WhatsApp Image 2018-05-02 at 17.09.29

Kelas 6 SDIT Nur Hidayah Gelar Doa Bersama Sambut USBN

Sinar mentari yang hangat mulai menyapa insan mulia, makhluk Allah paling sempurna. Tampak berbeda dengan hari biasanya. Hari ini ( Sabtu, 28/04/2018) siswa-siswi kelas 6 Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) Nur Hidayah Surakarta datang ke sekolah dengan kostum serba putih. Anak perempuan dengan gamis dan jilbab putih tampak anggun dan cantik. Sedangkan anak laki-laki dengan baju koko warna putih tampak tampan dan bersahaja. Ya, mereka akan melaksanakan doa bersama dan sungkem mohon doa restu kepada orang tua mereka di Nur Hidayah Convention Center (NHCC).

Seperti biasanya, sebelum acara inti dimulai anak-anak melaksanakan aktivitas pagi, yaitu sholat dhuha, tilawah QS Al-Kahfi dan doa dhuha bersama di masjid sekolah. Setelah aktivitas pagi ini selesai, mereka secara berkelompok memasuki kelas-kelas yang sudah ditentukan untuk berbagi atau bersedekah kepada adik kelas 1-5. Selain untuk berbagi, tujuan utama dari kegiatan ini adalah meminta doa restu dari Ustad/Ustadzah dan adik-adik kelas agar saat ujian nanti mereka mendapatkan kemudahan dan petunjuk dari Allah. Kegiatan ini diakhiri dengan membagikan bingkisan baik berupa makanan, minuman, maupun barang kepada adik kelas dan wali kelasnya.

Usai berbagi sedekah, mereka bergegas ke NHCC. Di sana mereka bersama orang tua menyimak tausiyah dari Ustad Hanifullah Sukri.
Dalam tausiyahnya, beliau menuturkan, “Allah akan meninggikan derajat manusia yang beriman dan berilmu. Oleh karena itu, anak-anak diimbau untuk mempersiapkan ujian dengan baik, berdoa dengan sungguh-sungguh, dan menghentikan kegiatan yang bisa mengganggu konsentrasi belajar.” Selain itu, beliau meminta kepada para orang tua agar senantiasa memotivasi, mendampingi belajar, dan mendoakan anak-anak mereka.

Usai menyimak tausiyah, mereka melakukan sungkem kepada ayah atau ibu mereka untuk meminta maaf atas segala kekhilafan dan mohon doa restu agar ujian nanti diberi kemudahan dan kesuksesan. Isak tangis haru, derai air mata seakan tak terbendung. Saat mereka sungkem kepada ayah/bundanya. Dekapan erat penuh kasih sayang seakan menandakan keridhoan orang tua. Semakin mengharu biru suasana penuh kehangatan siang itu.

Penanggung jawab kegiatan ini, Husni Malik, S.P., S.Pd. menuturkan “Alhamdulillah acara ini berjalan dengan lancar dan sukses. Sekitar 97 persen, orang tua bisa hadir dan bisa mengikuti acara ini dengan baik. Semoga doa bersama kali ini bisa mengantarkan anak-anak menjadi yang terbaik dan sukses menghadapi USBN Mei mendatang.” *(nunuk/emyu)

WhatsApp Image 2018-05-02 at 16.35.56

SDIT Nur Hidayah Gelar Khataman Quran dan MABIT Sukses USBN

Malam ini cuaca cukup cerah. Sinar mentari sudah kembali ke peraduannya. Tampak bintang bersinar menambah keindahan malam ini. Para Ustadz guru dan karyawan putra Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) Nur Hidayah Surakarta mulai meninggalkan rumah mereka menembus kegelapan malam menuju ke sekolah. Ya, malam ini (27/04) mereka akan mengikuti kegiatan Khataman Al-Qur’an dan Malam Bina Iman & Taqwa (MABIT).

Kumandang adzan Isya mengalun merdu. Beberapa guru karyawan tampak berdatangan setelah mereka menata rapi kendaraannya di tempat parkir. Setelah mengisi daftar hadir dan merapikan alas kaki mereka bergegas menuju ke masjid untuk menunaikan sholat Isya berjamaah. Selanjutnya mereka menuju aula gedung timur untuk tilawah bersama-sama sesuai pembagian juz saat mereka mengisi daftar hadir.

Alunan merdu ayat-ayat penuh cinta dari Al-Kholiq kepada hamba-hamba-Nya yang dilisankan oleh para guru karyawan, seakan menambah kekhusyukan malam itu. Limpahan keberkahan diharap memberikan ketentraman warga sekolah. Tentunya juga ketenangan bagi tunas bangsa yang akan menjalani jihad prestasi mulia. Khataman Al-Qur’an diakhiri dengan pembacaan doa yang dipimpin oleh Ustadz Ali Masyhudi Al-Hafidz.

Usai sambutan Kepala Sekolah dan Ketua BPH Bidang Pendidikan YNH, peserta mengikuti acara inti taushiyah. Dalam tausiyahnya, Ustadz Tri Bimo Soewarno, Lc. menuturkan, “Hakikat ikhtiyar dimulai dari membangun sebuah mimpi. Kemudian dibuatlah sebuah perencanaan yang matang dan dijalankan secara maksimal. Ditambah hindari “taswif” atau menunda-nunda urusan. Dan yang terakhir adalah tawakkal menyerahkan baik dan buruknya hasil kepada sang penentu urusan yaitu Allah SWT. Yang tidak kalah penting adalah seorang yang sedang berikhtiyar haruslah ia berbaik sangka terhadap ketentuan Allah, karena sesungguhnya Allah sesuai prasangka hamba-Nya.”

Ketua Panitia Kegiatan, Sriyoko, S. Pd.I menuturkan “Kegiatan Mabit dan Khataman Quran ini mengambil tema Memperkokoh Ikhtiar Menguatkan Doa dan Tawakkal . Tujuan dari kegiatan ini meningkatkan amal ibadah dengan menyelesaikan tilawah sebanyak 30 juz secara berkelompok dan mendoakan agar siswa-siswi kelas 6 Angkatan XV SDIT Nur Hidayah diberikan kemudahan dan kesuksesan dalam menghadapi ujian USBN pada bulan Mei mendatang.” *(nunuk/emyu)

Untitled

Asyiknya Belajar Sains

Bekas-bekas guyuran air hujan masih membekas. Baik di dedaunan maupun aspal tanah yang melembab. Tidak terkecuali di sekitar Jalan Pisang Kerten, Laweyan, Surakarta.

Tampak siswa-siswi Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) Nur Hidayah Surakarta memasuki gerbang sekolah. Senyum mereka mengembang bahagia. Lebih sempurna tatkala disambut hangat oleh guru-guru piket. Tampak gagah memakai seragam pramuka sembari menggendong tas punggungnya. Beberapa di antara mereka membawa wadah maupun tas kresek. Ternyata mereka membawa perlengkapan untuk praktik hari ini.

Ya, siswa kelas 5 SDIT Nur Hidayah hari ini (26/04) akan mengikuti pembelajaran praktik sains. Terdengar bel tanda masuk, mereka bergegas untuk mengikuti kegiatan majelis pagi terlebih dahulu. Doa bersama, murojaah juz 29, taushiyah siswa, dan kegiatan literasi kelas. Selanjutnya pembelajaran tematik, mereka akan mengidentifikasi sifat campuran.

Wahyudi Nugroho, S.Si selaku guru tematik kls 5B menuturkan, “Tujuan dari kegiatan ini adalah dengan melakukan praktikum siswa bisa mengidentifikasi sifat campuran benda benda yang ada disekitar kita. Selain itu juga melatih kejujuran, kerja sama, dan tanggung jawab siswa.” Sebelum praktikum, siswa dibagi menjadi 5 kelompok. Masing-masing kelompok beranggotakan 7 siswa. Selanjutnya mereka menyiapkan alat dan bahan yang sudah dibawa dari rumah seperti gelas plastik, pasir, minyak, pewarna makanan, kerikil, gula pasir, dan sendok.

Setelah semua siap siswa menyiapkan 7 gelas plastik yang ditandai dengan no 1 -7. Gelas diisi dengan air sepertiga dari gelas. Sedangkan gelas ke-5 – 7 diberi minyak goreng seperempat dari gelas. setelah terisi maka gelas pertama ditambah gula dan diaduk. Gelas ke dua di beri minyak dan di aduk begitu seterusnya sampai gelas ke tujuh. Setelah itu siswa maju ke depan untuk mempresentadikan hasil dari praktikumnya.

Ternyata campuranyang sempurna(homogen) campuran dari air dan gula dan campuran Air pewarna makanan. Muhammad Nur Zanadien, salah satu siswa kls 5B menuturkan , “Asyik ternyata belajar sains. Saya tadi mencampur air dengan minyak ternyata tidak bisa campur, minyak selalu di atas. Saya senang dengan praktikum ini bisa mengetahui sifat campuran.” *(yudi/emyu)

WhatsApp Image 2018-05-02 at 17.08.52

Kelas 6 SDIT Nur Hidayah Gelar Jalasah Ruhiyah dan Mabit

Kelas 6 SDIT Nur Hidayah Gelar Jalasah Ruhiyah dan Mabit

Sore itu (21/04) cuaca cukup cerah. Sinar mentari mulai turun di ufuk barat. Dengan berpakaian muslimah rapi, siswi kelas 6 Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) Nur Hidayah Surakarta berbondong-bondong memasuki gerbang sekolah. Tidak seperti biasanya, sore itu mereka tampak lebih tenang dan ceria karena mereka akan mengikuti Jalasah Ruhiyah di aula sekolah setempat.

Dengan duduk rapi di atas tikar, mereka mengawali kegiatani ini dengan tilawah Al Qur’an dan sholat Ashar berjamaah. Usai sholat Ashar berjamaah, mereka mendengarkan tausiyah dari Ustadzah Nurmawati, S.Pd tentang persiapan ruhiyah hadapi USBN Mei mendatang.

Koordinator Guru Kelas 6 Paralel, Yuyun Yuningsih, S. Pd. menuturkan “Kegiatan Jalasah Ruhiyah ini adalah rangkaian kegiatan kelas 6 dalam rangka menghadapi USBN. Salah satu tujuan dari kegiatan ini dengan melatih sikap kepedulian dan jiwa sosial yang tinggi. Hal ini dibuktikan dengan pemberian sedekah kepada anak Panti Nur Hidayah.”

Salah satu Pengurus Panti Nur Hidayah, Bapak Nur Wahid menyampaikan ucapan terima kasih dan memberikan doa untuk siswa-siswi kelas VI Angkatan 15. “Semoga anak-anak diberikan kemudahan dan petunjuk dalam menentukan jawaban yang benar. Aamiin. ”

Sementara itu, anak-anak putra berdatangan ke sekolah ketika hari mulai gelap. Ya, usai sholat Maghrib mereka bergegas ke sekolah untuk mengikuti kegiatan Malam Bina Iman dan Taqwa (MABIT).
Mabit ini berbeda dengan mabit sebelumnya karena mereka akan dibersamai oleh salah satu alumni SDIT Nur Hidayah, Mas Muhammad Aufa Al Hafidz.

Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret (UNS) ini memberikan motivasi dan semangat kepada anak-anak. Dengan antusias, mereka menyimak tausiyah Mas Aufa. Salah satu pesan dari beliau adalah “Sering berinteraksi dengan Al-Qur’an memberikan banyak faidah, diantaranya memudahkan fokus dan menerima pelajaran di sekolah, apalagi saat ini menjelang USBN, semakin dekat dengan Al-Qur’an adalah kunci sukses USBN dan bekal terbaik untuk nanti di akhirat.”

Salah satu siswa kelas 6,
Sahlan Fikria (11) menuturkan, “Subhanallah, Mabit ini lebih berkesan karena tausiyah yang disampaikan Mas Aufa untuk selalu berinteraksi dengan Alquran ditengah padatnya kegiatan sekolah sangat mengena dan bermanfaat untuk kita sebagai bekal menghadapi USBN Mei mendatang.”(nunuk/emyu)

WhatsApp Image 2018-05-02 at 17.06.03

Menyusun Naskah Drama itu Mengasyikkan

Meski tadi malam hujan sempat mengguyur, tetapi pagi ini mentari hangat menyapa. Sehangat semangat para siswa menjemput ilmu hari ini. Mereka tampak berseri memakai seragam batik berwarna hijau khas sekolah. Memasuki gerbang sekolah dengan ulukan salam, senyuman, dan jabat tangan dengan guru-guru piket yang menyambutnya.

Waktu di jam dinding tepat menunjukkan pukul 07.00. Bel tanda masuk kelas telah berbunyi. Hari ini (17/04/2018) para siswa kelas 5 Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) Nur Hidayah Surakarta mengawali belajar dengan berdoa bersama dan hafalan Al-Qur’an dengan penuh semangat. Selanjutnya mereka mengikuti kegiatan literasi kelas, menambah khazanah pengetahuan di pagi hari.

Kegiatan yang dinanti para siswapun dimulai. Ya, pembelajaran tematik bersama di aula sekolah. Di awal pembelajaran, Minuk Nihayah, S.Pd, selaku guru pengampu tematik kelas 5 menyampaikan, “Kegiatan pembelajaran tematik hari ini adalah menyusun naskah drama sesuai dengan KD 4.8 menyajikan kembali peristiwa atau tindakan dengan memperhatikan latar cerita yang terdapat pada teks non-fiksi”.

Setelah memahami tujuan pembelajaran dan mengetahui teknis kerjanya mereka berkelompok sesuai pembagiannya. Sejumlah 142 siswa terbagi menjadi 16 kelompok, terlihat memenuhi ruangan aula di lantai 3. Mereka membuat naskah drama yang akan ditampilkan pada pekan depan. Naskah drama yang akan ditampilkan berisi tentang Sejarah Pahlawan Indonesia. Diantaranya Pangeran Diponegoro, Jendral Sudirman, Tuanku Imam Bonjol, Pangeran Pattimura, Teuku Umar, Cut Nyak Dien, dan lainnya.

Penentuan judul naskah untuk masing-masing kelompok dilakukan dengan cara diundi. Mereka terlihat sangat antusias dan menikmati tugas ini. Mereka menuangkan gagasan dan imajinasinya tentang pahlawan tersebut pada lembaran kertas putih yang dibagikan. Suasana bertambah semarak saat beberapa anak terlihat tidak sabar menampilkan peran di hadapan teman temanya.

Salah satu siswi kelas 5, Zahiyah Wulan Supriyono (11) menyampaikan pengalamannya, “Sangat mengasyikkan membuat naskah drama bersama teman-teman. Lebih paham tentang kisah perjuangan para pahlawan bangsa. Lebih heroik lagi karena kita dapat menerankan dalam pementasan dramanya.” Sementara Waka Humas SDIT Nur Hidayah, Rahmat Hariyadi, S.Pd menuturkan, “Karakter dan nilai yang ingin dibentuk dari kegiatan ini adalah memahami dan menghayati perjuangan para pahlawan, memuncul sikap tanggung jawab, mandiri, dan sungguh-sungguh, serta memunculkan sikap cinta tanah air.”

WhatsApp Image 2018-04-16 at 14.55.18

Tanamkan Visi Sekolah dalam Upacara Bendera

Kegiatan upacara bendera tentu menjadi sebuah agenda wajib pada hari Senin dalam instansi maupun sekolah. Begitu juga di Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) Nur Hidayah, Surakarta. Waktu tepat menunjukkan pukul 07.00, bel tanda masuk pun telah berbunyi. Namun tidak dengan 142 siswa-siswi kelas 3 sekolah tersebut. Mereka berduyun-duyun menuju halaman sekolah. Berpakaian rapi seragam merah putih dan bersepatu hitam. Beberapa petugas upacara pun sudah nampak gagah dan anggun dengan peci dan selempangnya.

Pagi ini (Senin/16/4/18), sekolah yang sedang merintis menjadi sekolah Adi Wiyata tersebut menanamkan kembali visi sekolah kepada peserta didik. Arahan itu langsung dipaparkan oleh kepala sekolah dalam upacara bendera. Para siswa-siswi kelas 3 yang sebagai petugas dan peserta upacara mengikuti dengan khidmat di halaman sekolah setempat.

Salah satu siswa kelas 3 yang bertugas sebagai pemimpin upacara, Hafiz Praba (8) mengungkapkan pengalaman pertamanya, “Tentu saja deg-degan. Karena baru pertama menjadi pemimpin upacara. Tapi alhamdulillah dapat menjalankan tugas dengan baik. Menjadi pengalaman yang berkesan tentunya.”

Kepala SDIT Nur Hidayah, Waskito, S.Pd dalam amanat upacara memaparkan, “Visi sekolah kita diperluas dengan ‘berbudaya lingkungan. Maka secara lengkap menjadi “Sekolah Berkarakter, Ramah Anak, Berprestasi Gemilang, dan Berbudaya Lingkungan. Dengan tagline Terdepan dalam Kebaikan. Visi atau cita-cita bukan hanya menjadi tanggung jawab guru, tetapi seluruh elemen sekolah mulai dari guru, siswa, semua orang tua maupun pegawai. Visi sekolah kami tambah dengan ‘berbudaya lingkungan’ agar warga sekolah semakin peduli terhadap lingkungannya.”

Sekolah tidak hanya bercita-cita menjadikan para siswa untuk cerdas dan berprestasi, tetapi juga berkarakter. Karena itu salah satu wujud pembentukan karakter adalah peduli terhadap lingkungannya. “Lingkungan ini dalam arti luas kepada masyarakat sekitar karena kami berada di tengah perkampungan. Juga bisa diartikan lingkungan secara khusus di dalam sekolah, misalnya kesadaran membuang sampah di tempat sampah, mematikan lampu jika tidak dipakai, atau mematikan keran air jika telah selesai,” pungkasnya.

Sementara itu, Ataya Zahra Qonita (8) sebagai salah satu peserta upacara menyampaikan, “Pesan bapak kepala sekolah kita agar peduli lingkungan, sekolah menjadi bersih dan nyaman. Salah satu contohnya membiasakan membuang sampah pada tempatnya.”

WhatsApp Image 2018-04-12 at 13.54.40

Kelas 3 SDIT Nur Hidayah Nulis Aksara Jawa Bebarengan

“Allah tidak mengutus seseorang nabi melainkan dengan menggunakan bahasa kaumnya.” (HR. Abu Dzar ra.)

Dewasa ini ramai dibincangkan masyarakat bahwa kebudayaan tidak bisa berbaur dengan agama. Sebenarnya tidaklah sekaku demikian, sebuah keindahan mampu berpadu dengan kebenaran hakiki yakni agama.

Sebagai sekolah yang berada di pusat kebudayaan, Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) Nur Hidayah Surakarta selalu berupaya untuk mengenalkan dan mendekatkan para siswa dengan kebudayaan tersebut. Itulah yang dilaksanakan siswa-siswi kelas 3 SDIT Nur Hidayah pagi ini (Kamis,12/4/18). Selepas membuka hari dengan berbaris, berdoa, dan menghafal Al-Quran, para siswa mempersiapkan diri untuk mengikuti pembelajaran jam pertama. Namun kali ini terasa berbeda. Kelas-kelas kosong, sedangkan para siswa berkumpul di aula untuk menulis aksara jawa bersama.

Sepatu ditata rapi sedemikian rupa. Tembang “Kupu Kuwi” sayup-sayup terdengar dari aula gedung sekolah yang berlokasi di Jalan Pisang No. 12 Kerten. Dengan penuh semangat, kertas dan spidol tersaji di depan masing-masing siswa.

Acara bertajuk “Nulis Aksara Jawa Bebarengan” ini melibatkan 142 siswa di jenjang paralel kelas 3. Meski sederhana, kegiatan yang berlangsung dua jam pelajaran ini memberikan pengalaman baru bagi setiap peserta didik.

“Saya mendapat kata ‘gara gara rama’. Awalnya saya kira menulis aksara jawa itu susah, ternyata alhamdulillah mudah,” ungkap Syifa’ Luthfiyatul Husna (9) siswa kelas 3A. Sementara siswa kelas 3D, Alif Maulana Afaffathir (9) merasakan pelajaran Bahasa Jawa menjadi menyenangkan, “Jadi senang karena Bahasa Jawa juga bisa menulis bersama. Tulisanku tadi cepat selesai karena sudah berlatih di rumah.”

Indah Sri Rahayu, S.S, salah satu guru kelas 3 memaparkan, “Kegiatan menulis aksara jawa ini menjadi salah satu cara untuk mengenalkan bahasa jawa sebagai hasil kebudayaan di tengah gempuran kebudayaan asing. Apalagi sekarang generasi kita sudah jarang menggunakan bahasa daerah sebagai bahasa ibunya. Karena itu, diharapkan pengemasan pelajaran bahasa jawa dengan menyenangkan ini bisa membuat anak-anak semangat mempelajari budaya sendiri.”

Ditemui terpisah, Koordinator Guru Paralel Kelas 3, Syarifatul Istiqomah, S.Pd menyampaikan “Ya, sekolah kami sangat mendukung setiap kegiatan sekolah yang positif dan memberikan sumbangan pengetahuan kepada para siswa. Terlebih ini berkaitan dengan bahasa daerah yang merupakan materi muatan lokal bagi semua sekolah di Surakarta khususnya, Jawa Tengah umumnya.” *(indah/emyu)

WhatsApp Image 2018-04-13 at 11.08.30

Lincahnya Si Kijang Kecil Menari

Kilauan warna-warni topi kijang yang dipakai di atas kepala siswa-siswi kelas 2 Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) Nur Hidayah Surakarta memenuhi aula sekolah. Musik tradisional Pasundan mengiringi tarian nan lincah. Para siswa melompat-lompat, meliuk-liuk, dan mengangguk-angguk laksana kijang kecil yang sedang bermain gembira.

Ya, hari ini (11/04) siswa-siswi kelas 2 SDIT Nur Hidayah belajar sambil bermain menari. Ustadzah Eni Hestuti, SS selaku Koordinator Paralel Kelas 2 menjelaskan, “Kegiatan ini merupakan Puncak Tema semester 2 Kelas 2 sesuai dengan buku Tema 7 muatan pelajaran Seni Budaya dan Prakarya (SBdP) yaitu Kompetensi Dasar 4.3: Memperagakan gerak keseharian dan alam dalam tari melalui kegiatan Menari Kijang.”

Kegiatan ini dilaksanakan secara bersama-sama siswa paralel 2A,B,C dan D yang berjumlah 135 siswa. Sebelumnya ananda kelas 2 membuat hasta karya topi kijang dari bahan buatan berupa kertas karton, kertas emas, dan payet sebagai hiasan. Selepas menari, ustadz ustadzah menyediakan es sirop dan donat lucu sebagai hadiah untuk melengkapi kegembiraan para siswa dalam kegiatan puncak tema hari ini. *(reni/emyu)

WhatsApp Image 2018-04-11 at 12.00.49

Literasi di Kelasku 5C

Salah satu program pemerintah untuk meningkatkan sumber daya manusia (SDM) adalah melalui gerakan literasi sekolah. Hal ini disebabkan karena keterampilan membaca sangat berperan dalam kehidupan seseorang.

Waktu menunjukkan tepat pukul 07.00. Bel tanda masuk sekolah berbunyi. Siswa kelas 5C mulai menempati tempat duduk masing-masing dengan tertib. Seperti biasa kegiatan sekolah pagi ini diawali dengan berdoa bersama dan hafalan beberapa surat Al-Quran. Usai kegiatan majelis pagi, saatnya para siswa mengikuti kegiatan literasi. Namun ada yang berbeda pada kegiatan literasi hari ini (11/04). Satu persatu siswa maju di depan kelas untuk menyampaikan isi buku yang sudah dibaca pada hari sebelumnya tanpa melihat buku.

Salah satu guru kelas 5, Susilowardhani, S.Pd menyampaikan, “Kegiatan ini dimaksudkan untuk mendukung program pemerintah tentang gerakan literasi sekolah yang bertujuan untuk meningkatkan minat baca. Harapan jangka panjangnya mereka memiliki budaya, bahkan menjadi kebutuhan keseharian untuk berliterasi. Menjadi pribadi penuh percaya diri, pengetahuan luas sekali, mampu mencipta narasi untuk peradaban dan kejayaan negeri.”

Program literasi ini dilaksanakan secara bertahap. Tahap pertama yaitu pembiasaan, pada tahap ini siswa dibiasakan untuk membaca 15 menit sebelum jam pelajaran setiap hari Senin-Kamis. Buku yang dibaca bebas sesuai tahap perkembangan anak. Diantaranya yaitu, buku pengetahuan agama, sains, sosial budaya, biografi dan lain lain. Tahap yang kedua yaitu pengembangan literasi, pada tahap ini siswa diarahkan untuk membuat rangkuman kemudian membacanya di depan kelas. Untuk meningkatkan keberanian dan percaya diri siswa, Kegiatan literasi dilanjutkan dengan model presentasi. Yaitu siswa menyampaikan isi buku di depan kelas tanpa membaca.

Aisha Jasmine (11), salah satu siswa kelas 5C yang mendapat giliran presentasi pada hari ini menuturkan, “Sangat senang dengan program literasi, pengetahuan saya jadi bertambah. Saya mendapat banyak pengetahuan yang belum diberikan pada jam pelajaran, hari ini saya menyampaikan tentang kisah Nabi Adam. Berbicara di depan kelas juga membuat saya jadi lebih percaya diri.”

Setiap siswa mengikuti kegiatan literasi dengan seksama. Kegiatan ini pun bertambah hidup karena mendapat respon, berupa tanya jawab dan ulasan dari guru dan siswa yang lain.

Waka Humas SDIT Nur Hidayah Surakarta, Rahmat Hariyadi, S.Pd menuturkan bahwa, “Program Gerakan Literasi Sekolah (GLS) maupun program Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) dari pemerintah sangat selaras dengan visi sekolah, Menjadi Sekolah Berkarakter, Ramah Anak, Berprestasi Gemilang, dan Berbudaya Lingkungan. Ketersediaan sudut baca, perpustakaan yang nyaman, kegiatan riel siswa membaca, menulis apa yang dibaca, menyampaikan kembali secara lisan, merupakan ikhtiar nyata dalam memaksimalkan proses dan hasil gerakan literasi.”

WhatsApp Image 2018-04-11 at 11.35.11

Kelas 4 SDIT Nur Hidayah Surakarta Gelar Daurah Pra Baligh

Mempersiapkan masa baligh berarti juga tengah mempersiapkan generasi Islam yang berkualitas. Sebagaimana firman Allah SWT, “Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah yang mereka khawatir terhadap mereka. Sebab itu hendaklah mereka bertaqwa kepada Allah dan mengucapkan perkataan yang benar.” (QS. Annisa:9). Kutipan ayat tersebut bak cambuk semangat dan motto bagi asatidz/ah Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) Nur Hidayah Surakarta dalam mempersiapkan generasi Islam yang hebat.

Untuk merealisasikannya maka pada hari ini (10/4/2018) kelas 4 SDIT Nur Hidayah menggelar daurah pra baligh. Bertempat di aula gedung barat bagi siswa putri, dengan pemateri Ustadzah Sutarmi, dan di Masjid Al Huda dengan pemateri Ustadz Bahruni Arsyad bagi siswa putra. Tujuan pemisahan tempat ini adalah agar materi dapat tersampaikan secara terang, jelas, dan gamblang bagi siswa-siswi.

Ustadz Bahruni Arsyad, selaku pemateri peserta putra mengawali materinya dengan mengutip surat Ar-Rum ayat 54 tentang tahapan pertumbuhan manusia. Beliau, Ustadz Bahruni melalui materi yang disampaikan menuturkan “Bahwa sesungguhnya setiap manusia itu pada mulanya lemah tak berdaya. Hanya Allah yang memberinya kekuatan.”

Penyampaian materi disampaikan dengan cara yang menarik dan interaktif sehingga anak-anak begitu menikmati sesi demi sesi.

Demikian halnya juga dengan kelompok daurah putri. Mereka mengikutinya dengan penuh antusias, tenang, tertib dalam menyimak materi yang dipaparkan oleh Ustadzah Ami (sapaan akrab dari Ustadzah Sutarmi).

Salah satu siswi kelas 4C Vatara Alma Dea menuturkan, “Pengetahuan baru bagi saya. Saya jadi mengerti tanda-tanda baligh”. Sementara dari peserta dauroh putra, Anas Irsyad (10) kelas 4A saat ditanya pendapatnya tentang dauroh halaqoh, menjawab “Materinya bagus, penyampaiannya juga. Dan tak kalah bagusnya karena ruangan ber-full ac”.

Ketua Panitia Dauroh Halaqoh kelas 4 tahun ini, Ustadzah Endah Sri Handayani, S.Pd. menyampaikan “Melalui dauroh halaqoh ini diharapkan agar anak-anak kelas 4 bisa dengan maksimal mendapatkan pembekalan (materi prabaligh) sebaik-baiknya. Sehingga, jika nanti sudah masuk usia baligh mereka sudah benar-benar siap dan paham dengan segala konsekuesinya. Titik tekan materi dauroh ini memang sepenuhnya belum sampai secara eksplisit, masih gambaran umumnya saja. Namun walau demikian, siswa-siswi sudah mulai memahami”. *(ikhsan~rifa/emyu)