WhatsApp Image 2018-07-16 at 09.32.28

Berenang Menguatkan Raga, Menyehatkan Jasmani

Mentari pagi walau sudah memancarkan sinarnya, namun suasana pagi ini masih saja menyisakan kedinginan. Jarum pendek jam dinding menunjukkan pukul 07.10 di depan kantor TU (Tata Usaha) milik Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) Nur Hidayah Surakarta. Terlihat siswa-siswi kelas 6 SDIT sedang berkumpul duduk bincang-bincang, bercanda ria dengan teman-temannya. Sesaat kemudian, suara seorang ustadzah diikuti ustadz-ustadzah lainnya memanggil dan mengarahkan para siswa kelas 6 untuk berkumpul di aula gedung timur dan membuat barisan sesuai kelasnya masing-masing.

Ya, pagi ini, Sabtu (14/07/18) siswa-siswi kelas 6 berkumpul di aula gedung timur dalam rangka untuk mengikuti pengarahan dan doa sebelum kegiatan renang. Tampak mereka berbaris rapi sembari mendengarkan instruksi berikutnya dari ustadz-ustadzah pendamping kelas 6.

Kegiatan renang ini merupakan kegiatan rutin sekolah yang diadakan sekali dalam satu semester. Setelah beberapa hari sebelumnya siswa-siswi kelas 6 disibukkan dengan beragam aktivitas mulai dari MOS sampai masa penjajakan beberapa materi mata pelajaran, hari ini mereka melepas kepenatan dengan mengikuti kegiatan renang yang bertempat di Umbul Asri Klaten.

Kegiatan renang ini adalah renang pertama mereka di kelas 6. Dan terlihat mereka sangat gembira. Daari Fawwaz (12) salah seorang siswa kelas 6B mengungkapkan rasa senangnya, “Aku senang bisa seru-seruan lagi sama teman-teman. Saatnya melepas lelah. Pokoknya senanglah,” tegasnya.

Kegiatan renang ini diikuti oleh seluruh ustadz/zah paralel kelas 6. Ustadzah Yuyun Yuningsih, S.Pd selaku koordinator paralel kelas 6 berharap semoga dengan kegiatan renang ini dapat membuat fisik para siswa tambah kuat dan tangguh. “Mudah-mudahan dengan adanya kegiatan renang ini dapat membuat raga anak2 kita bertambah sehat, kuat dan tangguh, selain itu renang juga salah satu olahraga kesukaan nabi SAW,” imbuhnya.

Sebelum memulai renangnya, siswa-siswi terlebih dahulu melakukan pemanasan. Ustadz Sunarto, S.Pd selaku pemandu menyampaikan tujuan dari adanya pemanasan adalah agar tubuh kita siap ketika melakukan aktivitas olahraga. Kegiatan renang hari ini berakhir pada pukul 11.00 dan bus yang membawa siswa-siswi kelas 6 SDIT Nur Hidayah pun kembali membawa mereka pulang ke sekolah. Dan kegiatan hari ini ditutup dengan shalat dhuhur berjamaah di masjid gedung timur. *(ihsan/emyu)

WhatsApp Image 2018-07-14 at 09.56.17

Setelah Jalan Sehat Lanjut Bikin Mading Kelas

Hari ini (13/07), Jumat Barokah. Siswa-siswi kelas 5 berbondong-bondong naik ke aula lantai 3 gedung timur dengan gembira dan ceria. Tanpa dikomando Ustadz/Ustadzah mereka sudah menata diri dan membentuk shaff yang rapi untuk sholat dhuha dan matsurat. Aktivitas pagi ini sudah menjadi kebiasaan dan budaya bagi siswa kelas 5 khususunya dan siswa Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) Nur Hidayah Surakarta pada umumnya.

Tampak terdengar suara alunan dzikir Matsurat yang menggema dari aula gedung timur lantai 3. Ustadz Zumroni dengan irama dan nada litaqwa menambah kekhusyukan dzikir pagi ini. Usai obat hati kita lantunkan, para siswa dan siswi beserta Ustadz/Ustadzah bergegas ke halaman gedung timur. Di sana, para siswa berbaris dengan formasi berbanjar untuk menyegarkan dan menyehatkan fisik dengan jalan sehat. Tampak keceriaan mengiringi setiap langkah mereka. Tak terasa, jalan sehat pun berakhir.

Para siswa melepas lelah dengan istirahat di kantin sekolah dan di depan kelas masing-masing. Tepat pukul 09.00, para siswa memasuki kelas masing-masing. Ustadz dan Ustadzah menjelaskan tentang teknis pembuatan mading. Para siswa pun menyimak dengan baik. Setelah penjelasan usai, mereka dengan kompak, semangat, dan tanggung jawab membuat mading bersama-sama.

Koordinator pararel kelas 5 Nunuk Purnawati menuturkan bahwa, “Hari Jumat barokah ini sengaja kita isi dengan kegiatan menyeimbangkan antara hati, fisik, dan akal. Dengan sholat dhuha dan dzikir matsurat menguatkan keimanan, dengan jalan sehat menyehatkan badan dan raga, dengan pembuatan mading mencerdaskan, mengembangkan kreativitas, serta melatih kerjasama dan kekompakan para siswa.” *(nunuk/emyu)

WhatsApp Image 2018-07-14 at 09.56.20

Dorong Kemandirian Siswa Menyampuli Bukunya Sendiri

Jarum pendek jam di dinding telah menunjuk angka sepuluh. Bel tanda istirahat telah berakhir. Siswa-siswi kelas tiga yang tadinya asyik bermain serentak memasuki kelas. Euforia kelas dan jenjang baru masih menyelimuti siswa-siswi kelas 3. Hal-hal berbeda pun tentu sangat mereka nantikan. Jika di kelas dua anak-anak masih pulang jam 14.00 wib, kini mereka akan pulang jam 15.30 wib. Jadwal baru ini akan menuntut kemandirian dari setiap pribadi siswa.

Sebagai pijakan memulai kemandirian di kelas 3, para guru mengajak siswa-siswi untuk mencatat jadwal pelajarannya sendiri. Jadwal ini nantinya akan digunakan selama satu tahun pelajaran. Dengan mencatat sendiri, diharapkan para siswa akan lebih mudah untuk menjadwal. “Aku senang mencatat jadwalku sendiri. Pas aku lihat kok ternyata tidak ada IPA ya di kelas tiga ini. Adanya tematik,” ungkap Syauqi Hafidzul Fahama (8).

Selain mencatat jadwal, para siswa kelas 3 juga diajak untuk menyampuli buku tulis mereka sendiri. Kegiatan menyampul ini akan mengurai salah satu kemandirian siswa. Selama ini siswa-siswi menyampul dan memberi nama buku masih dibantu orang tua di rumah. Sekarang mereka mulai mencoba untuk melakukanya sendiri. Pengalaman menulis dengan bolpoin juga menjadi penyemangat tersendiri saat mengisi identitas buku.

Ayunda Maghfira (8) mengungkapkan rasa senangnya dalam menyampul buku. “Biasanya dibantu ibu di rumah. Pas nulis nama juga. Tapi sekarang aku bisa menyampul sendiri. Sayangnya sampul plastiknya kekecilan,” tuturnya. Kegiatan mencatat jadwal dan menyampul buku tentu menjadi hal ringan bagi orang dewasa. Tetapi tidak dengan anak-anak kita.

Kegiatan sederhana ini akan membuktikan bahwa masih banyak hal meskipun kecil sangat berguna bagi perkembangan karakter. “Kemandirian memang sangat diperlukan oleh anak-anak sebagai bekal belajar di kelas yang lebih tinggi. Karena itu kami berupaya memunculkan sekaligus mendorong agar tumbuh sejak dini,” ungkap Pipit Anugraheni, S.Pd mewakili paralel kelas 3. *(indah/emyu)

WhatsApp Image 2018-07-16 at 09.30.51

Aku Siap Belajar di Kelas 1

Siapa yang bawa pensil,
ayo diangkat
Siapa yang bawa penghapus
penghapus ayo diangkat

Siapa yang bawa pensil dan penghapus bilang siap

“Siap”, jawab anak-anak dengan penuh semangat. Semangat motivasi memakai lagu Siapa yang suka hati menyemangati siswa-siswi kelas 1. Kamis (12/11) mereka mulai belajar menulis permulaan. “Ustadzah, kapan mulai menulisnya?” ucap Faiz Rahman (Kelas 1C) tampak antusias.

Hari keempat masuk sekolah, siswa-siswi kelas 1 mulai belajar menulis permulaan. Ketrampilan menulis permulaan sebagai dasar pertama kali yang diajarkan guru kepada siswa-siswi kelas 1 sebagai bagian dari keterampilan membaca dan menulis permulaan. Hal ini biasa disebut dengan ketrampilan Membaca Menulis Permulaan (MMP).

Langkah-langkah Menulis Permulaan, pertama adalah memegang pensil dengan benar, sikap duduk yang benar kemudian dilanjutkan dengan menulis di udara (awang-awang) . Praktik menulis di udara ini bermanfaat untuk melemaskan tangan agar tidak kaku.

Kedua adalah menulis garis dari atas ke bawah secara berulang ulang. Ketiga adalah menulis garis miring dari kiri atas kanan bawah dan sebaliknya. Keempat menulis garis lurus dari kiri ke kanan dan sebaliknya. Kelima menulis garis lengkung ke dalam dan keluar, serta dua garis lengkung yang dipertemukan. Keenam menulis lingkaran.

Dalam kesempatan lain, Ustadzah Leli Firli Rohmani, S.Psi (Wali Kelas 1C) menyampaikan bahwa siswa-siswi kelas 1 masih membutuhkan latihan serta pendampingan agar mereka semakin siap belajar di jenjang Sekolah Dasar.

“Pendampingan menulis permulaan sangat dibutuhkan para siswa kelas 1, mulai dari sikap duduk, cara memegang pensil, menulis pola, hingga menulis huruf dan angka dengan benar,” lanjut beliau.

Mereka tampak sungguh-sungguh dalam belajar. Menghitung kotak demi kotak, menuliskan angka, menggoreskan pola, dan menitikkan ujung pensil sebagai jeda. Perlahan, satu demi satu kotak-kotak itu terisi, dari pola tak terbaca sampai goresan angka penuh arti.

“Hari ini para siswa menulis pola, huruf dan angka-angka yang sederhana. Di masa yang akan datang mereka akan menuliskan sejarah kehidupan dan kebangkitan Islam dengan tinta emas berlandaskan keimanan yang kuat. Insya Allah,” ungkap Ustadzah Sutarmi, S.Pd selaku salah satu pengampu PAI SDIT Nur Hidayah Surakarta. *(leli/emyu)

WhatsApp Image 2018-07-14 at 12.01.23

Mengasah Kreativitas Siswa dengan Origami

Warna-warni kertas lipat berjajar di meja para siswa pagi ini, Kamis (12/7/2018). Kegiatan ini terlihat sangat menyenangkan, berbanding lurus dengan senyum ceria anak-anak usia 8-9 tahun tersebut. Jari-jari mulai melipat dan menggulung satu per satu kertas itu. Setelah selesai, lem dibubuhkan sebagai perekat.

Begitulah kegiatan siswa-siswi kelas 3 Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) Nur Hidayah, Surakarta. Melipat, menggulung, menggaris, menggunting, serta mengelem merupakan kegiatan yang sangat bermanfaat bagi tumbuh kembang kreativitas anak. Sebab jenis keterampilan ini mengasah motorik halus anak.

Keterampilan yang juga masuk dalam pelajaran SBdP ini juga mengajarkan para siswa untuk sabar dan tidak putus asa. Karena tak jarang lipatan yang dihasilkan tak sama besar atau justru sobek sehingga harus mengulang dari awal. Saat kipas-kipas yang telah selesai dilipat kemudian dirangkai memanjang, terpancarlah rasa puas dan gembira di wajah mereka.

“Ternyata saya bisa. Senang sekali, meskipun tadi agak sulit saat melipatnya kecil-kecil,” ungkap Muhammad Dzaki Arkan Maulana (8). “Kalau aku malah gampang banget. Aku bisa bikin 6 kipas yang dua aku kasih teman. Padahal awalnya sulit banget,” papar Azzahra Rizkia Andika (8) dengan wajahnya yang berbinar.

Di antara kesibukannya mendampingi anak-anak, Ustadzah Pipit Anugraheni, S.Pd, menjelaskan kegiatan ini untuk melatih ketrampilan dan kesabaran para siswa. “Selain itu nantinya kami akan menggunakan hasil karya anak-anak ini untuk display kelas masing-masing. Jadi mereka akan merasa memiliki dan menjaganya dengan baik.” *(indah/emyu)

WhatsApp Image 2018-07-16 at 09.33.43

Jelajah Sekolah, Siswa kelas 1 SDIT Nur Hidayah Surakarta Mulai Mengenal Lingkungan Sekolah

Naik kereta api, tuut tuut tuut… siapa hendak turut… Ke timur… lalu ke barat… bolehlah naik dengan percuma, ayo kawanku lekas naik, keretaku tak berhenti lama

Suasana pagi yang cerah, dengan semangat siswa-siswa kelas 1 Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) Nur Hidayah Surakarta, Rabu (11/7), masih begitu lekat dalam ingatan. Setelah berbaris di depan kelas masing-masing, lalu berdoa dan tahfidz pagi, siswa-siswi memperhatikan pengarahan dari ustadz/ah terkait agenda hari itu.

“Teman-teman, hari ini kita akan jalan-jalan,” kalimat ini disambut penuh kegembiraan dari para siswa. “Kita akan berkeliling sekolah, agar lebih mengenal lagi tempat-tempat yang ada di sekolah kita tercinta ini. Jangan lupa untuk selalu tertib dan menjaga 3S (senyum, salam, sapa) kepada orang-orang yang akan kalian temui. Siap?,” lanjut Ustadzah Siti Aminuriyah wali kelas 1B pagi itu.

Kereta pun mulai menyusun gerbong-gerbongnya. Menjadi barisan kecil yang memperbesar semangat. Semangat untuk belajar, semangat untuk menemukan hal-hal baru di atas rel-rel yang akan mengantarkan mereka menuju masa depan gemilang.

Anak-anak mulai keluar kelasnya masing-masing, mengambil sepatu menuju lantai bawah. Setelah lengkap mengenakan sepatu, kelas 1A dan 1B berbaris rapi di halaman. Sementara kelas 1C dan 1D telah memulai perjalanan mereka berkeliling di gedung barat. Selama perjalanan, anak-anak mulai mengenal nama-nama tempat di sekolah, seperti aula, ruang UKS, perpustakaan, laboratorium, ruang komputer, ruang-ruang kelas, dapur, kantin, koperasi, dan lain-lain.

Sekitar pukul 09.00, anak-anak mulai belajar menggunakan voucher untuk jajan di kantin. Mengantri, memilih, bertanya harga lalu membayar menjadi hal baru bagi mereka. Di kantin, anak-anak ditekankan untuk selalu duduk saat makan atau minum dan saling mengingatkan jika ada teman yang lupa adab makan. Cuci tangan sebelum, dan membuang sampah setelahnya.

Di perpustakaan, siswa-siswi dikenalkan dengan buku-buku dan bebas mengambil buku yang menarik untuk mereka untuk di baca. Para siswa begitu menikmati membaca di perpustakaan. “Ustadzah, aku besok mau jadi ahli matematika,” ucap Mahira, siswa kelas 1B dengan buku science Matematika di tangannya.

Setelah dirasa cukup, mereka kembali ke kelas masing-masing untuk beristirahat sejenak. Acara semakin asyik dengan agenda berbagi snack yang telah dibawa masing-masing siswa. Saling berbagi dan makan bersama, senyum dan tawa setelahnya. Kini, kereta itu tiba di stasiun persinggahannya. Di atas rel-rel panjang, dan bersiap melanjutkan perjalanan sesuai jadwal esok harinya. *(lasti/emyu)

826b178f-e591-4395-ad8c-8b4dca74005c

Senam dan Jalan Sehat Kelas 2

Pagi masih belum benar-benar menghangat, namun 131 siswa kelas 2 Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) Nur Hidayah Surakarta telah berbaris rapi di halaman sekolah. Para gurupun ikut membersamai mereka. Dengan berseragam olahraga warna hijau kuning yang cerah, Rabu (11/7) para siswa dan guru kelas 2 bersiap mengikuti senam ceria yang dipimpin ustadz Sunarto, S. Pd selaku guru olah raga.

Kegiatan dimulai dengan pemanasan yang dimaksudkan untuk melemaskan otot-otot. Selanjutnya dengan iringan musik yang rancak, para pesertapun terpacu mengikuti senam dengan penuh semangat.
Kegiatan selanjutnya adalah jalan sehat dengan rute keliling lingkungan sekitar sekolah. Para siswa berjalan dua orang-dua orang dan didampingi oleh para guru kelas 2.

“Hari ini kami melakukan 2 jenis senam yakni senam pramuka siaga dan senam penguin. Dipilihnya senam pramuka siaga dimaksudkan agar para siswa lebih akrab. Karena senam ini adalah salah satu senam yang dilombakan pada waktu lomba pesta siaga. Adapun senam penguin dilaksanakan untuk menambah keceriaan para siswa selain bertambah gerakan olahtubuhnya. Selesai senam kami mengajak anak-anak untuk jalan-jalan disekitar lingkungan sekolah. Harapannya mereka semakin mengenal lingkungan sekitar sekaligus membuat badan semakin bugar. Alhamdulillah semua antusias mengikuti”, tutur ustadz Sunarto, S. Pd.

Adapun Harumi Nawa Sita (7th) salah satu siswa kelas 2B mengungkapkan, “Kata ustadz senam itu menyehatkan dan menyenangkan. Aku selalu suka saat pelajaran olahraga apalagi jika ada senamnya.” Sedangkan Rizky Galih Saputra (7th) siswa kelas 2A mengatakan, “Jalan sehatnya tadi keliling lingkungan sekitar sekolah. Asyik juga. Badan sehat dan juga bisa lihat-lihat sekitar”.

Ustadzah Eni Hestuti, S.s, S. Pd selaku koordinator kelas 2 menuturkan, ” Salah satu muwassofat yang dibina dalam lingkungan Jaringan Sekolah islam Terpadu (JSIT) adalah Qowwiyum Jism atau raga yang terawat kuat sehat. Oleh karenanya senam adalah sajian yang kami pilihkan pada acara Masa Orientasi Siswa (MOS) kelas 2 kali ini.” *(yan/emyu)

WhatsApp Image 2018-07-14 at 09.51.58 (1)

Menghafal Al Qur’an yang Menyenangkan

Sejumlah 132 siswa berkumpul di lapangan sekolah membuat formasi lingkaran berterusan seperti obat nyamuk. Bukan untuk permainan. Namun, Kamis (11/ 7) para siswa-siswi kelas 2 Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) Nur Hidayah Surakarta tengah melakukan majelis pagi yang berbeda. Kalo biasanya majelis pagi yang terdiri dari do’a pagi dan hafalan Al Qur’an dilaksanakan di dalam kelas, maka pagi ini diselenggarakan di lapangan sekolah.

Udara pagi yang segar seakan turut menghadiahkan kesyahduan bagi para pelajar kecil ini.
Acara dimulai dengan do’a pagi dan dilanjutkan murojaah atau mengulang hafalan Al Qur’an yang sudah mereka punya. Surat Al Insyiqoq, Al Ghosyiah dan Al Bayyinah adalah pilihan surat yang dilantunkan pagi itu.
Selasai murojaah dengan duduk melingkar, para siswa diajak menikmati sajian lain. Yakni menghafal Al Qur’an dengan cara hafalan berantai.

Para siswa tampak antusias. Mereka berbaris rapi sesuai kelas masing-masing. Ketua barisan maju menuju ke ustadz yang membisikan satu ayat yang harus disampaikan berantai. Teman berikutnya melanjutkan ayat dari teman sebelumnya dan begitu seterusnya. Jika jatah ayat dalam surat tersebut habis maka peserta harus bisa melanjutkan ke surat berikut.

Rizky Fadlurrahman (7th) siswa kelas 2D menceritakan kesannya, “Tak terasa kalau menghafalkan. Tahunya ya permainan. Harus bisa melanjutkan ayat yang disampaikan oleh teman depanku. Aku berusaha agar tidak salah. Kalau salah bisa-bisa membuat kelas kalah. Menghafalkan jadi menantang dan seru.”

Adapun Ustadz Baharuddin Yusuf, S. Pd., salah satu guru Al Qur’an SDIT Nur Hidayah menyampaikan, “Mencintai Al Qur’an harus ditanamkan sejak kecil. Mumpung hati mereka masih bersih maka Al Qur’an akan lebih mudah lekatnya. Kami berimprovisasi dalam penyampaiannya agar terjaga kegembiraan anak-anak dalam belajar dan menjaga hafalan Al Qur’an mereka. Kali ini kami berinovasi dengan hafalan berantai. Alhamdulillah anak-anak terlihat menikmati dan akhir pesan ayat banyak yang benar.” *(yan/emyu)

WhatsApp Image 2018-07-14 at 12.01.20

LEBIH SEMANGAT DI KELAS 4

“Aku membaca kisahnya Nabi Idris, beliau merupakan nabi yang diutus Allah setelah nabi Adam. Nabi Idris diberi mukzizat oleh Allah berupa kemampuan menunggang hewan, bisa membaca dan menulis, ” dengan lancar Umniyyati Wafidatuz Zahidah (9), salah satu siswi kelas 4D Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) Nur Hidayah Surakarta menceritakan kisah yang baru saja dia baca dalam kegiatan literasi di kelasnya.

Ya hari ini, Selasa (10/7/2018) sebanyak 139 siswa kelas 4 masih menjalani masa orientasi. Kegiatan literasi menjadi salah satu agenda yang dilakukan pada kegiatan di hari ke-2 Masa Orientasi Siswa (MOS) .

Kegiatan MOS hari ke-2 ini diawali dengan doa pagi dan murojaah bersama guru Al qur’an setiap kelas. Sekitar pukul 08.00 tepat, siswa-siswi kelas 4 melakukan kegiatan literasi. Literasi sangat bermanfaat bagi siswa untuk membuka wawasan siswa. Selesai membaca, salah satu siswa maju ke depan kelas untuk presentasi. Selain Zahidah, salah satu siswi yang presentasi adalah Yasmin dari kelas 4C. Yasmin dapat menceritakan kembali buku yang ia baca dengan menggunakan kata kata sendiri. Ustadzah memberi respon positif terhadap keberanian Yasmin yang presentasi.

Ustadzah Endah Sri Handayani, wali kelas 4C menyampaikan, “Salah satu manfaat literasi adalah untuk melatih percaya diri siswa di depan kelas. Tiga puluh menit kemudian, siswa diajak mengingat kembali tentang Aksara Jawa. Siswa menyalin aksara Jawa di kertas yang sudah disediakan oleh guru.” Sementara Ustadzah Ningrum Hasanah selaku pengampu pelajaran bahasa Jawa menjelaskan, “Selain untuk mengingatkan kembali pada Aksara Jawa, kegiatan ini juga bertujuan untuk membiasakan anak membaca dan menulis aksara jawa karena di kelas 4 nanti mereka akan belajar membaca dan menulis kalimat dengan aksara jawa. Apalagi sekolah kita berada di wilayah Jawa Tengah, dimana pelajaran bahasa jawa merupakan muatan lokal yang wajib diajarkan di sekolah-sekolah.”

ha na ca ra ka
da ta sa wa la
pa da ja ya nya
ma ga ba tha nga

Selesai menyalin Aksara Jawa, siswa beristirahat untuk melepaskan letih dan lelah. Pukul 10.00 tepat, semua siswa kelas 4 menuju ke aula. Di aula mereka diperlihatkan beberapa film yang mengajarkan karakter baik. Film edukasi ini berdurasi pendek sehingga siswa tidak merasa bosan. Film yang ditonton siswa antara lain tentang “Keajaiban Bersedekah”.

Acara menonton film sudah selesai. Semua siswa kelas 4 kembali ke kelas masing-masing untuk cuci tangan dan makan siang. Kegiatan hari kedua ditutup dengan sholat Dzuhur yang diimami oleh Ustadz Luqman Hakim. *(mimin-wulan/emyu)

WhatsApp Image 2018-07-10 at 13.46.59

Semangat Kepahlawanan di Awal Tahun Pembelajaran

Lantunan ayat-ayat Al qur’an terdengar syahdu dari halaman gedung barat Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) Nur Hidayah Surakarta. Sejumlah 131 siswa-siswi kelas 2 SDIT Nur Hidayah serempak muroja’ah surat Al-Insyiqoq dipandu oleh seorang guru. Sementara guru lainnya juga ikut mendapingi para siswa. Lantunan tersebut mengawali kegiatan Masa Orientasi Siswa (MOS) yang bertema ‘Mari Bersama Menjadi Pahlawan Bangsa dengan Giat Belajar dan Menjaga Ibadah Kita’, (10/7)

Suasana semakin menghangat ketika salah satu guru kelas 2, Sunarto, S. Pd mengajak para siswa untuk mengikuti berbagai permainan dan yel-yel. Apalagi saat mereka diajak menyanyikan lagu religi deen assalam besutan Nisa Sabyan, para siswa sontak serempak ikut mendendangkan.

Pementasan drama  oleh guru-guru kelas 2 makin menarik perhatian para siswa. Drama menceritakan tentang perjuangan para pahlawan dalam mengusir penjajah dan menjaga Indonesia. Pada akhir pementasan, salah seorang guru kelas 2, Reni Agustin Priyatiningrum, S. Pd selaku narator drama memberikan penguatan kepada para siswa, ” Sebagai anak Indonesia hendaknya kita meneladani para pahlawan bangsa yang bersungguh-sungguh menjaga Indonesia dengan cara semangat belajar dan menjaga ibadah kepada Allah.”

Rafandika Abrisam Alvaro (7th) salah satu murid kelas 2C menyampaikan kesannya terhadap hari pertamanya di sekolah, “Dramanya asyik, jadi tahu cerita tentang perjuangan para pahlawan. Semakin semangat belajar.”

Adapun ustadzah Eni Hestuti, S.S., S. Pd selaku Koordinator kelas 2 menuturkan, “Mengingati kondisi bangsa kini, kami berinisiatif menggugah semangat belajar para siswa dengan mengenalkan perjuangan para syuhada dan pendiri bangsa ini. Para pahlawan membebaskan negara ini dengan penuh semangat dan pantang menyerah. Sehingga Indonesia ini jadi negeri yang baldatun thoyyibatun warabbun gofur. Anak-anak harus bisa meneladani jiwa dan semangat para pahlawan.”