WhatsApp Image 2018-05-11 at 13.04.49

Ajarkan Kearifan Lokal dengan Membatik Jumputan

Mentari menyapa semesta penuh kehangatan. Sehangat semangat penghuninya untuk bergegas beraktivitas. Memuliakan semesta menunaikan kewajiban utama. Menjalankan aktivitas sesuai tugas mulia dan tanggung jawab masing-masing.

Tidak terkecuali dengan siswa-siswi kelas 5 Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) Nur Hidayah Surakarta. Berbaju muslim muslimah bercorak warna hijau muda. Menggendong tas sekolahnya mereka sumringah memasuki gerbang sekolah. Salam dan senyuwun tulus lahir dari bibir wajahnya. Sambutan dan jabat tangan dari guru piket menambah semangat untuk menunaikan aktivitas hari ini.

Usai merapikan alas kaki, mereka bergegas menuju ruang kelas masing-masing. Tak lama kemudian, bel tanda masuk berbunyi. Usai meletakkan tas di kelas, mereka segera ambil air wudhu, lalu menuju ke aula sekolah untuk mengikuti majelis pagi Jum’at Penuh Taqwa. Diawali dengan sholat Dhuha dan doa, dilanjutkan dengan wirid Ma’tsurat serta taushiyah dari guru kelas.

Selanjutnya mereka kembali masuk kelas untuk mengikuti pembelajaran. Ya, hari ini (11/04) siswa kelas 5B akan praktik membuat batik jumputan, yang merupakan bagian dari pembelajaran tematik muatan pelajaran Seni Budaya dan Prakarya (SBdP). Wahyudi Nugroho, S.Si, S.Pd, guru tematik kelas 5B menuturkan, “Tujuan pembelajaran praktik ini supaya para siswa lebih dekat dengan kekayaan dan kearifan lokal. Solo dikenal dengan sentra batik, para siswa harus ditumbuhkan kecintaan dan kelestarian, salah satunya dengan praktik membatik. Selain tentunya melatih ketelitian dan keterampilan siswa.”

Salah satu siswa kelas 5B, Ihya Akmal Karim (11) usai praktik menjelaskan langkah-langkahnya, “Pertama siapkan semua bahan, kain mori ukuran 35×30 cm, kelereng, karet gelang, pewarna kain, asam cuka, air, dan ember. Kedua, membuat pola dengan cara kain diikat dengan karet yang di dalamnya ada kelereng. Kait yang diikat tadi dimasukkan ke dalam campuran air dan cuka. Lalu dimasukkan ke dalam cairan warna. Lalu diangkat dan dibiarkan beberapa waktu.” Sementara siswa lainnya, Muhammad Najib Faqih (11) menuturkan, _”Senang dapat membatik bersama-sama teman, dan pingin lagi membuat di rumah.”
(yudi/emyu)

Komentar Facebook
0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *