WhatsApp Image 2018-08-03 at 15.09.28

Humas Award: Sarana Asah Jurnalistik bagi Guru

“The pen is mightier than the sword: pena lebih tajam daripada pedang,”
kata Edward Bulwer-Lytton.

Kata mutiara yang dituliskan oleh politikus Britania Raya tersebut rasanya sedang mengalur deras dalam semangat para guru Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) Nur Hidayah Surakarta. Tahun ini merupakan tahun kedua bagi salah satu Sekolah Keren tersebut dalam mengasah kemampuan gurunya. Tak kalah dengan para siswa yang telah lolos dalam ajang bergengsi nasional Konferensi Penulis Cilik Indonesia (KPCI), kini guru semakin giat untuk belajar menulis.

Program penulisan tersebut bertajuk Humas Award. Kegiatan ini bukan tanpa persiapan. Setahun lalu tim kehumasan yang dikoordinatori oleh Rahmat Hariyadi, S.Pd telah mengadakan workshop jurnalistik. Pada pelatihan tersebut dihadirkan pula seorang wartawan dari salah satu surat kabar di Kota Bengawan. Tidak hanya dibekali ketrampilan menulis, para guru juga diberi wawasan terkait pemotretan atau pengambilan gambar.

Resmi digulirkan pada awal semester 2 tahun pelajaran 2017/2018, program khusus ini sudah ramai peminat. Penghargaan kepada guru tersebut berbasis paralel kelas. Karena itu masing-masing paralel berlomba berinovasi dalam berbagai kegiatan. Dari kegiatan-kegiatan itulah yang dijadikan release oleh para guru.

“Dengan meluncurkan program ini, para pimpinan sekolah memotivasi para guru untuk terus mengasah kemampuan jurnalistiknya. Selain itu, setiap guru merupakan tim humas sehingga mampu mewartakan berbagai kegiatan sekolah kepada khalayak ramai,” papar Rahmat Hariyadi, S.Pd pencetus sekaligus redaktur program Humas Award.

Tahun ini program tulis menulis itu semakin digemari. Hal ini terbukti meski tahun pelajaran 2018/2019 baru saja dimulai deretan bintang award telah memanjang. Masing-masing paralel ingin mempertahankan posisi kemenangan pada tahun sebelumnya. Meski demikian, tidak bisa dipungkiri, perpindahan guru ke paralel yang berbeda berpengaruh pada hasil Award.

“Kelas kami (paralel kelas 6) merupakan salah satu terbaik pada Humas Award tahun lalu dengan Ustadzah Nunuk Purnawati sebagai redaktur kelas kami. Tapi sekarang beliau ada di paralel kelas 5. Meski demikian kami tetap berfastabiqul khoirat dalam kebaikan ini,” ungkap Yuyun Yuningsih, S.Pd koordinator kelas 6.

Sementara itu, para guru sangat senang dengan program Humas Award. Antusiasme ini semakin menarik karena adanya apresiasi sekolah kepada guru yang banyak menulis release. “Menulis release ternyata memang bisa dilakukan oleh siapa pun. Selain menambah wawasan, menulis release menjadikan kami semakin terpacu untuk berkreativitas. Para guru sangat berterima kasih dengan adanya program Humas Award ini,” papar Yan Syakila, S.Ag. sebagai salah satu penulis release terbaik.

Tak ada sebuah ilmu yang tak bisa kita pelajari. Yang membedakan adalah kemauan kita. Terlebih lagi seorang guru yang penanya akan lebih dahsyat dari sebuah peluru. *(indah/emyu)

WhatsApp Image 2018-04-11 at 12.00.49

Literasi di Kelasku 5C

Salah satu program pemerintah untuk meningkatkan sumber daya manusia (SDM) adalah melalui gerakan literasi sekolah. Hal ini disebabkan karena keterampilan membaca sangat berperan dalam kehidupan seseorang.

Waktu menunjukkan tepat pukul 07.00. Bel tanda masuk sekolah berbunyi. Siswa kelas 5C mulai menempati tempat duduk masing-masing dengan tertib. Seperti biasa kegiatan sekolah pagi ini diawali dengan berdoa bersama dan hafalan beberapa surat Al-Quran. Usai kegiatan majelis pagi, saatnya para siswa mengikuti kegiatan literasi. Namun ada yang berbeda pada kegiatan literasi hari ini (11/04). Satu persatu siswa maju di depan kelas untuk menyampaikan isi buku yang sudah dibaca pada hari sebelumnya tanpa melihat buku.

Salah satu guru kelas 5, Susilowardhani, S.Pd menyampaikan, “Kegiatan ini dimaksudkan untuk mendukung program pemerintah tentang gerakan literasi sekolah yang bertujuan untuk meningkatkan minat baca. Harapan jangka panjangnya mereka memiliki budaya, bahkan menjadi kebutuhan keseharian untuk berliterasi. Menjadi pribadi penuh percaya diri, pengetahuan luas sekali, mampu mencipta narasi untuk peradaban dan kejayaan negeri.”

Program literasi ini dilaksanakan secara bertahap. Tahap pertama yaitu pembiasaan, pada tahap ini siswa dibiasakan untuk membaca 15 menit sebelum jam pelajaran setiap hari Senin-Kamis. Buku yang dibaca bebas sesuai tahap perkembangan anak. Diantaranya yaitu, buku pengetahuan agama, sains, sosial budaya, biografi dan lain lain. Tahap yang kedua yaitu pengembangan literasi, pada tahap ini siswa diarahkan untuk membuat rangkuman kemudian membacanya di depan kelas. Untuk meningkatkan keberanian dan percaya diri siswa, Kegiatan literasi dilanjutkan dengan model presentasi. Yaitu siswa menyampaikan isi buku di depan kelas tanpa membaca.

Aisha Jasmine (11), salah satu siswa kelas 5C yang mendapat giliran presentasi pada hari ini menuturkan, “Sangat senang dengan program literasi, pengetahuan saya jadi bertambah. Saya mendapat banyak pengetahuan yang belum diberikan pada jam pelajaran, hari ini saya menyampaikan tentang kisah Nabi Adam. Berbicara di depan kelas juga membuat saya jadi lebih percaya diri.”

Setiap siswa mengikuti kegiatan literasi dengan seksama. Kegiatan ini pun bertambah hidup karena mendapat respon, berupa tanya jawab dan ulasan dari guru dan siswa yang lain.

Waka Humas SDIT Nur Hidayah Surakarta, Rahmat Hariyadi, S.Pd menuturkan bahwa, “Program Gerakan Literasi Sekolah (GLS) maupun program Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) dari pemerintah sangat selaras dengan visi sekolah, Menjadi Sekolah Berkarakter, Ramah Anak, Berprestasi Gemilang, dan Berbudaya Lingkungan. Ketersediaan sudut baca, perpustakaan yang nyaman, kegiatan riel siswa membaca, menulis apa yang dibaca, menyampaikan kembali secara lisan, merupakan ikhtiar nyata dalam memaksimalkan proses dan hasil gerakan literasi.”

WhatsApp Image 2018-03-19 at 08.37.37

Mencintai Rasulullah dengan Menghidupkan Sunnahnya

Cerahnya langit Jumat pagi ini (16/3/2018) menambah semangat kaki-kaki kecil nan lincah menuju ke aula gedung barat di lantai 3 Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) Nur Hidayah Surakarta. Selain mukena, Al-Quran pun erat dalam dekapan mereka. Dari dalam aula sayup-sayup terdengar suara Ustadzah Rifa yang memberikan pengarahan kepada para siswa.

Jumat pagi ini siswa- siswi kelas 4 melakukan kegiatan sholat dhuha dan membacaQS Al- Kahfi secara bersama-sama. Kegiatan ini sudah rutin dilakukan setiap sepekan sekali, bergantian dengan dzikir Al-Ma’tsurat.

Kegiatan diakhiri dengan tausiyah (nasihat) yang disampaikan oleh Ustadzah Ningrum Khasanah, tema yang diangkat adalah kisah sahabat Rasulullah yakni Umar bin Khattab. Dalam nasihatnya Ustadzah Ningrum mengingatkan para siswa untuk tetap semangat belajar, sholat, dan mengaji menjelang akhir semester 2 ini.

Koordinator Paralel Kelas 4, Wulansari, SP,S.Pd menyampaikan, “Kegiatan ini bertujuan untuk mengenalkan salah satu sunnah Rasul, menumbuhkan kecintaan pada Rasulullah, serta membiasakan ibadah sunnah pada peserta didik. Harapannya pembiasaan baik yang dilakukan di sekolah bisa diterapkan oleh peserta didik di manapun mereka berada. Ini merupakan salah satu cara untuk menanamkan karakter mulia.”

Keutamaan membaca Surat Al-Kahfi ternyata sudah cukup dipahami oleh para siswa. Salah satu siswa kelas 4A, Maulana Hafidz Danendra, menyampaikan kesannya mengikuti kegiatan ini, “Di rumah aku sudah mulai membaca surat Al Kahfi bersama ayah, di sekolah aku tinggal melanjutkan”. Sementara siswa lainnya, Muhammad Anas Irsyaad mengatakan, “Aku ingin dinaungi cahaya oleh Allah dari Jumat sekarang sampai Jumat pekan depan, jadi aku baca surat Al-Kahfi”. *(wulan/emyu)

WhatsApp Image 2018-03-15 at 13.57.41

Ceria Nonton Film Bersama

Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) dapat diupayakan dengan beragam cara. Salah satunya dengan menonton film edukasi. Film tidak sekedar menghibur, tetapi juga bersifat edukatif. Melalui pesan-pesan moral kebaikan, dapat menjadi pengokoh nilai-nilai karakter mulia. Inipun yang diupayakan guru paralel kelas IV Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) Nur Hidayah Surakarta. Mereka mengajak serta 146 siswa-siswi kelas IV menyelami pesan kebaikan dari sebuah film, Rabu (14/03/2018).

Kegiatan diawali dengan majelis pagi. Doa bersama, muroja’ah beberapa surah Al-Qur’an, sholat dhuha, kemudian dilanjutkan dengan membaca Al-Ma’tsurot. Kegiatan ini dipanduy oleh Ustadz Muhammad Ihsan. Adapun tausiah disampaikan Ustadz Bisri Muhammad tentang 7 golongan yang kelak mendapat naungan pada hari kiamat.

Kemudian mereka berehat sejenak sambil menikmati jajanan yang mereka beli di kegiatan “Marked Day” kelas V yang diadakan di halaman sekolah. Selesai menikmati jajanan dan riuhnya kegiatan Market Day kelas V, mereka diarahkan untuk memasuki aula gedung barat kembali.

Ya, mereka akan nonton bareng (nobar) film *Sepatu Dahlan. Mereka terlihat asyik dan menikmati filmnya dengan sesekali bersorak ria tatkala terdapat adegan lucu dari film tersebut. Di sela-sela menonton, ustadz-ustadzah juga menyediakan minuman dan makanan ringan agar mereka tidak jenuh. Salah satu siswa kelas IV B, Muh. Hanse Rosyid, (10) berkata “Filmnya bagus, ada semangat yang luar biasa untuk belajar. Asyik dan sangat pendidik.”

Seperti diketahui, film ini (Sepatu Dahlan) bercerita tentang seorang anak lelaki yang bernama Dahlan. Dahlan merupakan lelaki yang memiliki prinsip “Hidup, bagi orang miskin, harus dijalani apa adanya”. Ia tak pernah berhenti untuk bermimpi memiliki sebuah sepatu dan sepeda. Dalam keadaan yang miskin dialaminya, tidaklah membuat ciut semangat Dahlan untuk tetap terus sekolah meskipun harus tanpa beralas kaki, berjalan menumpuh jarak puluhan kilometer untuk tiba di pesantren Takeran.

Dengan kondisi tersebut, kaki Dahlan pun tak luput dari lecet dan melepuh. Dahlan adalah anak ketiga dari 4 bersaudara. Dia memiliki 2 orang kakak dan 1 orang adik. Pekerjaan Ayah Dahlan adalah serabutan dan Ibunya adalah seorang pembatik di desa. Keluarga mereka tinggal di Kebon Dalem, sebuah kampung yang memiliki banyak kenangan untuk mereka.

Setelah lulus dari Sekolah Rakyat ( SR ) dengan nilai rapot 3 merah, Dahlan merasa gagal bahwa tak bisa membuat orang tuanya bangga. Sang Ayah terlihat sangat kecewa dan cita-cita Dahlan untuk masuk SMP Magetan pun pupus. Namun sang Ibu pun memberi nasehat bahwa di manapun belajarnya adalah yang terpenting niat untuk belajar yang tinggi, dengan itu Dahlan pun kembali bersemangat.

Hingga kemudian pun masuk ke SMP Takeran dan mengikuti berbagai banyak kegiatan-kegiatan sekolah. Dahlan terpilih menjadi seorang kapten tim voli di sekolahnya dan keinginan dia untuk mendapatkan sepatu semakin kuat dan besar.

Namun di saat waktu tersebut, Ibunya jatuh sakit karena terlalu keras bekerja, di samping itu Dahlan harus menjaga adiknya juga. Dengan keadaan tersebut tak membuat Dahlan berkecil hati, malah dia menjadikan hal tersebut sebagai penyemangat hidup untuk memberikan yang terbaik dalam kehidupannya. *(ikhsan/emyu)

WhatsApp Image 2018-03-19 at 08.37.12

Memungut Kembali Khazanah Budaya Negeri

Adalah amanah bagi pendidik di setiap satuan pendidikan untuk mengajarkan kepada para siswa agar mereka mengetahui nilai-nilai luhur yang dimiliki bangsa ini dan menghargainya sebagai warisan bangsa.

Tetes air wudhu yang membasah rambut, menambahkan aura mencahaya di wajah para siswa kelas 1 Sekolah Dasar Islam Terpadi (SDIT) Nur Hidayah Surakarta. Serangkaian kegiatan majelis pagi diikuti 132 siswa . Berdoa bersama, murojaah kalam Ilahi dan sholat dhuha bersama dilaksanakan guna memulai hari. Rabu, (14/3) merupakan rehat terakhir pasca Penilaian Tengah Semester ( PTS ) 2. Serangkaian acara yang akan diikuti siswa berjudul “Dolanan Yuuk” diawali dengan sujud kepada Sang Maha Penggenggam Semesta. Titik tekan pembelajaran kepada siswa bahwa segala sesuatu hendaknya diawali meniatkan segala sesuatunya sebagai ibadah kepada Allah.

Gendhing Lir ilir yang berkumandang di aula gedung timur menyambut para siswa yang telah menyelesaikan majelis paginya. Mereka duduk bershaff dengan rapi. Mereka mengamati dengan seksama penjelasan Ustadzah Yan Syakila, S. Ag. Beliau menghantarkan penjelasan tentang ragam kekayaan budaya luhur bangsa Indonesia. Para siswa diajak mengenal dan melantunkan beberapa lagu dolanan seperti Padhang Mbulan, Cublak-Cublak Suweng dan Jamuran. Mereka juga dikenalkan aneka permainan tradisional seperti Tapak Gunung, Benthik, Engklek, Dakon dan lainnya. Bahkan dikenalkan juga Egrang, alat permainan yang terbuat dari bambu. Para siswa tampak sangat terkesan ketika Ustadz Sugeng Sugiharto, S.Ag mempraktikan cara bermain Egrang. Tidak sekedar melihat tayangan, namun para siswa juga diajarkan untuk praktik secara langsung di kelas masing-masing. Mereka begitu gembira ketika mencoba bermain cublak-cublak suweng ataupun engklek.

Kegiatan terakhir adalah mengenalkan salah satu makanan khas tradisional bangsa Indonesia, khususnya jawa yakni gronthol. Makanan dari jagung ini menjadi magnet tersendiri bagi anak-anak. Belum lagi wadah penyajiannya yang memakai conthong. Yakni wadah makanan dari daun pisang yang dibentuk kerucut. Setelah bersabar dalam antrian, para siswa menikmati grontol tersebut bersama.

Anindita Putriandani Fazila, 1C mengungkapkan, ” Wah, senang sekali bisa makan grontol, soalnya baru pertama kali ini merasakan jagung dibuat seperti ini. Dan seru tadi bisa bermain engklek dengan teman-teman. Pokoknya senang dengan kegiatan hari ini” .

Ustadz Sugeng Sugiharto,S. Ag, selaku guru Bahasa Jawa menjelaskan, ” Hampir semua permaianan tradisional mengajarkan kepada anak-anak dalam mengelola emosi, melatih asah dan olah rasa dalam berteman, mengajari anak bersikap demokratis, belajar menghargai teman, belajar arti dari saling bekerjasama, meningkatkan kepercayaan diri. Tembang bocahpun mengandung nilai-nilai luhur. Oleh karena itu tim kelas 1 SDIT Nur Hidayah mencoba mengenalkan budaya tersebut kepada para siswa”.

Waka Humas SDIT Nur Hidayah Surakarta, Rahmat Hariyadi, S. Pd memaparkan, ” Bangsa Indonesia kaya akan ragam budaya. Baik nyanyian dan permainan anak. Sayang sekali jika nilai-nilai luhur yang ada di dalamnya hilang tertelan masa. Oleh karenanya kami sangat mengapresiasi atas kreativitas tim kelas 1 untuk mentransfer kekayaan negeri ini kepada para siswa. Kegiatan ini menjadi salah satu cara pencapaian beberapa point dari SKL ( Standart Kelulusan ) SIT yakni siswa melakukan ibadah dengan benar, siswa memiliki wawasan yang luas dan memiliki ketrampilan hidup (life skill )”.*(yan/emyu)

Jalan Hidayah Salman al-Farisi

Salman berkisah,

Aku adalah seorang pemuda Persia penduduk kota Ashbahan (kota di tengah Iran, di antara Teheran dan Syiraz) dari desa yang dikenal dengan nama Jayyan. Ayahku adalah kepala kampung, orang yang paling kaya dan paling mulia kedudukannya di sana. Aku adalah orang yang paling dicintai ayahku sejak lahir. Cintanya kepadaku semakin bertambah seiring dengan berjalannya waktu, sampai-sampai ayahku menahanku di rumah seperti anak-anak perempuan karena begitu mengkhawatirkan keadaanku.

Aku belajar agama Majusi dengan sungguh-sungguh sehingga aku diberi tugas menjaga api yang kami sembah, menyalakan api ini dan menjaganya agar tidak padam. Semuanya diserahkan kepadaku siang dan malam.

Ayahku memiliki ladang yang luas, hasilnya melimpah, ayahku sendiri yang mengurusnya dan memanen hasilnya. Suatu hari suatu kesibukan menghalangi ayahku untuk pergi ke ladang, maka ia berkata kepadaku, “Anakku, aku disibukkan oleh pekerjaanku sehingga aku tidak bisa mengurusi ladang. Pergilah kesana, mulai hari ini kamu yang mengurusinya.”

Aku berangkat menuju ladang kami, di tengah jalan aku melewati gereja orang-orang Nashrani, Aku mendengar suara mereka yang sedang beribadah, hal itu menarik perhatianku. Aku memperhatikan ibadah mereka, ibadah mereka membuatku takjub, aku jadi berminat pada agama mereka. Aku berkata pada diriku,”Demi Tuhan, ini lebih baik daripada yang aku anut selama ini.” Demi Tuhan aku tidak meninggalkan mereka sampai matahari terbenam, aku batal berangkat ke ladang bapakku. Kemudian aku bertanya kepada mereka, “Dari mana asal-usul agama ini?” Mereka menjawab, “Negeri Syam.”

Malam pun tiba, aku pulang ke rumah. Bapakku menyambutku dan menanyakan kepadaku tentang apa yang aku lakukan. Aku berkata, “Bapak, aku melewati orang-orang yang sedang beribadah di gereja mereka, agama mereka sungguh menakjubkanku, aku terus bersama mereka sampai matahari terbenam.”

Bapakku terkejut bukan kepalang dari apa yang telah aku lakukan, dia berkata, “Anakku, agama tadi tidak membawa kebaikan. agamamu dan agama leluhurmulah yang lebih baik darinya.” Aku menjawab, “Tidak mungkin, demi Tuhan, agama mereka lebih baik daripada agama kita.” Bapakku pun sangat ketakutan terhadap kata-kataku, dia khawatir aku akan murtad dari agamaku,  maka dia memenjarakanku di rumah dan memasung kedua kakiku.

Manakala kesempatan datang, aku bertanya kepada orang-orang Nashrani (yang tinggal di gereja mereka), “Jika ada beberapa orang dari kalian hendak berangkat ke negeri Syam maka beritahu aku.”

Tidak lama berselang, kesempatan itu pun datang. Beberapa orang dari mereka hendak berangkat ke negeri Syam, mereka mengabariku, Aku pun berusaha mencari cara untuk membuka pasungku dan aku berhasil membukanya. Aku berangkat secara sembunyi-sembunyi bersama mereka sehingga kami tiba di negeri Syam.

Tiba di Syam, aku bertanya, “Siapa orang yang paling utama dalam agama ini?” Mereka menjawab, “Seorang uskuppenanggung jawab gereja.” Aku datang kepadanya, aku bertanya, “Aku ingin masuk agama Nashrani. Aku ingin menyertaimu, melayanimu dan belajar darimu serta beribadah denganmu.” Uskup itu berkata, “Masuklah.” Aku masuk dan mulai menjadi pelayannya.

Namun tidak lama setelah itu, aku mengetahui bahwa laki-laki ini adalah laki-laki busuk. Dia memerintahkan para pengikutnya untuk bersedekah dan mendorong mereka untuk mencari pahala. Namun ketika mereka menyerahkan sedekah kepadanya untuk selanjutnya disalurkan ke jalan Allah, dia malah menyimpannya untuk dirinya sendiri dan tidak memberikan kepada fakir miskin sedikit pun, sehingga laki-laki ini bisa mengumpulkan bergentong-gentong emas.

Aku pun sangat membencinya karena akhlak dan perilakunya. Tidak lama kemudian dia pun mati, orang-orang Nashrani berkumpul untuk menguburnya, aku berkata kepada mereka, “Laki-laki ini bukan orang baik. Dia menyuruh kalian bersedekah dan mendorong kalian agar kalian suka bersedekah, tetapi jika kalian menyerahkan sedekah kepadanya maka dia menyimpannya untuk dirinya, dia tidak memberikan sedikit pun kepada orang-orang miskin.” Mereka bertanya, “Dari mana kamu tahu hal itu?” Aku menjawab, “Kemarilah, aku tunjukkan kekayaannya kepada kalian.”

Aku membawa mereka ke tempat penyimpanan hartanya, mereka pun membongkarnya dan menemukan tujuh buah gentong yang penuh dengan emas dan perak. Ketika mereka melihatnya, mereka berkata, “Demi Allah kami tidak akan menguburnya.” Kemudian mereka menyalibnya dan melemparinya dengan batu.

Tidak berlangsung lama setelah itu, mereka sudah memiliki penggantinya, aku tetap menyertainya. Aku melihatnya sebagai laki-laki yang paling zuhud terhadap dunia, paling ingin meraih akhirat, paling tekun beribadah di malam dan siang hari, maka aku sangat mencintainya.

Ketika ajalnya sudah dekat, aku berkata kepadanya, “Wahai Fulan kepada siapakah kamu akan menyerahkanku, kepada siapakah kamu menasehatiku agar aku bersamanya sesudahmu?” Dia menjawab, “Anakku, aku tidak mengetahui seseorang yang sama agamanya denganku kecuali laki-laki di al-Maushil (kota tua di pinggir sungai Dajlah di Irak). Dia adalah fulan, dia tidak mengganti agama dan tidak pula menyelewengkan, pergilah kepadanya.”

Ketika laki-laki shalih ini wafat, aku berangkat kepada laki-laki yang dia katakan di al-Maushil. Aku bertemu dengannya, aku menceritakan kisahku kepadanya dan Aku berkata, “Sesungguhnya Fulan mewasiatkan di hari menjelang kewafatannya agar aku menemuimu. Dia mengatakan kepadaku bahwa engkau berpegang kepada kebenaran yang dia pegang selama hidupnya.” Maka dia menjawab, “Tinggallah di sini.” Aku tinggal bersamanya dan aku melihatnya dalam keadaan baik.

Namun tidak lama setelah itu dia pun wafat pula. Sebelum dia wafat, aku bertanya kepadanya, “Wahai Fulan, ketetapan Allah telah tiba seperti yang engkau rasakan saat ini. Engkau telah mengetahui apa yang aku perlukan, kepada siapa engkau akan mewasiatkanku? Kepada siapa engkau memerintahkanku untuk bertemu?” Dia menjawab, “Anakku, demi Allah aku tidak mengetahui seorang pun di atas apa yang aku pegang saat ini kecuali seorang laki-laki di Nashibin (Kota terletak di jalan para kafilah dagang dari al-Maushil ke Syam, jaraknya adalah enam hari perjalanan dari al-Maushil). Dia adalah Fulan, temuilah dia.”

Ketika laki-laki ini sudah dimakamkan di liang lahatnya, aku berangkat untuk menemui laki-laki di Nashibin. Aku menceritakan kisahku dan pesan laki-laki sebelumnya kepadaku, maka dia berkata, “Tinggallah di sini.”

Aku pun tinggal bersamanya, aku melihatnya seperti dua kawannya sebelumnya, baik. Demi Allah tidak lama aku tinggal bersamanya, kematian telah menghampirinya. Ketika ajalnya sudah tiba, aku berkata kepadanya, “Engkau telah mengetahui keinginanku, kepada siapa engkau berpesan kepadaku agar aku menemuinya?” Dia menjawab, “Anakku, demi Allah Aku tidak mengetahui seorang laki-laki yang masih memegang apa yang kita pegang kecuali seorang laki-laki di Ammuriyah, dia adalah Fulan, pergilah kepadanya.”

Maka aku pergi kepadanya, aku bertemu dengannya dan menyampaikan keperluanku. Dia berkata, “Tinggallah bersamaku.” Maka aku pun tinggal bersama seorang laki-laki yang berjalan di atas jalan sahabat-sahabatnya sebelumnya. Selama aku tinggal bersamanya, aku bisa mempunyai beberapa ekor sapi dan beberapa ekor kambing.

Namun tidak lama berselang, keputusan Allah atasnya menghampirinya seperti ia menghampiri kawan-kawanya. Manakala ajal tiba, aku bertanya kepadanya, “Sesungguhnya engkau mengetahui urusanku seperti yang engkau ketahui, kepada siapa engkau mewasiatkan aku? Apa yang kamu perintahkan kepadaku untuk aku kerjakan?”

Dia menjawab, “Anakku, demi Allah Aku tidak mengetahui masih ada seseorang di muka bumi ini yang berpegang kepada apa yang kita pegang. Namun telah dekat sebuah zaman, dimana di zaman itu seorang Nabi akan muncul di bumi Arab. Dia diutus untuk membawa agama Ibrahim. Kemudian dia berhijrah dari negeri ke negeri yang berpohon kurma di antara dua gunung hitam. Dia mempunyai tanda-tanda sangat jelas. Dia menerima hadiah dan tidak memerima sedekah. Di antara kedua pundaknya terdapat stempel kenabian. Jika kamu mampu berangkat ke negeri itu maka lakukanlah.”

Kemudian laki-laki itu meninggal. Setelah kepergiannya, aku tinggal di Ammuriyah beberapa waktu lamanya. Sampai beberapa orang dari para pedagang Arab dari kabilah Kalb lewat daerah kami, aku berkata kepada mereka, “Aku memberikan sapi-sapi dan kambing-kambingku ini kepada kalian jika kalian mau membawaku ke bumi Arab.” Mereka menjawab, “Ya, kami akan membawamu.”

Maka aku memberikan sapi-sapi dan kambing-kambingku dan mereka pun membawaku. Ketika kami tiba di sebuah tempat yang bernama Wadil Qura (sebuah lembah di antara Madinah dan Syam, ia lebih dekat ke Madinah), mereka mengkhianatiku dan menjualku kepada seorang laki-laki Yahudi, sehingga aku pun hidup dengannya sebagai budak yang harus melayaninya.

Tidak lama aku melayani laki-laki Yahudi ini, karena sepupunya dari Bani Quraizhah datang berkunjung dan membeliku untuk kemudian membawaku ke Yatsrib. Di sana Aku melihat pohon-pohon kurma seperti yang dikatakan oleh uskupku di Ammuriyah. Aku mengetahui bahwa inilah Madinah melalui sifat-sifat yang dia katakan kepadaku, aku pun tinggal di sana bersama majikanku.

Pada saat ini Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam masih di Mekkah berdakwah kepada kaumnya, dan aku belum mendengar apa pun tentangnya karena kesibukanku sebagai hamba sahaya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam hijrah ke Yatsrib, pada saat itu aku sedang berada di atas pucuk kurma milik majikanku untuk melakukan pekerjaanku, sementara majikanku duduk di bawahnya. Tiba-tiba sepupunya datang dan berkata kepadanya, “Semoga Allah mencelakakan Bani Qailah –yakni Aus dan Khazraj– demi Allah mereka sekarang sedang berkumpul di Quba’ dengan seorang laki-laki yang pada hari ini datang dari Mekkah yang mengaku sebagai Nabi.”

Begitu aku mendengar ucapannya, aku langsung terserang sesuatu yang mirip demam, tubuhku bergoncang keras, sampai-sampai aku takut  jatuh di atas majikanku. Aku segera turun dari pohon, aku berkata kepada sepupu majikanku, “Apa yang Tuan katakan? Tolong ulangi sekali lagi.” Majikanku marah melihat sikapku, dia menamparku dengan keras dan berkata kepadaku, “Apa urusanmu dengannya. Kembalilah kepada pekerjaanmu.”

Di sore hari sku mengambil beberapa biji kurma yang sebelumnya aku kumpulkan. Aku pergi ke tempat di mana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam singgah, aku menemuinya dan aku berkata kepadanya, “Aku mendengar bahwa Anda adalah laki-laki shalih dengan shahabat-shahabat yang asing dalam kondisi membutuhkan uluran tangan. Ini kurma yang telah aku siapkan untuk sedekah, aku melihat Anda semua adalah orang yang paling berhak untuk menerimanya.” Kemudian aku menyodorkan kurma kepadanya, dia bersabda kepada shahabat-shahabatnya, “Makanlah.” Dan dia sendiri menahan tangannya dan tidak makan. Maka Aku berkata dalam diriku, “Ini satu bukti (bahwa dia tidak menerima shadaqah).”

Kemudian aku pulang, aku mengumpulkan beberapa biji kurma untuk kedua kalinya. Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sudah masuk Madinah meninggalkan Quba’, aku datang kepadanya, aku berkata, “Aku melihatmu tidak makan sedekah, ini adalah hadiah yang dengannya aku ingin memuliakanmu.” Maka dia makan sebagian dan memerintahkan shahabat-shahabatnya untuk makan pula. Aku berkata dalam diriku, “Ini bukti yang kedua (dia menerima hadiah).”

Kemudian aku datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam saat beliau berada di Baqi’ al-Gharqad (sebuah tempat di Madinah yang dijadikan sebagai kuburan) sedang menguburkan sebagian shahabatnya. Aku melihat Nabishallallahu ‘alaihi wa sallam sedang duduk dengan memakai dua helai kain. Aku mengucapkan salam, kemudian aku memutar ke belakangnya untuk melihat punggungnya dengan harapan bisa melihat stempel kenabian yang dikatakan oleh uskupku di Ammuriyah.

Manakala Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat bahwa aku telah berupaya untuk melihat punggung Beliau dan beliau mengetahui maksudku, Beliau pun menurunkan kain dari punggungnya, dan aku pun melihat stempel kenabian. Saat itu aku mengetahuinya, maka aku pun menghambur kepadanya, menciumnya sambil menangis.

Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepadaku, “Apa kisahmu?” Maka aku menceritakan kisahku kepada beliau. Beliau terkagum-kagum dibuatnya, beliau berbahagia kalau para shahabat juga mendengarnya dariku. Maka aku pun berkisah kepada mereka, mereka sangat takjub kepada kisahku dan sangat berbahagia karenanya.

Keselamatan untuk Salman al-Farisi di hari dimana dia mencari kebenaran di setiap tempat.

Keselamatan untuk Salman al-Farisi di hari dimana dia mengenal kebenaran lalu dia beriman kepadanya dengan iman yang paling kuat.

Keselamatan untuk Salman al-Farisi di hari dimana dia wafat dan di hari di mana dia dibangkitkan.

***

Diketik ulang dari buku “Mereka adalah Para Shahabat, Kisah-Kisah Manusia Pilihan dari Generasi Terbaik Umat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam” karya Dr. Abdurrahman Ra’fat Basya. Penerbit At-Tibyan. Halaman 89-95.