WhatsApp Image 2018-04-12 at 13.54.40

Kelas 3 SDIT Nur Hidayah Nulis Aksara Jawa Bebarengan

“Allah tidak mengutus seseorang nabi melainkan dengan menggunakan bahasa kaumnya.” (HR. Abu Dzar ra.)

Dewasa ini ramai dibincangkan masyarakat bahwa kebudayaan tidak bisa berbaur dengan agama. Sebenarnya tidaklah sekaku demikian, sebuah keindahan mampu berpadu dengan kebenaran hakiki yakni agama.

Sebagai sekolah yang berada di pusat kebudayaan, Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) Nur Hidayah Surakarta selalu berupaya untuk mengenalkan dan mendekatkan para siswa dengan kebudayaan tersebut. Itulah yang dilaksanakan siswa-siswi kelas 3 SDIT Nur Hidayah pagi ini (Kamis,12/4/18). Selepas membuka hari dengan berbaris, berdoa, dan menghafal Al-Quran, para siswa mempersiapkan diri untuk mengikuti pembelajaran jam pertama. Namun kali ini terasa berbeda. Kelas-kelas kosong, sedangkan para siswa berkumpul di aula untuk menulis aksara jawa bersama.

Sepatu ditata rapi sedemikian rupa. Tembang “Kupu Kuwi” sayup-sayup terdengar dari aula gedung sekolah yang berlokasi di Jalan Pisang No. 12 Kerten. Dengan penuh semangat, kertas dan spidol tersaji di depan masing-masing siswa.

Acara bertajuk “Nulis Aksara Jawa Bebarengan” ini melibatkan 142 siswa di jenjang paralel kelas 3. Meski sederhana, kegiatan yang berlangsung dua jam pelajaran ini memberikan pengalaman baru bagi setiap peserta didik.

“Saya mendapat kata ‘gara gara rama’. Awalnya saya kira menulis aksara jawa itu susah, ternyata alhamdulillah mudah,” ungkap Syifa’ Luthfiyatul Husna (9) siswa kelas 3A. Sementara siswa kelas 3D, Alif Maulana Afaffathir (9) merasakan pelajaran Bahasa Jawa menjadi menyenangkan, “Jadi senang karena Bahasa Jawa juga bisa menulis bersama. Tulisanku tadi cepat selesai karena sudah berlatih di rumah.”

Indah Sri Rahayu, S.S, salah satu guru kelas 3 memaparkan, “Kegiatan menulis aksara jawa ini menjadi salah satu cara untuk mengenalkan bahasa jawa sebagai hasil kebudayaan di tengah gempuran kebudayaan asing. Apalagi sekarang generasi kita sudah jarang menggunakan bahasa daerah sebagai bahasa ibunya. Karena itu, diharapkan pengemasan pelajaran bahasa jawa dengan menyenangkan ini bisa membuat anak-anak semangat mempelajari budaya sendiri.”

Ditemui terpisah, Koordinator Guru Paralel Kelas 3, Syarifatul Istiqomah, S.Pd menyampaikan “Ya, sekolah kami sangat mendukung setiap kegiatan sekolah yang positif dan memberikan sumbangan pengetahuan kepada para siswa. Terlebih ini berkaitan dengan bahasa daerah yang merupakan materi muatan lokal bagi semua sekolah di Surakarta khususnya, Jawa Tengah umumnya.” *(indah/emyu)

Komentar Facebook
0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *