WhatsApp Image 2018-09-24 at 07.31.57

Keluarga Besar Kelas 3D Adakan POMG dan Tarling Perdana

Para siswa kelas 3D masih nampak semangat siang itu. Matahari tepat di puncak ketika mereka bersama menuruni tangga menuju mobil beberapa orangtua siswa. Begitulah kiranya secuplik pemandangan pada Sabtu (22/9) lalu di Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) Nur Hidayah Surakarta. Para siswa mendapat undangan istimewa ke rumah Abdillah Kenzie guna melaksanakan agenda tadarus keliling untuk pertama kalinya. Tadarus keliling atau yang dibiasa disingkat Tarling ini sudah beberapa waktu lalu direncanakan. Karena itu wajar sekali siswa-siswi ini tak sabar menanti. Tak ingin kalah, untuk menyambung silaturahmi para ayah bunda kelas 3D menggabungkan acara Paguyuban Orangtua Murid dan Guru (POMG) pada acara tersebut.

Di dalam rumah Kenzie, Tarling dimulai dengan membaca Al-Fatihah dan tilawah Al-Quran bersama Ustadzah Roihatul Hasanah, S.Pd.I. Acara dilanjutkan dengan istirahat, lalu game ‘Mengenal Temanku’ bersama Ustadzah Dea Resti Amalia, S.Pd. “Permainan kecil ini bertujuan agar kita bisa mengajarkan anak-anak untuk saling mengenal. Sehingga mereka tidak hanya dekat dengan satu atau dua anak,” tuturnya di sela permainan.

Tak hanya permainan bersama teman, Tarling juga dimeriahkan dengan pembagian doorprize. Tentu saja acara menjadi sangat hidup dan menyenangkan. Acara tarling ditutup dengan salat Ashar berjamaah. Di waktu bersamaan dengan tarling, ayah bunda wali murid kelas 3D mendengakan materi dari Ustadzah Wulansari, S.P, S.Pd selaku pembicara. ‘Menjaga Fitrah Anak’ adalah materi utama yang dibahas bersama.

“Menjadi orang tua harus siap dan menyadari bahwa ada amanah (anak) dari Allah yang harus dijaga kefitrahannya. Fitrah keimanan, fitrah bakat, fitrah belajar dan bernalar, serta fitrah seksualitasnya,” ungkap ustadzah yang seringkali mengisi siaran parenting di salah satu radio di Kota Surakarta ini.

Pada acara ini juga disampaikan berbagai kegiatan belajar mengajar maupun perkembangan para siswa. Hal tersebut disampaikan oleh Ustadzah Roi. “Ini merupakan POMG perdana untuk kelas 3D. Kami sampaikan kegiatan-kegiatan sekolah di waktu dekat seperti rehat yang diisi dengan PBL dan classmeeting, kemudian rencana pembagian hasil belajar siswa PTS, juga beberapa hal berkaitan dengan pembelajaran di kelas selama setengah semester ini,” paparnya.

Sementara selaku tuan rumah, ibunda Kenzie yang biasa dipanggil Mama Liza menyampaikan rasa senangnya. “Iya, saya senang sekali. Kami dari kelompok satu POMG kelas 3D sangat bahagia. Sebab bapak ibu dari 33 siswa bisa rawuh semua menghadiri acara silaturahmi ini. Alhamdulillah bisa hadir 100%,” ungkapnya.

Seperti diketahui, acara POMG merupakan acara silaturahmi yang dinaungi oleh Bagian Kehumasan. Acara ini dilaksanakan dua kali dalam satu semester. Sementara untuk kegiatan Tarling pun demikian. Untuk menuju tempat tarling, biasanya para wali murid dengan senang hati meluangkan waktu untuk mengantar.
“Karena keterbatasan armada sekolah, biasanya ayah bunda berkenan untuk mengantar. Hal ini merupakan bentuk sinergi yang menjadi salah satu kekhasan sekolah kami,” pungkas Rahmat Hariyadi, S.Pd selaku waka Humas SDIT Nur Hidayah Surakarta. *(indah/emyu)

WhatsApp Image 2018-09-25 at 10.22.32

Tingkatkan Mutu Pembelajaran, Tim Kurikulum SDIT Nur Hidayah Surakarta Gelar Workshop Internal

Dunia pendidikan merupakan wadah kecil yang disiapkan untuk menghasilkan penemuan-penemuan besar. Karena itu tak salah jika diibaratkan sebagai Kawah Candradimuka. Kono kawah inilah yang menggodok Gatutkaca sehingga menjadi tokoh kuat tanpa tanding, berotot kawat bertulang besi. Begitu pula sekolah di zaman serbamodern ini diharapkan melahirkan insan berakhlak mulia dan intelektual.

Hal besar itulah yang hendak dicapai oleh Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) Nur Hidayah Surakarta. Salah satu cara yang digunakan adalah menggelar berbagai pelatihan dan workshop. Seperti pada Senin hingga Rabu (17-19/09) lalu, para guru mengikuti workshop yang diadakan oleh Tim Kurikulum.

Di hari pertama, workshop dimulai dengan membuka kembali tentang Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) oleh Ustadzah Muslikah, S.Pd selaku Waka Kurikulum. Berbagai hal terkait RPP Terpadu dibedah kembali untuk menguatkan pengetahuan guru. Tak hanya itu, beliau juga memotivasi para guru sebagai profesi penting dan terbaik. “Kegiatan ini sangat perlu kami adakan terkait perkembangan ilmu yang pesat. Karena itu, kami mengajak bapak ibu guru di sela kesibukan mengoreksi lembar kerja maupun PTS,” paparnya.

Sementara di hari kedua workshop diawali dengan unjuk yel antarkelas paralel. Berlomba dalam kebaikan memang telah menjadi ciri khas tersendiri bagi sekolah yang bertagline “Terdepan dalam Kebaikan” ini. Setelah segar dengan berbagi penyemangat, bapak ibu guru diberikan waktu untuk membuat RPP. Para guru mempraktikkan berbagai ilmu yang sudah didapat pada hari pertama sesuai mata pelajaran yang diampu.

Pada hari Rabu sebagai hari terakhir, hasil RPP kemudian dicek ulang. Dengan demikian para guru bisa mengetahui letak kekurangan pada RPP yang sudah dibuat. Bagi yang sudah diperbaiki menjadi dasar untuk mengerjakan RPP selanjutnya.

Pembuatan RPP tidak didominasi oleh guru mata pelajaran umum maupun tematik, tetapi juga para guru Al-Qur’an. SDIT Nur Hidayah Surakarta di bawah Yayasan Nur Hidayah Surakarta menggunakan Metode Littaqwa untuk pembelajaran Al-Qur’annya. Pembuatan dan penyusunan RPP Metode Littaqwa dipandu oleh Ustadzah Tis’iatur Rofiah, S.Pd. “Saya senang bisa berbagi dengan para guru hebat,” tuturnya di sela-sela men dampingi para guru Al-Qur’an menyusun RPP. *(indah/emyu)

WhatsApp Image 2018-09-14 at 07.38.32

Pembagian itu Asyik

Beni dan teman-teman bermain di halaman sekolah. Ada yang bermain kelerang, lompat tali, dan estafet air.

Begitulah isi teks bacaan pada buku siswa Tema 2 Bermain di Lingkunganku. Setelah mendiskusikan isi bacaan yang kemudian dikaitkan dengan jenis dan sifat benda pada materi pembelajaran sebelumnya, Ustadzah Reni Agustin Priyatiningrum, S.Pd., guru pengampu tematik kelas 2D SD Islam Terpadu Nur Hidayah Surakarta, mengenalkan pembagian.

Lani dan teman-temannya bermain lompat tali. Mereka menggunakan gelang karet. Ustadzah menyampaikan bahwa Lani ingin melakukan permainan yang berbeda dengan karetnya. Sejumlah 24 karet akan dimasukkan dalam empat kotak dengan sama rata. Berapa jumlah karet di tiap-tiap kotak? Ustadzah Reni, begitu panggilan akrabnya, membimbing siswa-siswi untuk membaginya dengan cara pengurangan berulang. Mereka bekerjasama secara berpasangan.

Janneta Hasna Arifah (8th), salah satu siswi kelas 2D menyiapkan 24 karet. Diberikan kepada temannya, Muhammad Rizal Zahir, (8th) sejumlah 4 karet. Rizal meletakkan karet di atas meja satu per satu secara terpisah. Janneta mengambil 4 karet lagi. Diberikan pada Rizal untuk digabungkan pada 4 karet sebelumnya. Begitu seterusnya hingga karet yang dipegang Janneta habis. Mereka berdua kemudian menghitung tiap kelompok pada karet tersebut. Ternyata masing-masing kelompok ada 6 karet. Demikian pula yang dilakukan siswa-siswi kelas 2D lainnya. Ustadzah Reni membantu merumuskan kalimat matematika 24:4=6.

Muhammad Rizal Zahir, mengatakan, “Senang belajar sambil bermain bersama teman-teman.” Sementara Janneta Hasna Arifah mengungkapkan, “Belajar matematika tentang pembagian jadi lebih mudah dengan sambil bermain.”

Demikian kegiatan pembelajaran tematik pada Rabu, (12/09) sekaligus menjadi kegiatan supervisi kepada guru-guru SD Islam Terpadu Nur Hidayah Surakarta yang diselenggarakan secara rutin tiap tahunnya. “Selain proses pembelajaran, guru juga disupervisi perangkat pembelajaran untuk 1 semester sebagai upaya penjaminan mutu sekolah,” demikian penjelasan Ustadz Rahmat Haryadi, S.Pd selaku Wakil Kepala Sekolah Bidang Humas sekaligus salah satu supervisor. *(emyu/reni)

WhatsApp Image 2018-09-24 at 10.27.11

Life Skill: Aku Belajar Mandiri

Sabtu (8/9) pagi siswa-siswi kelas 1 SD Islam Terpadu Nur Hidayah berbaris rapi, mengawali hari dengan doa bersama. Doa pagi serta semangat pagi diakhiri dengan murojaah bersama. Karena perdana masuk di hari Sabtu, siswa kelas 1 mendapatkan pengarahan kegiatan Sabtu Ceria.

Menjadi Sabtu yang ditunggu karena siswa membawa mainan kesukaan sebagai bentuk aplikasi pembelajaran tema Kegemaranku serta belajar life skill sebagai kegiatan mengasah keterampilan hidup yang akan bermanfaat di kemudian hari. Semangat pagi diakhiri dengan hafalan bersama surat-surat dalam Juz 30 bersama Ustadzah Siti Rohani, S.PdI.

Setiap Sabtu ke-2 dan ke-4 siswa kelas satu masuk sekolah dengan pembelajaran Life Skill. Life Skill melatih kemandirian siswa sesuai dengan tahapan perkembangan anak anak. Seperti hari ini yaitu belajar mengancingkan baju. Mahrin Zulfa Savaira Vito (6 th) salah satu siswi kelas 1C menganggukkan kepala saat ditanya guru, “Mbak Zulfa sudah pintar mengancingkan baju sendiri ya, Nak?”

Pembelajaran diawali dengan cerita pentingnya belajar mandiri. Belajar mandiri juga termasuk salah satu bentuk membantu orangtua. Berawal dari mengenalkan, memberi contoh, serta mau mencoba. Setiap siswa akan terbiasa melakukan sendiri tanpa bantuan orang lain. Seperti yang akan dipraktikkan dalam pembelajaran Life Skill kali ini.

Satu persatu siswa pun mempraktikkan cara mengancingkan baju dengan penuh semangat. Kegiatan ini diikuti semua siswa kelas 1a sampai 1d yang berjumlah 112 siswa. Ustadzah Leli Firli Rahmani, S.Psi, salah satu guru kelas 1 menurutkan, “Mengajarkan dan membiasakan kemandirian anak perlu dilakukan sejak dini. Semakin matang kemandiriannya semakin memudahkan ia dalam melakukan peran dan tugasnya.” *(leli/emyu)

WhatsApp Image 2018-09-12 at 09.17.10

Mengikat Semangat HAORNAS

“Tak hanya tentang persatuan, olahraga juga mengajarkan banyak hal tentang makna kejujuran, sportivitas, keadilan, dan kebanggaan sebagai sebuah bangsa”.
(Imam Nahrowi, MENPORA)

Jum’at (07/09) para siswa kelas 2 SD Islam Terpadu Nur Hidayah Surakarta memulai pagi dengan do’a dan menghafalkan surat Al- Infithor di aula sekolah. Mereka berkumpul dalam barisan yang rapi. Selesai majelis pagi, para siswa mengamati slide yang ditayangkan melalui LCD.

Slide pertama menampilkan tarian pada pembukaan acara ASIAN GAMES 2018. Keadaan menjadi sedikit riuh oleh beberapa komentar antar siswa yang menandakan perhatian dan sikap kritis mereka atas tayangan tersebut. Slide kedua menampilkan perjuangan para olahragawan indonesia dalam mengikuti perlombaan ASIAN GAMES 2018. Tayangan tidak sekedar saat mereka meraih kejuaraan, ataupun pengalungan medali, dan kesyahduan saat lagu kebangsaan Indonesia Raya berkumandang di arena, namun juga menyajikan perjalanan dan usaha para olahragawan Indonesia menggembleng diri dalam latihan yang panjang.

Ustadz Sunarto, S.Pd menyampaikan, “Untuk menjadi pemenang ataupun juara yang utama diperlukan adalah kesiapan diri berlatih dengan tekun, tidak mudah menyerah dan tergoda melakukan hal-hal yang mubadzir atau tidak ada kaitannya dengan perjuangan. Untuk menjadi pemenang dan juara harus siap berkorban. Mbak Defia tadi bahkan sampai tidak sempat menyaksikan pemakaman ayahandanya yang wafat. Karena saat itu tengah ada latihan tanding di Korea. Ada juga yang tidak menyaksikan kelahiran putra pertamanya. Selain itu waktu yang dipunya digunakan sebaik-baiknya untuk berlatih. Kalaupun refreshing ya secukupnya. Menyiapkan diri menjadi pemenang juga harus  selalu berdoa dan tawwakal pada Allah. Selain itu dari kegiatan olahraga, kita saksikan bersama bagaimana setiap orang menyemangati olahragawan yang tanding, saling menghargai, dan toleransi”.

Para siswa hanyut dengan tayangan yang ada. Aula menjadi senyap. Para siswa tertegun menikmati dan mencermati layar di hadapan mereka. Apalagi ditambah penguatan dengan adanya petuah guru olahraga mereka, Ustadz Sunarto, S.Pd. Ar- Ruhul Jadid (7th) salah satu siswa 2C mengungkapkan rasa harunya, “Ternyata menjadi juara itu penuh perjuangan.”

Selanjutnya acara hari Jum’at ditutup dengan senam bersama. Kegiatan menyambut HAORNAS ini dilanjutkan hari berikutnya. Sabtu (8/9) kelas 2 mengadakan kegiatan renang di Umbul Sewu Pengging sekaligus membagikan bendera selamat HAORNAS kepada para pengunjung.

Ustadzah Eni Hestuti, S.S, S. Pd menuturkan, ” Tim kelas 2 merancang kegiatan ini selain untuk turut memperingati Hari Olahraga Nasional yang jatuh pada 9 September, terlebih kami ingin menanamkan nilai-nilai karakter yang terkandung dalam kegiatan olahraga. Olahraga selain perwujudan dari qowwiyul jism, namun juga kita jadikan alat penenun karakter jujur, berani, percaya diri, siap berkorban, sportif, dan sikap tawakal kepada Allah ke dalam diri peserta didik”. *(yan/emyu)

WhatsApp Image 2018-09-07 at 07.35.43

Belajarnya Anak Milineal

Lajulah prahuku laju
Jangan hirau angin datang
Meluncur di air biru
Biarkan bertiup kencang

Lirik lagu di atas dinyanyikan para siswa kelas 2B SD Islam Terpadu Nur Hidayah Surakarta dengan ceria. Sembari mereka mengamati guru tematiknya, Muslihah, S. Pd., menempelkan perahu-perahu kertas ke papan tulis. Wajah para siswa terlihat begitu penasaran dan antusias  memperhatikan pembelajaran.

Guru mengelompokkan perahu kertas menjadi tiga. Setiap kelompok terdiri dari dua buah perahu. Rabu (05/09) ternyata guru tersebut tengah mengajarkan tentang konsep perkalian. Sebagai penguatan, setiap siswa diminta untuk mengerjakan lembar kerja sederhana.
Setelah selesai, siswa diajak untuk memperhatikan asal pembuatan perahu kertas, yakni terbuat dari lembaran kertas yang merupakan salah satu contoh benda padat.

Kemudian guru menerangkan sifat-sifat benda dan mengajak siswa untuk menyebutkan contoh sifat benda padat yang mereka ketahui.
Selanjutnya Ustadzah Mus, demikian panggilan guru yang sering berbagi ilmu dan pelatihan pembelajaran ke instansi lain itu, menerangkan bahwa perahu adalah salah satu alat transportasi di air. Sedangkan air juga salah satu contoh sifat benda cair.

Sebelum mengakhiri pembelajaran, Ustadzah Mus memberikan tugas di rumah yakni para siswa diminta untuk membuat perahu kertas. Pembuatan perahu kertas ini dilaporkan kepada guru dengan cara mengirimkan video pembuatan perahu kertasnya. Muhammad Firdaus (7th), salah satu siswa kelas 2B mengungkapkan, “Dari perahu kertas saja aku bisa belajar perkalian dan sifat benda padat dan cair. Pembelajarannya menyenangkan sekali, seperti bermain.”

Sedangkan Wafa Malik Ar Rifki (7th), salah satu siswa kelas 2B lainnya, mengungkapkan keriangannya ketika mendapat tugas membuat video pembuatan perahu kertas, “Wah, asyik belajarnya divideo. Kata ustadzah nanti hasil video akan dikirim ke facebook agar bisa berbagi ilmu dan dicontoh anak-anak lain.” Ustadzah Muslihah, S.Pd. menuturkan, “Tujuan dari pembelajaran ini sesuai kompetensi dasarnya adalah mengenal wujud benda. Di sini kami menyajikanya dengan menyesuaikan dunia anak-anak yakni dunia bermain. Kami memanfaatkan bermain perahu kertas untuk sarana belajar. Sedangkan tugas membuat video bertujuan untuk menguatkan karakter siswa. Para siswa dilatih berani untuk tampil dan menyampaikan atau menerangkan tentang tugas membuat perahunya.” *(yan/emyu)

WhatsApp Image 2018-09-04 at 07.33.59

Kelas 6 Gelar Subuh Berjamaah

Adzan Subuh berkumandang merdu. Suaranya seakan menggetarkan langit yang masih sunyi. Membangunkan jiwa-jiwa yang tadinya masih terlelap. Bergegas berwudhu, bergegas menuju ke masjid. Menunaikan wajibnya kepada Al-Kholiq.

Kumandang adzan juga berkumandang dari Masjid Nur Hidayah, di kompleks SD Islam Terpadu Nur Hidayah Surakarta. Sayup-sayup suara anak terdengar mengambil air wudhu. Mereka, siswa-siswi kelas 6 SD Islam Terpadu Nur Hidayah, yang baru saja mengikuti sholat qiyamullail, sebagai salah satu agenda dalam rangkaian Kegiatan Mabit (Malam Bina Iman Taqwa), Sabtu-Ahad, (1-2/08).

Di depan sekolah, tampak para orangtua siswa berdatangan. Usai memarkirkan kendaraan dengan rapi dibantu oleh Tim Satpam, mereka memasuki gerbang sekolah, dengan beruluk salam. Beberapa asatidzah guru kelas 6 terlihat menyambut hangat dengan berjabat tangan dan berbagi senyuman. Para orangtua siswa mengisi daftar hadir, meletakkan alas kaki di loker, dan menuju ke masjid.

Iqamat berkumandang, sholat subuh berjamaah pun ditunaikan. Para orang tugu, guru, maupun para siswa khusyuk menjalankannya. Usai dzikir dan doa, orangtua menuju aula lantai 1 untuk mengikuti Kajian Keislaman bersama Ustadz Asih Sunjoto Putro, S.Si. Sementara siswa-siswi kelas 6 menuju ke gedung barat untuk mengikuti wirid dan doa ma’tsurat didampingi beberapa guru.

Dalam taushiyahnya, Ustadz Asih Sunjoto Putro mengutip Alquran surat At-Tahrim:6, “Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari siksa api neraka yang bahan bakarnya terbuat dari manusia dan batu.” Lebih lanjut beliau mengingatkan, “Tugas kepala dan anggota keluarga adalah menghindarkan diri dan keluarganya dari siksa neraka. Tentu dengan keteladanan, menghadirkan atau memilihkan lingkungan yang baik, memberikan bekal ilmu bekal beramal.”

Ketua Panitia Kegiatan Mabit, Ustadz Muhammad Ihsan menyampaikan, “Kegiatan subuh berjamaah ini bertujuan untuk mewujudkan kebersamaan antara pihak sekolah dengan keluarga, antara guru dengan orang tua, dalam memberikan keteladanan kepada para siswa. Bersilaturrahmi sambil bertholabul ilmi. Saling mengokohkan keteguhan dalam ketaatan. Sekaligus orangtua menjemput putra-putrinya selesai kegiatan Mabit.” (ihsan/emyu)

WhatsApp Image 2018-09-03 at 07.43.30

Kembangkan Keterampilan Sains dengan Membuat Model Pernapasan Paru-paru

Hari ini (31/8), Jumat barokah. Para siswa kelas 5 SD Islam Terpadu Nur Hidayah Surakarta bergegas menuju sekolah mereka dengan senyum merekah. Tampak tas sekolah di punggung lengkap dengan peralatan sekolah mereka bawa. Tapi ada yang berbeda dengan hari ini, mereka membawa bahan dan perlengkapan yang akan digunakan untuk pembelajaran membuat model pernapasan paru-paru di kelas.

Sebelum praktik dilakukan, seperti biasa kegiatan Jumat barokah dilakukan di aula lantai 3 gedung timur sekolah. Kegiatan tersebut adalah melaksanakan sholat dhuha, dzikir matsurat, dan membaca surat Al- Kahfi. Kegiatan Jumat ini dipimpin oleh Ustadzah Minuk Nihayah, S.Pd. Selesai melaksanakan kegiatan Jumat, mereka masuk ke kelas masing-masing untuk mengisi kotak infak Jumat dan potong kuku.

Usai kegiatan Jumat pagi, para siswa menyiapkan pelajaran pertama. Kali ini mereka akan belajar membuat model Pernapasan Paru-paru. Mereka mengeluarkan bahan-bahan yang sudah disiapkan dari rumah. Bahan-bahan itu antara lain: botol bekas, bolpoin bekas atau sedotan, 2 buah karet pentil, 2 buah balon, dan plastisin.

Setelah semua peralatan siap, Ustadzah Susilo Wardhani menjelaskan langkah-langkah membuat “Model Pernapasan pada Paru-paru. Pertama, masukkan bolpoin/sedotan ke tutup botol yg sudah dilubangi. Kedua, siapkan balon, kemudian diikatkan sampai tidak ada udara masuk ke ujung bolpoin yang berada di bawah tutup botol. Ketiga, Masukkan ke dalam botol yang sudah dipotong bawahnya. Keempat, siapkan balon yang sudah dipotong atasnya kemudian ditutupkan ke bawah botol, ikat dengan karet.

Kelima, di pangkal bolpoin yang dimaksud ke tutup botol ditutup dengan plastisin supaya tidak ada udara yang masuk. Keenam, model paru paru siap dicoba dengan menarik balon yang berada di luar (fungsinya seperti diafragma). Ketujuh, balon ditarik (diafragma kontraksi), udara akan masuk ke balon (paru- paru) sehingga mengembang. Kedelapan, tarikan balon dilepas, udara keluar, balon (paru-paru) mengempis.

Beliau pun menjelaskan bahwa tujuan dari praktik ini agar para siswa mengetahui sistem pernafasan pada paru-paru. Usai penjelasan dari Ustadzah Susilo Wardhani, S.Pd., para siswa dengan antusias dan semangat membuat model pernapasan pada paru-paru tersebut. Tak lupa Ustadzah Dani selaku guru pengampu membimbing dan mendampingi selama praktik.

Usai model pernapasan pada paru-paru jadi, para siswa mempraktikkan karyanya. “Dari praktik langsung seperti ini, mereka akan lebih memahami tentang sistem pernapasan pada paru-paru,” tutur Ustadzah Dani. Jam pelajaran pun usai. Para siswa mengumpul kan karyanya kepada Ustadzah Dani. Mereka pun istirahat dengan segudang pengalaman berharga. *(nunuk/emyu)

Something is wrong.
Instagram token error.
Load More
Something is wrong.
Instagram token error.
Load More

WhatsApp Image 2018-08-30 at 07.00.44

Kreasi Jemariku

Selasa (28/8) pagi pada jam pelajaran pertama tampak para guru kelas 1 SD Islam Terpadu Nur Hidayah Surakarta mempersiapkan alat dan bahan untuk pembelajaran finger painting. Serasa ada hajatan kecil, para guru kelas 1 saling bahu membahu mempersiapkan di dapur sekolah.

Siti Aminuriyah, S.Ag, S.Pd selaku koordinator muatan pelajaran SBdP (Seni Budaya dan Prakarya) menyampaikan, “Bahan yang dipakai untuk membuat cat aman untuk para siswa, karena berbahan dasar dari bahan-bahan makanan. Tepung kanji, gula, garam, dan pewarna makanan. Semua bahan diolah sesuai dengan resep yang sudah ditentukan.

Setelah beberapa waktu diproses, bahan untuk kegiatan finger painting sudah siap untuk siswa-siswi di 4 rombel kelas 1. Sebelum melakukan kegiatan finger painting guru menjelaskan bahwa finger painting adalah kegiatan melukis dengan jari atau telapak tangan sebagai kuasnya. Siswa diingatkan untuk berani berkreasi dengan indera peraba mereka.

Leli Firli Rohmani, S.Psi., salah satu guru kelas 1 memberi contoh cara mencelupkan jari tangan dan telapak tangan ke dalam cat dan melukis di atas kertas. Para siswa terlihat antusias memperhatikan cara melukis memakai jari jemari. Bahan-bahan yang dipakai serta urutan membuat cat pun disampaikan agar siswa memahami bahwa cat yang ada di depan mereka adalah buatan sendiri dan aman digunakan.

Usai mendatapkan penjelasan dan contoh cara kerjanya, para siswa pun berkreasi dengan senang hati. Seakan mendapatkan permainan baru, mereka berkreasi dengan kreativitas masing-masing. Tak ada rasa takut untuk mencelupkan tangan mereka ke dalam tinta, dan menggoreskan pada sebuah kertas yang telah disiapkan.

Kreasi mereka sangat beragam. “Rasanya lengket, aku mau melukis tank,” ujar Faqih Auliaurrahman (6 th) salah siswa kelas 1C, di tengah-tengah kegembiraannya menggoreskan tinta pakai tangan dan membentuk gambar sebuah tank. Sementara, Waka Humas SD Islam Terpadu Nur Hidayah, Rahmat Hariyadi, S.Pd. menuturkan, “Kegiatan finger painting ini memiliki beberapa manfaat diantaranya adalah melatih motorik halus pada anak, media ekspresi emosi anak, mengembangkan dan mengenalkan estetika tentang keindahan bentuk dan warna, serta mengembangkan imaginasi dan kreativitas anak.”

Selesai berkreasi para siswa menjemur karya mereka agar tidak basah dan mudah saat dipajang di dinding kelas. Kegiatan melukis dengan jari jemari diakhiri dengan mempraktekkan kembali urutan mencuci tangan sebagai sarana merawat anggota tubuh.

WhatsApp Image 2018-08-28 at 10.57.29

Tanamkan Karakter Mandiri dan Tanggungjawab dengan Mabit

Hari ini, Jumat (24/8) siswa-siswi SD Islam Terpadu Nur Hidayah kembali masuk sekolah. Setelah tiga hari sebelumnya mereka libur dalam rangka Hari Raya Idul Adha 1439 Hijriyah. Seperti biasanya, hari ini mereka akan mengikuti serangkaian kegiatan Jumat Taqwa mulai dari sholat dhuha, dzikir matsurat, membaca surat Al-Kahfi, dan mengikuti pembelajaran fullday.

Khusus para siswa kelas 5, hari ini mereka tidak pulang pukul 15.30. Mereka akan pulang esok harinya, Sabtu, 26 Agustus 2018 pukul 06.00 karena akan mengikuti kegiatan Malam Bina Iman dan Taqwa (Mabit). Mabit ini mengambil tema “Tanamkan Karakter Mandiri dan Tanggung jawab untuk Meraih Prestasi Terbaik”.

Acara mabit ini dimulai setelah sholat Ashar Berjamaah . Usai sholat berjama’ah, para siswa diarahkan ke aula lantai 3 untuk anak putri dan aula lantai 1 untuk anak putra untuk menikmati snack dan jus yang sudah disediakan panitia. Usai makan snack, para siswa bersih diri. Tepat pukul 16.30 acara Mabit dibuka dengan membaca Ummul Kitab surah Al-Fatihah dan Sambutan oleh Ketua Panitia Ustadz Mulyadi, S. Ag. Usai sambutan dilanjutkan dengan membaca Al-Quran secara mandiri sampai menjelang adzan Maghrib.

Adzan Maghrib pun tiba. Para siswa sholat berjamaah di masjid lantai 2. Usai sholat, para siswa diarahkan ke aula untuk makan malam dan minum teh hangat. Menu soto ayam yang seger dilengkapi dengan tempe goreng dan krupuk, para siswa makan dengan lahapnya. Usai makan malam, para siswa melakukan persiapan sholat Isya. Sholat Isya pun dilakukan secara berjamaah dengan Ustadz Wahyudi Nugroho, S.Si., S.Pd. sebagai imam sholatnya.

Pukul 19.30 acara materi pun dimulai. Pada acara kali ini, narasumbernya adalah Ustadzah Sutarmi, S.PdI. Dalam materinya beliau menyampaikan, “Semua nabi sudah memiliki sikap tanggung jawab dan mandiri sejak kecil. Beliau mencontohkan bagaimana Rasulullah bersikap mandiri dan tanggungjawab dalam usia yang masih sangat muda. Beliau juga mencontohkan Imam Syafii yang mampu menghafal Al-Quran dalam usia yang masih sangat muda.” Dari dua contoh tokoh di atas, beliau berharap agar para siswa meneladani kemandirian dan tanggungjawab dari tokoh-tokoh tersebut.

Usai menyampaikan materi, beliau menutup acara dengan muhasabah. Tampak para siswa menghayati dengan penuh rasa terhadap apa yang disampaikan oleh beliau. Pukul 21.30 penyampaian materi pun selesai. Para siswa diminta oleh panitia untuk bersih diri dilanjutkan tidur. Pukul 22.30 para siswa tidur lelap di kelas masing-masing ditemani oleh guru.

Pukul 03.00 dinihari mereka dibangunkan oleh Ustadz dan Ustadzah untuk melaksanakan qiyamulail. Sholat qiyamulail ini diimami oleh Ustadz Mulyadi sampai menjelang adzan Subuh. Pukul 04.00 Ustad Wahyudi, Ustadzah Nunuk dan Minuk menyambut wali murid yang datang. Mereka diminta untuk mengisi daftar hadir dan diarahkan naik untuk melaksanakan sholat subuh berjamaah.

Usai sholat subuh, para siswa melaksanakan dzikir matsurat di aula lantai 3 sedangkan para orangtua di aula lantai 1 untuk mendengarkan sambutan dari Ustadz Waskito, S. Pd. dan menyimak tausiyah pagi oleh Ustad Hanif Syaifullah Sukri. Dalam tausiyahnya beliau menyampaikan, “Anak-anak seusia SD masih membutuhkan bimbingan dari orang tua. Oleh karena itu, para orangtua diajak untuk selalu membimbing dan mengarahkan serta mendidik karena sebenarnya tanggungjawab yang utama mendidik adalah orang tua.”

Usai menyimak tausiyah para orangtua dan siswa menikmati sarapan pagi dan teh panas bersama. Usai sarapan, mereka pun pulang ke rumah masing-masing. *(nunuk/emyu)