WhatsApp Image 2018-08-01 at 07.33.27

Persembahan Untuk JSIT Indonesia Tercinta

Pagi yang berbeda. Selasa (31/07) sejumlah 132 siswa kelas 2 Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) Nur Hidayah Surakarta melaksanakan doa pagi di lapangan sekolah. Suasana syahdu untuk memulai hari. Ditambah manakala lisan para siswa memurojaah surat Al-Muthoffifin sampai surat Al-Buruuj dengan penuh semangat dan tartil. Hari ini bertepatan dengan Milad ke-15 Jaringan Sekolah Islam Terpadu (JSIT) Indonesia, para siswa kelas 2 SDIT Nur Hidayah mengadakan aksi yang bertajuk Persembahan Untuk JSIT Indonesia Tercinta.

Selesai tahfidz pagi, Ustadzah Ari Puspitowati, S.Pd, M.Pd selaku pengurus Badan Pelaksana Harian (BPH) Bidang Pendidikan Yayasan Nur Hidayah Surakarta memberikan sambutan, “Lima belas tahun yang lalu sekelompok para ustadz ustadzah yang peduli pendidikan mendirikan sebuah lembaga yang diberi nama Jaringan Sekolah Islam Terpadu (JSIT) Indonesia. JSIT adalah kumpulan Sekolah Islam Terpadu yang ada di Indonesia. Kalau pada awalnya hanya berjumlah tidak lebih dari 10 Sekolah Islam Terpadu, tapi sekarang sudah tersebar se-Indonesia, dari tingkat Pendidikan Anak Usia Dini Islam Terpadu (PAUDIT), Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT), Sekolah Menengah Pertama Islam Terpadu (SMPIT) dan Sekolah Menengah Atas Islam Terpadu (SMAIT). Jadi kita punya banyak saudara yang sama-sama bersekolah di Sekolah Islam Terpadu”.

Rangkaian acara berikutnya yang menarik  adalah pembacaan puisi oleh Ustadzah Reni Agustin P., S.Pd dengan judul “Persembahan untuk JSIT Tercinta” dan  formasi barisan siswa yang membentuk rangkaian kata JSIT ke-15. Acara ini dilengkapi dengan kegiatan yang terkait literasi yakni para siswa membuat ungkapan, menghias dan menempelkan lembar kertas yang berisi harapan dan do’a untuk JSIT Indonesia.

Anindita Putriandani F (7th), salah satu siswa kelas 2C mengungkapkan, ” Alhamdulillah sekarang aku tahu apa itu JSIT. Ternyata banyak Sekolah Islam Terpadu di Indonesia, ya.” Adapun Ustadzah Eni Hestuti, S.S., S.Pd menuturkan, “Kegiatan ini selain untuk memperkenalkan para siswa kelas 2 tentang JSIT, melatih keterampilan literasi mereka dan juga mangayubagyo Milad JSIT Indonesia ke-15.” *(yan/emyu)

WhatsApp Image 2018-07-31 at 07.54.04

Bersinergi Bersama dalam SOMG Kelas 1

Sabtu (28/07) siang pukul 12.30 beberapa orang tua serta wali murid Kelas 1 Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) Nur Hidayah Surakarta mulai berdatangan. Tampak ayah, ibu, dan beberapa eyang hadir di acara SOMG kelas 1 yang diadakan sekali dalam satu semester. Kali ini kegiatan SOMG kelas 1 bertempat di aula lantai 3 Gedung Barat SDIT Nur Hidayah.

Lantunan kalam ilahi yang dibawakan oleh Ustadzah Lasti Hasanah, S.Pd mengawali kegiatan SOMG Kelas 1. Ustadz Sugeng Sugiharto,S.Ag selaku Koordinator Paralel Kelas 1 menyampaikan beberapa hal tentang informasi sekolah. Ragam informasi khususnya tentang pendampingan orang tua di kelas 1 yang harus bersinergi dengan sekolah menjadi hal penting yang beliau sampaikan. “Program Kelas paralel kelas 1 pun menjadi hal yang perlu diketahui orangtua serta wali murid sebagai bagian bersinergi bersama,” paparnya.

Ustadz Rahmat Haryadi, S.Pd selaku Wakil Kepala Sekolah Bidang Kehumasan memberikan sambutan mewakili Kepala Sekolah SDIT Nur Hidayah dengan menyampaikan beberapa hal yang terkait dengan program Kehumasan salah satunya adanya Paguyuban Orangtua Murid dan Guru(POMG) di setiap kelas dan Bina Pribadi Islami (BPI) untuk orang tua. Juga program program Pembiasaan Ibadah dan Adab Islami menjadi salah satu penunjang Penguatan Pendidikan Karakter (PPK). “Program ini akan menjadi sinergi bersama antara rumah dan sekolah,” tuturnya.

SDIT Nur Hidayah Surakarta tahun pelajaran ini 2018/2019 menjadi Sekolah yang melaksanakan Kurikulum 2013 di semua jenjang dari kelas 1-6. Hal ini disampaikan Ustadzah Muslimah,S.Pd selaku wakil kepala sekolah bidang kurikulum saat menyampaikan beberapa informasi sekolah terkait dengan kurikulum.

Ibu dr. Rifka Aini (Orang tua Ananda Askana Sakha kelas 1C) menyampaikan, “SOMG adalah program yang penting karena sebagai tempat penyampaian informasi berkaitan KBM di sekolah, penampungan saran dan masukan orangtua ke sekolah, serta penyamaan persepsi pendidikan antara ortu dan sekolah.”

Sampai jelang waktu asar, Ustadzah Siti Aminuriyah,S.Ag,S.Pd selaku pembawa acara menutup kegiatan SOMG kali ini dengan pembentukan pengurus POMG di tiap kelas. Semoga dengan terbentuknya POMG di tiap kelas menjadi wadah Orangtua untuk saling berkomunikasi dan berbagi wawasan dalam rangka bersinergi dengan sekolah. *(leli/emyu)

WhatsApp Image 2018-08-01 at 07.35.23

Menanamkan Karakter Disiplin dan Keberanian dengan Upacara

Kaki-kaki kecil itu mulai berbaris rapi di halaman gedung barat Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) Nur Hidayah Surakarta. Ya, pagi ini, Senin (30/7/2018) siswa siswi kelas 4 bersiap mengikuti upacara bendera. Riuh rendah suara mereka mulai mereda ketika salah seorang ustadz merapikan barisan mereka.

Upacara bendera hari ini diikuti oleh sekitar 140 siswa kelas 4 SDIT Nur Hidayah Surakarta. Petugas upacaranya adalah siswa-siswa kelas 4A. Guru yang menjadi pembina upacara adalah Ustadz Bekti Riyanto, S. Si, M.Pi selaku wali kelas 4A. Tampak beberapa wajah agak tegang tersirat pada wajah siswa, terutama petugas upacara.

Satu demi satu tata upacara bendera telah berlalu. Tibalah saatnya amanat pembina upacara. Ustadz Bekti menyampaikan tentang pentingnya melatih kedisiplinan sejak dini, termasuk disiplin dalam belajar. “Orang yang terbiasa disiplin akan mendapatkan kesuksesan, termasuk orang yang disiplin dalam belajar.” Ustadz Bekti juga menukilkan salah satu kalimat hikmah dari Imam asy Syafii, “Barang siapa yang tidak kuat dalam menahan lelahnya belajar maka kelak ia harus kuat menahan perihnya kebodohan. ”

Pukul 07.45 upacara bendera pun usai. Guru dan siswa kelas 4 kembali ke kelas masing-masing, bersiap untuk kegiatan pembelajaran jam pertama. Wajah-wajah siswa yang bertugas yang semula terlihat tegang sudah bisa tersenyum lagi.

“Tadinya aku deg-deg an sekali, tegang, takut kalau salah, tapi setelah selesai sekarang Aku merasa senang karena upacara berlangsung dengan baik dan aku bisa menjalankan tugasku dengan baik,” kata Umar Marwan Baraja, salah satu siswa kelas 4A yang diamanahi menjadi pemimpin upacara.
“Aku juga tegang menjadi petugas upacara karena berada di depan orang banyak,” sambung Lingga. “Kalau aku merasa senang karena bisa menyiapkan barisan,” kata Hafidz Praba.

Hari ini selain kedisiplinan, mereka juga belajar tentang keberanian. Terutama bagi para siswa yang bertugas. Mereka telah berhasil mengalahkan rasa takut dan ragu yang sempat mereka rasakan. *(wulan-mimin/emyu)

WhatsApp Image 2018-07-30 at 13.39.33

Kokohkan Sinergi Orang Tua Siswa Kelas 6 Melalui SOMG

Hari ini, Sabtu (28/07) team guru paralel kelas 6 Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) Nur Hidayah Surakarta mengadakan SOMG Awal Semester 1 Tahun Pelajaran 2018/2019. Usai melaksanakan sholat dhuhur berjamaah, para guru kelas 6 sudah langsung bersiap untuk menyambut wali murid yang hadir pada acara tersebut. Kemacetan ruas jalan depan sekolah tidak membuat para wali murid kendor semangatnya untuk hadir di acara ini.

Ustadz Inoki Wasis Jatmiko selaku pembawa acara, sebelumnya memperkirakan yang hadir hanya sedikit, namun tidak disangka ternyata kehadiran wali murid kelas 6 tahun ini hampir mencapai 100 persen, sampai meluber keluar dari tempat yang telah disediakan.

Acara diawali dengan pembukaan lalu dilanjutkan dengan tilawah Al-Quran oleh Ustadz Muhammad Ihsan. Berikutnya sambutan Kepala Sekolah yang disampaikan dan diwakili oleh Waka Kurikulum, Ustadzah Muslikah, S.Pd. Dalam sambutannya beliau menyampaikan, “Kami berharap kerjasama bapak ibu sekalian dalam menyukseskan program-program di kelas 6. Semoga Angkatan XVI meraih hasil yang terbaik dalam bidang Akademik dan non akademik.”

Suasana semakin semarak penuh semangat disaat Ustadz Husni Malik, SP, S.Pd menyampaikan sambutannya. “Bapak ibu tahun ini dengan motto kita asyik… tangguh… taqwa… juara… semua berharap anak-anak kita nanti keluar sebagai sang juara yang bertaqwa. Kita semua harus optimis bahwa kelak anak-anak kita bisa menjadi lulusan terbaik, besar harapan kami kepada panjenengan semua untuk bersinergi dalam mengontrol dan membimbing anak agar mampu meraih hasil yang maksimal”.

Koordinator paralel kelas 6, Ustadz Yuyun Yuniangsih, S.Pd berikutnya menyampaikan program/kegiatan kelas selama 2 semester kedepan. Beliau menyampaikannya dengan detail dan terperinci sehingga saat diberi waktu untuk bertanya, tidak ada satupun wali murid yang mengangkat tangan untuk bertanya dan itu. Indikasi wali murid sudah memahami tujuan mulia bersama.

Acara SOMG kelas 6 ini ditutup dengan laporan oleh Pengurus POMG Paralel yang disampaikan oleh Ibu Fitria Novita dan Ibu Vitradesie Noekent. *(ihsan/emyu)

WhatsApp Image 2018-07-30 at 13.39.56

Bentuk Siswa Berkarakter, SDIT Bekali Mentor

Pagi ini, Sabtu (28/07) tampak cerah. Sinar sang surya yang hangat, menumbuhkan semangat setiap insan untuk beraktivitas. Tak terkecuali, guru-guru Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) Nur Hidayah Surakarta. Tampak diantara mereka, guru kelas 4-6 yang diamanahi sebagai pementor, bergegas menuju sekolah untuk mengikuti pembinaan yang diselenggarakan oleh Waka Kesiswaan. Pembinaan kali ini lain dari biasanya karena bertempat di Omah Jawi, Kerten, Laweyan, Surakarta.

Pukul 07.30 para pementor pun menuju ke Omah Jawi, yang letaknya tidak terlalu jauh dari sekolah. Di sana sudah disambut oleh Ustadzah Endah, Ustadzab Dhani, dan Ustadzah Ami selaku panitia pembinaan kali ini. Acara pun dimulai dengan sambutan Ustadzah Muslikah selaku Waka Kurikulum.

Dalam sambutannya beliau menyampaikan, “Guru yang terpilih menjadi pementor halaqoh kelas 4 – 6 adalah guru yang mendapatkan takdir terbaik. Artinya pementor mendapatkan amanah selain sebagai guru juga sebagai orang yang diberi tanggung jawab untuk mendidik dan membimbing anak-anak secara intensif dalam kelompok kecil.”

Usai sambutan oleh Waka Kurikulum, acara berikutnya adalah penyampaian seluk beluk mentoring oleh Ustadzah Dhani selaku koordinator mentoring. Dalam penjelasannya beliau menyampaikan bahwa pertemuaan kali ini para mentor tiap kelas diminta untuk berdiskusi membahas materi yang sesuai dengan tingkatan pararelnya.

Diskusi pun dimulai. Diskusi dipimpin oleh koordinator masing – masing kelas. Setiap mentor mendapatkan tugas untuk menyusun materi yang sudah disepakati bersama. Kegiatan ini berlangsung hingga adzan dzuhur.

Adzan dzuhur pun berkumandang. Acara pembinaan pun selesai dan ditutup dengan makan siang. Usai makan siang, para pementor kembali ke sekolah untuk mendampingi anak-anak sholat dzuhur berjamaah. *(nunuk/emyu)

WhatsApp Image 2018-07-30 at 13.40.23

Nikmati Lotisan Pasca Tryout

Pagi ini (28/07) cuaca cukup cerah. Usai adanya fenomena alam tanda kebesaran Sang Pencipta, gerhana bulan dini hari tadi, pagi ini mentari tetap setia menyapa semesta. Pancaran sinarnya cukup mengurangi hawa dingin yang memang masih dirasa saat-saat ini.

Langkah-langkah pasti siswa-siswi kelas 6 Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) Nur Hidayah Surakarta seakan tak menghiraukan hawa dingin. Mereka bergegas memasuki gerbang sekolah sambil menggendong tas punggungnya sembari membawa tentengan wadah di tangan. Mengenakan seragam pramuka terlihat gagah dan anggun, mereka tampak sumringah dengan senyum mengembang.

Usai meletakkan sepatu di loker dan tas di kelas masing-masing, mereka menuju ke masjid untuk doa bersama, sholat dhuha, dan ma’tsurat. Usai mengikuti kegiatan majelis pagi, mereka kembali ke kelas masing-masing untuk mengikuti Try Out.

Koordinator Guru Paralel Kelas 6, Yuyun Yuningsih, S.Pd, menuturkan, “Setelah para siswa mengerjakan Soal Penjajakan untuk tiga mata pelajaran, IPA, Matematika, dan Bahasa Indonesia pada Sabtu pekan lalu, hari ini para siswa mengerjakan Try Out untuk ketiga mapel tersebut. Karena waktu serta mmateri baru sedikit, jumlah soal dibuat 10 pilgan dan 5 uraian untuk tiap-tiap mapel.”

Para siswa tampak serius mengerjakan soal try out ketiga mapel tersebut. Semuanya memanfaatkan kertas buram untuk menghitung hingga menemukan jawaban, sebelum menyalinnya di lembar jawab. Karena mereka memang tidak diperbolehkan membawa dan menggunakan alat hitung elektronik. Terlihat wajah bahagia tatkala mereka menemukan jawaban yang mereka cari.

Ahmad Najib Kaysan (11), salah satu siswa kelas 6B menuturkan, “Soalnya ada yang sulit, ada pula yang agak mudah. Alhamdulillah tadi dapat menyelesaikan semua soal. Mudah-mudahan nilainya bagus.” Usai mengerjakan try out tiga mapel, mereka istirahat sejenak.

Usai istirahat, mereka kembali ke kelas. Mereka menyiapkan bahan dan alat lotisan yang dibawa dari rumah. Ada beragam buah, sambal yang sudah siap santap, piring, wadah, pisau, dan lainnya. Usai semuanya siap mereka duduk melingkar untuk menikmati lotis bersama. Alif Rizki R (12), siswa kelas 6B lainnya mengatakan, “Asyik banget lotisan bareng teman-teman. Sulitnya soal terobati dengan segarnya buah dan pedasnya sambal.” Kegiatan hari ini diakhiri dengan sholat dzuhur berjamaah dan berdoa pulang di kelas masing-masing. *(ihsan/emyu)

WhatsApp Image 2018-07-27 at 12.54.08

Senangnya Membuat Baling-baling Sendiri

Pagi telah beranjak pergi, digantikan siang yang cukup terik. Terlihat siswa-siswi kelas 4 Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) Nur Hidayah Surakarta sedang asyik bermain. Bermain apa ya? Ternyata mereka sedang bermain baling-baling. Tapi bukan baling-baling bambu lho…!

Ya, Kamis (26/07) mereka bermain baling-kertas buatan sendiri. Mereka telah belajar membuat baling-baling dari kertas pada saat pembelajaran tematik muatan pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) bersama Ustadz Bekti Riyanto. Muatan pelajaran IPA merupakan program pendalaman materi. Walaupun muatan IPA ini sudah include pada pembelajaran tematik namun dari pihak kurikulum menyampaikan bahwa IPA perlu ditambahkan pada jam tersendiri.

Pembelajaran dimulai dengan mengenalkan cabang-cabang ilmu IPA yaitu Biologi, Fisika dan Kimia. Setelah itu, para siswa sedikit mengulangi kembali materi bunyi yang telah disinggung saat pembelajaran tematik.

Selanjutnya mereka berkreasi belajar membuat baling-baling dari kertas. Mereka menyimak dan mempraktikkan cara membuat baling-baling dari kertas dengan seksama. Pertama, alat dan bahan disiapkan yaitu gunting, kertas lipat, dan klip. Kedua, membuat pola sedemikian rupa sehingga membentuk baling-baling. Ketiga, pola dipotong dan dilipat. Terakhir bagian bawah diberi pemberat dan baling-baling siap diterjunkan

Mereka merasa senang karena mereka bisa membuat mainan sendiri. Cara membuatnya sederhana sehingga siswa mudah untuk membuatnya. Baling-baling ini dibuat menggunakan konsep gerak benda dan gaya.

“Hore aku bisa membuat mainan sendiri,” teriak Raditya senang. “Anak _ anak, mari kita belajar sambil bermain. Tahukah kalian mengapa baling-baling ini bisa meluncur dan berputar indah ke bawah?” tanya Ustadz Bekti. “Karena ada gaya gravitasi bumi ustadz,” jawab sebagian anak hampir serempak.

“Baling-baling bisa berputar karena ada tekanan udara ke atas. Benarkah demikian ustadz?” jawab sekaligus tanya Afnan sambil mengacungkan tangan. “Betul sekali anak-anak, kalian semua memang cerdas,” jawab Ustadz Bekti sambil mengacungkan ibu jarinya. *(bekti-mimin/emyu)

WhatsApp Image 2018-07-27 at 12.55.22

Perluas Cakrawala Pelajari Benua

Bel tanda masuk kelas telah berbunyi. Murid-murid kelas 6D Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) Nur Hidayah Surakarta tampak bergegas menuju ke kelas. Mereka baru saja memanfaatkan waktu istirahat untuk beli makanan minuman di kantin, bermain, buang hajat. Ada pula yang memanfaatkan waktu istirahat untuk berliterasi di perpustakaan sekolah.

Usai menyiapkan alat dan sumber belajar mereka duduk rapi. Di meja terlihat ada atlas, kertas asturo, spidol warna, dan buku paket tematik yang siap dipelajari. Ya, hari ini (25/07) mereka akan mengikuti pembelajaran tematik Tema 1 Selamatkan Makhluk Hidup dengan muatan pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial.

Tak Kenal Maka Tak Sayang, Pepatah itulah yang menjadi alasan mereka untuk membuka cakrawala dunia. Dunia yang luas dengan segala isi ciptaan Sang Maha Pencipta. Mengenal dunia lain yang bernama ASEAN. “Anak-anak, negara yang tergabung dalam ASEAN ternyata memiliki persamaan dan perbedaan. Seperti itulah yang Allah ciptakan kita berbangsa bangsa bersuku suku agar saling mengenal,” terang Ustadzah Dwi Haryanti di awal pembelajaran.

Mereka tampak asyik berdiskusi sembari mencari referensi baik dari buku tema maupun dari buku atlas. Mereka begitu senang saat menemukan apa yang mereka cari. Selanjutnya mereka menuliskan di secarik kertas astura dengan warna spidol yang beraga. Mereka temukan perbedaan maupun persamaan negara-negara yang ada di Benua Asia, khususnya Asia Tenggara yang tergabung dalam ASEAN.

Aisha Jasmine Muna (11), salah satu siswi kelas 6C menuturkan, “Seru, bisa menjelajah benua melalui atlas bersama teman-teman. Tambah banyak pengetahuan, khusuanya negara-negara di Asia Tenggara.”

Sementara Us Hary panggilan akrab Ustadzah Dwi Haryanti, di akhir pembelajaran menuturkan, “Pembelajaran dibuat berkelompok untuk melatih kerjasama. Karena sesungguhnya diantara negara-negara di Asia Tenggara juga melakukan kerjasama dalam berbagai bidang yang diwadahi dalam organisasi ASEAN.” *(hary/emyu)

WhatsApp Image 2018-07-26 at 14.06.48

Bunyi Ternyata Bisa Berjalan

Siang itu, Selasa (24/07/2018) cahaya matahari terasa panas, namun tak membuat surut siswa-siswi kelas 4A Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) Nur Hidayah Surakarta untuk mengikuti pembelajaran tematik Tema 1 “Indahnya Kebersamaan”. Mereka terlihat sangat antusias mengikuti kegiatan pembelajaran kali ini.

“Hari ini aku akan melakukan kegiatan praktek tentang sifat bunyi,” kata Muhammad Taqiyyudin Atsaqib,salah satu siswa kelas 4A. Selain Tsaqif terlihat pula beberapa temannya melakukan kegiatan praktek IPA. Muatan pelajaran IPA merupakan salah satu muatan pembelajaran yang ada pada pembelajaran tematik kurikulum 2013.

Ada siswa yang memegang selang. Ada yang membuat telepon mainan dengan gelas plastik dan benang. Ada juga yang sibuk mendengarkan suara pada mulut corong yang dimasukan ke dalam ember berisi air. “Wah aku suka belajar kayak gini, sungguh senang. Aku sekarang jadi tahu bahwa bunyi itu bisa berjalan melalui benda padat, gas, dan cair” ujarnya lagi.

“Aku juga tertarik dengan percobaan ini. Akhirnya aku jadi tahu bahwa bunyi tidak akan bisa sampai ke telinga kita tanpa adanya medium/zat perantara,” kata Hidayat Nur Aziz, sambil tersenyum puas. “Iya aku juga mengerti sekarang, bunyi paling cepat merambat melalui benda padat,” seru Hafidz Amanda Futuna, sambil mengacungkan tangan.

“Hari ini kita mengajak siswa untuk membuktikan salah satu sifat bunyi,” kata Ustadz Bekti Riyanto, M.Si., selaku pengampu pembelajaran tematik di kelas 4.
Begitulah suasana kegiatan dan pembelajaran tematik di kelas 4A. Setelah para siswa selesai melakukan percobaan, mereka segera menuliskan hasil percobaan yang dilakukan pada lembar kerja yang telah disediakan.

Di akhir pembelajaran, Ustadz Bekti Riyanto menyimpulkan, “Bunyi dapat merambat melalui medium benda padat, cair dan gas. Medium benda padat adalah media yang paling baik untuk perambatan bunyi. Bunyi yang merambat pada media benda padat paling cepat rambatannya jika dibandingkan dengan benda cair atau benda gas. Dan benda gas merupakan media paling lambat rambatan bunyinya.”

Pembelajaran siang itu lalu ditutup dengan sebuah nasehat, “Jadilah orang Islam yg kuat imtaq dan ipteknya, semoga kelak kalian akan menjadi penopang panji-panji Islam menuju kejayaan,” pungkas Ustadz Bekti mengakhiri pembelajaran. *(bekti-wulan/emyu)

WhatsApp Image 2018-07-27 at 12.55.04

Guru Kelas 3 dan 6 Ikuti Pelatihan Kurikulum 2013

Pagi ini cuaca cerah. Semburat fajar di ufuk timur menambah keindahan pagi ini. Tampak 9 orang guru Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) Nur Hidayah Surakarta, bergegas berangkat ke Hotel Indah Palace, Solo. Kesembilan orang tersebut terdiri dari 3 orang guru kelas 6 dan 3 guru kelas 3. Mereka diamanahi sekolah untuk mengikuti Pelatihan Kurikulum 2013 di Hotel Indah Palace, (Senin – Rabu, tanggal 23 – 25/07/2018) dari pukul 07.30-16.30.

“Pelatihan K-13 ini diselenggarakan oleh Dinas Pendidikan Kota Surakarta yang diikuti 112 guru kelas 3 dan 6 se-Surakarta baik sekolah negeri maupun swasta. Tujuan dari pelatihan ini untuk memberi bekal pengetahuan tentang pembelajaran yang menggunakan kurikulum K13. Dari pengetahuan yang dimiliki inilah, para guru bisa menerapkan K-13 di sekolahnya masing-masing,” tutur Ibu Rita Nirbaya selaku Kasi Kurikulum, Dinas Pendidikan Kota Surakarta dalam sambutannya di acara pembukaan Pelatihan K13.

Hari pertama pelatihan diisi oleh Ibu Rita Nirbaya tentang Kebijakan Kurikulum K-13. Dalam materi ini, guru kelas 3 dan 6 berada dalam satu ruangan. Para guru tampak serius memperhatikan penjelasan yang disampaikan oleh Ibu Rita. Dalam materi ini, beliau menyampaikan bahwa Kebijaksanaan K13 meliputi: Penguatan, Perubahan Cara Mengajar, Pembelajaran Abad 21, Gernas Baku, dan Penguatan Pembelajaran Karakter.

Pada sesi kedua, diisi oleh Ibu Titik Sayekti tentang seluk beluk Gernas Baku untuk orang tua yang dimulai pada tanggal 5 Mei 2018 dan pelaksanaan perbedaan Literasi pada kelas rendah dan tinggi. Sesi ketiga diisi oleh Bapak Priyono tentang Kurikulum K13 dan administrasi yang harus dibuat oleh guru kelas.

Hari kedua, pelatihan K-13 untuk guru kelas 3 dilakukan di Hotel Dana. Sedangkan guru kelas 6 tetap di Hotel Indah Palace. Pada hari kedua ini diisi tentang RPP dan Penilaian oleh Ibu Titik Sayekti. Dalam penjelasannya beliau, menyampaikan bahwa RPP K13 harus memuat: pembelajaran Abad 21, Literasi, PPK, dan Hots. Sedangkan dalam penilaian K13 beliau menjelaskan bahwa penilaian meliputi KI1-KI4 dengan bentuk angka, deskripsi, dan predikat. Penilaian dilakukan per Kompetensi Dasar dari materi yang diajarkan.

Hari ketiga, Ibu Titik Sayekti kembali menjadi narasumber. Dalam pertemuan ini beliau menjelaskan tentang USBN dan soal HOTSnya.
Berkaitan dengan hal tersebut, guru kelas memberi latihan soal hots mulai dari C2-C6. Harapannya agar, para siswa terbiasa dan bisa mengerjakan soal HOTS USBN. Pada sesi terakhir, praktik mengajar. Dalam praktik ini diwakili oleh 2 guru model. Usai praktik, kelompok pengamat beserta narasumber mengevaluasi dan memberi masukan dari pembelajaran yang sudah dilakukan.

Acara penutupan pun dimulai. Guru kelas 3 dan 6 berkumpul dalam satu ruang. Dalam sambutannya, Bapak Wahyono, dari Dinas Pendidikan Kota Surakarta menyampaikan bahwa pelatihan K-13 ini sebagai pemantik semangat guru kelas 3 dan 6 melaksanakan pembelajaran K13 di sekolah masing-masing. Usai sambutan, pembacaan doa penutup dan acara pelatihan pun selesai. Para peserta pelatihan bersalaman dengan narasumber dan panitia. Setelah itu, mereka pulang ke rumah masing-masing dengan segudang ilmu dan amanah yang siap ditunaikan di satuan pendidikan masing-masing. *(nunuk/emyu)