Ayo Sayangi Hutan dan Lingkungan

Ada pemandangan berbeda di halaman SD Islam Terpadu Nur Hidayah Surakarta pagi ini, Jumat (19/07). Siswa-siswi bersegaram biru langit duduk melingkar dengan rapi. Sementara di sudut utara ada sebuah panggung kecil dan backdrop bertuliskan Masa Pengenalan Lingkungan Hutan, Ayo Sayangi Hutan. Ada pula beberapa bibit tanaman dan karung berisi tanaman. Sementara ada beberapa ustadz yang mengenakan ‘pakaian pohon’ dan ‘topi daun’.

Ya, mereka siswa-siswi beserta guru kelas 3 akan mengikuti kegiatan sosiodrama dan praktik menanam bibit tanaman. Kegiatan ini merupakan penutup rangkaian kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) kelas 3 paralel.

“Teman-teman, kita berkumpul di sini dalam rangka penutupan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) kelas 3 SDIT Nur Hidayah. Berangkai kegiatan alhamdulillah telah kita laksanakan. Mulai dari display kelas, lomba mewarnai, kegiatan sadar shalat, sampai gerakan cinta lingkungan hari ini. Semoga dengan terlaksananya MPLS kemarin dan hari ini akan membuat kita semua tambah semangat dalam belajar, lebih terarah dalam beribadah. Maka pada acara penutupan kali ini, akan kita saksikan bersama pembelajaran tentang Mencintai Hutan dan Lingkungan. Inilah sosiodrama “Ayo Sayangi Hutan dan Lingkungan! Selamat menyaksikan!”, demikian Ustadzah Pipit Anugraheni mengawali narasinya.

Pembacaan narasi drama pun dilanjutkan. “Inilah paman hutan. Rumah besar dari beraneka pohon, beragam tanaman. Para pohon di rumah paman hutan ini selalu membagikan oksigen bagi makhluk yang membutuhkan termasuk kita manusia,” ujar narator. Paman Hutan yang diperankan oleh Ustadz Muhammad Iksan, S.Pd menggunakan kostum rumah pohon yang terbuat dari kardus yang dihiasi dengan beberapa poster pepohonan khas hutan. Seiring narasi dibacakan pemeranpun masuk area pentas. Sementara Ustadz Lukman Hakim Yusuf, M.Pd dan Ustadz Isna Muhammad Fathoni, M.Pd masing-masing berperan sebagai Paman Tukang Kayu dan Si Orang Kaya.

Suasana menjadi seru ketika Paman Hutan memberikan manfaatnya dengan berbagi buah-buahan. Siswa-siswi berebut buah yang dibagikan Paman Hutan dengan ceria. Di saat Paman Hutan sedang berbagi ceria, tetiba datanglah Paman Tukang Kayu berjalan memutari sungai sembari membagikan potongan ikan. “Betapa baik para pohon yang tinggal di rumah besar paman hutan. Dan ketika manusia hadir dan melihat keindahan Rumah Paman Hutan, maka datanglah manusia, Paman Tukang Kayu yang hendak mengambil manfaat dari pepohonan itu,” lanjut Ustadzah Pipit dalam narasinya.

Suasana bertambah riuh tatkala Ustadz Isna Muhammad Fathoni yang berperan sebagai Si Orang Kaya masuk menyelah kerumunan sambil membagikan beberapa lembar uang kertas (palsu) ke para siswa. Dia berjalan mengelilingi para siswa menghambur-hamburkan uang ditangannya kemudian menebang dan menggergaji pepohonan di rumah pohon, mengambil buahnya dengan serakah lalu dimakan dan membuang sampah sembarangan.

Anak-anak, apa yang diperankan ustadz Fathoni ini adalah contoh orang yang tidak mencintai hutan dan lingkungan, maka tidak boleh ditiru,” Narator mengingatkan. Kegiatan MPLS pagi ini diakhiri dengan praktik menanam. Ustadzah Syarifatul Istiqomah, S.Pd selaku penanggungjawab praktik menanam ini mengajak siswa-siswi untuk merawat dan mencintai lingkungan dengan cara menanam pohon. Ustadzah yang akrab disapa Us Isti ini memulai praktik menanam dengan memberi contoh cara menanam tanaman yang benar. Siswa-siswi dibagi perkelompok sesuai regu piket, kemudian diarahkan tempatnya. Regu piket melingkar kemudian masing-masing regu diberi satu tanaman/pohon kemudian diminta untuk ditanam sesuai seperti yang dicontohkan. Para siswa pun ikut praktik menanam dengan senang hati. Dengan harapan kelak tanamannya dapat memberi manfaat, termasuk dalam memproduksi oksigen. *(Ihsan/emyu)