Peduli Lingkungan di Hari Pramuka

Rabu pagi, (14/08) cuaca cerah. Cemelorot sinar mentari menyelinap di sela-sela dedaunan. Seakan menyapa para siswa-siswi kelas IV dan VI SD Islam Terpadu (SDIT) Nur Hidayah Surakarta yang pagi ini berseragam pramuka lengkap dengan sepatu dan kaos kaki hitamnya, serta hasduk dan topinya. Mereka tampak gagah dan anggun berbaris rapi di halaman sekolah.

Ya, pagi ini mereka akan mengikuti Upacara Bendera Hari Ulang Tahun (HUT) Pramuka yang ke-58. Tema nasional Hari Pramuka ke 58 adalah Gerakan Pramuka Bersama Seluruh Komponen Bangsa Siap Sedia Membangun Keutuhan NKRI. Setelah seluruh pasukan siap dan Pembina Upacara sekaligus Kamabigus memasuki lapangan upacara, dilanjutkan pengibaran benderà merah.

Siswa SDIT Nur Hidayah mengikuti upacara memperingati Hari Pramuka

Ada 12 siswa pasukan pengibar bendera yang dengàn gerakan baris berbarik rancak membawa bendera menuju dekat tiang bendera. Pengibaran bendera merah putih diiringi lagu kebangsaan Indonesia Raya serta seluruh peserta upaca memberi hormat, menjadikan suasana khitmat. Dilanjutkan pembacaan Teks Pancasila oleh Pembina Upacara, serta Undang-Undang Dasar (UUD) 1945 dan Dasa Dharma Pramukan oleh petugas upacara.

Dalam amanat upacaranya, Kepala SDIT Nur Hidayah Surakarta sekaligus Kamabigus, Waskito, S.Pd menyampaikan, “Setiap kita adalah pandu, setiap kita adalah praja muda karana (pramuka). Ada nilai-nilai luhur dalam gerakan pramuka yang itu sangat selaras dengan nilai-nilai dalam Islam. Rajin, bertaqwa, terampil, mandiri tanggung jawab, peduli, cinta tanah air, dapat dipercaya, dan lainnya. Selamat Hari Pramuka ke-58. Siap sedia membangun keutuhan NKRI.” beliau juga membacakan beberapa point penting yang terdapat dalam teks sambutan peringatan Hari Pramuka ke-58 dari Ka Kwarnas Gerakan Pramuka, Ir. Budi Waseso.

Ustadz Waskito, S. Pd selaku Kepala SDIT Nur Hidayah sekaligus Kamabigus menyampaikan amanat dalam upacara memperingati Hari Pramuka

Usai upacara, mereka rehat sejenak sambil menikmati tampilan dari Tim Pramuka SDIT Nur Hidayah Surakarta. Ada lagu Pramuka SIT, gerak lagu Hai Yamko Rambe, dan gerak semaphore.

Tampilan Tari Semaphore oleh Siswa SDIT Nur Hidayah setelah upacara memperingati Hari Pramuka
Tampilan Gerak Lagu Hai Yamko Rambe Yamko oleh siswa SDIT Nur Hidayah ikut menyemarakkan pasca upacara memperingati Hari Pramuka

Setelah rehat, para siswa kelas IV dan VI menuju ke jalan Pisang untuk melakukan Gerakan Peduli Lingkungan dengan memungut /menyapu sampah. Ada yang membawa sapu lidi, ikrak, maupun plastik besar untuk tempat sampah sementara.

Ustadz Sunarto, salah satu guru SDIT Nur Hidayah sekaligus kakak pembina memberi teladan mencintai lingkungan
Para siswa SDIT Nur Hidayah penuh semangat melakukan aksi cinta lingkungan di Hari Pramuka

Mereka tampak bahagia menerapkan satu nilai dari Pramuka dengan peduli lingkungan. *(Hary/emyu)

Bhakti Sosial Milad Ke-20 SDIT Nur Hidayah

Siang ini, (Selasa, 13/03) warga RW XI dan XIII Kelurahan Kerten tampak berbondong-bondong hadir ke SD Islam Terpadu (SDIT) Nur Hidayah Surakarta. Mereka tampak bahagia dengan senyum mengembang tatkala memasuki gerbang sekolah. Apalagi tatkala beberapa panitia menyambutkan dengan penuh keramahan. Sambil berjabat tangan terlihat mereka saling beruluk salam dan bersapa.

Mereka pun dipersilakan menuju ke aula sekolah setelah merapikan alas kaki di loker yang telah disediakan. Tidak berapa lama ruang aula sudah terlihat penuh sesak. Warga di lingkungan RT 01, 02, 03, 04 RW XI dan RT 01, 02, 03 RW XII Kelurahan Kerten terlihat antusias untuk bersilaturrahim dengan sesama warga maupun dengan pihak sekolah yang bervisi Menjadi Sekolah Bermutu, Berkarakter, dan Berbudaya Lingkungan ini. Ya, warga yang didominasi kaum hawa ini akan mengikuti kegiatan Pengajian Umum dan Bhakti Sosial MILAD XX SDIT Nur Hidayah Surakarta.

Kepala SDIT Nur Hidayah Surakarta, Waskito, S.Pd dalam sambutannya menuturkan, “Kami sangat berbahagia atas kehadiran bapak/ibu warga, ibu lurah, pengurus RT dan RW, serta pengurus Yayasan Nur Hidayah. Kita sangat bersyukur atas karunia usia 20 tahun SDIT Nur Hidayah Surakarta kami ikut berupaya mewarnai kebaikan dalam bidang pendidikan. Semoga beberapa prestasi sekolah ini baik di tingkat nasional, provinsi, maupun kota ikut mengharumkan nama baik Kelurahan Kerten maupun Kota Surakarta. Tentu prestasi itu berkat doa dan dukungan dari semua pihak.”

Sementara itu, Lurah Kerten, Ibu Farida, SE, dalam sambutannya menyampaikan, “Keberadaan sekolah ini dirasakan manfaatnya oleh masyarakat sekitar. Tidak hanya momen Milad, tetapi saat pembagian zakat fitri maupun daging kurban selalu menghadirkan warga. Kami pun pihak kelurahan juga sering diundang di acara-acara sekolah lainnya. SDIT Nur Hidayah juga aktif di kegiatan kelurahan, seperti Grebeg Solo Kerti, Lomba Cerdas Cermat, dan lainnya. Tentu ini sinergi yang dipertahankan dan ditingkatkan terus. Selamat Milad Ke-20 SDIT Nur Hidayah.”

Ibu Farida, SE, Lurah Kerten memberikan sambutan saat acara Pengajian Umum dan Bakti Sosial dalam Rangka Milad ke-20 SDIT Nur Hidayah

Pengajian Umum pada kesempatan milad ini disampaikan oleh Ustadz Saifuddin Zuhri. Dalam uraian hikmahnya beliau menyampaikan, “Kita harus berbahagia, harus bersyukur memiliki tetangga yang baik. Tetangga yang baik akan memberikan kebaikan kepada sekitarnya, demikian pula sebaliknya. Oleh karenanya, jika tetangga kita mendapatkan karunia nikmat berupa prestasi dan lainnya, maka kita harus SMS, Senang Melihat Senang. Bukan senang melihat tetangga susah. Itu tandanya ada penyakit hati pada dirinya. Semoga kita semua dihindahkan dari sifat iri dengki.”

Ustadz Saifuddin Zuhri memberi tausyah saat Pengajian Umum dan Bakti Sosial dalam Rangka Milad ke-20 SDIT Nur Hidayah

Usai doa dan menikmati hidangan bersama, warga mengambil bingkisan yang telah disediakan panitia, lalu pulang ke rumah masing-masing. *(Darus/emyu)

Kreasi Tempat Pensil Bertemakan Hewan Kurban di Pembelajaran Tematik Kelas 2

Selasa (13/08) siswa-siswi kelas 2 SD Islam Terpadu Nur Hidayah Surakarta melakukan kegiatan yang berbeda dengan biasanya. Hari ini yang bertepatan dengan hari tasyrik di bulan Dzulhijjah 1440 Hijriyah pasca Hari Raya Idul Adha 10 Dzulhijah lalu. Saat jam pelajaran literasi siswa diajak untuk menuliskan cerita pengalaman tentang kegiatan jelang dan saat Hari Raya Idul Adha.

Setiap hari efektif Kegiatan Belajar Mengajar (KBM), pukul 07.35-07.50 WIB di sekolah bervisi Menjadi Sekolah Bermutu, Berkarakter, dan Berbudaya Lingkungan ini menjadwalkan jam literasi bagi para siswa. Bagi siswa kelas dua semester satu ini jam literasi digunakan untuk semakin melancarkan baca, tulis, dan hitung. Siswa diajak untuk menuliskan pengalamannya saat libur merayakan Idul Adha bersama keluarga.

“Aku datang awal di tempat saat sholat Idul Adha. Selesai sholat Ied, Aku menyaksikan penyembelihan hewan kurban. Kasihan sekali melihat hewan kurban disembelih satu per satu. Tapi itulah tanda ketaatan kepada Allah. Keluargaku juga masak sate dan gule.”, ucap Askana Sakhi (8) salah satu siswa 2C dengan senyum bahagia.

Mulai masuk pembelajaran tematik pada jam ketiga, para siswa berkreasi membuat tempat pensil dari botol air mineral bekas. Kreasi tempat pensil ini perpaduan antara kompetensi dasar membuat karya imaginatif dua dan tiga dimensi dengan kompetensi membuat hiasan dari bahan alam dan buatan. Adapun alat dan bahannya adalah botol air mineral 1,5 lt bekas, biji kacang tholo ,lem, gunting,isolasi bolak-balik, dan crayon/spidol/pensil warna.

Siswa Kelas 2 SDIT Nur Hidayah, penuh kesabaran membuat kreasi tempat pensil dari botol bekas

“Kreasi kali ini adalah tempat pensil sapi sebagai gambaran hewan kurban. Dipilih bentuk sapi karena dilaksanakan di bulan Dzulhijah dan menjadi penyemangat anak anak belajar tentang kisah kisah yang berkaitan dengan Idul Adha,” tutur Leli Firli Rohmani, S.Psi, guru tematik kelas 2C, saat menyampaikan pembelajaran tematik.

Siswa kelas 2 SDIT Nur Hidayah menghias kreasi tempat pensil dengan benda alam biji-bijian
Hasil kreasi tempat pensil hewan kurban dari botol bekas oleh siswa kelas 2 SDIT Nur Hidayah

“Dengan berbagai pengalaman yang didapatkan para siswa dalam pembelajaran tematik diharapkan dapat memaksimalkan ketercapaian kompetensi siswa. Ada siswa yang dominan visual akan terfasilitasi dengan membaca dan mewarnai, ada siswa yang dominan auditori akan terfasilitasi dengan cerita/dibacakan kisah, dan siswa yang dominan kinestetik pun tersalurkan potensinya dengan praktik/simulasi dan berkreasi,” tutur Muslikah,S.Pd selaku Wakil Kepala Sekolah Bagian Kurikulum SDIT Nur Hidayah Surakarta.
(Leli/emyu)

Berqurban, Sarana PPK di SDIT Nur Hidayah Surakarta

Dzulhijjah 1440 H, mungkin sama halnya dengan Dzulhijjah pada tahun-tahun sebelumnya. Akan tetapi, ada pengalaman istimewa di sini. Momen berqurban sangat tepat untuk menjadi salah satu sarana PPK (Penguatan Pendidikan Karakter). SDIT Nur Hidayah tak mau kehilangan momen berharga ini. Berbagai kegiatan diadakan sebagai sarana PPK dalam momen Dzulhijjah kali ini.

Diantaranya, mengulas keteladanan Nabi Ibrahim, Nabi Ismail, dan Ibunda Hajar. Kegiatan literasi pagi pekan ini difokuskan untuk mengulas sirah luar biasa ini. Di sela-sela kegiatan KBM pun disisipkan hikmah keikhlasan dan kepatuhan atas perintah Allah sebagai makna dari berqurban. Tak hanya itu, aksi lebih nyata pun dilakukan. Himbauan untuk menyalurkan hewan qurban melalui sekolah dan atau berinfak bagi yang belum berqurban (atau sudah berqurban di tempat lain) adalah sarana untuk melatih jiwa berqurban.

Adalah Mufid, siswa kelas 5B SDIT Nur Hidayah sangat bersemangat untuk bisa berqurban dengan tabungannya sendiri. Tabungan itu ia kumpulkan dari kelas 3 saat ia memiliki cita-cita nanti pas SMP mau beli motor listrik untuk sekolah. Uang jajannya jarang sekali ia pakai untuk jajan. Diberi voucher untuk jajan malah dijual ke teman-temannya, lalu ditabung. (Aturan di sekolah jajan pakai voucher, tidak diperbolehkan pakai uang). Uang fitrah dari pakdhe budhe semuanya ditabung. Bahkan waktu kelas 4 kemarin minta dibawakan pizza ke sekolah untuk dijual kepada teman-temannya agar lebih cepat tercapai target tabungannya.

Mas Mufid Kelas 5B SDIT Nur Hidayah bersemangat berqurban sapi dengan uang tabungannya

Mas Mufid Kelas 5B SDIT Nur Hidayah bersemangat berqurban sapi dengan uang tabungannya

Alhamdulillah, saat ini tabungannya sudah cukup untuk ikut berqurban. Dia minta ikut kelompok sapi. Semoga Mas Mufid istiqomah beramal sholih,” demikian dituturkan oleh Bunda Rini, Ibunda Mas Mufid.

Kebaikan ini ternyata menular. Cerita Ibunda Mas Mufid ini menginspirasi wali murid yang lain. Jumat pagi (09/08), ada celotehan menarik dari Mbak Rara, siswa kelas 2D SDIT Nur Hidayah Surakarta. Bersamaan dengan guru yang hendak menabung ke koperasi, ia menggenggam uang Rp6.000,00. Obrolan menarik itu terletak pada kalimat yang disampaikan sang murid kelas 2 itu. “Tabunganku banyak. Sudah mau setengah juta. Nanti kalau sudah banyak banget buat beli sapi untuk disembelih untuk berqurban,” paparnya saat ditanya sang guru untuk apa uang tabungannya kalau sudah banyak.

Mbak Rara Kelas 2D juga semangat berqurban dengan uang tabungannya

Mbak Rara Kelas 2D juga semangat berqurban dengan uang tabungannya

Saya sangat terinspirasi perjuangan Mas Mufid yang diceritakan Bunda Rini kemarin ketika kami bertemu. Lalu saya ceritakan kepada anak-anak di rumah. Ternyata spontan mereka menjawab kalau mereka juga bisa seperti itu. “Alhamdulillah, yang tadinya Rara bersemangat menabung karena ingin membeli imo smart watch, sekarang dialihkan untuk menggapai cita-cita berqurban dengan uangnya sendiri. Semoga istiqomah sampai betul-betul terwujud qurbannya kelak,” cerita Bunda Santi, Ibunda Mbak Rara kepada gurunya saat ditanya apa rahasianya sehingga ananda bersemangat menabung untuk berqurban.

Kerja sama yang bagus memang terbukti antara sekolah dan walimurid. Tak berlebihan jika pada tahun 2017 lalu SDIT Nur Hidayah Surakarta mendapat Apresiasi Sekolah Keren Tingkat Nasional yang salah satu kriteria penilaiannya adalah keterlibatan nyata walimurid mendukung program-program sekolah. PPK (Penguatan Pendidikan Karakter) yang dicanangkan pemerintah melengkapi pelaksanaan Kurikulum 2013, disambut antusias oleh SDIT Nur Hidayah Surakarta,” tutur Ustadzah Muslikah, S.Pd selaku Waka Kurikulum SDIT Nur Hidayah Surakarta.

Dalam proses pembelajaran harian dan semua program-program sekolah menitikberatkan pada PPK ini. Termasuk momen berharga seperti Hari Raya Qurban dan momen lainnya. Penerapan kurikulum 2013 dengan PPKnya semoga menghasilkan generasi yang cerdas akalnya, kreatif, religius, dan cerdas sosialnya. *(Muslikah/emyu)

Pengalaman Pertamaku Sholat Jumat Bersama Kakak Kelas

Hari ini, (09/08) siswa kelas 3 SD Islam Terpadu (SDIT) Nur Hidayah Surakarta melaksanakan salat Jumat perdana mereka di masjid gedung timur lantai dua bersama kakak-kakak kelas IV, V, dan VI, setelah dua pekan sebelumnya mereka dilatih dan dikondisikan di ruang perpustakaan terkait dengan adab dan tata cara salat Jumat.

Seusai menyantap makan siang, siswa kelas 3 bergegas menuju gedung timur untuk melaksanakan salat Jumat. Setelah meletakkan sepatu di rak yang sudah tersedia, mereka berwudhu, lalu mengikuti arahan ustadz/guru yang bertugas untuk menempati tempat yang telah diatur. Kelas 3A dan 3B menempati depan kelas 6B, sementara 3C dan 3D berada di teras kiri masjid atau tepat di depan kelas.

Di dinding jarum jam menunjukkan pukul 11.45 WIB artinya tinggal lima menit lagi waktu shalat jumat akan tiba. Sementara menunggu masuknya waktu salat, Ustadz Darussalam selaku Koordinator Sie Ibadah SDIT Nur Hidayah seperti biasa menghimbau dan menginformasikan hal-hal terkait yang dapat mengurangi pahala atau bahkan membatalkan salat Jumat. Beliau juga terdengar memberikan apresiasi terhadap siswa kelas 3 yang pada siang ini melaksanakan shalat jumat perdana mereka di Masjid Gedung Timur namun walau pertama kalinya mereka sudah terlihat tertib, tenang dan terkondisikan dengan baik. Tidak terdengar suara ramai atau kegaduhan lainnya, mereka sangat tertib.

Siswa Kelas 3 terlihat tertib dan tenang saat mengikuti khutbah Shalat Jum’at

“Alhamdulillah, hari ini adik-adik kita kelas 3 pertama kalinya melaksanakan shalat jumat di masjid gedung timur. Terimakasih ustadz sampaikan atas ketertiban, kerapian, dan ketenangannya. Semoga suasananya bisa bertahan seperti sampai seterus-terusnya,” ucap beliau di hadapan para siswa.

Hanif Wiridjati Yuwono, (8th) salah satu siswa kelas 3A mengaku senang sudah bisa bergabung salat Jumat di Masjid Gedung Timur karena bisa bersama dengan kakak-kakak kelasnya. “Senang karena bisa jumatan bareng dengan kakak kelas 5 dan 6”. Sementara itu, Wildan Akmal, (8th) salah satu siswa kelas 3B menyampaikan rasa senangnya karena shalat Jumatnya sudah tidak lagi dilatih di Perpustakaan. “Aku senang karena mulai hari ini salat Jum’atku tidak latihan lagi di perpustakaan.”

Suasana tertib berjalan hingga akhir. Selesai berzikir dan berdoa mereka shalat ba’diah 2 rakaat lalu keluar masjid dengan tertib. *(Ihsan/emyu)

Program Matrikulasi Calistung dalam Mengembangkan Potensi Siswa Kelas 1

‍‍Dewasa ini, teknologi informasi dan komunikasi berkembang pesat dengan berbagai bentuk dan kepentingan dapat tersebar luas ke seluruh dunia. Oleh karena itu globalisasi dengan segala dampaknya tidak dapat dihindari, terutama dalam bidang pendidikan. Untuk menjawab seluruh tantangan arus globalisasi tersebut, dibutuhkan kerjasama yang baik antar guru-siswa-orangtua. Dengan sinergi yang baik, maka arus globalisasi ini akan memberikan dampak yang baik pula bagi pendidikan terutama, serta bagi individu siswa, hingga masyarakat.

Menjawab seluruh kebutuhan pendidikan di era globalisasi ini, maka pendidikan juga harus menyesuaikan kebutuhan zaman, kemampuan siswa, serta dinamika masyarakat. Dan hal ini juga terjadi di SD Islam Terpadu Nur hidayah Surakarta yang telah sebulan ini mengadakan kegiatan belajar mengajar pada siswa kelas 1 hingga 6. Khusus untuk kelas 1 juga telah dilakukan observasi pendidikan yang tepat yang dilakukan oleh para guru pendamping kelas 1.

Hari ini, Jum’at (09/08) tim paralel kelas 1 yang diketuai Ustadzah Sutarmi mengadakan rapat terkait kegiatan Matrikulasi Calistung kelas 1 tahun pelajaran 2019/2020. Kegiatan ini bertempat di Perpustakaan Gedung Barat dengan mengundang Ustadzah Muslikhah selaku Waka Kurikulum dan beberapa guru Littaqwa.

Dalam rapat ini Ustadzah Muslikhah menyampaikan banyak hal terkait pendampingan bagi siswa kelas 1 SD Islam Terpadu Nur Hidayah, “Perkembangan dunia saat ini merupakan sesuatu yang tidak dapat kita dihindari. Kita tumbuh tanpa merasakan berbagai kecanggihan teknologi saat ini. Namun anak-anak kita mengalami hal tersebut. Sehingga perbedaan pendidikan yang dahulu kita alami dan yang sekarang dijalani anak-anak sungguh sangat berbeda. Anak-anak saat ini adalah generasi Z, yang secara yang teknologi, kultur, makanan, sangat berbeda dengan kita.”

“Untuk itu kita harus memberikan sikap yang tepat dalam pelaksanaan pendidikan bagi siswa kelas 1, yang salah satunya adalah pengadaan matrikulasi calistung. Setelah observasi selama sebulan kita membutuhkan pendampingan ekstra matrikulasi baca tulis terhadap 50 siswa. Mereka akan mengikuti semi privat kegiatan tersebut, karena secara jika dilakukan secara klasikal akan sangat sulit,” lanjutnya

Ustadzah Sutarmi, S.PdI selaku koordinator pararel kelas 1 turut memberikan wacana kegiatan matrikulasi calistung yang akan dilaksanakan dalam waktu dekat ini. “Kita akan mengadakan program drill untuk mencapai ketuntasan, dengan pendampingan khusus bagi anak-anak, serta target khusus dalam waktu yang sudah ditentukan, yaitu selama 1 bulan. Selanjutnya akan diadakan evaluasi, apakah anak dianggap lulus atau akan melanjutkan lagi program matrikulasi ini.”

Mengakhiri rapat tersebut, Ustadzah Sutarmi berharap akan adanya kerjasama antar guru dalam mengembangkan kemampuan dasar bagi siswa kelas 1. “Kami sangat berharap mengharapkan bantuan, bimbingan ustadz/ah sekalian pada siswa kelas 1. kegiatan matrikulasi ini diharapkan bisa berjalan lancar, serta memberikan dampak positif pada para siswa kelas 1.” *(Fauziyah/emyu)

SDIT Nur Hidayah Solo Menjadi Rujukan Sekolah-sekolah SIT

Hari Rabu menjadi salah satu hari istimewa bagi SD Islam Terpadu Nur Hidayah Surakarta. Pasalnya, hari Rabu ditetapkan sebagai hari menerima tamu kunjungan dari sekolah lain. Merunut perjalanan sejarah yang ada, sekolah ini telah menjadi “sekolah model” bagi sekolah lainnya sejak tahun pertama berdiri. Berdiri 18 Juli 1999, saat itu Kepala Sekolah pertama yaitu Ustadz Heri Sucitro, S.Pd. maka di tahun 2000 mulai berdatangan tamu studi banding, yang oleh Bagian Humas SDIT Nur Hidayah Surakarta disebut dengan istilah Silaturahim Studi.

SD Islam Terpadu Nur Hidayah menerima tamu kunjungan Silaturrahim Studi pertama kalinya dari Yayasan Ihsanul Fikri Magelang. Sebuah yayasan yang sama-sama baru mendirikan Sekolah Islam Terpadu (SIT). Mereka berkunjung, karena SDIT Nur Hidayah Surakarta ini merupakan SIT di jenjang SD yang pertama di Jawa Tengah. Sehingga diharapkan dengan sharing mendapatkan bekal yang baik untuk mengembangkan lembaga yang relatif masih baru.

Kurang lebih 5 tahun terakhir ini semakin banyak tamu kunjungan silaturrahim studi maupu magang yang ingin menimba ilmu, dan tholabul ilmi bersama di sekolah yang bervisi Menjadi Sekolah Bermutu, Berkarakter, dan Berbudaya Lingkungan. Utamanya dari Sekolah-sekolah Islam Terpadu di bawah naungan Jaringan Sekolah Islam Terpadu (JSIT) Indonesia.

Hari ini (07/08), SDIT Nur Hidayah Surakarta menerima tamu dari SDIT Bina Amal 02 Semarang dan SDIT Dian Insani Gunung Kidul. Rombongan dari 2 instansi berjumlah 50 orang terdiri dari Kepala Sekolah, Wakil Kepala Sekolah, Staff Waka, dan Koordinator-koordinator di masing-masing sekolah.

Ustadz Santoso, S.Pd, Kepala Sekolah SDIT Dian Insani dan Ustadzah Zulaikhah, S.Pd mewakili Kepala Sekolah SD Islam Terpadu Bina Amal 02 sebagai ketua rombongan dalam sambutannya menyampaikan “Dulu kami pernah ke sini, dan sekarang ingin belajar lagi di sini. Karena SDIT Nur Hidayah ini terus berkembang dan semakin maju. Kami ingin banyak belajar bagaimana SDIT Nur Hidayah ini menjaga mutu pendidikannya sehingga bisa stabil prestasinya dan kuat karakter anak-anak didiknya.”

“Kami bersyukur dengan adanya silaturahim dari teman-teman berbagai sekolah. Tidak hanya wilayah Jawa Tengah saja, teman-teman dari Jawa Timur, Jawa Barat, bahkan dari luar Jawa seperti Kalimantan, Sumatra, Riau, dll berkunjung ke sini. Kadang kami heran, mengapa teman-teman berbondong-bondong bertamu ke sini. Kami merasa biasa saja. Beginilah kami apa adanya. Tetapi, akhirnya kami menganggap bahwa ini bukanlah studi banding. Ini forum belajar bersama dalam bingkai silaturahim studi. Dan bagi kami, kedatangan teman-teman ke sini adalah sarana yang memotivasi kami untuk terus meningkatkan kualitas, kapasitas, dan semakin berbenah diri. Semoga teman-teman tidak kecewa setelah mengamati kondisi riil sekolah kami,” demikian dipaparkan Ustadz Waskito, S.Pd., Kepala Sekolah SDIT Nur Hidayah Surakarta dalam sambutannya.

Acara inti dikemas dalam kelompok-kelompok sharing sesuai bidangnya. Sharing tentang manajemen sekolah bersama Ustadz Waskito, S.Pd di ruang Kepala Sekolah. Bidang kurikulum bersama Ustadzah Muslikah, S.Pd di ruang Aula. Bidang Sarpras bersama Ustadz Wiyadi, S.Ag. Bidang Kesiswaan bersama Ustadz Husni Malik, S.P, S.Pd di Sanggar Pramuka. Bidang Humas bersama Ustadz Rahmat Hariyadi, S.Pd di ruang Waka Putra, dan Pembelajaran Al Qur’an bersama Ustadz Ali Mashudi di Meeting Room.

Setelah mendapatkan informasi dari masing-masing bidang, semua tamu kembali berkumpul untuk mengikuti seremonial penutupan. “Terimakasih yang sebesar-besarnya kami sampaikan kepada SDIT Nur Hidayah yang telah memberi kesempatan kepada kami untuk menggali rahasia di sini. Setelah berkeliling, kami betul-betul terkesan dengan sekolah ini. Lahannya tidak luas, tetapi terasa nyaman dan kedamaian. Ketika masuk ke kelas-kelas terasa betul aura kekuatan ruhiyahnya. Ini pelajaran berharga bagi kami untuk bekal semakin berbenah diri. Mohon diijinkan kiranya setelah ini kami banyak merepotkan dengan pertanyaan-pertanyaan tentang beberapa hal yang belum kami mengerti,” untaian kesan dipaparkan oleh pimpinan rombongan SDIT Bina Amal 02 Semarang.

Setali tiga uang, pimpinan rombongan dari SDIT Dian Insani pun menyampaikan terimakasih dan memohon untuk diijinkan memagangkan beberapa gurunya di SDIT Nur Hidayah Surakarta sebagai tindak lanjut dari studi banding, untuk mendapatkan pengalaman langsung dan lebih detail.

Acara ditutup dengan pemberian kenang-kenangan dari SDIT Nur Hidayah Surakarta kepada para tamu dan juga sebaliknya. *(Muslikah/emyu)

SDIT Nur Hidayah Dikunjungi Tamu dari Semarang dan Gunung Kidul

‍‍

Ada yang sedikit berbeda dengan keadaan di Aula SD Islam Terpadu Nur Hidayah Surakarta pagi ini, Rabu (07/08). Puluhan kursi berwarna biru tertata berjejer rapi. Sepasang LCD dan screen terpasang di sudut ruangan. Sementara sebuah MMT backdrop bertuliskan Silaturrahim Studi Bersama SDIT Nur Hidayah Surakarta Maju Bersama Menuju Sekolah Bermutu terpampang rapi di dinding sebelah timur.

Ya, hari ini ada tamu Kunjungan Silaturrahim Studi dari Kepala Sekolah, Guru, Karyawan SDIT Bina Amal 02 Semarang dan SDIT Dian Insani Gunung Kidul Yogyakarta. Sekira pukul 07.30 mereka telah hadir dan mengunjungi kelas-kelas untuk mengamati kegiatan majelis pagi. Sembari mengamati beberapa tempat yang ada di sekolah ini.

Usai berkeliling lingkungan sekolah dan mengamati kegiatan majelis pagi di beberapa kelas, mereka menuju ke aula sekolah. Kegiatan resmi pun dimulai dengan melantunkan surah Al-Fatihah bersama dilanjutkan tilawah Alquran oleh Ust. Ali Mashudi Al Hafidz. Menggelorakan semangat nasionalisme, acara dilanjutkan dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya dan Mars JSIT Indonesia.

Ustadz Santoso, selaku Kepala SDIT Dian Insani Gunung Kidul, Yogyakarta dalam Prakata Ketua Rombongan menuturkan, “Berbahagia sekali hari ini dapat silaturrahim bersama keluarga besar SDIT Nur Hidayah Surakarta dan SDIT Bina Amal Semarang. Sekolah kami baru berdiri 5 tahun lalu, sehingga perlu referensi bagaimana mengembangkan layanan pendidikan sehingga kelak kami seperti sekolah lainnya, menjadi sekolah bermutu dan unggul. Salah satu upaya yang kami lakukan adalah dengan mengadakan kunjungan seperti pagi ini. Semoga kita mendapatkan barokah dari silaturrahim dan tholabul’ilmi bersama ini.”

Sementara Ustadz Waskito, S.Pd, Kepala SDIT Nur Hidayah Surakarta menyampaikan, “Senang sekali mendapatkan kunjungan dari saudara-saudara dari Jogja dan dari Semarang. Kita mendapatkan ilmu dari para tetamu tanpa harus jauh-jauh ke luar kota. Mongga nanti kita sharing bersama untuk kebaikan sekolah kita bersama. Semoga banyak manfaat yang kita dapatkan.” *(Yuyun/emyu)

SDIT Bina Amal 02 Semarang dan SDIT Dian Insani Gunung Kidul Kunjungi SDIT Nur Hidayah Surakarta

Silaturrahim Studi merupakan sebuah istilah, program, kegiatan silaturrahim yang didasari rasa ukhuwwah Islamiyah dan bertujuan untuk saling bertholabul ilmi bersama antara tamu dan tuan rumah. Ada semangat saling memberi dan saling memotivasi untuk saling meningkatkan kompetensi dalam mengemban amanah mulia, memajukan dan terus meningkatkan mutu layanan pendidikan.

SD Islam Terpadu Nur Hidayah Surakarta merupakan lembaga pendidikan formal yang berada di dalam wadah Jaringan Sekolah Islam Terpadu (JSIT) Indonesia, memiliki semangat untuk bersilaturrahim dan bertholabul ‘ilmi, sehingga ketika ada sekolah-sekolah yang berkunjung, baik sesama sekolah dalam lingkup JSIT Indonesia, maupun sekolah negeri, dengan senang hati menerimanya.

Seperti hari ini, Rabu (07/08) SD Islam Terpadu Nur Hidayah Surakarta menerima tamu kunjungan Silaturrahim Studi dari SD Islam Terpadu Bina Amal 02 Semarang dan SD Islam Terpadu Dian Insani Gunung Kidul. Kegiatan ini diikuti oleh sekitar 33 guru dan karyawan SDIT Bina Amal 02 dan sekitar 11 guru karyawan SDIT Dian Insani.

Silaturrahim Studi kali ini mencakup manajemen pengelolaan sekolah, bidang kurikulum, bidang kesiswaan, bidang kehumasan, bidang sarpras, terkait pembelajaran Al Qur’an, bahkan ada juga perwakilan dari Komite Sekolah. Salah satu sub bidang tersebut antara lain pada bidang kurikulum dan pengajaran, terkait dengan program kurikulum, proses pembelajaran, pengembangan profesionalisme keguruan, pembelajaran Al Qur’an tahfidz, dan sebagainya. Selain itu ada juga yang fokus sharing tentang Tata Usaha baik administrasi maupun keuangan.

Dalam kegiatan kunjungan ini, guru dan karyawan SD Islam Terpadu Bina Amal maupun SD Islam Terpadu Dian Insani juga turut berkeliling menyaksikan secara langsung proses kegiatan belajar mengajar SD Islam Terpadu Nur Hidayah Surakarta.

Kepala SD Islam Terpadu Bina Amal 02 Semarang, Ustadzah Zulaichah Dwi Astuti, S.Si mengatakan, “Sekolah kami berdiri pada tahun 2013. Kunjungan ini kami lakukan sebagai wacana dan gambaran dalam memberikan pendidikan, pengelolaan pendidikan yang bagus bagi sekolah kami.” *(Fauziyah/emyu)

Ada Apa di 5A ?

Pagi ini, Rabu (07/08) kelas 5A SD Islam Terpadu Nur Hidayah Surakarta berbeda dari biasanya. Hari ini mereka akan belajar bersama dengan salah satu mahasiswa FKIP-PGSD, Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Yuli Listywati. Beliau akan melakukan praktik pembelajaran Tema 2 Udara Bersih Bagi Kesehatan.

Ustadzah Syarifatul Istiqomah, S.Pd. selaku guru pamong menyampaikan, “Kegiatan praktik mengajar dalam mata kuliah PLP (Pengenalan Lingkungan Persekolahan) ini bertujuan supaya mahasiswa lebih mengenal di lapangan bagaimana bisa mengajar dan mengelola kelas dengan baik serta yang lebih utama bagaimana bisa menjadi seorang pendidik yang mampu mendidik siswa dengan baik.”

Dalam kegiatan PLP ini, para mahasiswa akan mendapatkan bimbingan dari guru pamong. Bimbingan yang didapatkan para mahasiswa adalah tentang penyusunan administrasi pembelajaran, mrico teaching, dan ujian praktik mengajarnya.

Kaesan Rafif Athallah (10), slah satu siswa kelas 5A mengatakan, “Pembelajarannya kali ini menyenangkan karena bisa mengenal lebih jauh tentang pernafasan pada hewan dan manusia. Di akhir pembelajaran siswa diberikan soal untuk latihan.”

Sementara itu, Ustadz Wahyudi Nugroho, S.Si, S.Pd selaku wali kelas sekaligus kelas 5A menyampaikan, “Praktik mengajar yang dilakukan oleh saudari Yuli Listyawati sudah cukup baik tetapi harus meningkatkan pengelolaan kelas agar pembelajaran lebih kondusif.” (Yudi/emyu)