IMG_0073

Setiap Detik Begitu Berharga

Setiap Detik Begitu Berharga

Oleh : Muslikah, S.Pd.*)

 

Di tengah-tengah hiruk pikuk arus globalisasi, SDIT Nur Hidayah tampil ambil bagian. Sekolah islam ini menawarkan idealisme membangun peradaban dari satuan pendidikan dasar terendah. Ya.. jenjang sekolah dasar. Anak-anak yang masih bersih “suci” itu harus diselamatkan. Sebab merekalah pemimpin negeri ini di masa mendatang.

Berbekal cita-cita mencetak lulusan berakal pintar dan cerdas hati, menguasai IPTEK dan melekat kuat IMTAK-nya serta berbudaya, delapan belas tahun silam berdirilah SDIT Nur Hidayah. Bertemunya ide dan kesamaan visi dan tujuan, akhirnya Allah memperkenankan terwujudnya sekolah di Jalan Pisang No 12 Kerten, Laweyan, Surakarta ini.

Sejak berdirinya, SDIT Nur Hidayah memberikan perhatian lebih pada pendidikan karakter. Hal ini diwujudkan dengan berbagai progam dan kegiatan. Dalam segala bidang mata pelajaran (yang sekarang menjadi muatan pelajaran), setiap waktu dan kesempatan. Ketika itu kami belum terpikir merumuskan tentang apa itu nilai karakter utama. Namun kami mempunyai asa terhadap para lulusan kelak. Dari situlah kami menyusun program dan kegiatan.

Pagi yang cerah, senyum merekah. Kami hadir lebih awal di sekolah. Berjajar menyambut “matahari” kami. Ya.. siswa siswi. Mereka adalah “matahari” kami yang akan menerangi semesta alam Indonesia tercinta. Merekalah yang akan hadir pembawa asa di antara sebagian kepesimisan. Bersalaman menjadi ritual penuh makna dan falsafah. Menjunjung tinggi budaya ke-timur-an yang tenar dengan sopan santunnya. Apalagi keberadaan kami di kota Surakarta yang kental dengan unggah-ungguh nya. Tidak sekedar berjabat tangan, tetapi mencium tangan gurunya mengandung simbol penerapan budaya Solo dimana salah satu adab murid adalah ngajeni  gurunya, sebagai anak andhap asor terhadap orang tuanya. Saat mereka (siswa/siswi itu) melepaskan cium dan jabat tangan dari ayah atau ibunya, melangkah pasti menuju gerbang sekolah. Wali murid pun seolah berkata “Kami titipkan anak kami, buah hati kami, permata kami untuk bapak/ibu guru didik. Sepenuh jiwa dan raga kami percayakan amanah kami sementara waktu hingga sore nanti.” Kami sambut siswa siswi dengan senyum, salam, sapa, dan berjabat tangan. Seolah kami menjawab keresahan hati para orang tua “Kami terima amanah berat nan mulia ini wahai ayah bunda. Akan kami jaga sepenuh jiwa dan raga. Terima kasih atas kepercayaan yang ayah bunda berikan”.

Proses belajar dan penguatan karakter pun dimulai, sejak pertemuan pertama kami (guru dan murid) di pintu gerbang sekolah. Cium dan jabat tangan yang mengajarkan kesantunan bentuk olah hati dalam mengenal etika. Salam yang merupakan syiar dan doa, selalu kami ingatkan sebagai olah hati dalam pembiasaan spiritual. Senyum dan sapa ditebar sebagai penyemangat jiwa dan raga. Kadang kami jumpai beberapa siswa/siswi cemberut dan lesu. Insiden-insiden kecil tak jarang menjadi penyebabnya. Alat tulis ketlisut, bangun kesiangan, nggak mau sarapan, bertengkar dengan adik, dan masih banyak lagi kasus yang kami temui. Kepiawaian para pendidik untuk mengembalikan keceriaan dan semangat para siswa terus terasah. Kasus demi kasus, pengalaman demi pengalaman, membuat kami semakin banyak belajar serta meningkatkan kapasitas dan kompetensi.

Sungguh kami bersyukur, saat pemerintah lebih intens dan memberikan perhatian besar dalam penguatan pendidikan karakter ini. Dengan lima nilai karakter utama yang terprogram, yakni religius, nasionalis, gotong royong, mandiri, dan integritas. Mimpi kami untuk menemukan generasi yang cerdas menyeluruh: olah hati, olah rasa, olah pikir, dan olah raga tak hanya menjadi idealisme yang jauh dari angan. Tetapi sekarang harapan itu telah menjadi program bersama milik bangsa. Menuju generasi 2045, generasi cerdas, tangguh, dan berkarakter.

Kami pun telah membiasakan karakter religius sepanjang proses “belajar” siswa di sekolah. Ini sangat terasa baik pada proses KBM maupun non-KBM, di dalam maupun di luar kelas, sejak pagi hingga pulang sekolah. Mengawali seluruh rangkaian kegiatan di sekolah dengan berdoa, membaca Alquran, dan mutabaah ibadah siswa menjadi bagian penting yang tak pernah terlewatkan setiap hari. Selain sebagai bentuk penguatan karakter religius, kegiatan rutin ini juga sebagai sarana penguatan karakter integritas. Penanaman nilai “kejujuran” menjadi prioritas saat melakukan mutabaah ibadah harian siswa. Kerjasama dengan orang tua menjadi penopang utamanya. Menyampaikan dan menanyakan hal-hal yang perlu dikonfirmasikan kepada orang tua bukan sesuatu yang sulit kami lakukan. Kecanggihan era digital, teknologi dan infomasi semakin memudahkan kami untuk mengintenskan komunikasi antara guru dengan para orang tua. Bahkan pelayanan nonstop (24 jam) menjadi slogan kami. Para orang tua pun menyambut baik setiap program dalam rangka menyelaraskan visi, misi, dan tujuan bersama. Kegiatan pertemuan guru dan wali murid sudah rutin dilakukan. Bahkan antarwalimurid dalam satu rombongan belajar (rombel) terdapat wadah paguyuban orang tua murid. Kolaborasi apik inilah yang menjadi energi positif. Energi yang selalu menyemangati kami setiap hari.

KBM terpadu dan terintegrasi menjadi konsep dasar kami. Sejak awal pun kami telah menerapkannya. Mengaitkan muatan karakter dan nilai-nilai islami dalam pembelajaran menjadi tantangan yang senantiasa kami perbaiki. Berbagai inovasi tak ubahnya sebagai bumbu dalam pembelajaran kami. Bahkan kami pernah mendapati komentar dari para siswa “Bu guru, ini pelajaran PAI atau tematik sih?”.Dikarenakan keterpaduan yang harmonis antara setiap pembelajaran dengan penguatan pendidikan karakter dan nilai-nilai akhlak islami. Di sini kami memadukan dan menyatukan olah hati bersamaan olah pikir, olah rasa, dan olah raga. Sebuah kesatuan yang terintegrasi, bukan parsial. Sebab penguatan pendidikan karakter haruslah mengalir dengan proses natural dan otentik.

Tak hanya dalam proses KBM di dalam kelas, saat istirahat pun menjadi sesi penting. Sebab dalam proses inilah pembiasaan nilai-nilai dan norma-norma yang merupakan bagian penting dari penguatan pendidikan karakter teraplikasikan. Pembiasaan makan menggunakan tangan kanan, dengan posisi duduk, dan berdoa adalah nasihat yang selalu kami ulang sebelum para siswa berhamburan ke luar kelas saat istirahat. Keberadaan “kantor” guru yang berada di masing-masing kelas membuat kami whole day membersamai siswa. Sehingga mengamati cara mereka berinteraksi, bersosialisasi dan otomatis selalu ada unsur penguatan pendidikan karakter secara spontanitas dalam keseharian di sekolah.

Momen terpenting dalam memberikan penguatan nilai-nilai karakter adalah saat pendampingan makan siang dan pendampingan salat berjamaah. Hal ini mulai dari pembiasaan adab-adab makan, berdoa sebagai rasa syukur (olah hati), berbagi (integritas), hingga memenuhi hak fisik (olah raga). Tentunya  hal-hal lain banyak kami review dalam momen kegiatan berjamaah tersebut. Bak keluarga dengan bincang ringannya tetapi tetap produktif untuk membangun kedekatan emosi antara guru dan siswa/siswi. Dilanjutkan pendampingan berwudhu dan salat berjamaah sebagai perwujudan karakter religius. Mencetak generasi tentu tak semudah men-setting dan me-reset robot. Tantangan tersendiri yang memerlukan ide, kreatifitas, dan kecerdasan dalam upaya membiasakan siswa tertib dan khusyu’ dalam beribadah ini. Keterbatasan tempat dan sarana prasarana tak menjadi penghalang untuk mewujudkan karakter religius tersebut. Tentu saja dengan pentahapan dalam penyusunan target setiap jenjang kelas. Kelas 1 dan 2 dengan karakter pascaPAUD menjadi tahap awal pengenalan dan pembiasaan tertib dan khusyuk dalam beribadah. Sementara di kelas 3 dan 4 mulailah tahap pendisiplinan. Dengan demikian pada jenjang kelas 5 dan 6 tercapailah suasana nyaman, tertib, dan khusyu’ sebagaimana yang diharapkan.

Tak ketinggalan kegiatan-kegiatan di luar KBM yang terprogram dan terencana. Praktik belajar lapangan, outing class, renang, outbond, dan berbagai macam kegiatan ekstrakurikuler tak lepas dari misi penguatan pendidikan karakter.

Sejak berdirinya, SDIT Nur Hidayah memang telah memilih waktu belajar full day school. Dengan gagasan dapat menambah waktu untuk penguatan pendidikan karakter yang terintegrasi dalam seluruh rangkaian kegiatan di sekolah dari pagi hingga sore hari.

Keteladanan guru dan semua elemen di sekolah, termasuk karyawan, memang menjadi kunci utama. Karena itu kesamaan visi, misi, dan tujuan menyatukan kami. Berjuang, bergerak bersama mewujudkan cita-cita mulia. Berkorban sepenuh jiwa dan raga. Kami rela “berkorban” waktu, tenaga, pikiran, dan perhatian karena setiap detik begitu berharga bagi generasi kita. Mendidik sepenuh hati menggapai ridho Ilahi. Karena mimpi kami adalah membangun peradaban, tidak sekedar mentransfer pengetahuan.

 

*) Muslikah, S.Pd. adalah salah satu guru di SDIT Nur Hidayah Surakarta sejak 2001 hingga sekarang.

**)Artikel ini diikutsertakan dalam Lomba Penulisan Artikel Ilmiah Sekolah Dasar Tahun 2017 (kategori Lomba Menulis Feature Sekolah Dasar) yang diselenggarakan oleh Direktorat Pembinaan Sekolah Dasar, Direktorat Jenderal Pendidikan dasar dan Menengah, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

 

Komentar Facebook
0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *