WhatsApp Image 2018-10-02 at 11.02.53

BIAS : Sarana Ikhtiar Anak Terlindung dari Penyakit Campak, Difteri, dan Tetanus

Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS) bertujuan untuk memberikan perlindungan bagi anak-anak usia sekolah dasar terhadap penyakit campak, difteri, dan tetanus. Kesehatan merupakan salah satu unsur kesejahteraan bagi masyarakat melalui pembangunan kesehatan dengan perencanaan terpadu. Pembangunan kesehatan di Indonesia memiliki beban ganda (double burden), dimana penyakit menular masih menjadi masalah karena tidak mengenal batas wilayah administrasi sehingga tidaklah mudah untuk memberantasnya.

Dengan tersedianya vaksin, diharapkan mampu mencegah penyakit menular merebak lebih luas. Hal ini sebagai salah satu tindakan pencegahan yang dirasa cukup efektif saat ini. Pemberian vaksin melalui program imunisasi merupakan salah satu strategi pembangunan kesehatan nasional dalam rangka mewujudkan Indonesia Sehat.

“Program imunisasi mengacu kepada konsep Paradigma Sehat. Prioritas utama dalam pembangunan kesehatan yaitu upaya pelayanan peningkatan kesehatan (promotif) dan pencegahan penyakit (preventif) secara menyeluruh, terpadu, dan berkesinambungan,” terang Ustadzah Linda selaku penanggungjawab Unit Kesehatan Sekolah (UKS) SDIT Nur Hidayah Sekolah.

Menurut Undang-Undang Nomor 23 tahun 1992 tentang Kesehatan, bahwa program imunisasi sebagai salah satu upaya pemberantasan penyakit menular. Upaya imunisasi telah diselenggarakan di Indonesia sejak tahun 1956. Upaya ini merupakan upaya kesehatan yang terbukti paling cost effective. Mulai tahun 1977, upaya imunisasi dikembangkan menjadi Program Pengembangan Imunisasi dalam rangka pencegahan penularan terhadap Penyakit yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi (PD3I), yaitu tuberculosis, difteri, pertusis, campak, polio, tetanus dan hepatitis B.

Imunisasi yang telah diperoleh pada waktu bayi belum cukup untuk melindungi terhadap penyakit PD3I (Penyakit Yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi) sampai usia anak sekolah. Hal ini disebabkan karena sejak anak mulai memasuki usia sekolah dasar terjadi penurunan terhadap tingkat kekebalan yang diperoleh saat imunisasi ketika bayi.

Oleh sebab itu, pemerintah menyelenggarakan imunisasi ulangan pada anak usia sekolah dasar atau sederajat (MI/SDLB) yang pelaksanaannya serentak di Indonesia dengan nama Bulan Imunisasi Anak Sekolah. BIAS anak sekolah yang dilaksanakan
imunisasi ini sebagai booster untuk mengantisipasi terjadinya Kejadian Luar Biasa (KLB) Difteri. Perubahan pemberian imunisasi dari vaksin TT ditambah dengan vaksin Td ini sejalan dengan rekomendasi dari Komite Ahli Penasehat Imunisasi Nasional atau Indonesia Technical Advisory Group on Immunization. Hal ini disebabkan adanya perubahan trend kasus infeksi difteri pada usia anak sekolah dan remaja.

Pemberian imunisasi bagi para anak usia SD atau sederajat (MI/SDLB) ini merupakan komitmen pemerintah khususnya Kementerian Kesehatan dalam upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia melalui Usaha Kesehatan Sekolah (UKS).

BIAS kelas 1, dilaksanakan tepatnya hari Kamis (30/8) dengan dikoordinir oleh petugas keseharan dari Puskesmas Purwosari. Sebelum imunisasi dilakukan, diadakan screening data siswa sejumlah 112 anak. Pelaksanaan imunisasi tsb dikoordinir oleh Ustdzah Linda sebagai koordinator UKS. Beliau yang semangat memotivasi murid dan orangtuanya.

Pemberian imunisasi pada anak sekolah bertujuan sebagai investasi bagi pembangunan sumber daya manusia yang produktif. Selain itu, juga untuk meningkatkan kemampuan hidup sehat bagi peserta didik dalam lingkungan hidup sehat sehingga peserta didik dapat belajar, tumbuh dan berkembang secara harmonis dan optimal. Dengan demikian, anak-anak menjadi sumber daya manusia yang lebih berkualitas di masa mendatang.

Sejak pagi, anak-anak sudah antusias mengikuti kegiatan BIAS. Bahkan, ada yang berkali-kali bertanya dan bercerita tentang pengalaman imunisasinya sewaktu TK. “Ustadzah, aku _nggak takut disuntik lho. Karena itu untuk kesehatan kita. Aku juga tidak pernah menangis kalau ada imunisasi,” cerita Aira (7) siswa kelas 1B. *(hani/emyu)

Komentar Facebook
0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *