guru, wali murid, dan siswa. Ustadzah Muslikah dan Ustad Rahmad mewakili guru membeli hasta karya yang berupa rumah dari bahan kardus bekas dan stik. Para siswa pun antusias melihat dan membeli hasta karya itu dengan harga yang variatif. Hasil penjualan hasta karya ini akan digabung dengan infak munasharah untuk korban gempa dan tsunami Palu dan Donggala.
Aksi solidaritas berikutnya adalah setiap pararel yang dipandu oleh Ustadz Yoko, Ustadz  Bisri, beserta guru kelas mengarahkan siswa untuk memasukkan infak munasharah ke kotak infaq yang sudah disediakan. Setelah memasukkan kotak infak, para guru kelas mengarahkan para siswa kembali ke kelas masing-masing.
Salah satu siswa kelas 5 Wafa Amalia Firdausi menyampaikan, “Senang mengikuti kegiatan aksi ini karena bisa mendoakan dan membantu korban bencana gempa dan tsunami di Palu dan Donggala.” Kegiatan ini pun menghadirkan beberapa wartawan dari media cetak maupun elektronik untuk meliput kegiatan kemanusiaan ini. *(nunuk/emyu)
WhatsApp Image 2018-10-06 at 07.42.49

Kelas 2 Gelar Aksi Peduli Palu dan Terkumpul Dana 5,7 Juta

“Alam dan peristiwa-peristiwa yang disajikan Allah sejatinya adalah guru, manusia diharapkan menjadi murid agar diri tak sekedar jadi debu.”

Hari masih pagi ketika sejumlah 132 siswa kelas 2 SD Islam Terpadu Nur Hidayah Surakarta, duduk rapi bershaff di teras kelasnya. Jumat (5/10) mereka bersiap melaksanakan kegiatan pagi. Ustadzah Eni Hestuti, S.S, S. Pd selaku koordinator kelas 2, memandu para siswa untuk doa pagi bersama.

Selesai doa pagi mereka melanjutkan dengan sholat dhuha bersama. Suasana menjadi syahdu ketika para siswa dengan rata-rata usia 7-8 tahun itu terlihat khusyuk sujud menundukkan diri kepada sang pencipta, Allah SWT. Kesyahduan itu berlanjut saat semua siswa dengan kejujuran jiwa menengadahkan tangan memanjatkan doa.

Selesai kegiatan sholat dhuha, para siswa tetap di tempat. Mereka tampak bersungguh mendengarkan paparan singkat dari Ustadzah Yan Syakila, S.Ag tentang musibah Donggala dan Palu, “Jika pagi ini anak-anak berangkat dengan dihantar oleh doa orangtua kalian, dibekali voucher, membawa seperangkat alat belajar, maka selayaknyalah anak-anak bersyukur. Jika pagi ini anak-anak bias duduk disini,dipandu para guru berlatih sholat dhuha, kemudian belajar didalam kelas yang nyaman, maka harusnyalah anak-anak bersyukur. Sangat bersyukur. Karena di daerah yang terkena musibah sana, ada yang sudah tak lagi bisa bertemu keluarganya, kehilangan sekolah. Oleh karenanya pagi ini kita akan berbagi sebagian harta yang dititipkan Allah kepada , untuk mereka. Sebagai bentuk syukur kita kepada Allah.”

Selanjutnya para siswa dengan berbaris rapi memasukkan infaq terbaik mereka ke dalam kotak munashoroh. Ustadz Sunarto, S.Pd sembari memegang kotak infaq terus menyemangati para siswa tentang pentingnya membantu mereka yang terkena musibah.

Riffat Al Farizy (8th), salah satu siswa kelas 2C mengungkapkan, “Aku menyaksikan berita musibah yang menimpa Palu lewat TV dan juga obrolan dengan teman-teman. Kasihan. Maka pagi ini uang infaqku diserahkan membantu Palu.”

Infaq untuk musibah Donggala dan Palu yang terkumpul dari kegiatan pagi ini sebesar Rp. 5. 730.000,00 (lima juta tujuh ratus tiga puluh ribu). *(narto/emyu)

WhatsApp Image 2018-10-08 at 07.00.39

Visitasi Lomba Budaya Mutu Sekolah Kemendikbud

Sebuah pagi yang berbeda, alunan gendhing jawa kebo giro terdengar di aula SD Islam Terpadu (IT) Nur Hidayah Surakarta. Kerawitan ini disajikan oleh perwakilan guru dan karyawan SDIT Nur Hidayah Surakarta. Kamis (4/10) SDIT Nur Hidayah Surakarta Surakarta menerima kedatangan 2 juri dari 2 macam lomba yakni tim visitasi Lomba Mutu dan Budaya Sekolah (LBMS) dari Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Jakarta dan juri Lomba Toilet Bersih dari Dinas Pendidikan Kota Surakarta.

Selain tim visitor dan juri, kegiatan ini dihadiri oleh Ibu Dra. Rita Nirbaya, M. Pd selaku KASI Kurikulum SD Dinas Pendidikan Surakarta, Bpk. Budi Paryono, S.H, MH selaku Ketua Korwil 1 Laweyan-Serengan, Dinas Pendidikan Surakarta, Pengurus Yayasan Nur Hidayah Surakarta, Pengurus Komite Sekolah, dan guru karyawan SDIT Nur Hidayah Surakarta.

Selesai kerawitan, dilanjutkan dengan penampilan tari kupu-kupu oleh  perwakilan siswa. Berikutnya berturut-turut unjuk kebolehan dari ekstra kurikuler yang ada di SDIT Nur Hidayah; nasyid, tapak suci, taekwondo,robotik, kewirausahaa, melukis, dokter kecil, bahasa inggris, mendongeng, dan pramuka.

Para tamu tampak sangat menikmati dan antusias menyaksikan setiap penampilan. Hal ini terlihat dari gemuruh tepuk tangan para tamu setiap penampilan selesai disajikan. Ustadz Waskito, S. Pd selaku kepala sekolah SDIT Nur Hidayah Surakarta memaparkan tentang profil sekolah, “Sekolah kami senantiasa melakukan inovasi dan pengembangan diberbagai lini. SDIT Nur Hidayah mempunyai 17 ragam ekstra kurikuler yang ditujukan untuk mewadahi berbagai bakat dan minat para siswa. Selain itu keterlibatan komite sekolah dan paguyuban orangtua murid sejumlah 24 kelompok yang sangat kooperatif dengan kegiatan sekolah. Dari segi kurikulum, SDIT mensinergikan antara kurikulum dinas dan kurikulum Jaringan Sekolah Islam Terpadu (JSIT). Berbagai faktor inilah yang menjadi kekuatan tersendiri untuk mewujudkan misi sekolah yakni sebagai sekolah yang ramah anak, berkarakter, berprestasi gemilang serta menuju berwawasan lingkungan.”

Kegiatan berlanjut dengan visitasi juri ke lingkungan sekolah. Untuk juri LBM melakukan kunjung ke setiap kelas, perpustakaan, dan berbagai sarana prasarana pendukung sekolah. Sedang juri Lomba Toilet Bersih melakukan observasi kesetiap bagian yang terkait dengan kebersihan lingkungan sekolah.

Serangkaian acara ditutup dengan sarasehan bersama sembari menikmati  laras gendhing jawa, salah satu budaya lokal yang mulai diajarkan di SDIT Nur Hidayah Surakarta.

Dwi Suryani, M. Pd, salah satu juri LBMS menyampaikan, “Kami senang adanya sekolah-sekolah yang senantiasa berinovasi dan mengembangkan diri dalam mendidik generasi bangsa. Dan SDIT Nur Hidayah dengan budaya literasinya yang terlihat berkembang, kerjasama yang bagus dengan komite sekolah, beragamnya ekstrakurikuler dengan berbagai prestasinya semoga menjadi salah satu motor penggerak kebaikan bangsa ini di bidang pendidikan.” *(yan/emyu)

WhatsApp Image 2018-10-02 at 10.40.39

Kelas 6 Gelar Simulasi Ujian Sekolah Berstandar Nasional

Menggendong tas sekolahnya, siswa-siswi kelas VI tampak gagah dan anggun memasuki gerbang sekolah. Senyum mengembang penuh semangat melekat kuat pada wajahnya. Mereka melepas alas kaki dan merapikannya di loker sepatu yang telah tersedia. Sambil berbincang ringan bersama temannya menuju ke kelas masing-masing untuk meletakkan tasnya.

Hari ini (2/10) tepat pukul 07.00 bel tanda masuk berbunyi. Mereka bergegas menuju masjid lantai 2 untuk mengikuti shalat dhuha, doa, dan taushiyah pagi. Mereka telah menjaga wudhu dari rumah, jadi tak perlu ambil air wudhu lagi.

Usai kegiatan majelis pagi di masjid, mereka bergegas ke ruang kelas masing-masing. Merapikan tas di teras kelas, memastikan alat tulis siap, dan duduk rapi di kursi masing-masing. Ya, hari ini mereka akan melanjutkan Simulasi USBN untuk hari yang kedua. Salah satu siswi kelas VI, Rameyza Kirana Dewi (11) menuturkan, “Hari ini jadwalnya Matematika. Alhamdulillah, aku bisa mengerjakan semua. Tadi malam belajar, sehingga memudahkan mengerjakan soal. Aku berharap dapat nilai 100.”

Sementara siswi lainnya, Nisrina Dian Fadhilah (11), menurutkan, “Soalnya sedang, tidak terlalu sulit tidak terlalu mudah. Aku belajarnya pagi tadi. Karena kemarin sore sudah bimbel pengayaan sampai menjelang maghrib. Jadi setelah sholat Isya langsung tidur. Tapi alhamdulillah bisa ngerjakan. Semoga hasilnya baik.”

Koordinator Guru Para lel Kelas VI, Yuyun Yuningsih, S.Pd menurutkan, “Kegiatan simulasi ini berlangsung selama tiga hari. Senin-Rabu, 1-3 Oktober 2018. Menggunakan jam pelajaran pertama dan kedua. Setelah itu para siswa ikut KMB seperti jadwal reguler. Harapan nya kegiatan ini semakin mengokohkan kesiapan para siswa dalam mempersiapkan diri lebih awal dalam menghadapi ujian akhir sekolah.” *(ihsan/emyu)