BPI Orangtua SDIT Nur Hidayah Surakarta Adakan Bincang Asyik

Sabtu (30/3) pukul 08.00 bertempat di Gedung Nur Hidayah Convention Centre ,(NHCC) lantai 3, tampak para ibu yang tergabung dalam Bina Pribadi Islami (BPI) Orangtua mulai berdatangan. Senyum merekah penuh persaudaraan antara peserta dan panitia. Kegiatan BPI Orangtua ini terbagi menjadi dua yaitu kegiatan BPI para ayah dan BPI para ibu.

Kegiatan Bincang Asyik yang ke-5 ini sebagai saranasekaligus bersilaturahim serta belajar bersama. BPI Ke-5 kali ini bertajuk “Muhasabah Persiapan Menempa Diri di Bulan Ramadhan.”
Ustadzah Inayah Hartina Reda, Lc., selaku pembicara menyampaikan inti sari dari QS Ali Imron ayat 133-135. Bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhanmu dan mendapatkan surga yg luasnya seluas langit dan bumi yg di sediakan bagi orang-orang yg bertaqwa. “Orang yang berinfak baik di waktu lapang maupun sempit. (Orang yang menahan amarahnya. Memaafkan kesalahan orang lain. Dan Alloh mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan. Dan juga orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau mendzalimi diri sendiri segera mengingat Allah,” terangnya lanjut.

Ibu Ira Ratnasari, S.S sebagai salah satu peserta yang hadir yang berkesempatan melantunkan ayat ayat suci Alquran di awal acara menyampaikan, “Kegiatan BPI secara bersama-sama sangat dinantikan, selain menambah semangat juga menjalin silaturahim. Suasana penuh keceriaan serta persaudaraan semakin menyatu dengan hadirnya nasyid yang dilantunkan perwakilan ustadzah pengampu BPI.”

Ustadzah Wulansari,S.P, S.Pd sebagai salah satu pengampu BPI menyampaikan, “Bincang Asyik kali ini berbeda. Selain acara temu bareng, belajar bersama, juga di sela sela acara mengenalkan berbagai kreasi atau produk yang dikembangkan oleh para ibu yang tergabung dalam BPI.”

Kegiatan kali ini ditutup dengan doa bersama, saling bermaafan serta foto bersama. *(Amy-Leli/Yusuf)

SDIT Nur Hidayah Surakarta Menuju Sekolah Berwawasan Lingkungan

Lingkungan hidup dan kekayaan di dalamnya sejatinya anugerah dari Sang Maha Pencipta. Mengedukasi generasi penerus bangsa dalam bentuk pendidikan berwawasan lingkungan menjadi sebuah keharusan. Agar kelak lingkungan alam membawa kemanfaatan secara berkesinambungan.

Rabu (27/3) SDIT Nur Hidayah Surakarta mendapatkan pembinaan oleh Dinas Lingkungan Hidup Kota Surakarta tentang Sekolah Adiwiyata. Acara diikuti oleh guru,  perwakilan komite sekolah, perwakilan yayasan, dan perwakilan siswa. Diawali dengan tilawah Al Qur’an, acara dilanjutkan dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya. Berikutnya adalah sambutan dari yayasan Nur Hidayah bidang pendidikan yang disampaikan oleh ustadz Anis Tanwir Hadi, S. Ag., M. Pd.

Dalam sambutannya beliau memaparkan, “Yayasan Nur Hidayah Surakarta akan mendukung setiap unit pendidikan untuk menuju sekolah adiwiyata. Menjaga lingkungan sebagaimana  memanfaatkan lingkungan dengan baik adalah kewajiban selaku muslim. Oleh karena itu, yayasan Nur Hidayah Surakarta mendukung sepenuhnya semua unit sekolah untuk mewujudkan pendidikan berwawasan lingkungan. Siang ini kami bersyukur dan berterimakasih atas pembinaan dari pihak Dinas Lingkungan Hidup Kota Surakarta kepada SDIT Nur Hidayah guna mewujudkan sekolah adiwiyata”.

Bapak Sapto Purnama, S.T. dari Dinas Lingkungan Hidup Kota Surakarta dalam pembinaan menjelaskan, “Adiwiyata adalah salah satu program Kementrian Lingkungan Hidup dalam upaya rangka mendorong terciptanya pengetahuan dan kesadaran warga sekolah dahulu dalam upaya pelestarian lingkungan hidup. Dalam program ini diharapkan setiap warga sekolah dapat ikut terlibat dalam kegiatan sekolah menuju lingkungan yang sehat dan menghindarkan dampak lingkungan yang negatif.”

Selain memberi penjelasan program yang harus dilakukan dan dirintis sebagai sekolah adiwiyata, pihak Dinas Lingkungan Hidup (DLH) mempraktikan bagaimana membuat kompos. Para peserta yang memenuhi aula sekolah tampak antusias memperhatikan kegiatan tersebut.

Ustadz Sriyoko, S. Pd, salah satu guru menyatakan antusiasmenya mengikuti acara siang ini, “Saya sangat senang dengan terselenggaranya pembinaan dari DLH kota surakarta ini. Ini adalah titik awal untuk perjalanan panjang mengedukasi siswa, guru dan sistem dan semua yang terlibat dalam sekolah untuk mewujudkan sekolah adiwiyata. Hal ini sebagai salah satu tindak nyata partisipasi kita untuk menjaga lingkungan hidup.”(Yan)

140 Siswa SDIT Nur Hidayah ikuti Try Out JSIT Indonesia

Pagi ini, Selasa (12/03/19) cuaca cukup cerah. Mentari pun bersinar menerangi semesta. Seakan menyapa penghuninya untuk bertasbih dan bersyukur dengan bertebaran di muka bumi untuk beraktivitas dan beribadah kepada-Nya. Tidak terkecuali warga SD Islam Terpadu Nur Hidayah Surakarta.

Secerah cuaca pagi ini, langkah-langkah kecil penuh semangat terlihat dari siswa-siswi kelas 6 memasuki gerbang sekolah. Berseragam khas batik sekolah bercorak hijau kuning, mereka tampak gagah dan anggun. Disambut beberapa guru mereka beruluk salam, bersalaman, dan berbagi senyuman.

Usai meletakkan dan merapikan tasnya di tempatnya masing-masing, mereka bergegas menuju ke masjid sekolah yang berada di lantai dua, untuk menunaikan sholat dhuha yang dilanjutkan dengan dzikir dan doa pagi lalu ditambah dengan murojaah salah satu surat di juz 30. Tak ketinggalan, taushiyah dan motivasi dari salah satu guru kelas 6 menambah spirit mereka untuk mengikuti Try Out JSIT (Jaringan Sekolah Islam Terpadu) Indonesia di hari yang kedua ini.

Usai merapikan mukena dan alat sholat lainnya, mereka segera mengambil alat tulis, kartu ujian, dan bersiap masuk ruang ujian masing-masing. Pengawas ruang ujian pun telah siap di ruang masing-masing dengan seperangkat soal, lembar jawab komputer (LJK), dan ATK lainnya yang dibutuhkan. Usai berdoa bersama, pengarahan singkat tata tertib dari pengawas ruang, para peserta mengisi identitas diri di LJK. Bel tanda dimulainya mengerjakan berbunyi, mereka dengan tenang mengerjakan soal demi soal.

Ketua Panitia Try Out JSIT Indonesia tingkat sekolah sekaligus Koordinator Paralel kelas VI angkatan 16, Yuyun Yuningsih, S.Pd., menuturkan, “Hari ini merupakan hari kedua pelaksanaan Try Out JSIT, dengan mata pelajaran Bahasa Indonesia, yang sehari sebelumnya diawali dengan mapel Pendidikan Agama Islam. Jumlah peserta yang ikut ada 140 siswa. Kita berharap dengan adanya Try Out JSIT ini semakin melatih para siswa mengerjakan soal yang sesuai dengan indikator irisan yang telah disosialisasikan. Tentunya sekaligus sebagai salah satu persiapan menuju USBN SD/MI 22-24 April 2019.

Salah satu siswi kelas 6 peserta Try Out JSIT Indonesia, Maisha Norin Amarilis (11), “Kemarin soal PAI bagiku gampang-gampang susah. Tapi alhmdulillah bisa mengerjakan semua. Karena malamnya sudah belajar. Aku berharap nilainya bagus.” Sementara siswi lainnya, Iva Alviana (11) mengatakan, “Tadi pas mengerjakan soal bahasa Indonesia, soalnya cukup susah. Beberapa soal jawaban pengecohnya mirip. Tapi alhamdulillah bisa mengerjakan semua. Berharap nilainya baik dan bisa membawa nama baik sekolah.”, tuturnya penuh harap. *(Ihsan)

Khataman Hafalan Juz 30, Kelas 2 SDIT Nur Hidayah Adakan Bancakan

Bancakan sebagai salah satu khazanah budaya jawa menjadi pilihan tim guru kelas 2 SD Islam Terpadu Nur Hidayah Surakarta untuk membalut acara tasyakuran khataman hafalan juz 30 bagi siswa siswinya.

Selasa (12/3) digelar acara yang berjudul Gebyar Tahfidz Kelas 2 SDIT Nur Hidayah ini diikuti oleh seluruh murid kelas 2 yang berjumlah 133. Kegiatan diawali dengan sholat dhuha bersama. Sejenak para siswa bermunajat kepada Allah agar sepanjang hari dilimpahkan rizki kemudahan dan kelapangan dalam menuntut ilmu.

Selesai sholat dhuha, para siswa mengikuti parade tahfidz. Di sini para siswa berbaris rapi dan berjalan mengelilingi lokasi gedung barat SDIT Nur Hidayah Surakarta.

Kegiatan dilanjutkan dengan menyimak dongeng motivasi: Soleh, Anak Hebat yang Cinta Al Qur’an. Para siswa mengikuti dengan antusias. Raut ceria, suara tawa, keheningan sesaat merupakan tanda betapa para siswa ini terikut alur dongeng yang disampaikan oleh ustadzah Tis’iyatur Ro’ifah, S.Pd.

Acara dilanjutkan dengan uji sambung ayat bagi 61 siswa kelas 2 yang telah menyelesaikan hafalan juz 30. Penguji, memilih secara acak siswa yang akan diberi pertanyaan sambung ayat. Setiap peserta ujian berhasil melanjutkan ayat dengan benar, teman-teman yang menyimak spontan tepuk tangan. Sepertinya ikut merasa lega lulus dari ujian sekaligus kagum dengan temannya yang maju di uji. Siswa yang lulus dan hafal juz 30 ini kemudian diberi penghargaan berupa medali dan hadiah voucher.

Sebagai penutupan gebyar tahfidz diadakan makan siang secara bancakan. Para guru kelas 2 sudah mempersiapkan nasi bancakan yang beralas daun pisang. Para siswa duduk dengan rapi disepanjang teras kelas mengelilingi makanan. Setelah do’a kesyukuran dipanjatkan yang dilanjutkan dengan do’a makan, para siswa mulai menikmati nasi kembulan tersebut. Menu harian seperti nasi gudangan, tahu, tempe, telur, bakmi goreng, semangka dan krupuk disantap dengan semangat dan ceria.

Muhammad Khalid (8th) mengungkapkan kegembiraannya mengikuti acara ini, ” Alhamdulillah, aku sudah hafal juz 30. Kata ustadzah, orang yang hafal Al Qur’an akan bisa mengajak ayah ibu, keluarga dan temannya untuk masuk surga. Seperti si Soleh dalam dongeng tadi. Aku ingin bisa seperti itu. Senang banget ketika tadi dapat medali dan voucher belanja dikantin”.

Sedangkan Rafandika Abrasam Alvaro (8th) salah satu peserta yang juga lulus hafal juz 30 mengungkapkan kesannya tentang acara bancakan, “Baru kali ini makan bancakan pakai daun pisang, dijajar panjang sekali. Menunya lengkap ditata bagus oleh ustadz ustadzah. Makan bareng teman-teman. Pokoknya menyenangkan”.

Adapun ustadzah Tis’iyatur Roifah, S. Pd. salah satu guru kelas 2 sekaligus guru Al-Qur’an menuturkan, “Menanamkan cinta Al Qur’an sekaligus membelajarkan Al Qur’an merupakan satu kesatuan. Setiap moment akan kita manfaatkan untuk menguatkan Al Qur’an pada siswa kami. Seperti kegiatan Gebyar Al Qur’an kali ini. Salah satu program sekolah kami adalah adanya tahfidz pagi. Yakni kegiatan menghafal Al Qur’an per ayat disetiap 30 menit sebelum kegiatan belajar mengajar setiap hari senin, selasa, rabu dan kamis. Alhamdulillah di kelas 2 ini bisa merampungkan menghafalkan perayat rutin sampai selesai juz 30. Ada 61 siswa yang telah selesai hafal minimal juz 30. Ada beberapa sudah masuk juz 29. Penutup gebyar tahfidz ini kami ramu dengan bancakan guna mengenalkan budaya jawa yang mengandung nilai kebersamaan dalam kegembiraan rasa syukur kepada Allah swt”. *(Yan)

Kelas 1 Belajar di Kampung Gerabah Klaten

Matahari terlihat bersinar cerah. Secerah hati siswa-siswi kelas 1 Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) Nur Hidayah Surakarta. Pagi ini, (12/03) sejumlah 120 siswa mengikuti kegiatan Praktik Belajar Lapangan (PBL) di Kampung Gerabah Klaten. Kegiatan ini untuk mengisi waktu rehat pasca Penilaian Tengah Semester (PTS) 2 Tahun Pembelajaran 2018/2019.

Mengenakan baju batik khas sekolah, berwarna dominan hijau kuning, mereka tampak sumringah turun dari bus menuju tempat lokasi. Didampingi oleh ustadz/ah guru paralel kelas 1, mereka menghadirkan senyuman dan uluk salam saat disambut oleh beberapa orang tuan rumah yang siap memandu mereka bereksplorasi hari ini.

Kegiatan dimulai dengan belajar membatik menggunakan canting. Mereka mendapatkan kesempatan mempraktikkan penggunaan canting dan malam untuk membatik. Meski ada yang merasakan panas karena terkena malam saat membatik, namun mereka tampak menikmati menjadi ‘pembatik-pembatik ulung’. Beberapa diantara mereka, ada juga yang menggoreskan cantingnya dengan luwes, seakan mereka memang berbakat.

Merasakan minuman tradisional es dawet cendol khas Klaten merupakan momen yang menyegarkan setelah mereka membatik. Ada nikmat yang berbeda ketika mereka merasakan es dawet bersama-sama. Eksplorasi dilanjutkan dengan mengenal permainan tradisional bathokan. Para siswa diminta naik sandal bathok yang dijepit dengan tali panjang yang dipegang. Mereka pun tampak riang gembira tatkala mereka lomba berlari dengan sandal permainan tradisional itu.

Eksplorasi selanjutnya mereka berkreasi dari janur. Ada beragam kreasi yang dapat dibuat dari janur, seperti ketupat, keris-kerisan, dan lainnya. Membuat keris-kerisan dari janur sungguh menyenangkan. Hasil kreasi itu mereka bawa pulang untuk hadiah ayah bunda.

Tibalah saat yang mereka tunggu-tunggu. Melihat proses pembuatan gerabah, dan tentunya mempraktikkan langsung membuat miniatur gerabah. Pemandu kegiatan berkeliling di Kampung Gerabah mengajak para siswa melihat dan membuat proses pembuatan berbagai macam gerabah yang terbuat dari tanah liat.

Syifa (7,5th) siswa kelas 1D mengatakan “Seru banget Ustadzah, selain menyenangkan bisa menghias gerabah aku juga belajar mencetak bentuk bunga dan hewan dari tanah liat.” Sementara itu, Ustadz Sugeng Sugiharto, S.Ag selaku koordinator kelas 1 juga sekaligus ketua rombonga menyampaikan, “Kegiatan PBL ini adalah salah satu program kelas 1 pararel sebagai kegiatan outing juga mempraktekkan salah satu ketrampilan yang ada di pembelajaran tematik. PBL kali ini mengambil tema belajar dari bahan bahan alam.” *(Rohani)

Mendaur Ulang Kemoceng

Apa jadinya jika sampah menumpuk di rumah?

Membuangnya, ke mana lagi akan kita buang sedangkan lahan semakin sempit. Alih-alih pada membuang ke sungai, berharap sampah mengalir sampai jauh. Seperti lagu jaman dahulu. Eh, malah banjir yang datang.

Dibakar saja…duh asapnya ke mana-mana dan mengganggu pernafasan. Kalau begitu ikuti aja aksi siswa-siswi kelas 1 Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) Nur Hidayah Surakarta.

Hari itu, Senin, (11/03) sejumlah 114 siswa siswi belajar mendaur ulang. Ya, daur ulang adalah mengolah barang bekas menjadi benda baru yang bermanfaat. Kali ini mereka belajar mendaur ulang kemoceng bekas menjadi hiasan pensil.

Menurut Ustadzah Siti Aminuriyah, S.Pd kegiatan ini selain sesuai dengan materi pembelajaran tematik, juga sebagai kegiatan rehat setelah satu minggu penuh telah menjalani penilaian tengah semester (PTS). “Dengan belajar mendaur ulang juga dapat menumbuhkan kepedulian siswa tentang kekestarian lingkungan,” imbuhnya.

Malika Hasna (7) siswa kelas 1D terlihat antusias sekali dengan kegiatan ini, “Seru sekali membuat hiasan pensil dari kemoceng bekas, lihat pensilku bisa menjadi kemoceng mini untuk membersihkan meja, juga jadi bersemangat menulis.”*(Ningrum)

Kelas 2 Membuat Prakarya 3 Dimensi

Senin (11/3) sejumlah 132 siswa kelas 2 SD Islam Terpadu Nur Hidayah Surakarta mengisi kegiatan paska Penilaian Tengah Semester (PTS) 2 dengan membuat prakarya 3 dimensi.

Para siswa bekerjasama dalam sebuah kelompok yang terdiri dari 4 (empat) siswa. Adapun perlengkapan yang disiapkan adalah kertas bekas kardus, gunting, isolasi, dan bahan buatan berupa plastisin.

Kegiatan dimulai dengan merekatkan 4 kertas kardus dengan isolasi. Kemudian para siswa mulai berkreasi. Prakarya yang dibuat berupa miniatur kebun binatang. Aneka satwa berikut ekosistem sederhana mereka buat dengan menggunakan plastisin.

Semua anak tampak antusias menyelesaikan tugasnya. Hanifan Syafiyurrahman (8th) salah satu siswa kelas 2C mengungkapkan kegembiraannya, “Aku senang membuat miniatur kebun binatang ini karena bisa leluasa berkreasi dan bisa bekerjasama dengan teman-teman. Menyelesaikannya sambil ngobrol jadi asyik”.

Adapun Ustadzah Reni Agustin Priyatiningrum, S.Pd. menjelaskan, “Setelah sepekan para siswa mengerjakan tes, maka hari ini kita membuat kegiatan edukatif non formal namun tetap mengasyikkan. Kelas 2 memilih kegiatan membuat prakarya 3 dimensi miniatur kebun binatang dari bahan buatan plastisin. Disini para siswa selain dilatih daya imajinasinya, ketrampilan motorik halusnya, juga dikuatkan karakter sikap sosialnya dalam kerjasama pada sebuah kelompok. Para siswa diharapkan belajar berani menyampaikan ide-idenya namun juga harus bisa mengerti dan berkompromi atas ide  teman-temannya. Semoga dengan adanya kegiatan ini menjadi satu rajutan tersendiri untuk menguatkan karakter unggulan yang tengah kita semai pada jiwa-jiwa generasi masa depan Indonesia di SDIT Nur Hidayah Surakarta”. *(Yan)