Cara Asyik Mengajarkan Huruf Hijaiyah Sambung dengan Bermain Cerita dan Menyanyi

Selasa (31/07) siswa kelas 2 SD Islam Terpadu Nur Hidayah Surakarta mengikuti pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) dengan materi Menulis Huruf Hijaiyah Bersambung Sesuai dengan Makharijul Huruf. Mereka tampak antusias karena pembelajarannya dilengkapi dengan media yang bisa ditempel di papan tulis. Mereka pun pasti ingat kalau pembelajaran PAI biasanya disertai dengan bernyanyi.

Pada pembelajaran kali ini Ustadz Muhammad Bisri, S.HI sebagai pengampu mata pelajaran PAI menggunakan salah satu metode BCM (Bermain, Cerita, dan Menyanyi). Flashcard permainan huruf Hijaiyah yang dipilih untuk kegiatan kali ini.

“Semua huruf Hijaiyyah bisa ditulis sambung kecuali ada 7 huruf Hijaiyyah yang tidak bisa disambung dengan huruf berikutnya. Agar para siswa lebih hafal dan mengingat nama-nama huruf itu, maka saya menamainya dengan “(tujuh) 7 huruf tidak mau bergandengan” karena tidak bisa bergandengan dengan huruf berikutnya. Tujuh (7) huruf ini adalah alif, dal, dzal, ra’, zain, lamalif, dan wawu,” tutur Ustadz Muhammad Bisri, S.HI menjelaskan asal muasal istilah cerita huruf tidak mau bergandengan.

Salah satu siswa kelas 2, Rafael Tristan Wira Mahardika (7,5 th) mengatakan “Aku sudah hafal 7 huruf tidak mau bergandengan, soalnya ceritanya lucu,” ucap Rafael sambil tersenyum.

“Metode Pembelajaran Bercerita adalah memberi penerangan kepada anak secara lisan. Tujuannya adalah melatih daya tangkap anak, daya fikir, dan daya konsentrasi. Membantu perkembangan imajinasi anak menciptakan suasana menyenangkan dan akrab di dalam kelas,” tutur Ustadzah Muslikah, S.Pd selaku Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum. *(Bisri/emyu)