SDIT NUR HIDAYAH Menuju Sekolah Adiwiyata

Bumi pertiwi ini kaya, anugerah Tuhan yang luar biasa. Dan itu harus terwariskan kepada semua generasi lintas zaman. Maka menanamkan kecintaan, menguatkan kepedulian, memberi bekal beragam ketrampilan cara mengelola dan merawat lingkungan dan alam sekitar kepada para siswa adalah  sebuah kewajiban. Sehingga kelak generasi ini akan mempunyai kesadaran yang utuh tentang lingkungan alam dan turut bertanggungjawab untuk menjaganya”.

Sesuai himbauan Kementrian Lingkungan Hidup terkait terwujudnya Sekolah Adiwiyata, maka SD Islam Terpadu Nur Hidayah Surakarta berusaha memenuhi amanah tersebut. Salah satu perwujudannya adalah adanya rangkaian kegiatan yang dilaksanakan oleh siswa-siswi dan guru kelas 3 SDIT Nur Hidayah Surakarta. Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) SDIT Nur Hidayah Surakarta yang dimulai hari Senin (15/07) sampai hari Jum’at (19/07) oleh jenjang kelas 3 tahun pelajaran 2019-2020 berisi beragam kegiatan yang bertajuk Ayo Sayangi Pohon dan Lingkungan.

Pada hari Senin (15/7), sejumlah 133 siswa kelas 3 mendapatkan penjelasan tentang gerakan cinta lingkungan, pemanasan global, dan tindakan apa yang bisa dilakukan oleh para siswa. Dilanjutkan dengan membuat poster bertema lingkungan. Bertempat di kelas masing-masing para siswa secara berkelompok menyelesaikan tugas poster ini dengan penuh semangat. Hasil dari karya mereka ditempel di dinding teras kelas. Harapannya agar bisa dilihat oleh siapa saja yang lewat, sehingga ikut terpacu untuk peduli dengan lingkungan alam.

Pada Selasa (16/07) para siswa diajak jalan sehat mengelilingi lingkungan sekitar sekolah. 133 siswa kelas 3 ini berjalan beriringan sembari membawa kantong untuk menampung sampah-sampah yang mereka jumpai selama di perjalanan. Selain itu beberapa siswa membawa bibit tanaman yang akan diberikan kepada warga yang dijumpai. Hal ini dimaksudkan selain sebagai bentuk apresiasi kepada warga sekitar lingkungan sekolah yang selama ini terjalin baik, juga menjadi sarana ajakan untuk turut giat menanam pohon.

Hari Rabu (17/07) dan Kamis (18/07) para siswa membuat pohon harapan. Pelaksanaanya di kelas masing-masing. Mereka berkreasi membuat daun dari kertas asturo. Di dalam daun kertas tersebut para siswa menuliskan harapan masing-masing selama di kelas 3 ini. Daun-daun ini kemudian ditempelkan membentuk pohon besar. Pohon harapan ini menjadi hiasan utama di pintu masuk kelas. Sehingga ketika para siswa melewati pintu mereka akan selalu membaca harapan-harapan mereka sendiri ataupun temannya. Harapannya mereka akan terus termotivasi untuk selalu semangat dalam pembelajaran mencapai cita-cita yang mereka harapkan.

Pada penutupan pekan Pengenalan Lingkungan Sekolah (PLS) di jenjang kelas 3 ini para siswa menyaksikan sosiodrama yang ditampilkan oleh para guru kelas 3. Jum’at (19/07) para siswa kelas 3 berkumpul di halaman sekolah. Drama ini bercerita tentang Paman Hutan yang memberikan banyak manfaat kepada manusia. Para pohon yang hidup di rumah Paman Hutan memberikan oksigen, buah-buahan, dan kayu kepada manusia. Ada manusia yang bersyukur dengan menanam kembali pohon serta mengambil manfaat dari pepohonan. Namun ada juga manusia yang menebang pohon sembarangan namun tidak mau menanam kembali bibit yang baru. Paman Hutan sedih dan roboh. Sedang manusia yang serakah tadi memperoleh uang yang banyak dari hasil hutan. Dia manfaatkan untuk berbelanja sesuka hati. Kantong plastik belanjaan, bungkus makanan ringan, dia buang sembarangan. Sampai akhirnya hujan datang. Paman Hutan tidak bisa lagi membantu manusia untuk menyerap air hujan yang datang. Terjadilah banjir. Manusia serakah terikut menjadi korban musibah banjir. Drama ditutup dengan beberapa murid yang menanam pohon kembali di rumah Paman Hutan tersebut serta memunguti sampah dari manusia serakah tadi untuk dibuang di tempat sampah. Akhirnya Paman Hutan bisa berdiri tegak dan kembali riang.

Sabrina Arfa Dzakiyyah (8th), salah satu siswa kelas 3C mengungkapkan kesannya, “Aku tadi sedih melihat Paman Hutan yang roboh. Aku harus merawat tanaman. Kalau  membuang sampah juga harus pada tempatnya. Aku senang dengan adanya drama tadi.”

Selesai penampilan sosiodrama oleh para guru ini, para siswa dijelaskan tentang perbedaan sampah organik dan anorganik dan cara penanganannya yang benar. Para siswapun praktik mengambil sampah dan memasukkan sampah sesuai kategorinya.

Selanjutkan kegiatan bertema lingkungan hari itu diteruskan dengan praktik menanam bibit tanaman. Perlengkapan berupa media tanah, berbagai biji-bijian sayuran, bibit bunga, pot dari botol bekas air mineral, sebotol air, telah disiapkan. Pertama para siswa dijelaskan fungsi masing-masing media tanam. Ustadzah Syarifatul Istiqomah, S. Pd memberi contoh langsung cara menanam bibit dan cara merawatnyan. Kemudian secara berkelompok para siswa praktik menanam bibit bunga selocia.

Syarifatul Istiqomah, S. Pd, salah satu guru kelas 3 yang berperan sebagai Putri Pohon memaparkan, “Salah satu kegiatan yang dicantumkan pada Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah di kelas 3 ini adalah rangkaian kegiatan yang bertema Peduli Lingkungan. Kegiatan tersebut berupa pengenalan tentang global warning melalui media belajar video, membuat poster, membuat pohon harapan dan puncaknya hari ini yakni sosiodrama, pengelolaan sampah organik anorganik, terakhir praktik menanam bibit. Kami rencanakan program ini terus berkelanjutan. Ada jadwal piket menyiram tanaman tadi. Harapannya siswa akan melihat hasil dari praktik tanam kali ini yakni mekarnya bunga selocia. Semoga dengan rangkaian acara ini para siswa akan semakin peduli dengan lingkungan. Bumi pertiwi ini kaya, anugerah Tuhan yang luar biasa. Dan itu harus terwariskan kepada semua generasi lintas zaman. Maka menanamkan kecintaan, menguatkan kepedulian, memberikan beragam ketrampilan cara mengelola dan merawat lingkungan dan alam sekitar kepada para siswa menjadi  sebuah kewajiban. Sehingga kelak generasi ini akan mempunyai kesadaran yang utuh tentang lingkungan alam dan turut bertanggungjawab untuk menjaganya.”

Adapun ustadzah Pipit Anugeraheni, S. Pd selaku koordinator paralel kelas 3 menyampaikan, “Kegiatan gerakan cinta lingkungan yang mulai kita garap sepekan ini merupakan salah satu langkah konkrit kita untuk menuju sekolah adiwiyata. Sebagaimana visi SDIT Nur Hidayah yakni sekolah yang berkarakter, ramah anak dan berbudaya lingkungan.” *(Yan/emyu)