926c83e9-d800-47f0-8d18-c679e45a68ec

Kelas 3 Amati Hujan dari Segelas Air

Bel berdering menandakan waktu istirahat telah usai. Jam menunjukkan angka sembilan, artinya pelajaran kedua siap dimulai. Begitu juga siswa-siswi kelas 3 Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) Nur Hidayah Surakarta, yang bersiap untuk mengikuti pembelajaran Ilmu Pengetahua Alam (IPA).

Muatan pelajaran IPA merupakan salah satu pelajaran yang ditunggu setiap siswa. Alasannya sangat sederhana, setiap yang dipelajari dalam IPA bisa diamati setiap hari dalam kehidupan kita. Berbagai fenomena alam bisa diamati secara langsung maupun tidak langsung oleh para siswa. Meski ada yang tak bisa diamati secara langsung, bukan berarti para siswa kelas 3 kehilangan akal.

Hari ini (29/3) misalnya, mereka penasaran dengan peristiwa terjadinya hujan. Karena itu mereka mencoba mengamati dari alat dan bahan sederhana. Sebuah gelas, air panas, piring kecil, dan sebongkah es batu membayar rasa ingin tahu para siswa.

Langkah pertama yang dilakukan para siswa adalah menuang air panas ke dalam gelas dengan hati-hati. Setelah itu dalam satu kelompok saling membantu untuk meletakkan piring kecil ke atas gelas. Tahap terakhir, bongkahan es batu diletakkan di atas piring tersebut. Setiap kelompok cermat mengamati setiap perubahan yang terjadi pada masing-masing bahan. Setiap siswa juga antusias menyampaikan hasil pengamatannya untuk didiskusikan dengan teman sekelompoknya.

Abyan Bariq Athallah (9), menuturkan, “Air panasnya menguap lalu di lepek bagian bawah ada uap airnya. Jadi air panas tadi mengembun,” menyampaikan hasil pengamatannya. “Sekarang aku jadi tahu, ternyata hujan bisa terjadi karena ada uap yang panas. Uap yang panas itu membuat es batu mencair jadi hujan,” ungkap Rumaysha Shaumi Izzati (9) menyampaikan pengalaman menariknya.

Setiap kelompok yang selesai mengamati percobaan menuliskannya pada selembar kertas yang sudah disediakan. Masing-masing kelompok lalu membereskan alat dan bahan sebelum pelajaran IPA berakhir. Indah Sri Rahayu, S.S selaku guru kelas 3 memaparkan, “Kegiatan mengamati tersebut sebagai sarana untuk memberikan rangsangan kepada siswa agar lebih peka terhadap peristiwa alam yang terjadi di sekitar kita.”

Sementara, Koordinator Guru Paralel Kelas 3, Syarifatul Istiqomah, S.Pd menyampaikan, “Dalam setiap pembelajaran ada hal-hal yang memang bisa diamati dan dipelajari dengan alat sederhana. Salah satunya hujan dalam Bab Cuaca ini. Kami juga memberika kelonggaran bagi setiap guru untuk berkreasi dalam mendampingi para siswa belajar.” (indah&isti/emyu)

df05a8fc-1f8d-412c-b3e8-0fe84d724cc6

Kuatkan Ruhiyah Kelas 6 Gelar Mabit dan Subuh Berjamaah

Siang ini cuaca cukup panas. Namun tidak menyurutkan semangat siswa-siswi kelas 6 untuk datang ke sekolah. Dengan wajah yang ceria dan penampilan yang cantik dan tampan, mereka memasuki gerbang sekolah dengan mengenakan baju bebas (muslim dan muslimah) rapi. Tas yang penuh perlengkapan pribadi, tak lupa mereka bawa di punggungnya. Mereka tampil beda pada siang ini (Sabtu, 24/03/2018) karena akan mengikuti Malam Bina dan Taqwa (MABIT) di sekolah. Acara Mabit ini, berlangsung sampai Ahad pagi (25/03/2018) bersamaan dengan kegiatan Subuh Berjamaah untuk para ayah atau ibu siswa kelas 6.

Kegiatan mabit ini merupakan salah satu program kelas 6 untuk meningkatkan motivasi dan Ruhiyah jelang latihan ujian nasional awal April depan. Ketua Kegiatan Mabit dan Suber kelas 6, Ust. Inoki Wasis Jatmiko, M.PdI. menuturkan, “Selain untuk meningkatkan motivasi dan ruhiyah siswa, kegiatan ini juga bertujuan untuk syiar kepada orang tua tentang pentingnya sholat subuh berjamaah. Selain itu, melatih para siswa agar terbiasa sholat subuh berjamaah.”

Agenda MABIT ini diawali dengan murojaah QS Ar Rahman untuk senantiasa mensyukuri nikmat Allah. Dilanjutkan dengan game-game edukatif nan ceria yang dipandu oleh Ustadzah Tis’iyatur Roifah untuk me refresh fikir dan fisik para siswa yang selama 3 pekan berturut-turut mengikuti ujian dan try out Jaringan Sekolah Islam Terpadu (JSIT) Indonesia dan Ikatan Sekolah Dasar Islam (ISDI) Kota Surakarta.

Usai melaksanakan sholat Ashar berjamaah di masjid sekolah, para siswa tilawah mandiri dan mendapatkan motivasi dari Bapak Waskito selaku kepala sekolah SDIT Nur Hidayah. Dengan antusias dan penuh semangat, mereka ikuti motivasi tersebut sampai menjelang Maghrib. Setelah itu, mereka melaksanakan sholat Maghrib berjamaah, makan malam bersama, dilanjutkan sholat Isya berjamaah. Selanjutnya mereka mengikuti sesi materi berikutnya tentang bagaimana caranya agar bisa meraih prestasi terbaik untuk almamater SDIT Nur Hidayah tercinta, yang disampaikan oleh Ustadz Husni Malik, S.P., S.Pd.

Usai sesi materi ini, mereka istirahat persiapan bangun awal untuk bersholat tahajud bersama. Jelang waktu Shubuh, orang tua siswa berdatangan. Mereka akan mengikuti sholat Subuh berjamaah, taushiyah, dan pengambilan hasil try out siswa. Ustadz Dr. H. Wiranto, M.Kom, M.Cs, yang juga Ketua Yayasan Nur Hidayah menyampaikan tentang pentingnya sinergi antara orang tua, siswa dan guru dalam proses pendidikan anak. “Khususnya para ayah jangan pernah lelah untuk mendoakan, memberikan semangat dan teladan bagi anak demi kesuksesan di masa depan.” paparnya. (nunuk/emyu)*

WhatsApp Image 2018-03-20 at 15.47.53

Kelas 4 Out Bound di River Moon

Pagi ini begitu cerah. Mentari menyapa semesta dengan hangatnya. Lantunan ayat qouliyah mengalun merdu menambah rasa mahabbah dan ghiroh dalam bertholabul ‘ilmi. Pepohonan melambai seakan menyambut dan mengajak berdzikir. Belajar dari alam penuh kebijaksaan.

Itulah suasana di sekitaran Wahana Out Bound & Fun Tubbing di Karanglo, Polanharjo, Klaten. Ya, hari ini (20/03) sejumlah 142 siswa-siswi kelas 4 Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) Nur Hidayah Surakarta. Berseragam olahraga, bertas ransel, bertopi, dan bersepatu lapangan mereka tampak gagah bersiap mengikuti tantangan belajar hari ini. Senyum mengembang ketika mereka turun dari bus dan disambut hangat tim out bound.

Usai meletakkan dan merapikan tas ransel di shelter, mereka langsung menuju tanah lapang. Para instruktur sudah siap memulai kegiatan dengan pemanasan aneka gerak dan senam ringan diiringi musiknya. Tawa riang, tepuk tangan mengiringi sesi warming up itu. Selanjutnya mereka berkelompok untuk membuat yel-yel penyemangat. Tantangan dengan aneka game pun dimulai. Kekompakan, keceriaan, strategi, dan menahan emosi adalah kunci kemenangan untuk sukses melewati berbagai rintanga n permainan ini.

Usai beradu keberanian dan ketangkasan sambil bercanda ria dengan suguhan permainan yang beraneka ragam yang dipandu langsung oleh tim out bound, tibalah saatnya yang sangat dinanti oleh mereka, yaitu Fun Tubbing. Betapa tidak, sedari pagi mereka sudah langsung diajak berpanas-panasan ria, maka wajar saja wahana air ini sudah dinanti. Setelah diberi arahan oleh pemandu, mereka memakai pengaman berupa helm, pelampung, dan satu buah ban dalam besar. Merekapun bergembira, tawa riang saat ban yang mereka naiki menyusuri sungai.

Ketua Panitia Kegiatan, Bekti Riyanto, M.Si. menuturkan, “Ada beberapa wahana permainan yang dinikmati para siswa. Wint Tower, Water on Top, Water Pass, Lompen Speed, Point Ball, Tarik Tambang, Tangkap Ikan, Merangkak di Lumpur, Meniti Bambu Kembar, Skill Game, Holahop, Jembatan Sambung, dan Fun Tubbing. Setelah itu mereka renang dan mandi dan berganti baju. Dilanjutkan sholat dan makan siang.”

Aisyah Naura Khansa (9), salah satu siswi kelas 4C menuturkan “Asyik banget outbound hari ini. Tambah seru karena ada tubbingnya. Melatih keberanian, ketangkasan, kerjasama, dan jelas happy semua.” Sementara siswa lainnya, Roufan Ahmad Hariri (10), siswa kelas 4B menyampaikan, “Saat merayap di lumpur sangat berkesan bagiku. Bau khas lumpur yang ada di tepian sawah, mengingatkanku pada perjuangan petani. Setiap hari mereka bergelut dengan lumpur, demi padi-padi yang siap dipanen. Jadi lebih bersyukur dan berterima kasih kepada petani.”

Waka Humas SDIT Nur Hidayah, Rahmat Hariyadi, S.Pd, yang ikut membersamai kegiatan ini menyampaikan, “Kegiatan ini rutin dilakukan setiap tahun untuk semua level kelas. Tujuannya untuk melatih kemandirian, kerja sama, ketangkasan, keberanian. Bahkan juga mendekatkan mereka dengan alam, lebih melihat kuasa-Nya dari ciptaan-ciptaan-Nya. Olah raga, olah rasa, olah fikir. Kita berharap kelak mereka menjadi pemimpin yang kuat fisiknya, cerdas akalnya, dan senantiasa dekat dan mencintai alam dan penciptanya.” (rifa-ikhsan/emyu)

WhatsApp Image 2018-03-19 at 08.37.37

Mencintai Rasulullah dengan Menghidupkan Sunnahnya

Cerahnya langit Jumat pagi ini (16/3/2018) menambah semangat kaki-kaki kecil nan lincah menuju ke aula gedung barat di lantai 3 Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) Nur Hidayah Surakarta. Selain mukena, Al-Quran pun erat dalam dekapan mereka. Dari dalam aula sayup-sayup terdengar suara Ustadzah Rifa yang memberikan pengarahan kepada para siswa.

Jumat pagi ini siswa- siswi kelas 4 melakukan kegiatan sholat dhuha dan membacaQS Al- Kahfi secara bersama-sama. Kegiatan ini sudah rutin dilakukan setiap sepekan sekali, bergantian dengan dzikir Al-Ma’tsurat.

Kegiatan diakhiri dengan tausiyah (nasihat) yang disampaikan oleh Ustadzah Ningrum Khasanah, tema yang diangkat adalah kisah sahabat Rasulullah yakni Umar bin Khattab. Dalam nasihatnya Ustadzah Ningrum mengingatkan para siswa untuk tetap semangat belajar, sholat, dan mengaji menjelang akhir semester 2 ini.

Koordinator Paralel Kelas 4, Wulansari, SP,S.Pd menyampaikan, “Kegiatan ini bertujuan untuk mengenalkan salah satu sunnah Rasul, menumbuhkan kecintaan pada Rasulullah, serta membiasakan ibadah sunnah pada peserta didik. Harapannya pembiasaan baik yang dilakukan di sekolah bisa diterapkan oleh peserta didik di manapun mereka berada. Ini merupakan salah satu cara untuk menanamkan karakter mulia.”

Keutamaan membaca Surat Al-Kahfi ternyata sudah cukup dipahami oleh para siswa. Salah satu siswa kelas 4A, Maulana Hafidz Danendra, menyampaikan kesannya mengikuti kegiatan ini, “Di rumah aku sudah mulai membaca surat Al Kahfi bersama ayah, di sekolah aku tinggal melanjutkan”. Sementara siswa lainnya, Muhammad Anas Irsyaad mengatakan, “Aku ingin dinaungi cahaya oleh Allah dari Jumat sekarang sampai Jumat pekan depan, jadi aku baca surat Al-Kahfi”. *(wulan/emyu)

WhatsApp Image 2018-03-15 at 12.56.21

Doro Mabur Klepat, Durung Bakdo wes Mangan Kupat

Rabu, (14/3/ 2018) merupakan hari kedua rehat jeda setelah Penilaian Tengah Semester (PTS). Pagi yang cerah. Seperti biasa siswa-siswi kelas 2 paralel SDIT Nur Hidayah sudah melantunkan ayat-ayat Al-Quran dalam kegiatan tahfidz pagi. Ustadz Dwi Agus membagi- bagikan janur untuk tiap siswa di depan kelas masing-masing. Ada kegiatan apa ya?

Ya, hari ini hari istimewa, bagi siswa-siswi kelas 2 SDIT Nur Hidayah. Mereka akan mengenal ketupat lebih dekat. Setelah tahfidz pagi, sebagia guru menyiapkan LCD dan screennya untuk memutar video. Dalam video tersebut dijelaskan apa itu ketupat dan cara membuatnya. Terutama cara membuat selongsong ketupat.

Usai menyaksikan video, hadirlah ustadz Agung Nugroho, S.Pd sebagai trainer. Beliau memperkenalkan cara pembuatan selongsong ketupat secara langsung.
Para siswa mengalami kesulitan dalam menganyam janur di kedua tangan mereka. Beberapa ustadz/ah lain membantu. Alhamdulillah beberapa siswa selesai membuat ketupat meskipun dengan bantuan ustadz/ah.
“Membuat selongsong ketupat itu susah ya,” kata Gasya Alzena Safaras, salah satu siswa kelas 2.

Salah satu guru paralel kelas 2, Reni Agustin Priyatiningrum, S.Pd menyampaikan, “Tujuan kegiatan kali ini adalah pengenalan masakan khas nusantara. Ketupat adalah masakan khas indonesia yang terbuat dari anyaman janur (daun kelapa) yang membentuk bangun ruang. Selongsong yang diisi beras dan direbus menjadi ketupat dan dihidangkan bersama aneka sayur lain. Kita berharap para siswa mengenal dan menghargai karya nenek moyang kita.”

Kegiatan ini ditutup dengan santap ketupat opor bersama. Para siswa tampak sangat bahagia. “Alhamdulillah akhirnya makan juga. Sulit membuat ketupat bikin perut jadi lapar.” kata Fina salah satu siswa kelas 2B. Ketupat, opor ayam, sambel goreng krecek dan kerupuk udang ludes tak bersisa. *(reni/emyu)

WhatsApp Image 2018-03-15 at 13.57.41

Ceria Nonton Film Bersama

Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) dapat diupayakan dengan beragam cara. Salah satunya dengan menonton film edukasi. Film tidak sekedar menghibur, tetapi juga bersifat edukatif. Melalui pesan-pesan moral kebaikan, dapat menjadi pengokoh nilai-nilai karakter mulia. Inipun yang diupayakan guru paralel kelas IV Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) Nur Hidayah Surakarta. Mereka mengajak serta 146 siswa-siswi kelas IV menyelami pesan kebaikan dari sebuah film, Rabu (14/03/2018).

Kegiatan diawali dengan majelis pagi. Doa bersama, muroja’ah beberapa surah Al-Qur’an, sholat dhuha, kemudian dilanjutkan dengan membaca Al-Ma’tsurot. Kegiatan ini dipanduy oleh Ustadz Muhammad Ihsan. Adapun tausiah disampaikan Ustadz Bisri Muhammad tentang 7 golongan yang kelak mendapat naungan pada hari kiamat.

Kemudian mereka berehat sejenak sambil menikmati jajanan yang mereka beli di kegiatan “Marked Day” kelas V yang diadakan di halaman sekolah. Selesai menikmati jajanan dan riuhnya kegiatan Market Day kelas V, mereka diarahkan untuk memasuki aula gedung barat kembali.

Ya, mereka akan nonton bareng (nobar) film *Sepatu Dahlan. Mereka terlihat asyik dan menikmati filmnya dengan sesekali bersorak ria tatkala terdapat adegan lucu dari film tersebut. Di sela-sela menonton, ustadz-ustadzah juga menyediakan minuman dan makanan ringan agar mereka tidak jenuh. Salah satu siswa kelas IV B, Muh. Hanse Rosyid, (10) berkata “Filmnya bagus, ada semangat yang luar biasa untuk belajar. Asyik dan sangat pendidik.”

Seperti diketahui, film ini (Sepatu Dahlan) bercerita tentang seorang anak lelaki yang bernama Dahlan. Dahlan merupakan lelaki yang memiliki prinsip “Hidup, bagi orang miskin, harus dijalani apa adanya”. Ia tak pernah berhenti untuk bermimpi memiliki sebuah sepatu dan sepeda. Dalam keadaan yang miskin dialaminya, tidaklah membuat ciut semangat Dahlan untuk tetap terus sekolah meskipun harus tanpa beralas kaki, berjalan menumpuh jarak puluhan kilometer untuk tiba di pesantren Takeran.

Dengan kondisi tersebut, kaki Dahlan pun tak luput dari lecet dan melepuh. Dahlan adalah anak ketiga dari 4 bersaudara. Dia memiliki 2 orang kakak dan 1 orang adik. Pekerjaan Ayah Dahlan adalah serabutan dan Ibunya adalah seorang pembatik di desa. Keluarga mereka tinggal di Kebon Dalem, sebuah kampung yang memiliki banyak kenangan untuk mereka.

Setelah lulus dari Sekolah Rakyat ( SR ) dengan nilai rapot 3 merah, Dahlan merasa gagal bahwa tak bisa membuat orang tuanya bangga. Sang Ayah terlihat sangat kecewa dan cita-cita Dahlan untuk masuk SMP Magetan pun pupus. Namun sang Ibu pun memberi nasehat bahwa di manapun belajarnya adalah yang terpenting niat untuk belajar yang tinggi, dengan itu Dahlan pun kembali bersemangat.

Hingga kemudian pun masuk ke SMP Takeran dan mengikuti berbagai banyak kegiatan-kegiatan sekolah. Dahlan terpilih menjadi seorang kapten tim voli di sekolahnya dan keinginan dia untuk mendapatkan sepatu semakin kuat dan besar.

Namun di saat waktu tersebut, Ibunya jatuh sakit karena terlalu keras bekerja, di samping itu Dahlan harus menjaga adiknya juga. Dengan keadaan tersebut tak membuat Dahlan berkecil hati, malah dia menjadikan hal tersebut sebagai penyemangat hidup untuk memberikan yang terbaik dalam kehidupannya. *(ikhsan/emyu)

WhatsApp Image 2018-03-19 at 08.37.12

Memungut Kembali Khazanah Budaya Negeri

Adalah amanah bagi pendidik di setiap satuan pendidikan untuk mengajarkan kepada para siswa agar mereka mengetahui nilai-nilai luhur yang dimiliki bangsa ini dan menghargainya sebagai warisan bangsa.

Tetes air wudhu yang membasah rambut, menambahkan aura mencahaya di wajah para siswa kelas 1 Sekolah Dasar Islam Terpadi (SDIT) Nur Hidayah Surakarta. Serangkaian kegiatan majelis pagi diikuti 132 siswa . Berdoa bersama, murojaah kalam Ilahi dan sholat dhuha bersama dilaksanakan guna memulai hari. Rabu, (14/3) merupakan rehat terakhir pasca Penilaian Tengah Semester ( PTS ) 2. Serangkaian acara yang akan diikuti siswa berjudul “Dolanan Yuuk” diawali dengan sujud kepada Sang Maha Penggenggam Semesta. Titik tekan pembelajaran kepada siswa bahwa segala sesuatu hendaknya diawali meniatkan segala sesuatunya sebagai ibadah kepada Allah.

Gendhing Lir ilir yang berkumandang di aula gedung timur menyambut para siswa yang telah menyelesaikan majelis paginya. Mereka duduk bershaff dengan rapi. Mereka mengamati dengan seksama penjelasan Ustadzah Yan Syakila, S. Ag. Beliau menghantarkan penjelasan tentang ragam kekayaan budaya luhur bangsa Indonesia. Para siswa diajak mengenal dan melantunkan beberapa lagu dolanan seperti Padhang Mbulan, Cublak-Cublak Suweng dan Jamuran. Mereka juga dikenalkan aneka permainan tradisional seperti Tapak Gunung, Benthik, Engklek, Dakon dan lainnya. Bahkan dikenalkan juga Egrang, alat permainan yang terbuat dari bambu. Para siswa tampak sangat terkesan ketika Ustadz Sugeng Sugiharto, S.Ag mempraktikan cara bermain Egrang. Tidak sekedar melihat tayangan, namun para siswa juga diajarkan untuk praktik secara langsung di kelas masing-masing. Mereka begitu gembira ketika mencoba bermain cublak-cublak suweng ataupun engklek.

Kegiatan terakhir adalah mengenalkan salah satu makanan khas tradisional bangsa Indonesia, khususnya jawa yakni gronthol. Makanan dari jagung ini menjadi magnet tersendiri bagi anak-anak. Belum lagi wadah penyajiannya yang memakai conthong. Yakni wadah makanan dari daun pisang yang dibentuk kerucut. Setelah bersabar dalam antrian, para siswa menikmati grontol tersebut bersama.

Anindita Putriandani Fazila, 1C mengungkapkan, ” Wah, senang sekali bisa makan grontol, soalnya baru pertama kali ini merasakan jagung dibuat seperti ini. Dan seru tadi bisa bermain engklek dengan teman-teman. Pokoknya senang dengan kegiatan hari ini” .

Ustadz Sugeng Sugiharto,S. Ag, selaku guru Bahasa Jawa menjelaskan, ” Hampir semua permaianan tradisional mengajarkan kepada anak-anak dalam mengelola emosi, melatih asah dan olah rasa dalam berteman, mengajari anak bersikap demokratis, belajar menghargai teman, belajar arti dari saling bekerjasama, meningkatkan kepercayaan diri. Tembang bocahpun mengandung nilai-nilai luhur. Oleh karena itu tim kelas 1 SDIT Nur Hidayah mencoba mengenalkan budaya tersebut kepada para siswa”.

Waka Humas SDIT Nur Hidayah Surakarta, Rahmat Hariyadi, S. Pd memaparkan, ” Bangsa Indonesia kaya akan ragam budaya. Baik nyanyian dan permainan anak. Sayang sekali jika nilai-nilai luhur yang ada di dalamnya hilang tertelan masa. Oleh karenanya kami sangat mengapresiasi atas kreativitas tim kelas 1 untuk mentransfer kekayaan negeri ini kepada para siswa. Kegiatan ini menjadi salah satu cara pencapaian beberapa point dari SKL ( Standart Kelulusan ) SIT yakni siswa melakukan ibadah dengan benar, siswa memiliki wawasan yang luas dan memiliki ketrampilan hidup (life skill )”.*(yan/emyu)

WhatsApp Image 2018-03-19 at 08.58.49

Mencipta Kreasi, Melejitkan Ketrampilan Diri

Lantunan kalam Ilahi para siswa kelas 1 Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) Nur Hidayah Surakarta di halaman gedung barat pada waktu pagi, merupakan sajian yang menenangkan. Sembari menunggu berkumpulnya keseluruhan siswa, mereka menunggu dengan cara memuroja’ah (mengulang) surat Al- Qur’an yang sudah mereka hafalkan di tahfidz pagi. Selasa (13/3) para siswa kelas 1 SDIT Nur Hidayah akan mengikuti kegiatan Praktik Belajar lapangan (PBL) ke Kampung Gerabah Melikan, Wedi, Klaten.

Perjalanan selama kurang lebih 1,5 jam tidak terasa membosankan karena di dalam bus, para siswa saling bersuka dengan aneka tepuk dan lagu-lagu yang mereka dapatkan dalam pembelajaran di kelas.

Sesampai di lokasi, para siswa langsung disambut dengan ramah oleh para pemandu kegiatan. Mereka dihantarkan ke aula untuk mengikuti pembukaan. Bapak Sumilih, leader tim dari Kampung Gerabah memberikan paparan kegiatan apa saja yang akan dilaksanakan para siswa melalui tayangan video.

Para siswa yang berjumlah 132 dibagi menjadi kelompok putra dan putri. Mereka akan diajak belajar dan praktik tentang ketrampilan membuat kerajianan tradisional. Menu ketrampilan pertama adalah berkreasi dengan janur. Pemandu kegiatan menerangkan asal janur berikut aneka manfaat dari janur dan pohon kelapa. Kemudian para siswa diajari cara membuat keris-kerisan. Para siswa begitu antusias mencoba membuat keris janur sesuai arahan pemandu. Awalnya beberapa merasa kesulitan. Namun setelah berulang mencoba dan mengikuti arahan dari pemandu akhirnya mereka berhasil membuat keris janur.

Kegiatan berikutnya adalah menyusur desa Melikan yang merupakan salah satu sentra gerabah di Klaten. Para siswa dapat mengamati secara langsung aktivitas masyarakat desa Melikan yang pekerjaan sehari-harinya rerata sebagai pengrajin gerabah. Ada yang sedang mengaduk tanah liat, ada yang sedang membakar gerabah, ada pula yang sedang melukis gerabah yang sudah jadi.

Salah satu yang menjadi tujuan tempat menyusur desa ini adalah sebuah rumah yang menyajikan ketrampilan membatik. Di sini para siswa secara bergantian diperkenankan untuk membatik. Memegang canting, membaui tinta yang dipanasi, menggoreskan canting sesuai alur gambar di kain adalah hal yang mengesankan bagi para siswa. Hal ini terlihat dari begitu semangatnya mereka mengantri agar dapat kesempatan membatik.

Praktik selanjutnya adalah menghias gerabah. Setiap anak diberi jatah untuk menghias tempat pensil dari tanah liat. Hiasan bunga lengkap dengan tangkainya, aneka hewan ataupun buah-buahan merupakan beberapa ide yang berhasil mereka kreasikan untuk menghiasi gerabah tempat pensil. Gerabah ini nanti akan dibakar untuk kemudian dihantar ke SDIT Nur Hidayah dan dibagikan kepada para siswa sebagai bukti hasil belajar mereka di PBL ini.
Serangkaian kegiatan bermanfaat dan menggembirakan ini berlangsung sampai tengah hari. Ketika waktu sholat tiba, para siswa diarahkan ke masjid desa untuk melaksanakan sholat berjama’ah.

Langit Nazecha Arundaya, (7th) kelas 1A mengungkapkan kepuasannya, “Tak menyangka ternyata aku bisa juga membuat keris janur. Membatik dan menghias gerabahnya juga asyik banget. Baru kali ini mencoba dan ternyata mudah”.

Penutupan acara diakhiri dengan penyerahan kenang-kenangan dari SDIT Nur Hidayah kepada pihak tim Kampung Gerabah. Pak Sumilih, selaku leader team menuturkan kesannya terhadap siswa SDIT Nur Hidayah, “Dari beberapa kali kunjungan ke Kampoeng Gerabah ini, terlihat para siswa SDIT Nur Hidayah adalah anak-anak yang baik, penuh semangat dan terjaga ibadahnya”.

Ustadz Sugeng Sugiharto, S. Ag selaku ketua panitia sekaligus koordinator paralel kelas 1 menyampaikan, “Kami ingin mengenalkan salah satu kerajinan tradisional yakni gerabah. Kegiatan ini selain mengajarkan kreatifitas siswa, kesabaran dalam proses, keberanian mencoba, mengembangkan ketrampilan motorik anak, juga menambah wawasan siswa akan kayanya budaya luhur bangsa Indonesia”.

Waka Humas SDIT Nur Hidayah, Rahmat Hariyadi, S. Pd, menandaskan, “SKL (Standart Kelulusan ) kekhasan Sekolah Islam Terpadu (SIT) diantaranya adalah, melakukan ibadah dengan benar, memiliki wawasan yang luas dan memiliki keterampilan hidup (life skill) telah terakomodasi dalam rangkaian kegiatan PBL kelas 1 SDIT Nur Hidayah ini. Saya sangat mengapresiasi atas upaya para asatidz memilihkan kegiatan dan mengkreasinya sehingga mengoptimalkan proses pembelajaran siswa untuk mencapai SKL kekhasan SIT”.(yan/emyu)

WhatsApp Image 2018-03-14 at 11.07.01

Sehat Makananku, Sehat Badanku, Enak Ibadahku

Kegiatan rehat pasca Penilaian Tengah Semester (PTS) merupakan hal yang menyenangkan. Para siswa belajar dalam kelompok yang lebih besar. Kalau sehari-hari mereka lebih terbiasa berinteraksi dengan teman sekelas, kegiatan rehat menjadikan mereka merasakan arti kebersamaan. Pasti lebih menyenangkan. Iya, kan?

Senin (12/3), beberapa kelas paralel di SDIT Nur Hidayah Surakarta mulai melaksanakan kegiatan rehat pasca PTS. Ada yang renang, outbond, dan juga memasak. Paralel kelas 1 pun turut memeriahkan agenda rehat kali ini dengan kegiatan yang sangat asyik dan membahagiakan. Terutama, bagi yang hobi makan.

Kegiatan kali ini mengambil tema Aku Suka Makan Sayur, Anak Indonesia sehat. Sejak pagi, para siswa kelas 1 sudah bersemangat dengan membawa menunya masing-masing dari rumah. Sayur dengan berbagai olahan khas Indonesia, lauk dengan jenis dan ragam rasa yang menggugah selera, buah-buahan yang menyegarkan, dan susu atau minuman yang menyehatkan.

Sebelum memasuki puncak kegiatan, seperti biasa para siswa mulai berbaris pukul 07.00 di depan kelas masing-masing. Dengan penuh semangat, bertepuk tangan dan bertakbir kemudian berlomba untuk menjadi yang paling tertib dan sholih. Setelah berwudhu, mereka duduk bershaf untuk persiapan doa dan sholat dhuha bersama dipimpin oleh Ustadzah Yan Syakila dengan senyum dan semangat penuhnya. Selesai sholat dhuha, para siswa murajaah Surat Al-A’la dan Al-Ghosyiyah bersama-sama. Kemudian, bersiap-siap ke bawah menuju halaman sekolah untuk kegiatan selanjutnya, Senam Pinguin.

Mereka sudah mengenal senam ini pada pelajaran Olah Raga. Tetapi tak semua siswa berani menjadi instruktur tiba-tiba. Ada satu siswa yang pemberani, “Aku sudah hafal senamnya kok ustadzah, makanya berani maju tadi,” cerita Hamas Izzudin Kariem (7) kelas 1B dengan begitu cerianya usai menjadi instruktur bagi teman-temannya.

Usai senam, para siswa kembali ke kelas masing-masing dan beristirahat secukupnya. Petualangan ilmu dilanjutkan. Berbagai macam sayuran telah menanti di kelas tercinta. Sebelum menonton film yang membahas tentang sayuran dan manfaatnya, para siswa dikenalkan nama-nama sayuran dalam wujud nyata. Asyik ya ternyata.

“Berkumpullah saat kalian makan dan sebutlah nama Allah, niscaya Allah akan memberikan keberkahan” (Al Hadits)

Waktu di jam dinding menunjukkan pukul 10.30, ini artinya sudah tiba acara yang didamba. Makan bersama. Para siswa mempersiapkan bekal yang dibawa untuk anggota kelompoknya. Duduk melingkar di serambi kelas lalu belajar menyajikan makanan dengan berbagai gaya. Berdoa bersama, lalu mulai membagikan nasi, sayur, lauk, dan apa yang ada. Makan dengan sistem mengambil sendiri (prasmanan) ini melatih siswa bertanggungjawab terhadap makanannya. “Kalau ambil sendiri, berarti harus dihabiskan. Ingat ya, yang belum terbiasa makan sayur, belajar makan sayur,” pesan salah satu asatidz kepada siswa yang tampak tak tertarik mengambil sayur.

Selesai makan, anak-anak berlatih secara mandiri membersihkan sisa-sisa makan dan alat makan yang mereka gunakan. Budaya antre tak lupa diajarkan. Alhamdulillah, kegiatan rehat hari pertama kelas 1 sungguh menyenangkan dan mengenyangkan. Akhir dari semua kegiatan, para siswa dan guru tunaikan-sujud sholat dzuhur. Berikut doa-doa indah terpanjatkan. Sehat makananku, sehat badanku, enak ibadahku *(tim1/emyu)

WhatsApp Image 2018-03-14 at 10.10.48

Mengenali Bumi dengan Karya Tiga Dimensi

“Plastisin warna hijau menjulang ini gunung. Warna ungu yang ini, sungai. Ada danau, bukit, dan dataran rendah yang kami buat rumah-rumah. Ada jembatan dan sawah.” papar Faisa Hasyim (9) kelas 3A saat presentasi bersama kelompoknya.

Hari ini (Selasa/13/03/18) SDIT Nur Hidayah masih dalam rangka rehat tengah semester dua. Karena itu, hampir semua jenjang paralel, kecuali kelas 6, melaksanakan kegiatan nonkelas. Meski demikian, kegiatan-kegiatan yang diagendakan para guru masih berkaitan dengan pelajaran. Seperti kegiatan paralel kelas 3 di sekolah bernuansa hijau ini. Setelah kemarin para siswa diajak melihat alam secara langsung. Kini mereka menuangkan ke dalam bentuk karya tiga dimensi.

Alat dan bahan yang sederhana tak menyurutkan niat mereka untuk bekerja satu sama lain. Berbagai warna plastisin dari masing-masing siswa dikumpulkan lalu bersama membentuk permukaan bumi dengan kardus bekas sebagai dasarnya. Tak hanya itu, para siswa juga saling memberikan penjelasan saat ada teman satu kelompok kurang paham.

“Aku tadi kurang paham dataran rendah. Tapi aku terus dijelasin teman. Sekarang aku tahu dataran rendah bisa dipakai untuk menanam padi.” ungkap Muhammad Zaky Fathul ‘Ilmi, siswa kelas 3B mengungkapkan pengalamannya. Berbagai bahan yang dibawa ke sekolah juga mengajarkan sikap bertanggung jawab. Sementara menyelesaikan tugas dengan baik dan tepat waktu memberikan gambaran sikap disiplin bagi siswa.

“Kegiatan ini sebenarnya masuk dalam mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam bab Permukaan Bumi. Jadi, kami berharap dengan langsung membuat karya, para siswa lebih paham perbedaan gunung dan bukit,” demikian urai Syrifatul Istiqomah Spd, Spd SD, selaku Koordinator Guru Paralel Kelas 3 sekaligus pengampu mata pelajaran IPA. Dalam pembuatan karya tiga dimensi tersebut, siswa tidak sekadar mengerjakan sebuah tugas. Ada makna khusus dari kegiatan di sekolah yang bertagline “Terdepan dalam Kebaikan” ini. Anak-anak diajak untuk memahami ayat Al-Quran bahwa gunung-gunung diciptakan Allah sebagai pasak-pasak bumi.

Pendapat senada juga disampaikan oleh Waka Kehumasan SDIT Nur Hidayah, Rahmat Haryadi, S.Pd,bahwa tagline tersebut tidak hanya untuk kegiatan saling membantu, tetapi juga untuk saling menguatkan dalam hal kebaikan.
“Terdepan dalam kebaikan, memotivasi warga Sekolah untuk berfastabiqul khoirot dalam kebaikan, terbaik dalam prestasi, itu harapan kami bagi generasi penerus bangsa ini.” *(indah/emyu)