Agenda Guru Littaqwa di Awal Tahun Pelajaran

Sebagai salah satu lembaga dakwah yang bergerak di dunia pendidikan, SD Islam Terpadu (SDIT) Nur Hidayah Surakarta terus berinovasi, berbenah diri serta berupaya memberikan pelayanan terbaik untuk umat. Salah satunya adalah mengembangkan Sumber Daya Manusia (SDM) yang unggul, kreatif, dan inovatif sesuai bidangnya masing-masing.

Salah satu kekhasan SDIT Nur Hidayah Surakarta adalah unggul dalam bidang Alquran. Sebagai bagian dari lembaga pendidikan SD Islam Terpadu (SDIT) Nur Hidayah, Unit Lembaga Pendidikan Alquran (LPA) ikut memberikan sumbangsih untuk menjadikan SD Islam Terpadu Nur Hidayah Surakarta sebagai sekolah yang bermutu yakni dengan terus berusaha memperbaiki, meningkatkan serta mengembangkan potensi pedagogik yang dimiliki para pengajar Alquran.

Oleh karenanya, Yayasan Nur Hidayah Surakarta melalui Alquran Center menyelenggarakan dauroh tahsin dan tajwid bagi seluruh guru Alquran yang diselenggarakan selama 3 hari. Kegiatan yang diselenggarakan dari hari Selasa, Kamis, hingga Jumat ini diikuti oleh sekitar 27 guru pengampu mata pelajaran Alquran dan Tahfidz (AQT) SD Islam Terpadu Nur Hidayah Surakarta.

Dimulai dengan pendalaman materi tajwid terkait tentang makharijul huruf (tempat keluarnya huruf hijaiyah), praktik membaca, hingga test tertulis diikuti sampai tuntas oleh peserta dauroh. Sebagai pemateri di dauroh kali ini, pihak Alquran Center mengundang mudir Rumah Tahfidz &Tahsin (RTT) Al-Birru yakni Ustadz Surya Andikusumo, S.Pd.I Al-Hafidz. Penyampaian materinya sangat menarik, interaktif, dan diselingi guyonan khas beliau sehingga suasana menjadi tidak kaku dan menambah antusias peserta dauroh.

Hari pertama dauroh, peserta disuguhi materi tentang matan jazari, panduan umum ilmu tajwid karangan Syekh Ibnu Al-Jazary, yaitu yang berkaitan dengan makharijul huruf. Ustadz Surya menyampaikan bahwa mempelajari dan memahami matan jazary penting bagi setiap guru Alquran. Sebab ini merupakan dasar bagi ilmu tajwid, di dalamnya membahas semua sifat dan tempat keluarnya huruf. “Matan jazary ini penting sekali untuk kita pelajari bahkan untuk dihafalkan sebagai bekal kita dalam mengajarkan Alquran,” ungkap beliau.

Yang menarik, di hari ketiga atau hari terakhir dauroh, Jumat (12/07) pemateri menge-test kemampuan dan pemahaman peserta terhadap materi dengan mengadakan ujian tertulis. Materi yang diujikan adalah sifatul huruf, mulai dari yang memiliki lawan sampai sifat huruf yang tidak memiliki lawan. Seluruh peserta mengerjakannya dengan serius dan sungguh-sungguh. Salah satu peserta, Ustadz Abdur Rofi’ (31th) mengaku senang mengikuti dauroh tahsin kali ini karena banyak pelajaran baru yang didapatnya terutama berkaitan dengan cara membaca Alquran yang benar sesuai kaidah ilmu tajwid. “Saya senang karena menjadi lebih paham bagaimana bacaan Alquran yang benar,” ujarnya. Sementara Ustadzah Izha Asykurun (38th), salah seorang guru senior di lembaga Alquran ini merasa seperti bernolstagia dengan masa sekolahnya dulu. “Iya suasana ujian gini jadi rindu masa-masa sekolah dulu,” kenangnya.

Ustadz Bahruni Arsyad, Kepala Bagian Alquran Center Yayasan Nur Hidayah Surakarta berharap semoga dengan adanya dauroh seperti ini menambah bekal pengetahuan dan pengalaman guru Alquran dalam mengajar. “Semoga dauroh seperti ini bisa berjalan secara berkelanjutan sehingga menambah pengetahuan dan pengalaman guru al-Quran dalam mengajar,” ungkapnya penuh harap. *(Ihsan/emyu)