WhatsApp Image 2018-03-12 at 12.52.37

Eksplorasi Alam, Kelas 3 Adakan Outbond di Tlatar

“Sedang apa, sedang apa, sedang apa sekarang, sekarang sedang apa, sedang apa sekarang// Sedang outbond, sedang outbond, sedang outbond sekarang”

Outbond merupakan kegiatan yang penamaannya diambil dari istilah kelautan yakni Out Of Bounderies. Kemudian diaplikasikan dalam dunia pendidikan yang artinya metode belajar melewati batas. Itulah yang hari ini (12/03/2018) akan diikuti oleh para siswa-siswi kelas 3 Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) Nur Hidayah Surakarta. Berseragam olah raga rapi, bersepatu sambil menggendong tas berisi perbekalan, mereka bersiap di halaman sekolah. Setelah semua siap, perjalanan pun dimulai menuju ke lokasi di Taman Air Tlatar, Boyolali.

Koordinator Guru Paralel Kelas 3 SDIT Nur Hidayah, Syarifatul Istiqomah, S.Pd, menuturkan, “Kegiatan di luar kelas ini tidak semata-mata untuk rehat setelah sepekan para siswa menempuh kegiatan Penilaian Tengah Semester (PTS) II. Tetapi kegiatan bertajuk Outbond Ceria hari ini juga mengeksplorasi, memperkaya pengetahuan para siswa tentang alam dan pelestariannya. Selain tentunya juga membangun keceriaan, kerja sama, serta melatih ketangkasan fisik.”

Para peserta tampak bersemangat mengikuti kegiatan ini. Diawali dengan apel pengarahan dan pemanasan fisik, para siswa sudah tak sabar menanti kegiatan selanjutnya. Berbagai permainan sudah disusun sedemikian rupa guna memperluas pengetahuan maupun memperkuat fisik.

Kegiatan memberi makan ikan dan memandikan kerbau misalnya, melatih para siswa untuk mengaplikasikan peduli terhadap lingkungan sekitar. Keberanian anak-anak juga diasah dengan permainan flying fox. Permainan meluncur dari ketinggian tertentu menggunakan tambang ini menjadi salah satu permainan yang ditunggu-tunggu para peserta.
“Agak takut, tapi seru terjun dari atas. Serasa terbang di awan,” demikian kata Zamdu Sangpa Winata (9) selesai melalui tantangan penuh adrenalin itu.

Tak hanya kegiatan yang bersifat individu, para trainer juga mengasah kebersamaan dalam kegiatan berkelompok. Kompetisi mengumpulkan air antarkelompok menjadi salah satu sarana untuk saling menyemangati. Kepercayaan satu anak dengan anak lainnya juga dilatih dalam permainan jembatan bambu. “Alhamdulillah aku bisa. Teman-teman kelompokku baik. Aku dipegangi agar tidak jatuh. Kami saling menjaga.” begitu ungkap Muhammad Faqih Habibi (9) salah satu siswa kelas 3D yang melewati jembatan bambu.

Tak berhenti dengan permainan kering. Para siswa diajak untuk mengenal asal nasi yang setiap hari mereka makan. Betul sekali, anak-anak diajak untuk menanam padi. Dengan pengenalan dan praktik langsung ini, para siswa menjadi lebih bisa menghargai makanan sekaligus sebuah profesi, yakni petani.

“Ternyata menanam padi tidak mudah, tanahnya becek. Aku jadi tahu pak tani sangat berjasa. Kalau nggak ada pak tani, kita nggak makan. Alhamdulillah aku masih bisa makan masih setiap hari.” ucap Nabillyano Hassya Avicenna Wunandar (9) senang. Kegiatan diakhiri dengan berenang dan bersih-bersih diri sebelum mereka menunaikan sholat Dzuhur berjamaan, lalu makan siang bersama.

Sunarto, selaku Ketua Pelaksana Kegiatan ini menyampaikan, “Kegiatan ini menjadi salah satu sarana untuk siswa semakin mengenal diri sendiri dan orang lain. Selain untuk penyegaran juga untuk mengasah anak lebih mandiri dan kuat.”
*(indah/emyu)

Komentar Facebook
0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *