ShalatSubuh

Jejak Hikmah Subuh

Jejak Hikmah Subuh

Oleh : Rahmat Hariyadi, S.Pd.*)

 

Alarm otomatis itu menggugah tidur pulasku. Bukan alarm yang berbunyi kring…kring…kring…. Bukan pula alarm yang bergetar. Alarm ini secara natural ada dalam tubuhku. Tidak berwujud tidak pula berbau, jika belum keluar dari sarangnya. Aku harus berkepentingan untuk menunaikannnya, membuang hajat. Tentu jika ditahan dan tidak dikeluarkan dapat menimbulkan penyakit.

Alhamdulillahilladzi ahyana ba`da ma amatana wa ilaihinnusyur. Ku ucek kedua mataku. Terbuka. Kupandang jam dinding. Waktu menunjukkan pukul 03.10. Aku bangunkan belahan jiwaku. Segera kurapikan selimut bantal guling. Aku bergegas ke kamar kecil. Menunaikan hajat, mandi, dan berwudhu. Hawa dingin kulawan dengan guyuran air dingin. Segar rasanya di badan.

Sembari memasak air di atas kompor gas. Air hangat untuk mandi si Tengah dan si Bungsu. Aku tunaikan sholat lail. Dua rakaat, empat rakaat, witir. Tidak sampai bilangan delapan, karena ku tak ingin terlambat shubuh berjamaahnya. Kubangunkan si Tengah dan si Bungsu. “Mas, Adik, ayo bangun! Katanya kita mau ikut shubuh berjamaah sekalian jemput Kakak,” ujarku lirih mengingatkan rencana dan kesepakatan tadi malam.  Semalam si Sulung memang tidak tidur di rumah. Sejak kemarin sore, ia mengikuti kegiatan Malam Bina Iman dan Taqwa (MABIT), bersama teman-teman sekelasnya di sekolah.

Walau masih menahan kantuk, si Tengah dan si Bungsu berusaha untuk menyingkirkan selimutnya. Maklum, si Tengah baru kelas 2 SD, sementara si Bungsu baru TK. Aku berusaha membangunkannya di saat Assholatu khoirum minan naum berkumandang. Walau terkadang aku harus membopongnya ke masjid. Sambil membawakan sarung lucunya. Bergambar timbul kain flanel Upin dan Ipin. Kebetulan rumahku cukup dekat dengan masjid. Aku berharap kelak mereka menjadi generasi cerdas, sholih, sehat, dan  bermanfaat bagi ummat.

Aku pun menuntunnya ke kamar mandi. Sebuah bak mandi cukup besar sudah siap. Lengkap dengan air hangatnya. Handuk, sabun, dan pasta gigi sudah kusiapkan. Mereka mandi sendiri. Sementara istri menyiapkan baju koko, peci, dan jaket untuk mereka, sembari menata mukena dan sajadah. Aku keluarkan Revo kesayanganku dari garasi mungilku. Kutekan doublestarter tanpa mengencangkan gasnya. Takut mengganggu kelelapan tetangga. Bergantian, Beat yang sehari-hari jadi tunggangan istri ke tempat kerja juga kukeluarkan. Maklum, satu motor sangat sulit untuk berlima. Apalagi Sulungku sudah sebadan bundanya. Biasanya pangeran-pangeran bersama ayahnya. Sementara Sang Putri bersama bundanya.

Tak berapa lama mereka keluar rumah. Rapi dan gagah dengan baju koko yang tertutupi jaket. Peci yang serasi dengan warna kokonya ia kenakan. Sementara bundanya begitu anggun berbalut jubah muslimah. Sambil menenteng tas kecil berisi mukena dan sajadah. Ia pun mengunci pintu rumah sebagai ikhtiar maksimal menjaga keamanan rumah. Selepas memakai alas kaki dan menutup pintu pagar rumah, saya pun menaiki Revo tungganganku bersama si Bungsu. Sementara istri menaiki Beatnya bersama si Tengah.

Bismillahittawakaltu `alallahi, laa haula wa laa quwwata illa billahil `aliyyil `adziim. Kami pun menembus kegelapan malam. Terbantu dengan sorotan lampu kendaraan, menuju ke tempat tujuan. Angin dingin di waktu akhir malam tak menyurutkan niat dan langkah kami. Walau saat kendaraan dipercepat lajunya, hawa dingin itu serasa menusuk kulit hingga ke tulang. Jalanan masih sunyi. Membuat laju kendaraan kami seakan bebas hambatan. Hilangkan rasa kantuk akibat terpaan angin pagi, ku ajak si Bungsu mengulang hafalan beberapa surat pendek Juz Amma. Mulai dari Al-Fatihan, An-Naas, Al-Falaq, Al-Ikhlas, Al-Lahab, dan selanjutnya.

Sekira 10 menit kami menikmati perjalanan, sampailah di Jalan Adi Sucipto Solo. Satu dua kendaraan sudah terlihat lalu lalang, dengan kecepatan cukup. Mungkin karena jalanan masih relatif sepi. Gapura Makutho, Griya Solopos, Gedung DPRD, Kampus Universitas Sahid kami lewati. Aku pun menghentikan Revoku ketika lampu merah menyala di perempatan Fajar Indah. Walau sebenarnya lalu lalang kendaraan belum ramai. Pos Polisi di perempatan itupun masih tertutup. Bisa saja Aku melanjutkan perjalanan, menerobos lalu lintas. Tetapi aku memilih menghentikan kendaraan. Sembari menunggu lampu hijau menyala, aku bertebak jawab dengan si Ragil. “Lampu lalu lintas warna merah artinya apa, Dik?” tanyaku. “Berhenti,” jawabnya tegas. Ia pun bisa menjawab ketika ditanya arti lampu berwarna kuning maupun hijau. Tak lupa Aku memberikan pujian padanya. Walaupun hanya dengan sebuah kata, Hebat!

Lampu hijau menyala. Kami pun melanjutkan perjalanan. Sekira 50 meter dari perempatan itu kami belok kanan, masuk dan melalui jalur lambat menuju Jalan Siwalan. Sekira semenit lewat Jalan Siwalan kami belok kiri memasuki Jalan Pisang. Terlihat lalu lintas di jalan ini sudah cukup ramai. Sorot lampu kendaraan yang baru datang maupun sedang atret mengatur parkir. Kendaraan roda dua maupun roda empat. Kendaraan kami pun semakin mendekati lokasi. Petugas Security mengarahkan kami menuju ke tempat parkir. Beberapa orang tua yang telah memarkirkan kendaraan terlihat berbondong memasuki area Gedung Timur. Kami pun segera mengikuti, usai merapikan kendaraan pada tempatnya.

Ya, pagi belia ini (19/08/2017) kami orang tua siswa, ustadz/ustadzah Guru Kelas 6, dan siswa-siswi kelas 6 paralel akan mengikuti kegiatan Sholat Shubuh Berjama`ah. Bertempat di masjid yang terletak di Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) Nur Hidayah Surakarta, tepatnya di area Gedung Timur. Sekolah yang terletak di Jalan Pisang Nomor 12 Kerten, Laweyan, Surakarta ini memang terdiri dari dua lokal gedung. Gedung Barat yang terdiri atas ruang kelas 1 sampai kelas 4 paralel, ruang perpustakaan, ruang laboratorium IPA, ruang waka, kantin, koperasi, dan aula.

Sementara di Gedung Timur ada ruang securty, ruang administrasi, ruang kepala sekolah, aula utama, ruang laboratorium bahasa, ruang UKS, dapur, ruang meeting, masjid 2 lantai, ruang laboratorium komputer, dan ruang kelas 5 dan kelas 6 paralel. Kedua gedung ini dipisahkan oleh Jalan Siwalan dan saling berhadapan. Aku cukup paham kondisi di sekolah ini karena sebenarnya Aku bagian darinya, sebagai guru.  Berupaya ikut berkontribusi dalam berkhidmat kepada bangsa melalui jalur pendidikan.

Beberapa ustadz dan ustadzah Guru Kelas 6 Paralel menyambut kehadiran kami. Sambil menjabat tangan, beruluk salam dengan untaian senyuman, kami saling menyapa menanyakan kabar. Hangat yang kami rasakan. Kebahagiaan tersendiri dapat bersilaturrahim dengan orang-orang yang berjasa telah mendidik buah hati kami, dengan penuh kasih sayang. Kami pun presensi kehadiran dahulu dan merapikan alas kaki di loker yang telah disediakan.

Allahu Akbar….Allahu Akbar. Gema kumandang adzan terdengar syahdu. Panggilan dari Al-Kholiq bagi hambanya. Kami pun bergegas menuju ke masjid yang berada di lantai 2 dan lantai 3. Tidak perlu wudhu lagi, karena masih terjaga wudhunya dari rumah. Aku, si Tengah, dan si Bungsupun menuju ke lantai 2. Tempat sholat untuk jama`ah laki-laki. Sementara istriku menaiki satu lantai lagi di lantai 3, tempat sholat untuk jama`ah perempuan. Kulihat jama`ah sudah hampir memenuhi shof di dalam masjid. Akupun menengadahkan kedua tangan ketika muadzin selesai mengumandangkan adzan.

Aku pun menunaikan sholat fajar dan sholat qabliyah Subuh. Sekelebat si Tengah dan si Bungsu mengikuti gerakan sholatku. Seakan seperti sholat jamaah. Ku tengok ke belakang, jamaah telah memenuhi dalam masjid. Ada yang berada di serambi kanan, kiri, dan belakang ruang utama masjid. Sembari menunggu iqomah berkumandang Aku duduk bersilah, Subhanallahil `adziim subhanallah wa bihamdihi berkali-kali keluar dari lisanku, walaupun tak bersuara. Hingga suara iqomah menggema.

Kami pun bersegera berdiri. Tanpa suara. Merapikan shaf dengan merapatkan kaki, meluruskan tumit pada garis shaf. Saat baris depan ada yang masih longgar, maka jama`ah disebelahnya bersegera maju. Mengisi bagian shaf yang masih longgar tadi. Tangan lurus ke bawah, pandangan ke tempat sujud. Ustadz Darussalam yang bertindak sebagai imam memastikan jama`ah sholat telah siap. Sami`na wa atho`na, kami dengar kami taat, jawab seluruh makmum. Imam takbiratul ihram, kamipun bersegera mengikuti. Bacaan Al-Fatihah dan Al-Fajr menggema begitu syahdu. Menuntun kami memaknai ayat demi ayat, menambah khusyuknya sholat kami. Ruku`, i`tidal, sujud, hingga salam kami tunaikan sebagai bentuk ketundukan dan ketaatan kepada Allah Rabb semesta alam.

Kami duduk bersila, masih dalam keadaan bershaf. Imam sholat memuqoddimah majelis subuh dengan salam, syukur, sholawat atas nabi, serta menyampaikan rangkaian acaranya. Membuka majelis dengan membaca Ummul Kitab surat Al-Fatihah. Jama`ah pun ikut melafalkan. Tak terkecuali Aku, Si Tengah dan si Bungsu. Usai Al-Fatihah dilantunkan bersama, imam sholat yang sekaligus bertugas sebagai Master of Ceremony memanggil salah satu siswa.  Muhammad Bagas Saputro nama lengkapnya, salah satu siswa kelas 6. Memakai baju koko putih dan berpeci, terpancar keshalihannya. Ia maju ke depan, sambil merundukkan badannya. Ia menyalami jama`ah yang ia lewati. Santun, ikut bahagia memandangnya. Duduk bersila ia di samping imam sholat. Ia pun memulai melafalkan wirid dan doa Al-Ma`tsurat. Jama`ah mengikutinya, melafalkan wirid dan doa yang dituntunkan oleh Rasulullah di setiap pagi dan petang.

Kepala Sekolah yang berkesempatan hadir memberikan sambutannya. “Berbahagia sekali di waktu  penuh berkah ini, kita dapat menunaikan sholat Subuh secara berjamaah. Sebuah keindahan dunia dan insya Allah keindahan akhirat ketika keluarga-keluarga muslim berduyun-duyun ke masjid. Menyambut dan memunaikan seruan Allah Rabbul iizati. Oleh karena itu, Gerakan Subuh Bersama menjadi penting sebagai pemantik memasyarakatkan dan memakmurkan masjid, di setiap sholat 5 waktu. Inilah makna keterpaduan dalam pendidikan. Pembiasaan adab dan akhlak mulia di sekolah, di rumah, maupun di masyarakat. Sinergi antara orang tua dan guru, kerja sama antara rumah dan sekolah. Tentunya didukung dengan lingkungan masyarakat yang kondusif.

Permendikbud Nomor 23 Tahun 2015 menyatakan bahwa pendidikan adalah tanggung jawab bersama. Karena itu, sekolah hendaknya melibatkan orangtua dan masyarakat dalam proses belajarnya. Mengokohkan peran keluarga, sebagaimana amanat yang disampaikan Nabi Muhammad Saw., Al ummu madrosatul ula. Memaksimalkan peran masyarakat dalam menciptakan lingkungan yang baik dan kondusif. Salah satunya dengan menyukseskan Gerakan Matikan TV Gawai, Ayo Mengaji, Maghrib-Isya. Dilanjutkan dengan belajar hingga pukul 21.00 didampingi orangtua tanpa TV dan Gawai.

Mari, kita terus kokohkan sinergi pendidikan ini. Mudah-mudahan Allah subhanahu wata`ala meridhoi segala ikhtiar kita. Dalam mewujudkan generasi yang kokoh iman islam ihsannya, cerdas akalnya, dan sehat jasadnya. Generasi emas nan mulia. Generasi yang brilian menjadi pemimpin pada zamannya kelak. Anak-anakku kelas 6 yang sholih-sholihah. Jadikan kegiatan MABIT dan Shubuh Bersama ini sebagai pengokoh karakter. Disiplin, tanggung jawab, mandiri, taat, bersih rapi, menghargai orang lain, suka menolong, bersungguh-sungguh, dan kebiasaan mulia lainnya. Teruslah berjuang diiringi akhlak mulia. Kobarkan terus semangat man jadda wa jada. Ukir prestasi terbaik di akhir masa pendidikan kalian di jenjang SD. Semoga Allah senantiasa meridhoi,” ucapnya penuh harap.

Berkaca-kaca mataku mendengar sambutan penuh semangat kebaikan itu. Sebagai salah satu wali murid sudah tentu sangat sependapat. Itulah fitrahnya pendidikan. Keberhasilan membangun karakter memang tidak boleh memakai rumus pasrah bongkokan. Menyerahkan segala urusan pendidikan kepada pihak sekolah. Orangtua tidak perlu cawe-cawe, abay saja. Jika ada orangtua siswa yang masih memiliki pola pikir seperti itu, ia berarti telah berbuat dzalim kepada dirinya sendiri dan orang lain.

Kontemplasiku terputus ketika master of ceremony mempersilakan Ustadz Kasori Mujahid, M.Ag menuju ke atas mimbar. Itu artinya jama`ah akan mendapatkan taushiyah, siraman ruhani. “Diantara kebaikan-kebaikan di waktu subuh adalah, pertama, orang yang melangkahkan kakinya menuju ke masjid memenuhi panggilan sholat, yaitu setiap langkah kaki kanannya menambah pahala dan setiap langkah kaki kirinya akan menghapus dosa. Kedua, seorang mukmin yang menunaikan 2 rakaat sebelum Subuh, ia akan mendapatkan kebaikan dunia dan seisinya,” tutur ustadz yang populer dengan panggilan Ustadz KAMU. Beliapun menguraikan beberapa keutamaan dan hikmah sholat subuh lainnya.

Majelis subuh nan mulia itu diakhiri dengan hamdalah dan doa kafaratul majelis. Kami pun saling berjabat tangan sesama jamaah. Ada keharuan bahagia tatkala saling bertatap dengan sesama orangtua siswa. Selanjutnya, kami diarahkan menuju ruang aula di lantai satu. Sajian lontong sayur dan teh hangat sudah disiapkan oleh panitia. Kami pun duduk melingkar, beramah tamah dengan sesama wali murid. Sambil menikmati hidangan yang tersaji, kami berbagi cerita, bertukar pengalaman, sungguh menyenangkan. Hangat rasanya ukhuwah di antara kami, sehangat seruputan teh hangat yang kami nikmati.

Kulihat siswa-siswi kelas 6 juga menikmati sarapan pagi di selasar ruangan di lantai 1 gedung timur. Menunya berbeda, nasi goreng telur ceplok dan susu hangat. Guratan wajah kantuk tak dapat tersembunyikan karena semalam mereka mengikuti MABIT. Namun mereka tetap tampak ceria, bersantap sambil berbincang ringan dengan teman-teman sekelasnya. Mereka bahagia, orangtuanya hadir pada acara sekolah, sholat Subuh bersama sembari menjemput kepulangan mereka.

Usai bersantap, kamipun berpamitan kepada segenap panitia. Saat bersalaman, tak lupa ucapan syukron jazakumullahu khoiron katsiron atas terselenggaranya MABIT dan Shubuh Bersama. Kegiatan yang sangat berkesan. Bagi buah hati kami, tentu juga bagi kami orangtua siswa. Ikhtiar bersama yang memantapkan semangat dan asa, terlahirnya generasi ulul albab nan rabbaniyah kelak kemudian hari. Generasi pewaris sah negeri ini.

 

*) Penulis adalah salah satu guru di SDIT Nur Hidayah Surakarta sejak 2002 hingga sekarang.

 

**)Artikel ini diikutsertakan dalam Lomba Penulisan Artikel Ilmiah Sekolah Dasar Tahun 2017 (kategori Lomba Menulis Feature Sekolah Dasar) yang diselenggarakan oleh Direktorat Pembinaan Sekolah Dasar, Direktorat Jenderal Pendidikan dasar dan Menengah, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

 

Komentar Facebook
0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *