Pengumuman PPDB 2018/2019

logo

SURAT KEPUTUSAN

NOMOR : 485/SDIT-NH/XI/2017

TENTANG

HASIL SELEKSI PESERTA DIDIK BARU TINGKAT SD

SEKOLAH DASAR ISLAM TERPADU NUR HIDAYAH SURAKARTA

TAHUN PELAJARAN 2018/2019

 

Klik Dibawah Ini Untuk Download :

1. Surat Keputusan Kepala Sekolah 2018

2. DAFTAR SISWA DITERIMA 2018-2019

3. CADANGAN UNTUK PENGUMUMAN PPDB 2018-2019

4. Lampiran 3 prosedur daftar ulang 2018

 

Kontak Person Untuk Daftar Ulang

Ustadzah Mita  : 0813 3368 2028 (HP/WA)

Ustadzah Yanti : 0852 9350 3104 (HP/WA)

221

5 Siswa SDIT Nur Hidayah Maju Lomba MAPSI 2017 Provinsi Jateng

Prestasi kembali diraih oleh Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) Nur Hidayah Surakarta. Kali ini 5 siswa yang maju Lomba MAPSI tingkat Kota Surakarta, (11/10/2017) di SDN Cemara 2 Banjarsari, berhasil meraih juara 1 di masing-masing jenis lombanya. Dengan keberhasilan ini mereka berhak mewakili Kota Surakarta di Lomba MAPSI tingkat propinsi Jawa Tengah yang akan diselenggarakan awal November di Sukoharjo.

Kelima siswa tersebut yakni Sahlan Fikria (Juara 1 Lomba PAI Putra), Naura Taqiya (Juara 1 Lomba PAI Putri), M. Bagas Saputra (Juara 1 Tahfidz Putra), Fatimah Nurul Hidayah (Juara 1 LCC Putri), dan M. Haziq Aliyuddin (Juara 1 Lomba LKTI Putra). Sahlan, salah satu pemenang, mengungkapkan rasa gembiranya usai menerima piala, “Alhamdulillah, akhirnya juara. Aku siap mengikuti lomba di tingkat propinsi.”

Salah satu pendamping lomba, Susilowardhani, S.Pd, menuturkan bahwa keberhasilan ini tentu berkat kerja keras para peserta dalam mempersiapkan diri. Tentu didampingi para guru pelatih yang dengan penuh kesabaran. Di sela-sela kegiatan sekolah lainnya mereka sungguh-sungguh mempersiapkan diri. Kami berharap mental juara yang sudah terbentuk akan menjadi modal terbaik untuk mengukir prestasi di tingkat provinsi. Tentu dengan latihan yang lebih sungguh-sungguh.”

Kepala Sekolah SDIT Nur Hidayah, Waskito, S.Pd menuturkan, “Keberhasilan ini patut disyukuri. Semoga semakin memantik para siswa lainnya untuk berprestasi di bidang bakatnya masing-masing. Memberikan kesempatan kepada para siswa untuk mengembangkan potensi bakat prestasinya. Sejalan dengan visi sekolah, Menjadi Sekolah Berkarakter, Ramah Anak, dan Berprestasi Gemilang.”

ShalatSubuh

Jejak Hikmah Subuh

Jejak Hikmah Subuh

Oleh : Rahmat Hariyadi, S.Pd.*)

 

Alarm otomatis itu menggugah tidur pulasku. Bukan alarm yang berbunyi kring…kring…kring…. Bukan pula alarm yang bergetar. Alarm ini secara natural ada dalam tubuhku. Tidak berwujud tidak pula berbau, jika belum keluar dari sarangnya. Aku harus berkepentingan untuk menunaikannnya, membuang hajat. Tentu jika ditahan dan tidak dikeluarkan dapat menimbulkan penyakit.

Alhamdulillahilladzi ahyana ba`da ma amatana wa ilaihinnusyur. Ku ucek kedua mataku. Terbuka. Kupandang jam dinding. Waktu menunjukkan pukul 03.10. Aku bangunkan belahan jiwaku. Segera kurapikan selimut bantal guling. Aku bergegas ke kamar kecil. Menunaikan hajat, mandi, dan berwudhu. Hawa dingin kulawan dengan guyuran air dingin. Segar rasanya di badan.

Sembari memasak air di atas kompor gas. Air hangat untuk mandi si Tengah dan si Bungsu. Aku tunaikan sholat lail. Dua rakaat, empat rakaat, witir. Tidak sampai bilangan delapan, karena ku tak ingin terlambat shubuh berjamaahnya. Kubangunkan si Tengah dan si Bungsu. “Mas, Adik, ayo bangun! Katanya kita mau ikut shubuh berjamaah sekalian jemput Kakak,” ujarku lirih mengingatkan rencana dan kesepakatan tadi malam.  Semalam si Sulung memang tidak tidur di rumah. Sejak kemarin sore, ia mengikuti kegiatan Malam Bina Iman dan Taqwa (MABIT), bersama teman-teman sekelasnya di sekolah.

Walau masih menahan kantuk, si Tengah dan si Bungsu berusaha untuk menyingkirkan selimutnya. Maklum, si Tengah baru kelas 2 SD, sementara si Bungsu baru TK. Aku berusaha membangunkannya di saat Assholatu khoirum minan naum berkumandang. Walau terkadang aku harus membopongnya ke masjid. Sambil membawakan sarung lucunya. Bergambar timbul kain flanel Upin dan Ipin. Kebetulan rumahku cukup dekat dengan masjid. Aku berharap kelak mereka menjadi generasi cerdas, sholih, sehat, dan  bermanfaat bagi ummat.

Aku pun menuntunnya ke kamar mandi. Sebuah bak mandi cukup besar sudah siap. Lengkap dengan air hangatnya. Handuk, sabun, dan pasta gigi sudah kusiapkan. Mereka mandi sendiri. Sementara istri menyiapkan baju koko, peci, dan jaket untuk mereka, sembari menata mukena dan sajadah. Aku keluarkan Revo kesayanganku dari garasi mungilku. Kutekan doublestarter tanpa mengencangkan gasnya. Takut mengganggu kelelapan tetangga. Bergantian, Beat yang sehari-hari jadi tunggangan istri ke tempat kerja juga kukeluarkan. Maklum, satu motor sangat sulit untuk berlima. Apalagi Sulungku sudah sebadan bundanya. Biasanya pangeran-pangeran bersama ayahnya. Sementara Sang Putri bersama bundanya.

Tak berapa lama mereka keluar rumah. Rapi dan gagah dengan baju koko yang tertutupi jaket. Peci yang serasi dengan warna kokonya ia kenakan. Sementara bundanya begitu anggun berbalut jubah muslimah. Sambil menenteng tas kecil berisi mukena dan sajadah. Ia pun mengunci pintu rumah sebagai ikhtiar maksimal menjaga keamanan rumah. Selepas memakai alas kaki dan menutup pintu pagar rumah, saya pun menaiki Revo tungganganku bersama si Bungsu. Sementara istri menaiki Beatnya bersama si Tengah.

Bismillahittawakaltu `alallahi, laa haula wa laa quwwata illa billahil `aliyyil `adziim. Kami pun menembus kegelapan malam. Terbantu dengan sorotan lampu kendaraan, menuju ke tempat tujuan. Angin dingin di waktu akhir malam tak menyurutkan niat dan langkah kami. Walau saat kendaraan dipercepat lajunya, hawa dingin itu serasa menusuk kulit hingga ke tulang. Jalanan masih sunyi. Membuat laju kendaraan kami seakan bebas hambatan. Hilangkan rasa kantuk akibat terpaan angin pagi, ku ajak si Bungsu mengulang hafalan beberapa surat pendek Juz Amma. Mulai dari Al-Fatihan, An-Naas, Al-Falaq, Al-Ikhlas, Al-Lahab, dan selanjutnya.

Sekira 10 menit kami menikmati perjalanan, sampailah di Jalan Adi Sucipto Solo. Satu dua kendaraan sudah terlihat lalu lalang, dengan kecepatan cukup. Mungkin karena jalanan masih relatif sepi. Gapura Makutho, Griya Solopos, Gedung DPRD, Kampus Universitas Sahid kami lewati. Aku pun menghentikan Revoku ketika lampu merah menyala di perempatan Fajar Indah. Walau sebenarnya lalu lalang kendaraan belum ramai. Pos Polisi di perempatan itupun masih tertutup. Bisa saja Aku melanjutkan perjalanan, menerobos lalu lintas. Tetapi aku memilih menghentikan kendaraan. Sembari menunggu lampu hijau menyala, aku bertebak jawab dengan si Ragil. “Lampu lalu lintas warna merah artinya apa, Dik?” tanyaku. “Berhenti,” jawabnya tegas. Ia pun bisa menjawab ketika ditanya arti lampu berwarna kuning maupun hijau. Tak lupa Aku memberikan pujian padanya. Walaupun hanya dengan sebuah kata, Hebat!

Lampu hijau menyala. Kami pun melanjutkan perjalanan. Sekira 50 meter dari perempatan itu kami belok kanan, masuk dan melalui jalur lambat menuju Jalan Siwalan. Sekira semenit lewat Jalan Siwalan kami belok kiri memasuki Jalan Pisang. Terlihat lalu lintas di jalan ini sudah cukup ramai. Sorot lampu kendaraan yang baru datang maupun sedang atret mengatur parkir. Kendaraan roda dua maupun roda empat. Kendaraan kami pun semakin mendekati lokasi. Petugas Security mengarahkan kami menuju ke tempat parkir. Beberapa orang tua yang telah memarkirkan kendaraan terlihat berbondong memasuki area Gedung Timur. Kami pun segera mengikuti, usai merapikan kendaraan pada tempatnya.

Ya, pagi belia ini (19/08/2017) kami orang tua siswa, ustadz/ustadzah Guru Kelas 6, dan siswa-siswi kelas 6 paralel akan mengikuti kegiatan Sholat Shubuh Berjama`ah. Bertempat di masjid yang terletak di Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) Nur Hidayah Surakarta, tepatnya di area Gedung Timur. Sekolah yang terletak di Jalan Pisang Nomor 12 Kerten, Laweyan, Surakarta ini memang terdiri dari dua lokal gedung. Gedung Barat yang terdiri atas ruang kelas 1 sampai kelas 4 paralel, ruang perpustakaan, ruang laboratorium IPA, ruang waka, kantin, koperasi, dan aula.

Sementara di Gedung Timur ada ruang securty, ruang administrasi, ruang kepala sekolah, aula utama, ruang laboratorium bahasa, ruang UKS, dapur, ruang meeting, masjid 2 lantai, ruang laboratorium komputer, dan ruang kelas 5 dan kelas 6 paralel. Kedua gedung ini dipisahkan oleh Jalan Siwalan dan saling berhadapan. Aku cukup paham kondisi di sekolah ini karena sebenarnya Aku bagian darinya, sebagai guru.  Berupaya ikut berkontribusi dalam berkhidmat kepada bangsa melalui jalur pendidikan.

Beberapa ustadz dan ustadzah Guru Kelas 6 Paralel menyambut kehadiran kami. Sambil menjabat tangan, beruluk salam dengan untaian senyuman, kami saling menyapa menanyakan kabar. Hangat yang kami rasakan. Kebahagiaan tersendiri dapat bersilaturrahim dengan orang-orang yang berjasa telah mendidik buah hati kami, dengan penuh kasih sayang. Kami pun presensi kehadiran dahulu dan merapikan alas kaki di loker yang telah disediakan.

Allahu Akbar….Allahu Akbar. Gema kumandang adzan terdengar syahdu. Panggilan dari Al-Kholiq bagi hambanya. Kami pun bergegas menuju ke masjid yang berada di lantai 2 dan lantai 3. Tidak perlu wudhu lagi, karena masih terjaga wudhunya dari rumah. Aku, si Tengah, dan si Bungsupun menuju ke lantai 2. Tempat sholat untuk jama`ah laki-laki. Sementara istriku menaiki satu lantai lagi di lantai 3, tempat sholat untuk jama`ah perempuan. Kulihat jama`ah sudah hampir memenuhi shof di dalam masjid. Akupun menengadahkan kedua tangan ketika muadzin selesai mengumandangkan adzan.

Aku pun menunaikan sholat fajar dan sholat qabliyah Subuh. Sekelebat si Tengah dan si Bungsu mengikuti gerakan sholatku. Seakan seperti sholat jamaah. Ku tengok ke belakang, jamaah telah memenuhi dalam masjid. Ada yang berada di serambi kanan, kiri, dan belakang ruang utama masjid. Sembari menunggu iqomah berkumandang Aku duduk bersilah, Subhanallahil `adziim subhanallah wa bihamdihi berkali-kali keluar dari lisanku, walaupun tak bersuara. Hingga suara iqomah menggema.

Kami pun bersegera berdiri. Tanpa suara. Merapikan shaf dengan merapatkan kaki, meluruskan tumit pada garis shaf. Saat baris depan ada yang masih longgar, maka jama`ah disebelahnya bersegera maju. Mengisi bagian shaf yang masih longgar tadi. Tangan lurus ke bawah, pandangan ke tempat sujud. Ustadz Darussalam yang bertindak sebagai imam memastikan jama`ah sholat telah siap. Sami`na wa atho`na, kami dengar kami taat, jawab seluruh makmum. Imam takbiratul ihram, kamipun bersegera mengikuti. Bacaan Al-Fatihah dan Al-Fajr menggema begitu syahdu. Menuntun kami memaknai ayat demi ayat, menambah khusyuknya sholat kami. Ruku`, i`tidal, sujud, hingga salam kami tunaikan sebagai bentuk ketundukan dan ketaatan kepada Allah Rabb semesta alam.

Kami duduk bersila, masih dalam keadaan bershaf. Imam sholat memuqoddimah majelis subuh dengan salam, syukur, sholawat atas nabi, serta menyampaikan rangkaian acaranya. Membuka majelis dengan membaca Ummul Kitab surat Al-Fatihah. Jama`ah pun ikut melafalkan. Tak terkecuali Aku, Si Tengah dan si Bungsu. Usai Al-Fatihah dilantunkan bersama, imam sholat yang sekaligus bertugas sebagai Master of Ceremony memanggil salah satu siswa.  Muhammad Bagas Saputro nama lengkapnya, salah satu siswa kelas 6. Memakai baju koko putih dan berpeci, terpancar keshalihannya. Ia maju ke depan, sambil merundukkan badannya. Ia menyalami jama`ah yang ia lewati. Santun, ikut bahagia memandangnya. Duduk bersila ia di samping imam sholat. Ia pun memulai melafalkan wirid dan doa Al-Ma`tsurat. Jama`ah mengikutinya, melafalkan wirid dan doa yang dituntunkan oleh Rasulullah di setiap pagi dan petang.

Kepala Sekolah yang berkesempatan hadir memberikan sambutannya. “Berbahagia sekali di waktu  penuh berkah ini, kita dapat menunaikan sholat Subuh secara berjamaah. Sebuah keindahan dunia dan insya Allah keindahan akhirat ketika keluarga-keluarga muslim berduyun-duyun ke masjid. Menyambut dan memunaikan seruan Allah Rabbul iizati. Oleh karena itu, Gerakan Subuh Bersama menjadi penting sebagai pemantik memasyarakatkan dan memakmurkan masjid, di setiap sholat 5 waktu. Inilah makna keterpaduan dalam pendidikan. Pembiasaan adab dan akhlak mulia di sekolah, di rumah, maupun di masyarakat. Sinergi antara orang tua dan guru, kerja sama antara rumah dan sekolah. Tentunya didukung dengan lingkungan masyarakat yang kondusif.

Permendikbud Nomor 23 Tahun 2015 menyatakan bahwa pendidikan adalah tanggung jawab bersama. Karena itu, sekolah hendaknya melibatkan orangtua dan masyarakat dalam proses belajarnya. Mengokohkan peran keluarga, sebagaimana amanat yang disampaikan Nabi Muhammad Saw., Al ummu madrosatul ula. Memaksimalkan peran masyarakat dalam menciptakan lingkungan yang baik dan kondusif. Salah satunya dengan menyukseskan Gerakan Matikan TV Gawai, Ayo Mengaji, Maghrib-Isya. Dilanjutkan dengan belajar hingga pukul 21.00 didampingi orangtua tanpa TV dan Gawai.

Mari, kita terus kokohkan sinergi pendidikan ini. Mudah-mudahan Allah subhanahu wata`ala meridhoi segala ikhtiar kita. Dalam mewujudkan generasi yang kokoh iman islam ihsannya, cerdas akalnya, dan sehat jasadnya. Generasi emas nan mulia. Generasi yang brilian menjadi pemimpin pada zamannya kelak. Anak-anakku kelas 6 yang sholih-sholihah. Jadikan kegiatan MABIT dan Shubuh Bersama ini sebagai pengokoh karakter. Disiplin, tanggung jawab, mandiri, taat, bersih rapi, menghargai orang lain, suka menolong, bersungguh-sungguh, dan kebiasaan mulia lainnya. Teruslah berjuang diiringi akhlak mulia. Kobarkan terus semangat man jadda wa jada. Ukir prestasi terbaik di akhir masa pendidikan kalian di jenjang SD. Semoga Allah senantiasa meridhoi,” ucapnya penuh harap.

Berkaca-kaca mataku mendengar sambutan penuh semangat kebaikan itu. Sebagai salah satu wali murid sudah tentu sangat sependapat. Itulah fitrahnya pendidikan. Keberhasilan membangun karakter memang tidak boleh memakai rumus pasrah bongkokan. Menyerahkan segala urusan pendidikan kepada pihak sekolah. Orangtua tidak perlu cawe-cawe, abay saja. Jika ada orangtua siswa yang masih memiliki pola pikir seperti itu, ia berarti telah berbuat dzalim kepada dirinya sendiri dan orang lain.

Kontemplasiku terputus ketika master of ceremony mempersilakan Ustadz Kasori Mujahid, M.Ag menuju ke atas mimbar. Itu artinya jama`ah akan mendapatkan taushiyah, siraman ruhani. “Diantara kebaikan-kebaikan di waktu subuh adalah, pertama, orang yang melangkahkan kakinya menuju ke masjid memenuhi panggilan sholat, yaitu setiap langkah kaki kanannya menambah pahala dan setiap langkah kaki kirinya akan menghapus dosa. Kedua, seorang mukmin yang menunaikan 2 rakaat sebelum Subuh, ia akan mendapatkan kebaikan dunia dan seisinya,” tutur ustadz yang populer dengan panggilan Ustadz KAMU. Beliapun menguraikan beberapa keutamaan dan hikmah sholat subuh lainnya.

Majelis subuh nan mulia itu diakhiri dengan hamdalah dan doa kafaratul majelis. Kami pun saling berjabat tangan sesama jamaah. Ada keharuan bahagia tatkala saling bertatap dengan sesama orangtua siswa. Selanjutnya, kami diarahkan menuju ruang aula di lantai satu. Sajian lontong sayur dan teh hangat sudah disiapkan oleh panitia. Kami pun duduk melingkar, beramah tamah dengan sesama wali murid. Sambil menikmati hidangan yang tersaji, kami berbagi cerita, bertukar pengalaman, sungguh menyenangkan. Hangat rasanya ukhuwah di antara kami, sehangat seruputan teh hangat yang kami nikmati.

Kulihat siswa-siswi kelas 6 juga menikmati sarapan pagi di selasar ruangan di lantai 1 gedung timur. Menunya berbeda, nasi goreng telur ceplok dan susu hangat. Guratan wajah kantuk tak dapat tersembunyikan karena semalam mereka mengikuti MABIT. Namun mereka tetap tampak ceria, bersantap sambil berbincang ringan dengan teman-teman sekelasnya. Mereka bahagia, orangtuanya hadir pada acara sekolah, sholat Subuh bersama sembari menjemput kepulangan mereka.

Usai bersantap, kamipun berpamitan kepada segenap panitia. Saat bersalaman, tak lupa ucapan syukron jazakumullahu khoiron katsiron atas terselenggaranya MABIT dan Shubuh Bersama. Kegiatan yang sangat berkesan. Bagi buah hati kami, tentu juga bagi kami orangtua siswa. Ikhtiar bersama yang memantapkan semangat dan asa, terlahirnya generasi ulul albab nan rabbaniyah kelak kemudian hari. Generasi pewaris sah negeri ini.

 

*) Penulis adalah salah satu guru di SDIT Nur Hidayah Surakarta sejak 2002 hingga sekarang.

 

**)Artikel ini diikutsertakan dalam Lomba Penulisan Artikel Ilmiah Sekolah Dasar Tahun 2017 (kategori Lomba Menulis Feature Sekolah Dasar) yang diselenggarakan oleh Direktorat Pembinaan Sekolah Dasar, Direktorat Jenderal Pendidikan dasar dan Menengah, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

 

MG_7863

Peduli ROHINGYA, SDIT eNHa Kumpulkan Donasi 45 Juta Rupiah

Pagi ini cuaca sangat cerah. Mentari menampakkan sinarnya memberi kehangatan bagi semesta. Sehangat senyuman para siswa saat disambut para gurunya memasuki gerbang sekolah. Berseragam merah putih, mereka tampak sumringah menggendong tas punggungnya. Lalu lalang kendaraan orang tua siswa yang mengantar buah hatinya satu persatu berlalu dari jalan depan sekolah.

Ada pemandangan berbeda di halaman sekolah. Hamparan tikar telah memenuhi halamam sekolah. Sebuah panggung mini berukuran 2×3 meter di depan backdrop bertuliskan “From SDIT Nur Hidayah for Our Brother Rohingya”. Beberapa foto penderitaan muslim Rohingya juga terpampang pada backdrop Sementara dua pasang sound system terpasang di pojok halaman.

Ya, pagi ini (07/09/2017) sejumlah 954 siswa-siswi kelas 1-6 dan guru karyawan SDIT Nur Hidayah mengikuti Aksi Peduli Rohingya. Saat bel tanda masuk berbunyi, mereka berduyun-duyun memenuhi halaman sekolah. Para siswi tampak sudah mengenakan mukena. Tidak sampai sepuluh menit barisan shat sholat sudah terbentuk. Mereka dengan tenang mendengarkan penjelasan tentang sekilas kondisi di Rohingya dan sholat ghoib. Selanjutnya, mereka mengikuti sholat ghoib dan doa untuk kaum muslimin, khususnya yang ada di Myanmar. Usai mendengarkan orasi, para siswa memasukkan uang infaq yang sudah mereka siapkan dari rumah ke dalam kotak infaq munashoroh secara berantrian satu persatu.

Kepala SDIT Nur Hidayah, Waskito, S.Pd, dalam orasi dan pembacaan sikap menyampaikan, Kami mengutuk ketas tindakan tidak manusiawi pemerintah dan militer Myanmar terhadap umat muslim Rohingya. Meminta kepada badan PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa) yang khusus menangani anak , UNICEF, untuk menyelamatkan masa depan anak-anak Rohingya. Kita dengan umat muslim lainnya ibarat satu tubuh. Jika ada bagian tubuh yang sakit, terasa sakit pula seluruh tubuhnya.

Waka Humas SDIT Nur Hidayah, Rahmat Hariyadi, menyampaikan bahwa tujuan diselenggarakan kegiatan ini adalah memupuk rasa kepedulian para siswa, berempati kepada saudaranya yang sedang menderita karena kedzaliman militer dan pemerintah Myanmar. Tentunya juga mengedukasi para siswa bagaimana tatacara sholat ghoib serta mendoakan saudara-saudara muslim yang terdzalimi. Alhamdulillah hari ini dari para siswa terkumpul dana sejumlah Rp45.600.000,-. Dana ini akan kami salurkan kepada saudara muslim Rohingya melalui JSIT Indonesia. Semoga dapat meringankan beban penderitaan mereka dan mereka segera terselamatkan dari krisis kemanusiaan ini.

21272175_1261150670660955_7448070217866756164_n

SDIT eNHa Berkurban 2 Sapi dan 9 Kambing

Allahu Akbar…Allahu Akbar…Allahu Akbar
Laa ilaha illallahu Allahu Akbar
Allahu Akbar Walillahilhamdu

Takbir menggema saat prosesi penyembelihan hewan kurban dilaksanakan. Seorang jagal dibantu timnya dan beberapa guru dengan lancar menunaikan tugasnya. Satu persatu hewan kurban telah disembelih dan siap untuk dikuliti. Darah mengalir seakan mengiringi keikhlasan dan ketaatan dari para shohibul qurban.

Ya, pagi ini (02/09/2017), Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) Nur Hidayah Surakarta mengadakan penyembelihan dan pendistribusian hewan dan daging kurban. Tampak beberapa siswa ikut menyaksikan prosesi penyembelihan hewan kurban yang dilaksanakan di halaman sekolah. Sebagian guru ada yang bertugas menguliti, sebagian lainnya memotong daging kurban dan memasukkannya ke dalam wadah yang telah disiapkan

Ketua Panitia Idul Qurban 1438 H, Bekti Riyanto, S.Si, M.Si. menuturkan, “Alhamdulillah, tahun ini terkumpul hewan qurban dari para siswa maupun guru karyawan, sejumlah 2 ekor sapi dan 9 ekor kambing. Ada 3 ekor kambing yang kita salurkan ke sekolah tetangga. Sementara daging kurban kita distribusikan ke warga.”

Avesin Akhira Azra Bakri (12), salah satu siswa kelas 6 yang ikut menyaksikan proses penyembelihan dan sebagai shohibul kurban mengatakan, “Senang ikut kurban. Ingin dapat pahala, dagingnya dapat dibagikan ke warga. Alhamdulillah sudah rutin ikut berkurban sejak kelas 3.”

Waka Humas SDIT Nur Hidayah, Rahmat Hariyadi, menuturkan bahwa kegiatan ini rutin dilaksanakan setiap tahun. Tujuannya melatih dan membiasakan para siswa ikut berkurban. Memuliakan momentum Idul Adha dengan meneladani ketaatan Nabi Ibrahim as. dan Nabi Ismail as. Serta tentunya melatih kepekaan sosial dengan berbagi hewan dan daging kurban kepada masyarakat.

IMG_0073

Setiap Detik Begitu Berharga

Setiap Detik Begitu Berharga

Oleh : Muslikah, S.Pd.*)

 

Di tengah-tengah hiruk pikuk arus globalisasi, SDIT Nur Hidayah tampil ambil bagian. Sekolah islam ini menawarkan idealisme membangun peradaban dari satuan pendidikan dasar terendah. Ya.. jenjang sekolah dasar. Anak-anak yang masih bersih “suci” itu harus diselamatkan. Sebab merekalah pemimpin negeri ini di masa mendatang.

Berbekal cita-cita mencetak lulusan berakal pintar dan cerdas hati, menguasai IPTEK dan melekat kuat IMTAK-nya serta berbudaya, delapan belas tahun silam berdirilah SDIT Nur Hidayah. Bertemunya ide dan kesamaan visi dan tujuan, akhirnya Allah memperkenankan terwujudnya sekolah di Jalan Pisang No 12 Kerten, Laweyan, Surakarta ini.

Sejak berdirinya, SDIT Nur Hidayah memberikan perhatian lebih pada pendidikan karakter. Hal ini diwujudkan dengan berbagai progam dan kegiatan. Dalam segala bidang mata pelajaran (yang sekarang menjadi muatan pelajaran), setiap waktu dan kesempatan. Ketika itu kami belum terpikir merumuskan tentang apa itu nilai karakter utama. Namun kami mempunyai asa terhadap para lulusan kelak. Dari situlah kami menyusun program dan kegiatan.

Pagi yang cerah, senyum merekah. Kami hadir lebih awal di sekolah. Berjajar menyambut “matahari” kami. Ya.. siswa siswi. Mereka adalah “matahari” kami yang akan menerangi semesta alam Indonesia tercinta. Merekalah yang akan hadir pembawa asa di antara sebagian kepesimisan. Bersalaman menjadi ritual penuh makna dan falsafah. Menjunjung tinggi budaya ke-timur-an yang tenar dengan sopan santunnya. Apalagi keberadaan kami di kota Surakarta yang kental dengan unggah-ungguh nya. Tidak sekedar berjabat tangan, tetapi mencium tangan gurunya mengandung simbol penerapan budaya Solo dimana salah satu adab murid adalah ngajeni  gurunya, sebagai anak andhap asor terhadap orang tuanya. Saat mereka (siswa/siswi itu) melepaskan cium dan jabat tangan dari ayah atau ibunya, melangkah pasti menuju gerbang sekolah. Wali murid pun seolah berkata “Kami titipkan anak kami, buah hati kami, permata kami untuk bapak/ibu guru didik. Sepenuh jiwa dan raga kami percayakan amanah kami sementara waktu hingga sore nanti.” Kami sambut siswa siswi dengan senyum, salam, sapa, dan berjabat tangan. Seolah kami menjawab keresahan hati para orang tua “Kami terima amanah berat nan mulia ini wahai ayah bunda. Akan kami jaga sepenuh jiwa dan raga. Terima kasih atas kepercayaan yang ayah bunda berikan”.

Proses belajar dan penguatan karakter pun dimulai, sejak pertemuan pertama kami (guru dan murid) di pintu gerbang sekolah. Cium dan jabat tangan yang mengajarkan kesantunan bentuk olah hati dalam mengenal etika. Salam yang merupakan syiar dan doa, selalu kami ingatkan sebagai olah hati dalam pembiasaan spiritual. Senyum dan sapa ditebar sebagai penyemangat jiwa dan raga. Kadang kami jumpai beberapa siswa/siswi cemberut dan lesu. Insiden-insiden kecil tak jarang menjadi penyebabnya. Alat tulis ketlisut, bangun kesiangan, nggak mau sarapan, bertengkar dengan adik, dan masih banyak lagi kasus yang kami temui. Kepiawaian para pendidik untuk mengembalikan keceriaan dan semangat para siswa terus terasah. Kasus demi kasus, pengalaman demi pengalaman, membuat kami semakin banyak belajar serta meningkatkan kapasitas dan kompetensi.

Sungguh kami bersyukur, saat pemerintah lebih intens dan memberikan perhatian besar dalam penguatan pendidikan karakter ini. Dengan lima nilai karakter utama yang terprogram, yakni religius, nasionalis, gotong royong, mandiri, dan integritas. Mimpi kami untuk menemukan generasi yang cerdas menyeluruh: olah hati, olah rasa, olah pikir, dan olah raga tak hanya menjadi idealisme yang jauh dari angan. Tetapi sekarang harapan itu telah menjadi program bersama milik bangsa. Menuju generasi 2045, generasi cerdas, tangguh, dan berkarakter.

Kami pun telah membiasakan karakter religius sepanjang proses “belajar” siswa di sekolah. Ini sangat terasa baik pada proses KBM maupun non-KBM, di dalam maupun di luar kelas, sejak pagi hingga pulang sekolah. Mengawali seluruh rangkaian kegiatan di sekolah dengan berdoa, membaca Alquran, dan mutabaah ibadah siswa menjadi bagian penting yang tak pernah terlewatkan setiap hari. Selain sebagai bentuk penguatan karakter religius, kegiatan rutin ini juga sebagai sarana penguatan karakter integritas. Penanaman nilai “kejujuran” menjadi prioritas saat melakukan mutabaah ibadah harian siswa. Kerjasama dengan orang tua menjadi penopang utamanya. Menyampaikan dan menanyakan hal-hal yang perlu dikonfirmasikan kepada orang tua bukan sesuatu yang sulit kami lakukan. Kecanggihan era digital, teknologi dan infomasi semakin memudahkan kami untuk mengintenskan komunikasi antara guru dengan para orang tua. Bahkan pelayanan nonstop (24 jam) menjadi slogan kami. Para orang tua pun menyambut baik setiap program dalam rangka menyelaraskan visi, misi, dan tujuan bersama. Kegiatan pertemuan guru dan wali murid sudah rutin dilakukan. Bahkan antarwalimurid dalam satu rombongan belajar (rombel) terdapat wadah paguyuban orang tua murid. Kolaborasi apik inilah yang menjadi energi positif. Energi yang selalu menyemangati kami setiap hari.

KBM terpadu dan terintegrasi menjadi konsep dasar kami. Sejak awal pun kami telah menerapkannya. Mengaitkan muatan karakter dan nilai-nilai islami dalam pembelajaran menjadi tantangan yang senantiasa kami perbaiki. Berbagai inovasi tak ubahnya sebagai bumbu dalam pembelajaran kami. Bahkan kami pernah mendapati komentar dari para siswa “Bu guru, ini pelajaran PAI atau tematik sih?”.Dikarenakan keterpaduan yang harmonis antara setiap pembelajaran dengan penguatan pendidikan karakter dan nilai-nilai akhlak islami. Di sini kami memadukan dan menyatukan olah hati bersamaan olah pikir, olah rasa, dan olah raga. Sebuah kesatuan yang terintegrasi, bukan parsial. Sebab penguatan pendidikan karakter haruslah mengalir dengan proses natural dan otentik.

Tak hanya dalam proses KBM di dalam kelas, saat istirahat pun menjadi sesi penting. Sebab dalam proses inilah pembiasaan nilai-nilai dan norma-norma yang merupakan bagian penting dari penguatan pendidikan karakter teraplikasikan. Pembiasaan makan menggunakan tangan kanan, dengan posisi duduk, dan berdoa adalah nasihat yang selalu kami ulang sebelum para siswa berhamburan ke luar kelas saat istirahat. Keberadaan “kantor” guru yang berada di masing-masing kelas membuat kami whole day membersamai siswa. Sehingga mengamati cara mereka berinteraksi, bersosialisasi dan otomatis selalu ada unsur penguatan pendidikan karakter secara spontanitas dalam keseharian di sekolah.

Momen terpenting dalam memberikan penguatan nilai-nilai karakter adalah saat pendampingan makan siang dan pendampingan salat berjamaah. Hal ini mulai dari pembiasaan adab-adab makan, berdoa sebagai rasa syukur (olah hati), berbagi (integritas), hingga memenuhi hak fisik (olah raga). Tentunya  hal-hal lain banyak kami review dalam momen kegiatan berjamaah tersebut. Bak keluarga dengan bincang ringannya tetapi tetap produktif untuk membangun kedekatan emosi antara guru dan siswa/siswi. Dilanjutkan pendampingan berwudhu dan salat berjamaah sebagai perwujudan karakter religius. Mencetak generasi tentu tak semudah men-setting dan me-reset robot. Tantangan tersendiri yang memerlukan ide, kreatifitas, dan kecerdasan dalam upaya membiasakan siswa tertib dan khusyu’ dalam beribadah ini. Keterbatasan tempat dan sarana prasarana tak menjadi penghalang untuk mewujudkan karakter religius tersebut. Tentu saja dengan pentahapan dalam penyusunan target setiap jenjang kelas. Kelas 1 dan 2 dengan karakter pascaPAUD menjadi tahap awal pengenalan dan pembiasaan tertib dan khusyuk dalam beribadah. Sementara di kelas 3 dan 4 mulailah tahap pendisiplinan. Dengan demikian pada jenjang kelas 5 dan 6 tercapailah suasana nyaman, tertib, dan khusyu’ sebagaimana yang diharapkan.

Tak ketinggalan kegiatan-kegiatan di luar KBM yang terprogram dan terencana. Praktik belajar lapangan, outing class, renang, outbond, dan berbagai macam kegiatan ekstrakurikuler tak lepas dari misi penguatan pendidikan karakter.

Sejak berdirinya, SDIT Nur Hidayah memang telah memilih waktu belajar full day school. Dengan gagasan dapat menambah waktu untuk penguatan pendidikan karakter yang terintegrasi dalam seluruh rangkaian kegiatan di sekolah dari pagi hingga sore hari.

Keteladanan guru dan semua elemen di sekolah, termasuk karyawan, memang menjadi kunci utama. Karena itu kesamaan visi, misi, dan tujuan menyatukan kami. Berjuang, bergerak bersama mewujudkan cita-cita mulia. Berkorban sepenuh jiwa dan raga. Kami rela “berkorban” waktu, tenaga, pikiran, dan perhatian karena setiap detik begitu berharga bagi generasi kita. Mendidik sepenuh hati menggapai ridho Ilahi. Karena mimpi kami adalah membangun peradaban, tidak sekedar mentransfer pengetahuan.

 

*) Muslikah, S.Pd. adalah salah satu guru di SDIT Nur Hidayah Surakarta sejak 2001 hingga sekarang.

**)Artikel ini diikutsertakan dalam Lomba Penulisan Artikel Ilmiah Sekolah Dasar Tahun 2017 (kategori Lomba Menulis Feature Sekolah Dasar) yang diselenggarakan oleh Direktorat Pembinaan Sekolah Dasar, Direktorat Jenderal Pendidikan dasar dan Menengah, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

 

Nominasi Sekolah Keren Kemendikbud

SDIT Nur Hidayah Raih Apresiasi Sekolah Keren

Satu lagi prestasi membahagiakan ditorehkan oleh Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) Nur Hidayah Surakarta. Kali ini perlombaan yang diikuti adalah Lomba Sekolah Keren yang diselenggarakan oleh Kemendikbud. Diikuti oleh 154 sekolah dari berbagai daerah seluruh jenjang PAUD, SD/SDLB, SMP, SMA, PKBM.

WhatsApp Image 2017-08-10 at 10.31.36

Setelah melalui penjurian, akhirnya SDIT Nur Hidayah termasuk diantara 21 sekolah yang terpilih sebagai Sekolah Keren. Kegiatan berlangsung, Selasa-Kamis, (8-10/08/2017) di Mercure Hotel dan Puncak Apresiasi Pendidikan Keluarga 2017 digelar di Taman Ismail Marzuki, Cikini, Jakarta Pusat.

Direktur Pembinaan Pendidikan Keluarga, Kemendikbud RI, DR. Sukirman, M.Pd, dalam sambutannya menyampaikan bahwa fokus program pembinaan pendidikan keluarga meliputi; 1) adanya kolaborasi positif antara wali kelas dan orang tua, 2) adanya kelas orangtua, dengan diadakan parenting pengasuhan anak, musyawarah POMG untuk kebaikan pendidikan dengan gotong royong, 3) kelas inspirasi, dengan melibatkan orangtua dengan beragam latar belakang profesi menjadi sumber belajar, atau saat upacara bendera menghadirkan Koramil, Polsek berbicara tentang bela negara, dll., 4) adanya pentas akhir tahun. Orangtua hadir, mengapresiasi pentas minat bakat putra putrinya. Setiap siswa ditantang buat karya yang nantinya akan ditunjukkan kepada orang tua. Menumbuhkan motivasi siswa berkreasi dan berinovasi. Memberi apresiasi akademik dan non akademik, misal sebagai ketua kelas, juara puisi, juara olahraga, dll.

Kepala SDIT Nur Hidayah, Waskito, S.Pd yang hadir dan menerima langsung penghargaan dari Kemendikbud, menuturkan, Kita sungguh bersyukur dengan anugerah ini. Walaupun persiapan lomba hanya 3 hari, tapi alhamdulillah hasilnya maksimal. Ada empat kategori lomba dalam Apresiasi Pendidikan Keluarga 2017, yakni Lomba Sekolah Keren, Lomba Film Pendek Fiktif dan Dokumenter, Lomba Jurnalistik Peduli Keluarga, dan Apresiasi Orangtua Hebat.

Waka Humas SDIT Nur Hidayah, Rahmat Hariyadi menuturkan, ada 4 indikator yang dinilai dalam Lomba Sekolah Keren. Pertama, sekolah telah melaksanakan program-program yang melibatkan keluarga, masyarakat, alumni, seperti kegiatan POMG, kelas inspirasi, pentas karya seni akhir tahun, jajanan sehat, sekolah hijau. Kedua, sekolah telah melaksanakan program-program terkait pencegahan kekerasan, penyalahgunaan narkoba, HIV/AIDS, pergaulan bebas, atau masalah anak lainnya. Ketiga, sekolah mempunyai program-program yang dirancang dan dilaksanakan oleh siswa. Keempat, sekolah mempunyai program yang melibatkan orangtua, anak, masyarakat, yang berdampak positif bagi satuan pendidikan lainnya.

Kita berharap dengan apresiasi ini semakin mengokohkan kerjasama antara tiga pilar utama pendidikan, yakni sekolah, keluarga, dan masyarakat. Layanan pendidikan semakin prima, prestasinya semakin gemilang, demi kemajuan dan kemuliaan bangsa.

Surakarta, 10/08/2017
an. Kepala SDIT Nur Hidayah
Waka Humas

Rahmat Hariyadi, S.Pd⁠⁠⁠⁠

_MG_0241

Komite Sekolah dan POMG Gelar Halal Bi Halal 1438 H

Kerten (22/7) Waktu menunjukkan pukul 07.15, namun sinar mentari sudah cukup menyengat kulit. Pagi ini tampak aktivitas yang berbeda dari hari-hari biasanya di Hotel Swiss-Belinn Saripetojo kawasan Purwosari yang dekt dengan stasiun. Nampak banyak mobil dan kendaraan roda dua yang memasuki kawasan hotel. Ya, pagi ini SDIT Nur Hidayah Surakarta menggelar kegiatan Halal Bi Halal 1438 hijriyah. Kegiatan ini dilaksanakan atau dipanitiai oleh Pengurus Komite Sekolah dan Paguyuban Orang Tua Murid.

Kegiatan ini dihadiri lebih kurang 1000 orang wali murid dengan menghadirkan pembicara Dr. H. Sukro Muhab, M.Si. yang merupakan ketua umum Jaringan Sekolah Islam Terpadu (JSIT) Indonesia. Dalam paparannya Ustadz Sukro menekankan tentang pentingnya pendidikan karakter bagi anak-anak serta sinergi orang tua dalam pembentukan karakter islami bersama-sama dengan sekolah. Hal ini selaras dengan tema yang diusung panitia yaitu “Kokohkan Peran Keluarga Hadirkan Generasi Unggul dan Mulia”.

Dalam Halal Bi Halal ini juga dibacakan ikrar halal bi halal yang dibacakan oleh Ustadz Budiman Mustofa, Lc., M.Pd.I selaku ketua komite sekolah.

pelatihan-motivasi-sdit-nur-hidayah_20170403_181517

Training Motivasi Untuk Menambah Kesiapan Hadapi US-M

SOLO – Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) Nur idayah Surakarta mengadakan training atau pelatihan motivasi untuk menjaga semangat siswanya jelang Ujian Sekolah, Mei mendatang.

Sebanyak 144 siswa kelas VI ikut dalam training motivasi yang diadakan Jumat (31/3/2017) tersebut. Dalam kesempatan itu, hadir juga Tim Trainer dari Smart Diagnostik Erlangga.

“Pengisi motivasi dari Tim Smart Diagnostik Erlangga, harapannya bisa menjaga semangat para siswa menjelang US,” kata Waka Humas SDIT NH, Rahmat Hariyadi, Senin(3/4/2017).

Didampingi oleh beberapa guru kelas 6, Muhammad Zain, trainer dari Smart Diagnostik Erlangga menyampaikan kiat sukses US/M dan lulus nilai lebih baik.
“Pertama, mau berubah dimulai dari diri sendiri dan mulai dari sekarang,” kata Zain di hadapan ratusan siswa tersebut. Kedua, hilangkan faktor psikologis yang menghambat proses belajar dari teman, keluarga, maupun sekolah. Ketiga, berusaha belajar sungguh-sungguh dengan tidak lupa berdoa.

“Dan mau bermuhassabah, mungkin ada kesalahan tutur kata maupun tindakan yang dilakukan kepada orangtua dan guru, untuk selanjutnya meminta maaf dan mohon doanya,” ujarnya.

Kegiatan ini juga sebagai penguat usaha untuk menjaga semangat berprestasi para siswa.

“Rencananya upaya ini akan dikuatkan dengan kegiatan Doa Bersama Komite Sekolah dan orang tua Siswa kelas 6 menjelang pelaksanaan US/M,”pungkas Rahmat.(*)

Sumber : http://solo.tribunnews.com

tim-pmr-sdit-nh-solo_20170327_211501

PMR Mula Juarai Lomba Youth Red Cross Characterized

SOLO – Tim Palang Merah Remaja (PMR) Mula SDIT Nur Hidayah Solo meraih juara umum dalam Lomba Youth Red Cross Characterized 2017 katergori Mula.

Lomba ini diselenggarakan Palang Merah Indonesia di SMK Negeri 8 Surakarta, Minggu (26/3/2017).

Tim dari SDIT NH beranggotakan Alfian Nur Isyhadi, Ammar Makarim Wardhana, Faiz Hibatul Aziz, Daffa Arrivo Aryanto, Fatimah Nurul Hidayah, Fauziah Khansa Nur Azizah, Zahirah Mentari Supriyono, dan Khoirunnisa Ulin Nuha .

 

“Tim PMR SDIT Nur Hidayah yang bertanding ditingkat Mula berhasil menyabet empat piala dan Golden Ticket PMR Got Talent,” kata Waka Humas SDIT NH, Rahmat Hariyadi, di Solo, Senin (27/3/2017).

“Dengan perolehan juara tersebut, tim SDIT NH dinobatkan sebagai juara umum,” katanya menambahkan.

Aada  berbagai perlombaan yang dipertandingkan, yaitu Lomba Pertolongan Pertama, Lomba Pendidikan Remaja Sebaya, Lomba Perawatan Keluarga, dan PMR Got Talent.

“Alhamdulillah, kita bersyukur walaupun hanya berlatih sepekan anak-anak bisa mengikuti perlombaan dengan baik dan bisa menjadi juara,” ujar Rahmat menegaskan.

Adapun tim pertolongan pertama akan mewakili Kota Solo di tingkat provinsi pada bulan April mendatang.

Menurut Rahmat, keberhasilan ini tidak terlepas dari latihan rutin yang memang terjadwal setiap Sabtu, saat ekstra kurikuler Dokter Cilik.

“Karena ada kemiripan antara materi lomba dengan apa yang dipelajari di ekstra Dokcil,” ujarnya.

 

Sumber : http://solo.tribunnews.com