WhatsApp Image 2018-03-05 at 07.31.32

Semakan Al Qur’an itu Menyenangkan

“Satu hurufnya dinilai satu kebaikan. Selama masih proses belajar, ketika salah melafalkan bukan dihitung kesalahan, namun justru diganjar satu pahala, apalagi jika tartil dan benar dalam membaca dan menghafalkannya? Kasih sayang Allah dilimpahkan bagi mereka yang mendekat dan menanamkan Al quran dalam sanubarinya.”

Nasihat yang dipetuahkan oleh Ustadzah Roihatul Hasanah, S, A.g tersebut ternyata mampu melecut semangat para siswa yang hendak semakan Al-Qur’an. Pesan yang disampaikan Ustadzah Roi, panggilan kesayangan oleh para siswa-siswi, itu sangat membekas dalam sanubari para siswa. Semangat ghiroh untuk menghafal Al-Qur’an semakin membuncah.

Ya, pagi itu (27/02/2018), lorong-lorong teras kelas dipenuhi para siswa kelas 1 yang duduk melingkar. Mereka berkelompok 6 orang dan membentuk lingkaran. Lutut bertemu lutut, menandakan kedekatan dan kesungguhan. Di tangan mereka tergenggam juz’ama.

Kegiatan semakan Al Qur’an ini diawali do’a pembuka pembelajaran Al- Qur’an metode Littaqwa secara serentak. Kemudian setiap anak akan disemak hafalannya oleh temannya dalam satu kelompok. Jika satu anak sudah selesai satu surat, maka akan diganti oleh teman sebelah kanannya untuk menghafalkan surat yang sama. Sampailah setiap anak dalam satu kelompok tersebut menghafalkan surat yang sama. Jika telah selesai putaran satu surat, maka dilanjutkan dengan menghafalkan surat berikutnya secara bergiliran.

Lebih Lanjut Ustadzah Roi, selaku salah satu guru Al-Qur’an di SDIT Nur Hidayah Surakarta, menjelaskan, ”Surat yang dihafalkan dalam tiap kelompok pada kegiatan semakan Al Qur’an kali ini adalah surat An-Nass sampai Al Asr. Dilanjutkan surat Al Fajr. Tujuan penyelenggaraan semakan Al Qur’an ini adalah agar para siswa terbiasa menghafal dan menyimak dihadapan orang lain, dalam hal ini temannya. Teman yang menyemak diperbolehkan membuka juz’ama . Dengan harapan bisa mengingatkan dan membetulkan jika teman yang sedang hafalan lupa atau salah ”.

Fahma, salah satu siswa kelas 1B menuturkan, ”Awalnya aku malu disemak teman dan takut kalau ada kesalahan dalam menghafal. Tapi setelah dijalani, Alhamdulillah tadi hafalanku bisa semua. Aku jadi percaya diri”.

Wakil Kepala Sekolah Bidang Pendidikan Al-Qur’an SDIT Nur Hidayah, Ustadz Ali Mashudi Al-Hafidz, memaparkan, “SDIT Nur Hidayah dalam pembelajaran Al-Qur’an ada dua yakni terkait pembelajaran bacaan Al Qur’an menggunakan metode Littaqwa dan hafalan alquran. Sedangkan untuk menggenjot hafalan para siswanya salah satunya dengan program tahfidz pagi. Yakni kegiatan rutin pagi hari setelah do’a dilanjutkan muroja’ah dan menambah hafalan dibimbing oleh guru-guru Al-Quran selaku penaggung jawab tahfidz pagi di kelasnya masing-masing. Selain itu bahwa program semakan ini merupakan salah satu cara agar para siswa termotivasi menghafal Al -Qur’an. Agar terjaga surat-surat yang sudah terhafalkan”.

WhatsApp Image 2018-02-26 at 14.06.31

Sinabung, Olehnya Kami Diajari Bersyukur, Peduli, dan Berbagi

Rinai hujan sisa guyuran derasnya selepas subuh masih terlihat saat tanda waktu menunjukkan pukul 07.00 WIB. Jum’at (23/02/2018), Teras Kelas 1 sudah berjajar deretan siswa menghadap kiblat. Dengan dipandu oleh Ustadz Cuk Irman Winata,A. Md., siswa kelas 1 Paralel mengawali kegiatan belajar Jum’at ini dengan Sholat Dhuha sebelum melanjutkan rangkaian acara sehari sebelumnya tentang Sinabung. Seperti yang dilontarkan Koordinator Kelas 1, Ustadz Sugeng Sugiharto, S.Ag bahwa hari ini akan ada aksi nyata doa dan penggalangan dana untuk Sinabung dari siswa kelas 1 SDIT Nur Hidayah Surakarta.

Setelah sholat Dhuha, Ustadzah Yan Syakila, S. Ag. bercerita tentang indahnya berbagi untuk meringankan beban saudara-saudara yang membutuhkan. Setelah itu, bersama-sama memanjatkan doa untuk saudara-saudara di Sinabung dan juga saudara-saudara lainnya yang sedang tertimpa bencana.

Salah satu siswa kelas 1B, Ananda Alfa, mengungkapkan merasa sedih dan ikut berempati dengan beberapa bencana yang menimpa saudara-saudara di beberapa tempat di Indonesia. Sementara siswa kelas 1 lainnya, Ananda Rifay, bertutur, “Aku membawa infaq untuk meringankan beban saudara-saudara di Sinabung”.

Tidak lama kemudian, salah satu guru kelas 1 membawa sebuah kotak infaq untuk Sinabung. Siswa berbaris memasukkan infaq sukarela yang sudah mereka persiapkan dari rumah. Ustadz Sugeng Sugiharto, S. Ag selaku koordinator kelas 1 menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan ramuan tim guru kelas 1 untuk menjadikan literasi sebagai salah satu sarana yang bisa digunakan untuk menanamkan karakter siswa. Nilai pembentuk karakter yang ingin kami tanamkan melalui kegiatan ini adalah religius, toleransi, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, gemar membaca, peduli lingkungan, dan peduli sosial. “Alhamdulillah, untuk donasi bisa terkumpul Rp. 1.079.000,00”, begitu tambahnya sambil tersenyum.

Waka Kehumasan SDIT Nur Hidayah, Rahmat Hariyadi, S. Pd., Mengungkapkan, “Senang dengan inisiatif rekan-rekan guru kelas 1 yang telah berupaya menggagas ide mengangkat berita terkini untuk melakukan pembelajaran penumbuhan budi pekerti. Hal ini selaras dengan visi  SDIT Nur Hidayah yang menjadi sekolah berkarakter, ramah anak, dan berprestasi gemilang.  Adapun donasi yang terkumpul hari ini akan kami salurkan melalui Jaringan  Sekolah Islam Terpadu (JSIT). JSIT Wilayah Jateng ada bagian yang menangani penyaluran dana sosial untuk wilayah terkena korban bencana.”
(yan/win/emyu)

WhatsApp Image 2018-02-26 at 13.37.26

Melatih Jiwa Peduli Melalui Literasi

“Karakter bukan diajarkan lewat teori dan wejangan. Karakter diajarkan melalui teladan dan contoh nyata.” (Anies Baswedan)

Gambar Gunung Sinabung yang meletus  sungguh menarik bagi para siswa kelas 1 Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) Nur Hidayah Surakarta. Mereka sontak mengamati bentangan surat kabar yang dipegang seorang guru. Kamis (22/2/2018) para siswa mengikuti pembelajaran literasi di teras depan ruang kelas 1 yang mengenalkan surat kabar sebagai salah satu media informasi. Para siswa dikenalkan tentang isi dari surat kabar termasuk headline surat kabar yang menceritakan tentang peristiwa meletusnya Gunung Sinabung. Semua siswa terlihat antusias melihat koran dan menyimak penjelasan dari ustadzah Yan Syakila, S. Ag. selaku pengampu muatan pelajaran PAI.

“Aku tahu berita itu dari TV!” teriak  salah satu siswa kelas 1 dengan antusias. Muhammad Amru, siswa kelas 1D mengungkapkan, “Aku juga sudah mengetahui berita tersebut. Aku merasa sedih dengan letusan Gunung Sinabung Ini.” Kegiatan yang merupakan bagian dari pembelajaran literasi ini menjadi program rutin SDIT Nur Hidayah di pagi hari. Gerakan Literasi Sekolah merupakan penerapan dari Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) Nomor 23 Tahun 2015 tentang Pendidikan Budi Pekerti.

Koordinator Guru Kelas 1 Paralel, Sugeng Sugiharto, S. Ag. menuturkan, “Melalui literasi tentang Sinabung ini siswa dijelaskan tentang hikmah suatu bencana agar kita bisa bersyukur, lebih taat kepada Allah dan tentunya memantik rasa kepedulian siswa kepada sesama. Kegiatan literasi ini akan dilanjutkan dengan aksi nyata doa bersama untuk Sinabung serta penggalangan dana pada hari berikutnya.”

Sementara Waka Humas, Rahmat Hariyadi, S. Pd. menuturkan, “Literasi yang mengangkat berita terkini sangat baik dilakukan agar anak-anak mengikuti perkembangan berita terkini yang selaras dengan salah satu dari 7 Standar Kompetensi Lulusan (SKL) Sekolah Islam Terpadu (SIT) yaitu berwawasan luas. Tujuh SKL SIT yang lain yaitu: 1) Memiliki aqidah yang lurus, 2) Melakukan ibadah dengan benar, 3) Berkepribadian matang dan berakhlaq mulia, 4) Menjadi pribadi yang bersungguh-sungguh, disiplin, dan mampu mengendalikan diri, 5) Memiliki kemampuan membaca, menghafal dan memahami Al-Qur’an dengan baik, 6) Memiliki wawasan yang luas, 7) Memiliki ketrampilan hidup (life skill). Oleh karena itu setiap kegiatan siswa SDIT Nur Hidayah berorientasi kepada tercapainya kompetensi tersebut.”
(yan/emyu)

WhatsApp Image 2018-02-16 at 12.28.58

Tanamkan Karakter Mulia melalui Kemah Ukhuwah PERJUSA

Kami generasi muda yang gigih
Bertekat kuat membangun negeri
Agar Indonesia membumbu ng tinggi
Harum semerbak seantero bumi

Pramuka SIT Indonesia
Dengan cita kami terus melangkah
Pramuka SIT Indonesia
Dengan taqwa kami meraih cita

Tangguh tangkas teguh di dalam jiwa
Pramuka SIT Indonesia

Mars Pramuka SIT Indonesia menggema di pelataran halaman SDIT Nur Hidayah pagi ini. Dinyanyikan seluruh siswa, menghantarkan keberangkatan mereka menuju ke armada bus yang telah disediakan. Mereka tampak gagah dan anggun memakai seragam pramuka lengkap dengan hasduk dan topi pramukanya. Sambil menggondong tas ransel membawa perlengkapan masing-masing, senyum mengembang terpancar dari wajah mereka saat disalami beberapa guru. Tampak sebagian orang tua ikut menghantarkan sampai ke tempat bus di Jalan Siwalan tidak jauh dari sekolah.

Ya, hari ini sampai besok (Jum’at-Sabtu, 16-17/02) sejumlah 280 siswa-siswi kelas 4 dan 5 SDIT Nur Hidayah akan mengikuti kegiatan Perkemahan Jum’at-Sabtu (PERJUSA) di Kampoeng Karet, Ngargoyoso, Karanganyar. Tema yang diambil dalam kegiatan ini “Dengan Kemah Ukhuwah Kita Hadirkan Semangat Membangun NKRI Bersama-sama dalam Rangka Membentuk Generasi Tangguh Melalui Gerakan Pramuka”.

Sesampainya di lokasi, peserta mendirikan tenda didampingi Kakak Pembina masing-masing regu. Selanjutnya mereka memasak untuk persiapan makan siang, sebelum menunaikan Sholat Jum’at berjamaah.

Selepas waktu dzuhur, semua peserta sudah siap mengikuti Upacara Pembukaan. Kepala Sekolah sekaligus Kamabigus Gugus Depan SDIT Nur Hidayah, Waskito, S.Pd menyampaikan amanat upacara, “Pramuka SIT Indonesia harus bersungguh-sungguh dalam meraih cita. Dengan senantiasa menjaga amalan yaumiyah. Jadikan kemah ini untuk mengokohkan sikap positif mandiri, kerja sama, tanggung jawab, dan lainnya. Juga senang bahagia di manapun dan kapanpun berada.”

Ketua Panitia, Sunarto, S.Pd, menyampaikan “Lomba-lomba antar regu dimulai usai Sholat Asar. Ada lomba Tantangan Atribut Pramuka, Tantangan Arah Mata Angin, Tantangan KIM (Kejelian Indra Manusia), Tantangan Estafet (Bakiak, Himpit Bola, Tongkat), Tantangan Kebangsaan (Pancasila, Sandi Kotak), Tantangan Ketangkasan (Lempar Bola, Pindahkan Bola dengan Ditiup), Tantangan P3K Dragbar, Perang Air, dan diakhiri dengan Tubing Kali Cilik.”

Salah satu peserta lomba, Kifaya Taqiyya Rasyida (9) siswi kelas 4D menuturkan pengalamannya, “Seru, bisa masak bareng teman-teman. Masak sayur sop serta goreng kentang dan sosis. Bisa melatih kerjasama dan kemandirian. Di rumah kadang-kadang sudah masak sendiri.” Sementara peserta lainnya, Kholif Sunan Al-Fatih (10) siswa kelas 5B menuturkan, “Baru kali ikut kegiatan kemah. Ternyata menyenangkan. Bersama teman-teman satu regu siap mengikuti lomba-lomba yang disiapkan Kakak Pembina.”

Waka Humas SDIT Nur Hidayah, Rahmat Hariyadi, menuturkan, “Agenda kegiatan ini rutin dilaksanakan 2 tahun sekali bagi pramuka siaga. Mudah-mudahan menjadi pengalaman berkesan bagi mereka.” (yudi&bisri/emyu)

WhatsApp Image 2018-02-17 at 05.08.04

Serunya Belajar Menimbang

Hari ini (19/02/2018) adalah hari yang ditunggu siswa siswi kelas 2. Sejak pekan pertama Februari, siswa-siswi kelas 2 belajar Tematik pada Tema 6: Merawat Tanaman dan Hewan. Dalam tema ini terdapat kegiatan pembelajaran praktek menimbang pada muatan pelajaran matematika untuk Satuan Berat Baku.

Usai kegiatan majelis pagi, siswa- siswi mengumpulkan bahan yang akan digunakan untuk praktek menimbang. Bahan yang dibawa dari rumah berupa kentang, beras, telur asin dan tepung. Selain itu siswa juga membawa beberapa produk kemasan sachet yang terdapat keterangan beratnya seperti sabun, detergent, mentega, kopi, susu, merica bubuk, coklat batang dan gula pasir.

Bahan yang sudah dibawa ditata sedemikian rupa oleh guru pengampu. Ada 3 macam timbangan yang digunakan, yaitu timbangan pasar, timbangan dapur, dan timbangan digital. Selain itu, siswa juga disediakan Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) untuk diisi.

Para siswa terbagi dalam 6 kelompok yang akan menimbang di pos-pos penimbangan secara bergantian. Pos 1 menimbang kentang, Pos 2 menimbang beras, Pos 3 menimbang telur, Pos 4 menimbang tepung, sedangkan Pos 5 dan 6 mencatat keterangan berat produk dalam sachet.

Kegiatan menimbangpun dimulai. Pembelajaran menjadi lebih seru dan asyik. Para siswa terlihat sangat senang dan menikmati pembelajaran. Menuang beras dalam baskom timbangan, kemudian menambah atau mengurangi agar paruh timbangan sejajar. Meletakkan telur dan kentang saat menimbang, mengganti dengan yang lebih besar atau sebaliknya hingga mencapai berat yang sesuai.

Guru Pengampu Tematik sekaligus Tim Humas Paralel Kelas 2, Reni Agustin Priyatiningrum, S.Pd menuturkan, Memegang beras, tepung dan benda-benda secara langsung memberikan pengalaman yang sangat berkesan. Mereka tampak bahagia belajar sambil praktik bersama teman-teman. Kelak ketika di antara mereka menjadi pedagang semoga sukses dengan tetap menjaga karakter jujurnya dalam menimbang.”

Diakhir pembelajaran, para siswa memberikan kesimpulan sederhana bahwa menimbang dengan timbangan digital paling mudah, tapi menimbang dengan timbangan pasar sangat asyik. Tidak lupa, para siswa dan guru bekerja sama merapikan dan membersihkan kelas sebelum persiapan pulang.

Waka Humas SDIT Nur Hidayah, Rahmat Hariyadi, S.Pd menuturkan, “Pembelajaran tematik memang lebih menyenangkan dan lebih berkesan. Siswa dikenalkan langsung dengan bendanya. Mereka mengamati, memegang/ memfungsikan, membuat kesimpulan bersama, dan lainnya. Ada 4 kelas di SDIT Nur Hidayah yang tahun pelajaran ini menggunakan Kurikulum 2013, yaitu kelas 1, 2, 4, 5. Insya Allah tahun pelajaran mendatang semua kelas mengikuti Kurikulum 2013.”

WhatsApp Image 2018-02-17 at 05.07.21

Aku Bisa Mengancing Baju Sendiri

Setiap anak hendaknya dibekali kecakapan hidup yang memadai, agar kelak tegak mandiri atas kehidupannya sendiri. Terampil dalam menemukan solusi atas tiap masalah yang dihadapi.

Mama Fulanah memandang putranya yang masih bejibaku memakai seragam. Jemarinya masih belibet mengancingkan baju. Sementara waktu terus bergerak. Sang Bunda harus memutuskan membantu ananda memakai seragam sehingga ananda tidak terlambat atau membiarkan ananda tetap berlatih dengan konsekuensi membutuhkan waktu yang lama.

Lain cerita,  Fulan dengan tergesa memakai sepatu bertalinya. Klakson mobil antar jemput sudah memanggilnya. Namun jemarinya masih sibuk menali. Klakson kembali terdengar dan memaksa dirinya untuk abai atas tali sepatu. Ia berlari menuju mobil dengan tali sepatu yang masih menjulur ke sana kemari.
Mempunyai sepatu seperti pemain sepakbola idolanya ternyata lebih sering membuatnya terjebak dalam kerumitan karena selalu berurusan dengan tali menali.

Mengancing baju, menali sepatu, mencuci peralatan makan pribadi, menjahit sederhana adalah beberapa contoh sederhana kecakapan yang hendaknya dibekalkan kepada anak di usia dini mereka.  Hal ini dikarenakan keduanya salah satu contoh persoalan keseharian yang musti dihadapi anak dan harus bisa diselesaikan sendiri oleh mereka.

Berangkat dari hal tersebut, maka SDIT NUR HIDAYAH dari awal berdirinya menjadikan pelajaran Life Skill (Kecakapan Hidup) sebagai salah satu menu unggulan dalam program pembelajaran. Life Skill sangat penting sebagai bekal setiap anak. Life Skill adalah pendidikan yang memberikan kecakapan personal,  kecakapan sosial, kecakapan  intelektual dan  kecakapan vokasional untuk bekerja, berusaha, dan atau hidup mandiri.

Orientasi Life Skills,  membangun  sikap  kemandirian,  untuk mendapatkan ketrampilan  sebagai bekal untuk bekerja  dan mengembangkan diri. Sebagai contoh salah satu pembelajaran life skill yang dilaksanakan di SDIT Nur Hidayah Surakarta yakni pembelajaran  kelas 1 pada Sabtu (27/01/ 2018) para siswa antusias mengikuti pelajaran life skill. Tema yang disajikan adalah ‘Aku Bisa dan Terampil Mengancingkan Baju Sendiri’.

Mengancingkan baju merupakan pembelajaran yang mensinergikan stimulus motorik halus sekaligus psikologis anak. Motorik halus adalah gerakan yang hanya melibatkan bagian tubuh tertentu saja. Dilakukan oleh otot-otot kecil. Seperti kemampuan menggunakan jemari tangan dan gerakan pergerakan tangan yang tepat. Kegiatan ini tidak membutuhkan banyak tenaga tetapi membutuhkan kecermatan dan koordinasi yang bagus.

Pada dasarnya sebuah stimulasi motorik halus akan melatih koordinasi mata dan tangan. Hanya saja untuk stimulasi mengancing baju sendiri agak berbeda. Karena koordinasi yang dilakukan terdapat di pakaian yang dikenakannya. Tentu taraf kesulitannya lebih tinggi. Dia harus menunduk untuk melihat dan memastikan jari-jarinya bekerja dengan benar.

Semakin tinggi tingkat koordinasi mata dan jari, maka semakin tinggi pula keterampilan kompleks yang dimiliki anak. Ia akan lebih mudah belajar pada proses yang lebih rumit. Dan akan lebih mudah menyelaraskan gerak yang utuh.

Salah satu guru kelas 1, Siti Aminuriyah, S. Ag, menyampaikan, Dengan adanya pembelajaran ini ada 4 point yang diproseskan kepada siswa; Pertama, melatih motorik halus, yang merupakan bekal ketrampilan lain anak serta berkaitan dengan perkembangan kognitif anak. Kedua, Melatih koordinasi mata dan tangan. Ketiga, Melatih kemandirian anak. Keempat, Melatih kesabaran dan ketekunan anak.”

Pada akhirnya memang tak ada yang sederhana ketika memproses anak dalam sebuah pembelajaran. Ibarat menanam padi, jikalau hendak menuai bernasnya panenan, maka petani hendaknya cermat, tekun, dan sabar dari menyemai bibit, menjaga, merawat, membuang rerumput dan semua hama, hinggalah memilih waktu yang tepat dalam memanennya.
(yan/emyu)

WhatsApp Image 2018-02-14 at 08.05.13

Asyiknya Membuat Kincir Angin

Hari masih pagi. Bel masuk baru saja berbunyi. Siswa-siswi Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) Nur Hidayah mempersiapkan diri dengan membentuk barisan di depan kelas masing-masing. Tidak terkecuali siswa-siswi kelas 3. Mereka menyemangati diri dan teman-temannya dengan yel-yel, tepuk, dan nyanyian. Setelah baris rapi mereka antre masuk kelas dengan bersalaman kepada wali kelas dan wakil wali kelas yang telah siap di depan pintu kelas. Mereka mengawali kegiatan pembelajaran dengan doa, murojaah hafalan one day one ayat, literasi, dan salat dhuha.

Usai kegiatan majelis pagi, mereka bersiap mengikuti kagiatan pembelajaran. Ada yang berbeda dengan kegiatan pembelajan hari ini. Setiap siswa menata beberapa bahan di atas meja. Tertata rapi lem, sedotan, kertas lipat, dan gunting untuk memotong. Benar, pagi ini memang terasa istimewa. Sebab mereka akan mencoba sesuatu yang baru, yakni membuat kincir angin sederhana. Kegiatan proyek ini merupakan bagian dari kegiatan belajar mengajar muatan pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam.

Tak berselang lama, para siswa mulai melakukan urutan proyek sains itu. Pertama, siswa menggaris kertas lipat dengan dua garis yang bersilang. Lalu perlahan mereka mengguntingnya sampai pada titik yang ditentukan. Hasil pengguntingan tersebut kemudian dilipat berselang-seling dan direkatkan dengan lem. Mereka sangat berhati-hati ketika memasangkan poros. Sebab poros kincir dari jarum pentul yang tajam. Terakhir, tongkat kincir dipasang.

Ustadzah Syarifatul Istiqomah, S.Pd, guru pengampu kelas 3 menyampaikan, “Kegiatan proyek ini dalam rangka membuktikan bahwa ada energi angin di sekitar kita. Selain itu, kegiatan yang dibalut dengan ketrampilan ini merupakan bagian dari materi pembelajaran Bab 8, yaitu Energi.”

Rafif Ahmad (9), salah satu siswa kelas 3, menyampaika rasa senangnya dengan kegiatan praktikum ini. “Iya, saya senang. Meski agak sulit tapi ternyata bisa bergerak.” Senada dengan Rafif, siswa kelas 3 lainnya, Fauzi Daniswara (9) juga senang dengan kincir angin yang dibuatnya. “Senang sekali, ini kincir angin yang kedua. Kincir pertama tidak berhasil. Soalnya kebanyakan lem waktu menempel. Jadi sobek.”

Indah Sri Rahayu, S.S selaku Humas Kelas 3 Paralel menyampaikan, “Kami berupaya selalu berinovasi dalam kegiatan belajar mengajar sehingga memacu para siswa untuk berkreasi. Setelah karya siswa dinilai, koridor sekolah terlihat warna warni dengan kincir angin yang dibawa berlari para siswa. Belajar memang menyenangkan, tak melulu harus di belakang meja. Kelas 3 SDIT Nur Hidayah sudah membuktikannya.” (indah/emyu)

WhatsApp Image 2018-02-12 at 12.39.35

Workshop Penyusunan Soal USBN 2018 Gugus IX Imam Bonjol

Hari ini (10/02) bertempat di Ruang Meeting Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) Nur Hidayah Surakarta, guru-guru kelas 6 beserta kepala sekolah yang tergabung dalam Gugus IX Imam Bonjol UPT Pendidikan Kec. Laweyan mengikuti kegiatan Penyusunan Soal USBN 2018. Kegiatan ini merupakan tindak lanjut dari sosialisasi dan workshop yang dilaksanakan pekan kemarin di UPT Pendidikan.

Dalam arahannya, Pengawas Gugus IX, Hartoyo, M.Pd. menuturkan, “Bahwa Ujian Sekolah Berstandar Nasional tahun 2018 ada beberapa perubahan yang harus dipahami dan disikapi dengan baik. Sesuai POS yang sudah diturunkan dari Kemendikbud, jumlah dan bentuk soal ada perubahan. Semisal untuk mata pelajaran Bahasa Indonesia tahun lalu 50 butir soal semua pilihan ganda. Tahun ini berubah menjadi 40 butir soal pilihan ganda, dan 5 butir soal uraian. Kemudian kisi-kisinya tiap mapel tahun ini bersifat umum, sehingga cakupan penyampaian materinya juga lebih luas. Adapun pelaksanaanya USBN untuk SD/MI, Kamis-Sabtu, 3-5 Mei 2018. Mari, bangun kerjasama dengan orangtua siswa dalam menyukseskan persiapan pelaksanaan kegiatan USBN.”

Usai mendapatkan pengarahan, guru-guru kelas VI dari keempat sekolah dasar tersebut berkumpul untuk membahas hal-hal teknis. Salah satunya adalah terkait pembuatan paket soal (Bahasa Indonesia, Matematika, Ilmu Pengetahuan Alam). Untuk lebih menambah latihan siswa, disepakati untuk membuat 2 paket soal. Satu paket untuk dikirim ke Dinas Pendidikan, satu paket lagi akan digunakan sebagai try out tingkat gugus.

Sementara Koordinator Guru Paralel Kelas 6 SDIT Nur Hidayah, Yuyun Yuningsih, S.Pd menuturkan “Perubahan kisi-kisi soal, bentuk soal, maupun waktu pelaksanaan yang lebih awal dibanding tahun lalu, harus kita sikapi dengan baik. Kami mulai membekali siswa sejak awal semester 1, mengacu pada ketentuan tahun lalu sebelum ketentuan baru keluar beberapa waktu lalu. Tadi pesan terkait pembelajaran harus meliputi level pemahaman, penalaran, dan aplikasi tentu sangat diperhatikan, kami telah dan terus berupaya mewujudkan hal tersebut.”

Waka Humas SDIT Nur Hidayah, Rahmat Hariyadi, S.Pd menyampaikan, “Sekolah menjalin kerjasama dengan Orangtua terkait kegiatan-kegiatan kelas 6. Salah satunya pengadaan konsumsi siswa saat kegiatan bimbingan belajar. Di setiap awal semester ada pertemuan dengan walimurid untuk menyosialisasikan kegiatan semester itu. Kemudian ada dua kali pengajian keluarga dan sharing informasi dalam setiap semesternya. Menjelang pelaksanaan USBN nanti insya Allah diagendakan Doa Bersama. Mudah-mudahan ikhtiar-ikhtiar itu memudahkan para siswa meraih prestasi yang terbaik.”