Wah … Asyik Lelenya Sudah Siap di Panen

Pagi itu hujan gerimis masih mengguyur Kota Solo. Sejumlah siswa berseragam olahraga, bersepatu, dan menggendong tasnya, terlihat turun dari kendaraan, bersalaman dengan orang tua, lalu lari-lari kecil menuju serambi kelas. Di sana telah ada beberapa siswa yang telah duduk berjajar rapi sambil mendengarkan pengarahan dari guru pendamping.

Ya, hari ini, Rabu (28/09/2016) sejumlah 141 siswa-siswi 3 Sekolah Dasar Islam Terpadu Nur Hidayah Surakarta akan mengikuti Kegiatan Praktik Belajar Lapangan (PBL). Adapun sumber belajar yang akan digali oleh siswa adalah “Kampung Lele” di Tegal Rejo, Sawit, Boyolali dan Home Industri Tahu “Usaha Mandiri” di Purwogondo, Kartasura, Sukoharjo

Bekti Riyanto, S.Si, selaku koordinator kegiatan menuturkan bahwa agenda seperti ini rutin dilaksanakan tiap semester. Tujuannya untuk lebih menguatkan pemahaman konsep yang diterima siswa. Kebetulan di kelas 3 siswa diajarkan tentang protein nabati dan hewani, sehingga untuk lebih memperluas pemahaman para siswa diajak untuk mengenal bagaimana proses budidaya lele dan produksi tahu.

Sugiyatno dengan Tim Kelompok Usaha “Marmina”, memberikan penjelasan tentang bagaimana proses pembibitan, pembesaran, pemanenan, hingga pengolahan aneka masakan lele. Ada abon, bakso, nugget, sosis, rendang, hingga kripik kulit.

“Wah, ternyata tidak mudah ya beternak lele. Menurut saya dari penjelasan pemandu tadi, masa pembibitan paling rumit. Waktu memberi pakan dan berapa banyaknya pakan juga diatur. Tapi yang paling asyik itu saat panen lele tentunya,” tutur Nasyita Ghaida Mutie (8), salah satu siswa kelas 3. Sementara siswa lainnya, Syihab (8) menuturkan, “Tadi ikut incip-incip abon olahan lele. Enak rasanya. Ternyata tidak hanya lele bakar dan goreng. Tapi bisa dibuat abon, bakso, sosis, kripik, dan nuget.”

Waka Humas SDIT Nur Hidayah, Rahmat Hariyadi, menyampaikan bahwa salah satu kekhasan pembelajaran di sekolah yang menerapkan konsep full day school adalah adanya kegiatan praktik belajar lapangan. Dengan kegiatan ini siswa mendapat pengalaman dan informasi lengkap langsung dari sumbernya.

Mengenalkan Budaya Luhur Bangsa Indonesia

Bungong jeumpa, bungong jeumpa meugah di Aceh
Bungong teuleubeh, teuleubeh indah lagoe na
Puteh kuneng meujampu mirah
Bungong ulah si ulah indah lagoina
Lam sinar buleuen, lam sina buleuen angen peuayon
Luroh meususon, meususon nyang mala-mala

Itulah lirik lagu daerah Aceh “Bungong Jeumpa” yang dinyanyikan oleh siswa-siswi kelas 4 Sekolah Dasar Islam Terpadu Nur Hidayah di halaman sekolah. Mereka tampak riang dengan assesoris yang dikenakan, bernyanyi sambil menari tarian khas Aceh tersebut.

Ya, hari ini, Selasa (27/09/2016), sejumlah 145 siswa-siswi kelas 4 SDIT Nur Hidayah mengikuti kegiatan Puncak Tema “Indahnya Kebersamaan dalam Keragaman”. Haryono, S.Si, koordinator guru kelas 4, menuturkan bahwa tahun pelajaran ini kita ditunjuk oleh dinas untuk menerapkan Kurikulum 2013. Sehingga di akhir tema kita berupaya untuk mengagendakan Puncak Tema. Pada puncak tema kali ini, para siswa dikenalkan dengan kekayaan budaya daerah di Indonesia. Salah satunya lagu dan tarian dari Aceh. Selain itu para siswa juga dikenalkan juga dengan makanan khas daerah. Ada gethuk, klepon, sawut, dawet ireng, soto lamongan, dan lainnya.

“Sulit juga ya, menari tarian Aceh. Tapi asyik juga bisa kenal tarian daerah, lebih cinta Indonesia,” tutur Faiq Eza Barnabil (10) dengan polosnya. Sementara siswa lainnya, Muhammad Dzaki Arkan (7), menuturkan pengalamannya, “Aku tadi deg-degan saat harus panjat tebing pakai tali. Alhamdulillah bisa.”

Waka Humas SDIT Nur Hidayah, Rahmat Hariyadi, menyampaikan bahwa pembelajaran tematik ternyata lebih menyenangkan dan lebih bermakna bagi siswa. Artinya ruh  semangat pembelajaran yang ada di Kurikulum 2013 selarah dengan kebutuh pembelajaran di sekolah yang menerapkan konsep full day school. Harapannya siswa happy mengikuti pembelajaran dan mendapat pengalaman bermakna.

Memanfaatkan Sampah Menjadi Berfaedah

Hari ini (26/9) siswa kelas 4 SDIT Nur Hidayah Surakarta melaksanakan kegiatan praktik belajar di lapangan (PBL). Adapun tempat yang dituju adalah Di salah satu wilayah Integrated Community Development (ICD) tepatnya di Kelurahan Kadipiro Banjarsari Surakarta, wilayah Solo bagian utara dengan luas wilayah kelurahan yang terbesar dan jumlah penduduk terbesar pula, maka salah satu permasalahan wilayah tersebut adalah masalah pengelolaan sampah.

 

“Kita berharap agar anak-anak ini nantinya bisa memilah dan memilih sampah-sampah yang ada di rumah untuk bisa dimanfaatkan atau didaurulang menjadi barang yang berguna kembali” Kata Dwi Haryanti, salah satu guru kelas 4 yang ikut mendampingi siswa.

Asyiknya Bercocok Tanam

Pagi itu cuaca cukup cerah. Matahari bersinar walau belum menyengat. Arus lalu lintas di sekitar sekolah terlihat  cukup padat. Beberapa siswa berseragam olahraga nampak turun dari kendaraan antar jemput sekolah maupun orang tua yang mengantar mereka. Sambil menggendong tas dipunggung, mereka langsung menuju ke halaman sekolah.

Ya, hari ini, Senin (26/09/2016), sejumlah 134 siswa-siswi kelas 1 SDIT Nur Hidayah akan mengikuti Outing Class berupa Outbond Ceria di Amanah Farm Karangpandan.

Sugeng Sugiharto, S.Ag, koordinator guru kelas 1, menuturkan bahwa para peserta dilatih ketangkasan dan keceriaannya dengan susur sungai, panjat tebing, merayap dalam lumpur, tangkap ikan. Selain itu, para siswa diedukasi bagaimana menanam padi, memanen wortel, beternak kelinci, beternak sapi, dan lainnya.

Wah, asyik bisa belajar tanam padi. Ternyata sulit ya,  jalannya harus mundur sambil bawa tanaman padi mudanya di tangan,” tutur Annisa
Rahma Kamila (7) dengan polosnya. Sementara siswa lainnya, Muhammad Dzaki Arkan (7), menuturkan pengalamannya, “Aku tadi deg-degan saat harus panjat tebing pakai tali. Alhamdulillah bisa.”

Waka Humas SDIT Nur Hidayah, Rahmat Hariyadi, menyampaikan bahwa  kegiatan Outing Class berupa Outbond, Praktik Belajar Lapangan (PBL), Family Gathering, Puncak Tema, dan lainnya merupakan kebutuhan dan kekhasan untuk sekolah yang menerapkan konsep full day school. Variasi kegiatan dan pembelajaran yang menyenangkan dan tentunya lebih mendekatkan antara konsep yang ada di buku dengan yang ada di lapangan. Mendekatkan siswa pada sumber yang lebih luas, tentu akan menambah pengalaman belajar yang lebih bermakna.

Workshop Branding Kehumasan & Enterpreuner Sekolah JSIT

Sejumlah 170 peserta dari Sekolah Islam Terpadu (SIT) yang tergabung dalam JSIT Indonesia mengikuti kegiatan Pelatihan dan Workshop Branding Kehumasan & Enterpreneur Sekolah. Kegiatan berlangsung Sabtu-Ahad (17-18 September 2016) di Hotel Bumi Wiyata Depok, Jawa Barat.

Menghadirkan para pakar nasional di bidangnya, acara ini berjalan dengan penuh antusiasme peserta di semua sesi. Pada sesi pertama, peserta mendapatkan pencerahan tentang urgensi dan strategi Social Branding dari Pakar Nasional Silih Agung Waseso dan timnya. Sesi selanjutnya materi tentang Kehumasan dan Layanan Prima, oleh Muchlas Suseno (Praktisi & Pakar Strategi Pemasaran dan Kehumasan)

Pada hari kedua, para peserta mendapatkan pemaparan materi bertema Bisnis Berkah dan Penuh Ukhuwah disampaikan oleh Dr. Eko Fajar Nurprasetyo, Ph.d (Perintis Bisnis Makanan Halal di Jepang). Di mana produk halalnya mendapatkan penghargaan dari Kementerian Pertanian Jepang dan mendapat Habibie Award 2010. Dilanjutkan dengan workshop Penulisan Press Release dan Sekolah Kewirausahaan.

Dalam sambutannya, Ketua JSIT Indonesia, Drs. Sukro Muhab, M.Si., menyampaikan pentingnya peran kehumasan di Sekolah Islam Terpadu di seluruh Indonesia. Prestasi akademik non akademik sebaiknya diketahui oleh publik. Agar memiliki efek kebaikan lebih luas.

Salah satu peserta, Bangun Rohmadi menuturkan bahwa strategi pemasaran, bagaimana kita ‘menjual’ kelebihan sekolah kepada masyarakat harus kita lakukan, salah satunya dengan memaksimalkan sarana media sosial maupun media cetak. Waka Humas SDIT Nur Hidayah, Rahmat  Hariyadi, yang ikut serta dalam kegiatan tersebut menuturkan bahwa pelayanan prima kepada customer atau siapa pun yang hadir ke sekolah, merupakan upaya dalam menjaga kualitas layanan pendidikan.

Asyiknya Belajar Sambil Bermain

Ada pemandangan berbeda di halaman SDIT Nur Hidayah. Para siswa kelas 4 tampak membawa baling-baling dari kertas/kardus, sembari membawa alat tulis. Sementara guru kelas sudah siap di teras halaman dengan membawa lembaran Laporan Kegiatan Percobaan.

Ya, hari ini, Jum’at (16/09/2016) mereka akan melanjutkan pembelajaran tematik  kelas 4 Kurikulum 2013, tema 2: Selalu Berhemat Energi. Setelah pada hari sebelumnya mereka telah berhasil membuat prakarya baling-baling dari kertas/ kardus.

Guru kelas 4, Husni Malik, S.P, S.Pd menuturkan anak diajak menganalisa dengan mempraktikkan dan mengamati langsung percobaan yang dilakukan. Bagaimana jika membawa kincir dengan berjalan, berlari, kincir di atas kepala, di depan dada, posisi lurus, posisi miring. Bagaimana jika ditiup satu orang, dua orang, atau lebih. Apa ada pengaruh jika kincir terbuat dari kertas yg berbeda tebalnya. Hingga apa saja faktor penyebab kincir berputar kencang atau sebaliknya. Selanjutnya menuliskan hasil analisanya pada lembar Laporan Kegiatan Percobaan.

Daary Fawwas (10) kelas 4 B, menuturkan, “Senang dapat belajar sambil bermain. Dengan langsung membuat dan mempraktikkan ternyata lebih memahami materi pembelajaran. Sementara siswa lainnya, Muhammad Diozaky Bagaskoro menyampaikan pengalamannya, “Aku bersama teman-teman, alhamdulillah kemarin berhasil membuat baling-baling. Pertama, disiapkan bahannya dahulu; kertas/kardus, tusuk sate, jarum pentul, gunting, pensil, lem, dan penggaris. Kedua, membuat kerangka baling-baling pada kertas atau kardus, lalu dipotong sesuai garis rangkanya. Kemudian, kertas ditekuk diikatkan dengan lem. Ketiga, dipasangkan pada tusuk sate menggunakan jarum pentul, jadilah baling-baling siap berputar.

Waka Humas SDIT Nur Hidayah, Rahmat Hariyadi, menyampaikan bahwa penerapan K-13 ini sangat selaras dengan visi sekolah yang ramah anak, dimana salah satu indikatornya adalah pembelajaran yang menyenangkan. Dengan percobaan langsung melatih siswa berpikir kreatif dan kritis, dan tentunya lebih menguatkan pemahaman konsep pada siswa.