WhatsApp Image 2018-07-10 at 13.45.26

Mengulik Asa Siswa dari Buah Harapan

Mengawali dengan senyum ceria di hari kedua masuk sekolah menjadi semangat tersendiri untuk siswa-siswi kelas 3 paralel. Setelah kemarin melebur rasa kangen bersama teman-teman, kini saatnya bergerak menjejak kaki di tingkat yang lebih tinggi.

Hari ini (Selasa, 10/7), seperti biasanya kegiatan dimulai dengan berbaris di depan kelas bersama Ustadz dan Ustadzah yang tak kalah semangat. Rangkaian dilanjutkan doa dan murojaah di kelas masing-masing. Salat dhuha menjadi bentuk mengungkapkan rasa syukur.

Hari menjadi lebih istimewa dengan senam ceria. Dipandu oleh Ustadz Dwi Agus selaku guru olah raga, para siswa mengikuti instruksi dengan antusias. Kegiatan kesegaran jasmani ini juga bisa mengeratkan hubungan antara siswa dengan guru, maupun antarsiswa. Salah satunya adalah dengan gerakan saling memijat pundak.

Kelas 3 merupakan kelas transisi. Sebelumnya ketika masih di kelas 2, para siswa pulang jam 14.00. Sementara nanti di jenjang ini, anak-anak akan mulai pulang jam 15.30. Tak hanya itu, tanggung jawab siswa siswi pun bertambah. Dari sini setiap anak pastilah punya harapan yang ingin dicapai di kelas 3 ini. Alasan ini pula yang menjadi dasar mengajak mereka menuangkan setiap asa dalam tulisan, yakni Buah Harapan.

Setiap anak menuliskan harapannya pada selembar kertas karton putih. Anak-anak membentuk kertas itu menjadi berbagai buah seperti nanas, apel, stroberi, atau mangga, lalu mewarnainya. Buah Harapan ini nantinya menjadi target bagi masing-masing siswa.

“Di kelas 3 ini aku ingin bisa main bola dengan bagus,” ungkap Muhammad Luqman, salah satu siswa kelas 3. Sementara siswa lainnya, Beauty Khanza Sangpa Rafa Maritza (9), yang biasa disapa Khanza menuliskan, “Banyak tadi yang aku tulis. Salah satunya, aku ingin belajar lebih jujur di kelas 3 ini. Apalagi sudah punya dua adik kelas.”

Tak hanya sampai di menulis harapan, paralel kelas 3 juga menyosialisasikan tata tertib beserta sanksinya. “Kami membuatkan tata tertib sederhana dengan konsekuensi yang tidak berat namun akan menjadi pelajaran tersendiri bagi para siswa,” papar Ustadzah Pipit Anugraheni, S.Pd di sela kesibukannya.

Para guru paralel kelas 3 meyakini bahwa anak-anak sedang berada dalam tahap perubahan. Hal itu tidak hanya terkait dengan pembelajaran, tapi juga pembiasaan. Karena itu, ketelatenan dan kerjasama sangat dibutuhkan dalam membimbing para siswa di masa transisi ini. *(indah/emyu)

Komentar Facebook
0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *