Kembangkan Keterampilan Sains dengan Membuat Model Pernapasan Paru-paru

Hari ini (31/8), Jumat barokah. Para siswa kelas 5 SD Islam Terpadu Nur Hidayah Surakarta bergegas menuju sekolah mereka dengan senyum merekah. Tampak tas sekolah di punggung lengkap dengan peralatan sekolah mereka bawa. Tapi ada yang berbeda dengan hari ini, mereka membawa bahan dan perlengkapan yang akan digunakan untuk pembelajaran membuat model pernapasan paru-paru di kelas.

Sebelum praktik dilakukan, seperti biasa kegiatan Jumat barokah dilakukan di aula lantai 3 gedung timur sekolah. Kegiatan tersebut adalah melaksanakan sholat dhuha, dzikir matsurat, dan membaca surat Al- Kahfi. Kegiatan Jumat ini dipimpin oleh Ustadzah Minuk Nihayah, S.Pd. Selesai melaksanakan kegiatan Jumat, mereka masuk ke kelas masing-masing untuk mengisi kotak infak Jumat dan potong kuku.

Usai kegiatan Jumat pagi, para siswa menyiapkan pelajaran pertama. Kali ini mereka akan belajar membuat model Pernapasan Paru-paru. Mereka mengeluarkan bahan-bahan yang sudah disiapkan dari rumah. Bahan-bahan itu antara lain: botol bekas, bolpoin bekas atau sedotan, 2 buah karet pentil, 2 buah balon, dan plastisin.

Setelah semua peralatan siap, Ustadzah Susilo Wardhani menjelaskan langkah-langkah membuat “Model Pernapasan pada Paru-paru. Pertama, masukkan bolpoin/sedotan ke tutup botol yg sudah dilubangi. Kedua, siapkan balon, kemudian diikatkan sampai tidak ada udara masuk ke ujung bolpoin yang berada di bawah tutup botol. Ketiga, Masukkan ke dalam botol yang sudah dipotong bawahnya. Keempat, siapkan balon yang sudah dipotong atasnya kemudian ditutupkan ke bawah botol, ikat dengan karet.

Kelima, di pangkal bolpoin yang dimaksud ke tutup botol ditutup dengan plastisin supaya tidak ada udara yang masuk. Keenam, model paru paru siap dicoba dengan menarik balon yang berada di luar (fungsinya seperti diafragma). Ketujuh, balon ditarik (diafragma kontraksi), udara akan masuk ke balon (paru- paru) sehingga mengembang. Kedelapan, tarikan balon dilepas, udara keluar, balon (paru-paru) mengempis.

Beliau pun menjelaskan bahwa tujuan dari praktik ini agar para siswa mengetahui sistem pernafasan pada paru-paru. Usai penjelasan dari Ustadzah Susilo Wardhani, S.Pd., para siswa dengan antusias dan semangat membuat model pernapasan pada paru-paru tersebut. Tak lupa Ustadzah Dani selaku guru pengampu membimbing dan mendampingi selama praktik.

Usai model pernapasan pada paru-paru jadi, para siswa mempraktikkan karyanya. “Dari praktik langsung seperti ini, mereka akan lebih memahami tentang sistem pernapasan pada paru-paru,” tutur Ustadzah Dani. Jam pelajaran pun usai. Para siswa mengumpul kan karyanya kepada Ustadzah Dani. Mereka pun istirahat dengan segudang pengalaman berharga. *(nunuk/emyu)[wdi_feed id=”1″][wdi_feed id=”1″]

BIAS : Sarana Ikhtiar Anak Terlindung dari Penyakit Campak, Difteri, dan Tetanus

Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS) bertujuan untuk memberikan perlindungan bagi anak-anak usia sekolah dasar terhadap penyakit campak, difteri, dan tetanus. Kesehatan merupakan salah satu unsur kesejahteraan bagi masyarakat melalui pembangunan kesehatan dengan perencanaan terpadu. Pembangunan kesehatan di Indonesia memiliki beban ganda (double burden), dimana penyakit menular masih menjadi masalah karena tidak mengenal batas wilayah administrasi sehingga tidaklah mudah untuk memberantasnya.

Dengan tersedianya vaksin, diharapkan mampu mencegah penyakit menular merebak lebih luas. Hal ini sebagai salah satu tindakan pencegahan yang dirasa cukup efektif saat ini. Pemberian vaksin melalui program imunisasi merupakan salah satu strategi pembangunan kesehatan nasional dalam rangka mewujudkan Indonesia Sehat.

“Program imunisasi mengacu kepada konsep Paradigma Sehat. Prioritas utama dalam pembangunan kesehatan yaitu upaya pelayanan peningkatan kesehatan (promotif) dan pencegahan penyakit (preventif) secara menyeluruh, terpadu, dan berkesinambungan,” terang Ustadzah Linda selaku penanggungjawab Unit Kesehatan Sekolah (UKS) SDIT Nur Hidayah Sekolah.

Menurut Undang-Undang Nomor 23 tahun 1992 tentang Kesehatan, bahwa program imunisasi sebagai salah satu upaya pemberantasan penyakit menular. Upaya imunisasi telah diselenggarakan di Indonesia sejak tahun 1956. Upaya ini merupakan upaya kesehatan yang terbukti paling cost effective. Mulai tahun 1977, upaya imunisasi dikembangkan menjadi Program Pengembangan Imunisasi dalam rangka pencegahan penularan terhadap Penyakit yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi (PD3I), yaitu tuberculosis, difteri, pertusis, campak, polio, tetanus dan hepatitis B.

Imunisasi yang telah diperoleh pada waktu bayi belum cukup untuk melindungi terhadap penyakit PD3I (Penyakit Yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi) sampai usia anak sekolah. Hal ini disebabkan karena sejak anak mulai memasuki usia sekolah dasar terjadi penurunan terhadap tingkat kekebalan yang diperoleh saat imunisasi ketika bayi.

Oleh sebab itu, pemerintah menyelenggarakan imunisasi ulangan pada anak usia sekolah dasar atau sederajat (MI/SDLB) yang pelaksanaannya serentak di Indonesia dengan nama Bulan Imunisasi Anak Sekolah. BIAS anak sekolah yang dilaksanakan
imunisasi ini sebagai booster untuk mengantisipasi terjadinya Kejadian Luar Biasa (KLB) Difteri. Perubahan pemberian imunisasi dari vaksin TT ditambah dengan vaksin Td ini sejalan dengan rekomendasi dari Komite Ahli Penasehat Imunisasi Nasional atau Indonesia Technical Advisory Group on Immunization. Hal ini disebabkan adanya perubahan trend kasus infeksi difteri pada usia anak sekolah dan remaja.

Pemberian imunisasi bagi para anak usia SD atau sederajat (MI/SDLB) ini merupakan komitmen pemerintah khususnya Kementerian Kesehatan dalam upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia melalui Usaha Kesehatan Sekolah (UKS).

BIAS kelas 1, dilaksanakan tepatnya hari Kamis (30/8) dengan dikoordinir oleh petugas keseharan dari Puskesmas Purwosari. Sebelum imunisasi dilakukan, diadakan screening data siswa sejumlah 112 anak. Pelaksanaan imunisasi tsb dikoordinir oleh Ustdzah Linda sebagai koordinator UKS. Beliau yang semangat memotivasi murid dan orangtuanya.

Pemberian imunisasi pada anak sekolah bertujuan sebagai investasi bagi pembangunan sumber daya manusia yang produktif. Selain itu, juga untuk meningkatkan kemampuan hidup sehat bagi peserta didik dalam lingkungan hidup sehat sehingga peserta didik dapat belajar, tumbuh dan berkembang secara harmonis dan optimal. Dengan demikian, anak-anak menjadi sumber daya manusia yang lebih berkualitas di masa mendatang.

Sejak pagi, anak-anak sudah antusias mengikuti kegiatan BIAS. Bahkan, ada yang berkali-kali bertanya dan bercerita tentang pengalaman imunisasinya sewaktu TK. “Ustadzah, aku _nggak takut disuntik lho. Karena itu untuk kesehatan kita. Aku juga tidak pernah menangis kalau ada imunisasi,” cerita Aira (7) siswa kelas 1B. *(hani/emyu)

Kreasi Jemariku

Selasa (28/8) pagi pada jam pelajaran pertama tampak para guru kelas 1 SD Islam Terpadu Nur Hidayah Surakarta mempersiapkan alat dan bahan untuk pembelajaran finger painting. Serasa ada hajatan kecil, para guru kelas 1 saling bahu membahu mempersiapkan di dapur sekolah.

Siti Aminuriyah, S.Ag, S.Pd selaku koordinator muatan pelajaran SBdP (Seni Budaya dan Prakarya) menyampaikan, “Bahan yang dipakai untuk membuat cat aman untuk para siswa, karena berbahan dasar dari bahan-bahan makanan. Tepung kanji, gula, garam, dan pewarna makanan. Semua bahan diolah sesuai dengan resep yang sudah ditentukan.

Setelah beberapa waktu diproses, bahan untuk kegiatan finger painting sudah siap untuk siswa-siswi di 4 rombel kelas 1. Sebelum melakukan kegiatan finger painting guru menjelaskan bahwa finger painting adalah kegiatan melukis dengan jari atau telapak tangan sebagai kuasnya. Siswa diingatkan untuk berani berkreasi dengan indera peraba mereka.

Leli Firli Rohmani, S.Psi., salah satu guru kelas 1 memberi contoh cara mencelupkan jari tangan dan telapak tangan ke dalam cat dan melukis di atas kertas. Para siswa terlihat antusias memperhatikan cara melukis memakai jari jemari. Bahan-bahan yang dipakai serta urutan membuat cat pun disampaikan agar siswa memahami bahwa cat yang ada di depan mereka adalah buatan sendiri dan aman digunakan.

Usai mendatapkan penjelasan dan contoh cara kerjanya, para siswa pun berkreasi dengan senang hati. Seakan mendapatkan permainan baru, mereka berkreasi dengan kreativitas masing-masing. Tak ada rasa takut untuk mencelupkan tangan mereka ke dalam tinta, dan menggoreskan pada sebuah kertas yang telah disiapkan.

Kreasi mereka sangat beragam. “Rasanya lengket, aku mau melukis tank,” ujar Faqih Auliaurrahman (6 th) salah siswa kelas 1C, di tengah-tengah kegembiraannya menggoreskan tinta pakai tangan dan membentuk gambar sebuah tank. Sementara, Waka Humas SD Islam Terpadu Nur Hidayah, Rahmat Hariyadi, S.Pd. menuturkan, “Kegiatan finger painting ini memiliki beberapa manfaat diantaranya adalah melatih motorik halus pada anak, media ekspresi emosi anak, mengembangkan dan mengenalkan estetika tentang keindahan bentuk dan warna, serta mengembangkan imaginasi dan kreativitas anak.”

Selesai berkreasi para siswa menjemur karya mereka agar tidak basah dan mudah saat dipajang di dinding kelas. Kegiatan melukis dengan jari jemari diakhiri dengan mempraktekkan kembali urutan mencuci tangan sebagai sarana merawat anggota tubuh.

Tanamkan Karakter Mandiri dan Tanggungjawab dengan Mabit

Hari ini, Jumat (24/8) siswa-siswi SD Islam Terpadu Nur Hidayah kembali masuk sekolah. Setelah tiga hari sebelumnya mereka libur dalam rangka Hari Raya Idul Adha 1439 Hijriyah. Seperti biasanya, hari ini mereka akan mengikuti serangkaian kegiatan Jumat Taqwa mulai dari sholat dhuha, dzikir matsurat, membaca surat Al-Kahfi, dan mengikuti pembelajaran fullday.

Khusus para siswa kelas 5, hari ini mereka tidak pulang pukul 15.30. Mereka akan pulang esok harinya, Sabtu, 26 Agustus 2018 pukul 06.00 karena akan mengikuti kegiatan Malam Bina Iman dan Taqwa (Mabit). Mabit ini mengambil tema “Tanamkan Karakter Mandiri dan Tanggung jawab untuk Meraih Prestasi Terbaik”.

Acara mabit ini dimulai setelah sholat Ashar Berjamaah . Usai sholat berjama’ah, para siswa diarahkan ke aula lantai 3 untuk anak putri dan aula lantai 1 untuk anak putra untuk menikmati snack dan jus yang sudah disediakan panitia. Usai makan snack, para siswa bersih diri. Tepat pukul 16.30 acara Mabit dibuka dengan membaca Ummul Kitab surah Al-Fatihah dan Sambutan oleh Ketua Panitia Ustadz Mulyadi, S. Ag. Usai sambutan dilanjutkan dengan membaca Al-Quran secara mandiri sampai menjelang adzan Maghrib.

Adzan Maghrib pun tiba. Para siswa sholat berjamaah di masjid lantai 2. Usai sholat, para siswa diarahkan ke aula untuk makan malam dan minum teh hangat. Menu soto ayam yang seger dilengkapi dengan tempe goreng dan krupuk, para siswa makan dengan lahapnya. Usai makan malam, para siswa melakukan persiapan sholat Isya. Sholat Isya pun dilakukan secara berjamaah dengan Ustadz Wahyudi Nugroho, S.Si., S.Pd. sebagai imam sholatnya.

Pukul 19.30 acara materi pun dimulai. Pada acara kali ini, narasumbernya adalah Ustadzah Sutarmi, S.PdI. Dalam materinya beliau menyampaikan, “Semua nabi sudah memiliki sikap tanggung jawab dan mandiri sejak kecil. Beliau mencontohkan bagaimana Rasulullah bersikap mandiri dan tanggungjawab dalam usia yang masih sangat muda. Beliau juga mencontohkan Imam Syafii yang mampu menghafal Al-Quran dalam usia yang masih sangat muda.” Dari dua contoh tokoh di atas, beliau berharap agar para siswa meneladani kemandirian dan tanggungjawab dari tokoh-tokoh tersebut.

Usai menyampaikan materi, beliau menutup acara dengan muhasabah. Tampak para siswa menghayati dengan penuh rasa terhadap apa yang disampaikan oleh beliau. Pukul 21.30 penyampaian materi pun selesai. Para siswa diminta oleh panitia untuk bersih diri dilanjutkan tidur. Pukul 22.30 para siswa tidur lelap di kelas masing-masing ditemani oleh guru.

Pukul 03.00 dinihari mereka dibangunkan oleh Ustadz dan Ustadzah untuk melaksanakan qiyamulail. Sholat qiyamulail ini diimami oleh Ustadz Mulyadi sampai menjelang adzan Subuh. Pukul 04.00 Ustad Wahyudi, Ustadzah Nunuk dan Minuk menyambut wali murid yang datang. Mereka diminta untuk mengisi daftar hadir dan diarahkan naik untuk melaksanakan sholat subuh berjamaah.

Usai sholat subuh, para siswa melaksanakan dzikir matsurat di aula lantai 3 sedangkan para orangtua di aula lantai 1 untuk mendengarkan sambutan dari Ustadz Waskito, S. Pd. dan menyimak tausiyah pagi oleh Ustad Hanif Syaifullah Sukri. Dalam tausiyahnya beliau menyampaikan, “Anak-anak seusia SD masih membutuhkan bimbingan dari orang tua. Oleh karena itu, para orangtua diajak untuk selalu membimbing dan mengarahkan serta mendidik karena sebenarnya tanggungjawab yang utama mendidik adalah orang tua.”

Usai menyimak tausiyah para orangtua dan siswa menikmati sarapan pagi dan teh panas bersama. Usai sarapan, mereka pun pulang ke rumah masing-masing. *(nunuk/emyu)

Kreasi Mencetak sebagai Kado Milad SDIT Nur Hidayah

Jumat (24/8) setelah libur hari raya Idul Adha 1439 H, siswa-siswi kelas 1 SD Islam Terpadu Nur Hidayah Surakarta bersemangat mengikuti serangkaian kegiatan hari ini. Pukul 07.00 semua siswa berbaris rapi di depan kelas sambil beryel-yel dengan aneka tepuk penyemangat pagi hari.

Kegiatan senam pagi bersama Ustadz Sunarto, S.Pd dengan diiringi musik yang rancak dipilih sebagai penyemangat raga. Selesai berolahraga bersama, semua siswa kelas 1 kembali memasuki kelas dengan penuh semangat karena hari ini ada kegiatan yang ditunggu-tunggu yaitu menggambar dengan mencetak. Alat mencetak yang digunakan adalah bahan bahan yang ada di alam sekitar.

“Bahan yang tersedia di alam sangat banyak untuk dimanfaatkan menjadi media cipta kita,” ungkap Ustadzah Ningrum Hasanah, S.Pd selaku pengampu Tematik Kelas 1. Beberapa siswa memilih membawa buah belimbing yang masih muda, pelepah daun pisang serta batang pisang. Bahan pewarna untuk mencetak pun dipilih dari pewarna makanan agar aman digunakan para siswa.

“Ustadzah, saya membawa alat yang lengkap,” ujar Muhammad Faiz Asyarif (7 th) salah satu siswa kelas 1C dengan wajah penuh riang. “Kegiatan mencetak ini merupakan pembelajaran yang menyenangkan sebagaimana permainan yang menciptakan kreasi untuk memperoleh rasa kepuasan, memahami keindahan, serta melatih imaginasi para siswa,” ujar Ustadzah Siti Aminuriyah, S.Ag. selaku koordinator muatan mapel SBdP Kelas 1 pada Kurikulum 2013 ini.

Karya mencetak selesai dan ditempel di papan majalah dinding (Mading) kelas 1. Mading ini juga sebagai hadiah Milad SD Islam Terpadu Nur Hidayah Surakarta yang ke-19. Aku cinta SDIT eNHa menjadi tajuk background Mading kali ini. *(leli/emyu)

Nonton Bareng: Ajarkan Berqurban dan Beribadah Haji Sejak Dini

Senin (20/8) merupakan hari yang menggembirakan bagi siswa-siswi kelas 1 SD Islam Terpadu Nur Hidayah Surakarta. Pasalnya, hari ini mereka akan belajar sholat Idul Adha dan menonton film bersama.

Bel istirahat pertama telah berbunyi. Siswa-siswi kelas 1 secara bertahap keluar dari ruangan perpustakaan dengan rapi berdasarkan shafnya masing-masing. Mereka menikmati waktu istirahatnya dengan jajan ke kantin, bermain di teras, atau sekadar bercerita dengan teman di kelas. Tak terasa, 15 menit telah berlalu. Mereka kembali tertib di kelasnya masing-masing dan bersiap-siap menuju agenda selanjutnya.

Acara yang dinanti pun tiba. Bertempat di kelas 1D, tepat pukul 09.30 mereka mulai masuk. Pengondisian oleh Ustadzah Amy dibantu dengan ustadz/ah kelas 1. Para siswa merapatkan barisan, agar semua siswa bisa masuk dan duduk dengan nyaman.

“Tepuk anak sholih,” pandu Ustadzah Amy mengawali acara pada sesi kali ini. Dilanjutkan dengan menyanyikan lagu “Kasih Sayang” dengan nada lagu Sepatu Kuda, anak-anak mulai diarahkan untuk kembali tertib dan sholih menyimak cerita hari ini.

Untuk memotivasi para siswa agar segera tenang, ustadzah memulai lomba ketertiban dan membagikan voucher untuk siswa yang bersegera mensholihkan diri dan segera tertib. Beberapa siswa mendapatkan voucher, dan kondisi mulai kondusif untuk melanjutkan acara.

Selama film diputar, para siswa serius menyimak cerita dan sedikit yang berbicara. Suara kipas angin yang berputar pun mulai terdengar. Selesai satu film diputar, mereka akan ditanya tentang isi film. Bagi mereka yang serius menyimak dan memperhatikan, akan berpeluang mendapatkan kesempatan menjawab lebih cepat.

“Siapa saja tokoh dalam cerita tadi?” tanya Ustadzah Nuri membuka pertanyaan awal. Ananda Vely (1C) menjawab penuh semangat, “Ismail, Ibrahim, Siti hajar .” “Saat kehausan, Siti Hajar mencari-cari air ke sana kemari. Lalu keluar air di bawah kaki Ismail. Zam zam zam zam. Apa arti zam-zam?” lanjut Ustadzah Nuri memberikan pertanyaan.
“Berkumpul,” jawab para siswa serentak.

“Kalau kita memperhatikan dan menyimak cerita dengan sungguh-sungguh, maka banyak ilmu yang bisa kita dapatkan. Buktinya aku bisa menjawab 2 pertanyaan hari ini ini,” ungkap Ayash, salah satu siswa kela 1A dengan bangga dan bahagia menunjukkan 2 lembar voucher di tangannya.

Berlanjut pemutaran film yang mengenalkan kepada anak-anak tentang ibadah haji dan urut-urutannya. Mereka kembali menyimak dengan perhatian penuh. Kali ini juga dengan harapan mampu menjawab pertanyaan dari ustadz/ah.

“Moment Idul Adha merupakan waktu yang tepat untuk memperkenalkan sejarah ibadah qurban dan ibadah haji yang merupakan salah satu rukun islam. Dengan demikian, diharapkan siswa memiliki semangat berqurban dan beribadah haji ke tanah suci sejak dini,” terang Ustadzah Nuri mengakhiri acara hari itu. *(Lasti/Emyu)

Segarkan Fisik dan Fikir Guru dengan Refreshing

Pagi ini, Sabtu ( 18/08) cuaca cukup dingin. Namun tidak menyurutkan langkah guru karyawan SD Islam Terpadu Nur Hidayah Surakarta untuk bergegas ke sekolah. Sampai di sekolah, suasana tampak lengang dan sepi karena hari semua siswa libur. Para guru pun bercengkerama di depan kantor TU sambil menunggu acara pembukaan dimulai.

Tepat pukul 07.30 acara pembukaan pun dimulai. Para guru berbaris sesuai pararel masing-masing di aula lantai 1 gedung timur. Pembukaan dipimpin oleh Ustadz Sunarto, S. Pd. dan sambutan diwakili oleh Ustadzah Muslikah, S.Pd.

Dalam sambutannya beliau menyampaikan, “Kegiatan ini sengaja dilakukan untuk melepas kepenatan, menyegarkan fikir dan fisik. Harapan dari kegiatan ini, para guru mendapatkan kembali kesegaran dan siap untuk melaksanakan tugas menyambut Lisensi JSIT Indonesia dan akreditasi sekolah.” Usai sambutan, ditutup dengan doa yang dipimpin oleh Ustadz Ali Mashudi.

Para guru pun bergerak ke Jalan Siwalan. Di sana sudah tersedia 2 bus untuk guru putri dan guru putra. Setelah semua guru masuk bus, bus pun melaju menuju ke Umbul Asri, Klaten.

Pukul 09.00 rombongan guru SD Islam Terpadu Nur Hidayah pun tiba di lokasi. Semua guru turun dari bus menuju tempat yang sudah dipesan sebelumnya. Mereka meletakkan barang yang dibawa dan menikmati teh panas dan snack.

Usai menikmati snack, lomba tarik tambang pun dimulai. Lomba ini diadakan di sebelah kolam renang putra. Peserta lomba adalah pararel kelas dan karyawan. Setiap peserta yang mewakilkan 3 peserta untuk lomba ini. Lomba dimulai dengan babak penyisihan dan diakhiri dengan final.

Usai lomba tarik tambang adalah lomba estafet memindahkan kelereng dari sendok peserta satu ke peserta berikutnya sampai garis finish. Lomba ini pun diwakili oleh 3 orang tiap orang. Lomba dimulai dengan babak penyisihan dan diakhiri babak final.

Usai lomba, mayoritas guru berenang. Mereka berenang dengan penuh suka cita sampai pukul 11.30. Usai berenang dilanjutkan dengan pengumuman lomba, makan siang, dan sholat duhur berjamaah.
Usai sholat, rombongan guru kembali ke sekolah. Selamat bagi pararel yang berhasil meraih kemenangan! Tetap semangat bagi pararel yang belum meraihnya! Kebersamaan adalah yang utama. (nunuk/emyu)

Peduli Lombok, Kelas 5 dan 6 Adakan Sholat Ghaib

Siang ini, Selasa( 7/8) siswa kelas 5 dan 6 melaksanakan sholat dhuhur berjamaah di masjid. Anak perempuan berada di lantai 3 dan anak laki-laki berada di lantai 2. Sebelum sholat dilaksanakan, ada pengarahan dari Ustad/Ustadzah agar mereka menempati shaf dari yang paling depan, merapat, dan lurus.

Usai adzan dikumandangkan, seperti biasa para jamaah sholat dzuhur, baik guru maupun para siswa melaksanakan sholat sunnah rowatib qobliyah dzuhur terlebih dahulu. Usai sholat sunnah, para jamaah menunggu iqomah dengan dzikir dan berdoa karena waktu antara adzan dan iqomah adalah waktu yang sangat makbul dan baik untuk berdoa.

Beberapa saat kemudian iqomah dikumandangkan. Para jamaah sholat dzuhur berdiri dan merapatkan shaf sholat. Sebelum sholat dimulai, Ustadz Mulyadi selaku imam sholat dhuhur siang ini menyampaikan informasi bahwa usai sholat dhuhur, kita akan melaksanakan sholat ghoib. Dalam penjelasannya beliau menyampaikan, “Tujuan diadakan sholat ghoib ini untuk mendoakan para korban gempa yang terjadi di Lombok. Selain itu, dengan melaksanakan sholat ini melatih kalian untuk peduli dan menumbuhkan rasa empati kepada saudara kita yang sedang tertimpa musibah gempa.”

Usai menjelaskan maksud dan tujuannya, sholat ghoib pun dimulai. Para guru dan siswa melaksanakan sholat ghoib itu dengan khusyuk. Sholat ghaib dilaksanakan 1 rakaat 4 takbirotul ikram dan salam dalam posisi berdiri pun selesai dilaksanakan.

Para guru dan siswa pun melanjutkan dengan dzikir, berdoa, dan sholat sunnah rowatib bakdiyah duhur. Usai sholat sunnah, semua siswa kembali ke kelas masing-masing untuk melaksanakan mentoring bersama wali kelas masing-masing. *(nunuk/emyu)

Lombok, Engkau Memanggilku

Duka, kasihan, iba dan berbagai rasa kesedihan bercampur menjadi satu. Itulah yang dirasakan para guru dan siswa kelas 4 Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) Nur Hidayah Surakarta saat mendengar kabar terjadinya gempa bumi di Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB). Gempa yang terjadi pada hari Ahad, 5 Agustus 2018 merupakan gempa yang lebih besar dibandingkan gempa yang terjadi pekan sebelumnya. Kekuatannya mencapai 7 SR. Hingga Senin kemarin pun masih terjadi gempa-gempa susulan.

Tidak sedikit bangunan rumah, tempat ibadah, maupun fasilitas umum yang rusak, bahkan banyak pula yang rata dengan tanah. Musibah itupun merenggut puluhan korban jiwa. Ribuan warga harus mengungsi ke tempat yang aman. Kondisi inilah yang memanggil kepedulian, doa, maupun bantuan anak bangsa.

Sebagai wujud rasa duka dan empati kepada saudara-saudara di Lombok, para siswa kelas 4 SDIT Nur Hidayah pada hari Selasa (7/8) kemarin menggelar sholat ghaib dan doa bersama.

“Anak-anak, saat ini di Lombok, NTB korban bencana alam gempa bumi telah mencapai lebih dari 86 jiwa. Maka dari itu sebagai bentuk empati dan rasa persaudaraan kita sebagai sesama muslim dan manusia, nanti akan kita laksanakan sholat ghoib ba’da sholat dhuha. Serta ustadz ingatkan bagi anak-anak yang mau berinfak bagi para korban masih ustadz dan ustadzah tunggu,” kata Ustadz Darussalam, sebagai koordinator ibadah di kelas 4.

Ustadz Darus juga menambahkan, “Allah itu maha Kuasa atas segala sesuatu. Allah telah berfirman dalam Al-Qur’an surat Al-An’am ayat 65.
“Katakanlah (Wahai Muhammad) : “Dia (Allah) Maha Berkuasa untuk mengirimkan adzab kepada kalian, dari atas kalian atau dari bawah kaki kalian”. Maka dari itu dengan adanya musibah yang tengah menimpa saudara-saudara yang ada di NTB saat ini. Kita sebagai umat Islam harus bisa mengambil hikmah bahwa kematian adalah kekuasaan Allah yang datang tiba-tiba sekehendak Allah. Tugas kita adalah mempersiapkan kematian dengan cara selalu mengisi setiap waktu di dalam kehidupan ini dengan ketaatan kepada Allah. Sehingga saat berjumpa dengan kematian kelak dalam keadaan _khusnul khotimah. Aamiin. ”

“Aamiin Ya Rabbal’alamiin,” sahut para siswa dengan penuh harap. Tepat pukul 07.30 WIB seluruh siswa kelas 4 pun melaksanakan sholat dhuha dilanjutkan sholat ghoib. Mereka terlihat khusyuk dalam mengerjakan sholat ghoib tersebut.

Fakhri Maulana Arkham (4B) merasa terkesan dengan kegiatan sholat ghoib ini, “Aku senang bisa ikut mendoakan saudara-saudara kita yang menjadi korban gempa, semoga mereka sabar, aku juga sudah berinfaq untuk membantu mereka. ” Kegiatan pun ditutup dengan berdoa. Mendoakan semua korban gempa baik yang meninggal maupun terluka. *(mimin_fathoni/emyu)

Budayakan Cuci Tangan melalui Dongeng, Bernyanyi, dan Praktik

Kelas 1
Sholih
Cerdas
Hebat
Semangat
Oke…!

Yel-yel penyemangat di pagi hari menambah suasana Selasa (07/08) menjadi lebih semangat.
Hari ini menjadi hari yang berbeda daril biasanya. Kegiatan pagi diawali dengan berbaris, tahfidz pagi, dan literasi. Usai kegiatan pagi hari yang sarat akan semangat dan motivasi, siswa-siswi kelas 1 Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) Nur Hidayah Surakarta mempersiapkan pembelajaran Tematik.

Ningrum Hasanah, S.Pd selaku pengampu pembelajaran tematik mengawali kegiatan pembelajaran denga berkisah tokoh Siti, Edo, Lani, Dayu, Udin, danBeni. Siti membawa makanan oleh-oleh dari orangtuanya. Siti ingin berbagi kepada temantemannya. Edo pun ikut makan oleh-oleh yang dibawa Siti. Sebelum makan semua mencuci tangan terlebih dahulu. Kecuali Edo yang belum mau cuci tangan. Meski sudah diingatkan tetapi Edo tidak memperhatikan ajakan teman-temannya. “Singkat cerita Edo tertidur dan bermimpi bertemu dengan tangan yang penuh kuman. Edo merasa kaget dan takut. Saat terbangun ternyata Edo masih bersama teman-temannya. Ternyata ia tertidur karena kekenyangan,” Bu Ningrum mengakhiri ceritanya.

Cerita tentang Edo dan teman-temannya ini begitu menarik perhatian siswa-siswi kelas 1. Kegiatan dilanjutkan dengan menyanyikan lagu Urutan Mencuci Tangan dengan nada lagu “Ampar ampar pisang”.

Ayo kawan kawan
Kita mencuci tangan
Gosok telapak tangan
Gosok punggung tangan
Gosok jari jari
Kaitkan jari jemari
Gosok ibu jari dan gosok ujung jari

Para siswa tampak bersemangat bernyanyi dan mengikuti gerakan yang dicontohkan. “Ustadzah, Aku sudah bisa lagu dan gerakannya!” seru Azka Ali Muafa (6) salah satu siswa kelas 1D dengan penuh semangat. Kegiatan berlanjut dengan memraktekkan urutan mencuci tangan. Semua siswa tampak begitu antusias.

Waka Humas SDIT Nur Hidayah Surakarta, Rahmat Hariyadi, menyampaikan, “Kreativitas guru dalam pembelajar mengenalkan dan memahamkan pengerahuan maupun sikap melalui bercerita, bernyanyi, dan praktik langsung semakin memudahkan dan menggembirakan siswa dalam menguasai materi. Menjadi penguat karakter hidup bersih dan sehat menuju masyarakat Indonesia yang lebih sehat dan kuat.”